In My camera (Chapter 4)

Cast : Jung Yuuri, Kim Jaejoong, Park Yoochun, Jung Yunho, DBSK
Genre : Romance
Rate : G

Author’s POV
Jaejoong memandang lembut Yuuri yang sedang tertidur pulas di kasurnya.
Jadi kau berbohong demi melindungi Hye mi? Setelah perbuatannya yang membuatku menuduhmu, kau bahkan meminjaminya uang juga untuk adiknya berobat? Apakah ini yang kau maksud untuk membantu orang yang kau sayangi itu?
*Flashback*
“O y, mengenai Kim Jaejoong-ssi…”
Deg. Kenapa namaku disebut?
“…aku akan jujur Yuuri-ah. Aku akan mengatakan padanya bahwa aku stalker yang waktu itu. Aku tidak mungkin membiarkanmu dipandang buruk terus olehnya, karena bagiku kau malaikatku….”
Jadi bukan Yuuri? Tapi Hye mi pelakunya?
“Aku tidak peduli jika ia marah padaku dan melaporkan perbuatanku. Yang penting aku ingin dia tahu bahwa kau yeoja yang baik Yuuri-ah..”
“Sekarang aku sudah tahu, Hye mi-ssi.”jawab Jaejoong.
“Eh? Nuguya?”Tanya Hye mi bingung.
“Kim Jaejoong.”
“Kenapa ponsel Yuuri ada padamu?”
“Dia mabuk saat makan malam bersama kru pemotretan, jadi aku mengantarnya pulang. Dan karena dia tidak bangun saat kau menelpon, aku yang mengangkatnya.”
“Oh…”
“Jadi benarkah itu?”
“Ne?”
“Kau stalker sebenarnya? Bukan Jung Yuuri?”
Hye mi menghela napas. “Ne. Akulah pelakunya, bukan Yuuri. Mianhe. Jeongmal mianhe. Kau boleh melaporkanku, terserah padamu. Tapi yang pasti aku ingin kau tahu jika aku menyesal melakukannya…”
Jaejoong terdiam. Marah padanya? Seharusnya aku marah padanya, tapi kurasa tidak perlu. Foto-fotonya juga sudah kembali sebelum tersebar.
“Aku tidak akan melaporkanmu Hye mi-ssi. Yang penting aku sudah tahu yang sebenarnya, dan fotonya pun sudah kembali. Lagipula…”Jaejoong melirik Yuuri yang tertidur lelap, dan tersenyum lembut. “…jika bukan karena kau, aku tidak akan pernah mengenalnya.”
*end of flashback*

Jaejoong’s POV

Aku duduk di lantai samping tempat tidur dengan posisi menghadap Yuuri. Aku terus memperhatikan wajah tidurnya. Ini pertama kalinya aku melihat wajahnya yang tenang. Biasanya jika bertemu dengannya kami selalu ribut, dan ekspresi wajahnya selalu terlihat marah. Tapi sekarang berbeda. Ia terlihat sangat cantik ketika tenang seperti ini.
Aku melirik kamera Yuuri yang rusak lalu mengambilnya dan memperhatikannya seksama. Kau bahkan tidak menggunakan uang itu untuk memperbaiki kameramu. Bukankah kau sangat mencintai kamera ini?
Senyum tipis terulas di bibirku saat melihat Yuuri berganti posisi tidur. Hatiku menghangat melihatnya.
“Kau yeoja yang baik Yuuri-ssi… Mianhe karena menuduhmu… Apa kau akan memaafkanku?”
Seakan-akan menjawab pertanyaanku, Yuuri menendang-nendang dan memukul-mukul udara sambil mengigau, “Aku membencimu Kim Jaejoong! Gara-gara kau aku tidak bisa ikut lomba! Padahal aku pasti bisa menang! Trus Cassie juga rusak! Ini semua gara-gara kau! Menyebalkaannnn!!”
Setelah membuatku kaget dengan berteriak seperti itu, ia tertidur lagi. Aku hampir saja meledak tertawa, segera saja kututup mulutku. Lucu sekali, apa ia sering mengigau seperti ini? Aku jadi tidak tahan ingin menyentuhnya.
“Mianhe… aku akan melakukan apapun asal kau memaafkanku, Yuuri-ssi.” Aku mengusap pelan pipinya. Kemudian aku bangkit dan menyelimutinya. Kotak kamera kuletakkan kembali ke tempat semula, sementara kameranya kubawa.
“Aku akan memperbaikinya seperti semula. Mianhe… jeongmal mianhe…”

Yuuri’s POV

Aku terbangun dengan kepala yang terasa berat. Sepertinya sudah pagi, karena aku melihat sinar matahari melalui celah-celah jendela. Aku memandang sekelilingku. Ini kan kamarku? Siapa yang mengantarku pulang ya? Apa Yoochun Oppa?
Aku melihat jam tanganku, kemudian menjerit. “Udah jam segini?!”
Setelah mandi dan berpakaian secepat kilat, aku langsung berlari keluar. Aduh, perutku lapar lagi. Sementara halte bis jaraknya lumayan jauh.
“Fighting Yuuriiiii!!!”teriakku sambil berlari, dan akhirnya sampai halte bis tepat waktu saat bis datang. Aku buru-buru masuk ke dalam.
Dan seperti sebelumnya, namja itu duduk di kursi belakang dan memandang keluar jendela. Aku duduk di kursi yang sama, di dekat jendela yang berlawanan. Kupandangi wajah tampannya lama-lama, dan kurasakan hatiku menghangat. Seandainya dia sekarang bersamaku, apa dia akan tumbuh setampan namja itu?
Tiba-tiba namja itu berbalik menghadapku. Aku tersentak lalu memegang topiku agar lebih menutupi wajahku. Dari sudut mataku kulihat ia masih terus memandangiku. Aduh, bagaimana ini? Dia pasti mengiraku stalker. Sudah cukup aku dianggap stalker oleh satu orang.
Aku memutuskan untuk tidak menghiraukannya dan memandang keluar jendela.
“Ehem.”
Siapa itu yang berdeham? Sepertinya tidak ditujukan padaku.
“Ehem.”
Siapa sih? Aku lalu menolehkan kepala dari jendela dan terkejut melihat wajah namja itu yang sangat dekat denganku. Refleks aku menempelkan punggungku ke jendela, membuat topiku terlepas, dan rambutku tergerai.

Yunho’s POV

Aku memandang keluar jendela, tapi bisa kurasakan yeoja bertopi yang kemarin aku tolong itu masih memandangiku. Aku balas memandangnya, dan kulihat ia dengan gugup memegang topinya membuat wajahnya lebih tertutupi topi lagi. Penampilannya seperti laki-laki. Jika sebelumnya ia tidak mengajakku bicara, mungkin aku masih tetap mengira ia seorang namja. Ia masih melihatku dari sudut matanya.
Apa ia menyukaiku? Ini bukan pertama kalinya ada yeoja yang suka memperhatikanku seperti itu. Tentu saja ini karena diriku yang terlalu tampan. *iyaaa,, Yunho oppa emang ganteng bangeetttt!-cuekin aj nih author -_-‘*
Mungkin karena terlalu malu ketahuan memandangku, ia sekarang mengalihkan wajahnya ke jendela. Aku pun memutuskan untuk menghampirinya dan duduk di dekatnya. Tapi sepertinya ia tidak menyadarinya.
“Ehem.”aku berdeham, dia diam saja.
Kemudian aku berdeham lagi, dan akhirnya yeoja itu berbalik melihatku. Mungkin karena kaget dengan wajahku yang terlalu dekat dengannya, refleks ia memundurkan tubuhnya ke jendela, membuat topinya terlepas dan rambutnya tergerai.
Aku terpana memandangnya. Ia sangat… cantik. Tapi bukan hanya itu yang membuatku terpana. Kenapa yeoja ini terlihat mirip dengannya? Apalagi matanya, mata cokelat muda beningnya. Mengingatkanku akan…
“A..apa maumu?”tanyanya.
Aku tersenyum. “Mianhe karena aku sudah mengagetkanmu. Tapi sebelumnya kau terus memandangiku, membuatku tidak nyaman.”
Ia terlihat tidak enak. “Jweseunghamnida. Aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman.” Kemudian ia mengambil topinya yang terjatuh dan memakainya lagi.
Aku masih terus memandanginya, kenapa ia terlihat begitu mirip? Aku memutuskan untuk memastikan siapa namanya. “Jika sebelumnya kita tidak pernah berbicara, mungkin aku akan mengira kau seorang namja. Kenalkan, Lee Yunho imnida.” Aku mengulurkan tanganku padanya.
Dia terlihat terkejut saat aku menyebutkan namaku. Mungkin karena ia tidak menyangka jika aku akan mengajaknya berkenalan. Atau karena dia adalah…
“Choneun…mm.. Park… Yuuri imnida…”katanya dan ia pun membalas uluran tanganku.
Yuuri? Kenapa namanya sama? Tapi… Park?
“Mm… Lee Yunho-ssi..”
“Ne?”
“Bisa tidak geser sedikit?”
Aku mengedip-ngedipkan mata melihat wajahnya yang terlihat tidak nyaman. Baru aku sadar kenapa ia seperti itu. Aku duduk terlalu dekat dengannya.
“Ah… mianhe.”ucapku, melepaskan tanganku lalu sedikit bergeser.
Kemudian kami asik mengobrol. Dia bilang jika ia mahasiswa fotografi tingkat dua di Kyunghee. Pantas saja saat tasnya jatuh kemarin banyak foto-foto dan album yang keluar dari tasnya.
Akhirnya bis sampai di halte Universitas Kyunghee. Ia pamit turun. Tapi sebelum ia melangkahkan kaki keluar bis, tanpa mempedulikan orang-orang yang berada di bis, aku berteriak, “Sampai ketemu besok!”
Dia tersenyum, dan aku membalas senyumnya dengan lebih lebar.

Yuuri’s POV

“Sampai ketemu besok!”
Aku menoleh saat mendengar teriakan namja bernama Lee Yunho itu. Dan tanpa bisa kutahan, senyumku pun mengembang. Ia membalas senyumku dengan lebih lebar lagi.
Entah ada apa dengan diriku. Tapi aku merasa senang sekali berbicara dengan Yunho-ssi. Tadi kami mengobrol banyak. Ia bercerita jika ia bekerja sebagai manajer di perusahaan kakeknya, dan umur kami berbeda tiga tahun, tahun ini umurnya 25 tahun. Dan ia sering sekali naik bis pagi-pagi karena ada suatu tempat yang ingin ia kunjungi, dan ke tempat itu harus menggunakan bis.
Dia bilang namanya Lee Yunho. Aku sedikit kaget mendengar namanya. Karena namanya Yunho, bukan Jung Yunho, tapi Lee Yunho. Hal itu membuatku kecewa. Padahal aku berharap jika namanya Jung Yunho. Aku merasa ia ramah sekali, membuatku teringat saat pertama kali kenal Yoochun oppa. Jadi tanpa aku sadari aku mengatakan namaku Park Yuuri.-_-‘
Walaupun bukan Jung Yunho yang aku kenal, tapi aku ingin sekali bertemu dengannya lagi. Mungkin kami bisa berteman.
Aku melangkahkan kakiku dengan riang ke gerbang kampus. Akhirnya setelah beberapa hari ini aku bisa gembira. Mudah-mudahan setelah ini akan ada hal baik lainnya. Aku bahkan tidak terlalu peduli saat tidak bisa masuk kelas Han sosaengnim karena terlambat. Aku pun memutuskan untuk pergi ke kantin dan membeli roti untuk kumakan di tempat favoritku, di taman belakang kampus.
Kumakan rotiku dalam diam. Pikiranku masih melayang ke pertemuanku dengan Lee Yunho tadi pagi, membuatku senyum-senyum sendiri.
“Ternyata kau ada disini.”
Aku menoleh ke asal suara. “Kim Jaejoong-ssi?” Untuk apa dia kemari? Mau cari ribut lagi? Ah, biarkan saja, lebih baik tidak usah mempedulikan apa yang dia bicarakan nanti. Saat ini aku hanya ingin mengingat hal yang menyenangkan saja.
Ia duduk di sampingku. “Kelihatannya kau sedang gembira.”
Aku menatapnya dengan cengiran lebar. “Ne. dan karena aku sedang gembira, aku tidak ingin merusak kegembiraanku dengan mendengar kata-kata menyebalkan darimu!”kataku lalu menggigit rotiku lagi.
Aku mendengarnya terkekeh geli. “Aku tidak ingin membuatmu kesal. Seharusnya kau berterima kasih padaku karena tadi malam aku antar pulang.”
Aku langsung menatapnya lagi. “Jinjjayo?”tanyaku sangsi.
“Ne.”jawabnya dengan senyum yang… manis. Ah! Apa sih yang kau pikirkan, Jung Yuuri!
“Ya! Kenapa malah kau yang mengantarku?! Seharusnya kan Yoochun oppa!”seruku kesal. Ngapain sih dia tiba-tiba bersedia mengantarku pulang seperti itu? Membuatku curiga saja. Padahal aku inginnya Yoochun oppa yang mengantarku.
“Kenapa harus dia?”tanyanya dengan menyipitkan mata. Kenapa dia memandangku seperti itu?
“Ya karena….”tiba-tiba ponselku berbunyi.
“Yeoboseyo? Yoochun oppa? Ne. kemarin aku memang mabuk, tapi sekarang aku sedang gembira.”
Kemudian aku mendengarkan kata-katanya, lalu tertawa. “Jinjjayo? Oppa benar-benar…? Haha… kau jahil sekali oppa. Anhi. Neomu neomu chuaheyo. Aku akan selalu mendukung oppa. Ne, oppa. Bye.”
Setelah mematikan telponku, aku kembali memandang Jaejoong, dan kulihat ia menatapku dengan wajah cemberut. “Ah, mianhe aku berbicara dengan oppa terlalu lama.” Ia memalingkan wajah dengan kesal. “Ngomong-ngomong ada urusan apa kau mencariku? Bukankah kita sudah tidak ada urusan lagi?”
Kemudian wajahnya yang tadinya kesal, langsung berubah… bingung, senang,… dan… entahlah. Ekspresinya susah digambarkan, sepertinya emosinya saat ini sedang bercampur aduk. Ia kembali menatapku, membuatku jengah dan melirik ke arah lain.
“Aku…ada yang ingin kukatakan.”
Aku melirik sedikit wajahnya. “N..ne.. Mworago?”
Ia memejamkan mata dan menghela napas. “Maukah kau memaafkanku?”
“Hah?” Aku bingung. “Untuk apa?”
“Karena sudah menuduhmu sebagai stalker, dan merusak kameramu.”
Kok? Kenapa tiba-tiba? “Ng… kalau tentang kamera, memang dirimu yang salah, dan memang seharusnya minta maaf padaku. Tapi tentang stalker…. Kan aku yang salah?”
Ia menggeleng. “Aku sudah mendengarnya dari Cho Hyemi-ssi. Ternyata dia stalker waktu itu.”
Aku terkesiap mendengarnya. Jadi Hye mi yang memberitahunya? Kenapa Hye mi memberitahunya? Hye mi babo! Nanti kalau dia mengalami masalah gimana?!
“Tolong maafkan Hye mi. jangan laporkan dia…”ucapku sambil membungkuk padanya.
“Jung Yuuri-ssi, angkat kepalamu..”
“Aku tidak akan mengangkat kepalaku sampai kau mau memaafkannya.”
Tiba-tiba aku merasakan bahuku dipegang, dan posisiku yang sedang membungkuk diluruskan. “Aku sudah memaafkannya. Sekarang, maukah kau memaafkanku?”tanyanya dengan pandangan mata yang lembut.
Jujur saja, aku masih bingung dengan hal ini. Jadi aku pun tidak tahu harus berkata apa.
“Kau pernah bilang, jika suatu saat aku mengetahui dirimu bukanlah stalker waktu itu, aku akan menyesal dan kau tidak akan pernah memaafkanku. Sekarang aku tahu dan aku menyesal. Tapi aku harap kau mau memaafkanku…”pintanya dengan wajah yang sepertinya penuh dengan penyesalan.
Tapi kapan aku pernah berkata seperti itu padanya? Aku berusaha mengingat-ingat. Haduuuhhh…. Kenapa aku pelupa sekali sih?
“Ng… Kim Jaejoong-ssi… memangnya aku pernah berkata seperti itu ya?”
“Hah?”
“Kapan aku bilang ‘kau akan menyesal dan aku tidak akan memaafkanmu’?”tanyaku bingung.
Ia menatapku tercengang. “Kau benar-benar tidak ingat?”
Aku meringis kecil. “Aku ini pelupa parah. Biasanya aku tidak akan mengingat hal-hal yang menurutku tidak perlu kuingat. Jadi, jika aku tidak mengingatnya, berarti itu tidak terlalu penting untukku. Lagipula aku bukan orang pendendam.”jelasku, dan aku jadi menahan tawa saat melihat wajahnya yang tercengang. “Tapi permintaan maafmu kuterima.”
Ia kemudian tertawa kecil. “Walaupun tidak seperti dugaanku, aku sudah lega sekarang. gomapta.”
“Cheonmaneyo.”ucapku ikut tersenyum. Aku juga lega masalah diantara kami selesai.
“Lalu…”
“Hm?”
“Apa kita bisa berteman?”
Aku berpikir-pikir sebentar. “Apa kita perlu berteman?”
“Kenapa tidak perlu?”
“Kenapa perlu?”tanyaku balik.
“Jika kita tidak ribut lagi, sudah baikan, lalu hubungan kita sekarang apa selain teman?”
Aku rasa sekarang saatnya pembalasan. Aku akan sedikit mengerjainya. Hehe..*evilYuu mode on* “Kau sedang beruntung Kim Jaejoong-ssi. Kau meminta maaf padaku pada saat suasana hatiku sedang baik, jadi kau kumaafkan. Tapi untuk berteman, sepertinya aku belum bisa menerimamu sebagai temanku.”
“Kenapa?”tanyanya dengan wajah kecewa. Membuat evilYuu tertawa dalam hati.
“Karena kau lebih cantik daripada yeoja-yeoja di kampus ini.”ucapku dengan terkekeh geli.
Kim Jaejoong langsung memelototkan matanya. “Ya! Nan namja!”serunya kesal. “Berani-beraninya kau mengatakan itu!”
Aku langsung berdiri dari dudukku, dan berjalan pergi meninggalkannya sambil tertawa-tawa. “Ada banyak hal yang harus kupertimbangkan untuk menerimamu sebagai temanku Kim Jaejoong-ssi! Annyeong~!”teriakku dari jauh dan melambai-lambaikan tanganku padanya.

Jaejoong’s POV

Ia berpikir-pikir sebentar. “Apa kita perlu berteman?”
“Kenapa tidak perlu?”
“Kenapa perlu?”tanyanya balik. Haduh, kenapa dia suka sekali membalik-balikkan pertanyaan orang sih?
“Jika kita tidak ribut lagi, sudah baikan, lalu hubungan kita sekarang apa selain teman?”
Ia tersenyum angkuh. Dasar! Apa dia sudah merasa di atas angin sekarang? “Kau sedang beruntung Kim Jaejoong-ssi. Kau meminta maaf padaku pada saat suasana hatiku sedang baik, jadi kau kumaafkan. Tapi untuk berteman, sepertinya aku belum bisa menerimamu sebagai temanku.”
Aku langsung kecewa mendengarnya. Dia pasti belum sepenuhnya memaafkanku. “Kenapa?”tanyaku. Apa kau masih belum sepenuhnya memaafkan kesalahanku? Tapi aku tidak berani menyuarakan pikiranku itu. Aku takut itu benar.
Kemudian kulihat bibirnya mulai membentuk senyuman. “Karena kau lebih cantik daripada yeoja-yeoja di kampus ini.”ucapnya dengan terkekeh geli.
Mataku melotot. “Ya! Nan namja!”seruku kesal. “Berani-beraninya kau mengatakan itu!”
Ia langsung berdiri dari duduknya, dan berjalan pergi meninggalkanku sambil tertawa-tawa. Aku terpesona menatap wajahnya yang tertawa. Wajah ceria pertama yang kulihat darinya.“Ada banyak hal yang harus kupertimbangkan untuk menerimamu sebagai temanku Kim Jaejoong-ssi! Annyeong~!”teriaknya dari jauh dan melambai-lambaikan tangannya padaku.
Aku masih terus menatap kepergiannya. Kurasakan bibirku masih membentuk senyuman di wajahku. Dasar yeoja menyebalkan! Dia menolakku menjadi temannya, tapi malah berbicara banmal(informal) padaku. Tapi…kenapa rasanya bahagia sekali melihatnya ceria seperti itu? Aku masih teringat kata-katanya tadi yang mengataiku lebih cantik dari yeoja-yeoa yang ada di kampus. Ternyata dia yeoja yang suka meledek orang dan suka bercanda. Apa ia seperti itu karena sedang gembira? Aku penasaran sekali, sebenarnya apa yang membuatnya begitu ceria hari ini? Padahal tadi malam dia mabuk karena kesal denganku.
Tiba-tiba aku teringat pembicaraannya dengan Yoochun tadi. Apa karena namja itu? Kurasa aku harus segera menanyakan apa hubungan mereka sebenarnya.
Tiba-tiba aku tertegun sendiri menyadari apa yang baru saja aku pikirkan.
Untuk apa aku harus melakukan itu?

Author’s POV

Bukan tanpa sebab Yuuri datang sangat awal ke studio pemotretan. Ini karena permintaan yang sangat tidak biasa dari Yoochun. Ya, Yoochun yang selama ini selalu membantunya, sekarang meminta bantuannya. Tentu saja Yuuri dengan senang hati bersedia membantu namja itu. Apalagi saat mendengar bantuan apa yang diinginkan oleh Yoochun, langsung saja ia bersedia.
“Bagaimana Yuuri-ah?”Tanya Yoochun gugup setelah menjelaskan mengenai masalahnya pada Yuuri. Yuuri terlihat berpikir-pikir sebentar.
“Aku tidak tahu bagaimana nanti jadinya. Tapi aku pasti akan membantu oppa.”jawab Yuuri sambil mengacungkan jempolnya. Yoochun tersenyum sangat lebar, kemudian mengacak-acak rambut Yuuri yang tidak ditutupi topi dengan gemas.
“Ya! Oppa!”seru Yuuri kesal.
“Gomapta, chagi.”Yoochun terkekeh geli saat mengatakan ‘chagi’, apalagi melihat wajah Yuuri yang mulai menahan mual mendengar kata itu.
“Tidak bisakah oppa tidak menggunakan panggilan itu? Aku benar-benar mual mendengarnya oppa.”
“Waeyo? Masa’ aku tidak boleh memanggilmu seperti itu sih?”
“Aku tidak habis pikir kenapa yeoja namja yang berpacaran selalu menggunakan kata-kata itu. Itu terdengar menggelikan di telingaku.”
“Kalau begitu bagaimana jika aku memanggilmu ‘yeobo’?”Tanya Yoochun dengan senyum jahilnya.
“Oppa! Sekarang aku mau muntah!”seru Yuuri sebal. “Kau ingin membuatku malu ya?! Awas saja jika kau berani memanggilku seperti itu di depan orang-orang!”
Yoochun tertawa geli melihat wajah Yuuri yang sekarang sedang menatapnya kesal dengan bibir dimanyunkan. Ia mencubit kedua pipi Yuuri gemas.
“Aigoo… Neomu kyeopta…”ucap Yoochun dengan nada gemas. “Jangan memajukan bibirmu seperti itu Yuuri-ah. Kau minta kucium ya?”
Wajah Yuuri memerah, dan dengan wajah malu ia memukul lengan kekar Yoochun dengan keras, membuat namja itu berteriak kesakitan.

Yuuri’s POV

Aku merasa mual mendengar Yoochun Oppa memanggilku ‘chagi’. Walaupun ia berhak memanggilku seperti itu, tapi tetap saja aku tidak menyukainya. Kata itu terasa sangat menggelikan di telingaku.
“Tidak bisakah oppa tidak menggunakan panggilan itu? Aku benar-benar mual mendengarnya oppa.”
“Waeyo? Masa’ aku tidak boleh memanggilmu seperti itu sih?”
“Aku tidak habis pikir kenapa yeoja namja yang berpacaran selalu menggunakan kata-kata itu. Itu terdengar menggelikan di telingaku.”
“Kalau begitu bagaimana jika aku memanggilmu ‘yeobo’?”Tanya Yoochun oppa dengan senyum jahilnya.
“Oppa! Sekarang aku mau muntah!”seruku sebal. “Kau ingin membuatku malu ya?! Awas saja jika kau berani memanggilku seperti itu di depan orang-orang!”
Ia tertawa geli melihat wajahku yang sekarang sedang menatapnya kesal dengan bibir dimanyunkan. Kemudian ia mencubit kedua pipiku gemas.
“Aigoo… Neomu kyeopta…”ucapnya dengan nada gemas. “Jangan memajukan bibirmu seperti itu Yuuri-ah. Kau minta kucium ya?”
Kurasakan wajahku memerah karena malu, lalu kupukul lengan kekarnya dengan keras, membuatnya berteriak kesakitan. Kenapa sikapnya jadi menjijikkan seperti ini sih? Aku jadi menyesal bersedia membantunya. Tapi aku tidak mungkin menarik kata-kataku kan?
Aku melihatnya yang masih memegangi lengannya dengan kesakitan. Apa aku memukulnya terlalu keras?
“Neo gwenchanayo? Mianhe, oppa. Apa aku memukulmu terlalu keras?”tanyaku cemas, lalu menyentuh lengannya yang tadi kupukul dengan cukup keras.
Yoochun oppa meringis kecil. “Gwenchana, chagiya.”
Pipiku memanas, tapi bibirku cemberut mendengarnya memanggilku seperti itu lagi. Lagi-lagi ia menggodaku dengan kata yang aku tidak suka itu. Tapi aku tidak bisa berlama-lama marah padanya. Ini gara-gara aku terlalu menyayanginya sih.

Author’s POV

Yoochun dan Yuuri masih terus berbicara dengan mesra dan akrab, padahal sekarang sudah lumayan banyak orang yang berada di depan pintu ruangan itu dan mengintip mereka berdua dari balik pintu yang separuh terbuka.
“Mereka pacaran ya onnie?”tanya seorang kru pada yeoja berambut panjang dan berpakaian modis yang sedang melihat pemandangan itu dengan mata nanar.
“Mwolla.”jawabnya pelan.
“Aku kira Ji Hye yeojachingunya Yoochun, kalian kan dekat sekali. Tapi sepertinya aku salah.”kata kru yang lain.
Yeoja bernama Seo Ji Hye itu menatap kru yang mengatakan hal itu sambil tersenyum kecil. “Sekarang oppa percaya kan jika aku tidak berpacaran dengan Yoochun? Lagipula Yuuri yeoja yang sangat baik dan manis, mereka cocok sekali.”

Jaejoong’s POV

Aku baru saja sampai ke studio pemotretan dan menuju ruang ganti untuk mengganti bajuku dengan kostum pemotretan. Kulihat ada banyak orang sedang berkumpul di depan pintu. Aku menghampiri mereka dengan penasaran.
“Sekarang oppa percaya kan jika aku tidak berpacaran dengan Yoochun? Lagipula Yuuri yeoja yang sangat baik dan manis, mereka cocok sekali.”
DEG.
Apa yang barusan Ji Hye noona katakan? Pacaran? Cocok?
Aku melihat ke arah pandangan mereka, dan hal yang kulihat selanjutnya membuatku mengepalkan tangan karena marah. Yuuri dan… Yoochun. Mereka berdua terlihat berbincang dengan seru dan akrab. Wajah Yuuri terlihat sangat ceria. Jadi benar mereka pacaran?
Aku tidak bisa melihat pemandangan ini lebih lama lagi. Dadaku terasa sesak. Dengan cepat aku balik badan dan meninggalkan tempat itu.
“Lho? Jaejoong-ssi!”panggil Ji Hye noona, tapi aku tidak mempedulikan hal itu. Aku terus berjalan keluar dan duduk di kursi di halaman.
Aku menekan tangan kananku di dada kiriku. Kenapa dadaku terasa begitu sesak saat mendengar kedekatan antara Yuuri dan Yoochun? apa ada yang salah denganku?
Kemudian aku teringat kata-kata Junsu.
‘Kau menyukainya hyung’
“Anhiyo. Aku hanya penasaran saja padanya,”jawabku pelan, berusaha menghilangkan kata-kata Junsu di kepalaku.
‘Penasaran bisa berubah jadi suka, hyung.’
“Tidak… tidak mungkin…”
Tapi kenapa semakin aku menyangkalnya, dadaku semakin sesak dan jantungku berdebar semakin kencang?
Aku memejamkan mataku sejenak, berusaha mencerna kata-kata Junsu, perasaanku, dan semua yang terjadi padaku. Kupijat kepalaku dengan kesal saat aku benar-benar menyadarinya sekarang. Ya, Kim Jaejoong, kau menyukainya. Bukan penasaran. Kau benar-benar menyukainya.
Kemudian aku membuka mata dan terkejut melihat orang yang sedang kupikirkan sedang menatapku dengan tersenyum.

Author’s POV

Yuuri tersenyum saat dilihatnya Jaejoong sedang duduk sendirian di halaman. Ia menghampiri namja itu dan berdiri di hadapan namja yang kini sedang memejamkan matanya itu. Ia tersenyum saat melihat namja itu terkejut melihatnya.
“Sedang apa?”tanyanya, lalu duduk di sebelah Jaejoong.
Jaejoong menatapnya dengan gugup. “Ti..tidak sedang apa-apa.” Setelah menyadari perasaannya mendadak Jaejoong jadi tidak ingin melihat Yuuri. Ia terlalu gugup menghadapi Yuuri dan terlalu kesal saat menyadari dirinya sudah kalah sebelum berperang. Yoochun sudah memiliki yeoja itu. Jaejoong memijat keningnya dengan kesal.
Yuuri menatapnya tidak percaya. “Kau sakit ya?”tanyanya. Jaejoong menggeleng.
“Tapi wajahmu terlihat lelah dan pucat. Kau yakin tidak apa-apa?”Tanya Yuuri dengan nada suara cemas.
Jaejoong memandang Yuuri lalu tersenyum kecil. ‘Kau memperhatikanku? Apakah aku masih bisa berharap lebih?’
“Aku benar-benar tidak apa-apa Yuuri-ssi. Hanya sedikit lelah karena tadi malam aku tidak bisa tidur.”jawab Jaejoong tidak sepenuhnya berbohong. Tadi malam ia memang tidak bisa tidur saking senangnya Yuuri memaafkannya.
Yuuri masih menatapnya khawatir. “Kau sudah sarapan?” Jaejoong mengangguk. Kemudian Yuuri membuka tas selempang hitam belelnya dan mengeluarkan jus jeruk kaleng. Ia memberikannya pada Jaejoong.
“Ini. Minumlah. Kau pasti akan merasa segar setelah meminumnya.”
Jaejoong memandang Yuuri takjub. Ia seperti bermimpi melihat yeoja ini memperhatikannya seperti itu. Ia menerima jus kaleng itu dengan tersenyum lebar. “Gomapta.”
“Cheonmaneyo. Aku akan masuk ke dalam dan memberitahu para kru tentang kondisimu. Sepertinya kau butuh istirahat setidaknya sekitar setengah jam.”kata Yuuri lalu bangkit dari duduknya, tapi Jaejoong menangkap tangannya dan menahannya.
“Tetaplah disini. Temani aku.”
***
Yoochun tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Yuuri dan Jaejoong? Kombinasi yang sangat tidak biasa. Mereka terlihat mengobrol tanpa ada urat leher yang keluar. Apa masalah di antara mereka sudah selesai?
Dengan penasaran, Yoochun masih memandangi kedua orang yang sedang mengobrol di halaman itu. Kemudian ia mengernyitkan dahinya melihat ekspresi wajah Jaejoong pada Yuuri. Apalagi senyum lebar namja itu saat Yuuri memberikannya jus kaleng, membuat Yoochun membelalakkan matanya.
“Jangan-jangan ia menyukai Yuuri?”gumamnya, kemudian tertawa kecil. “Sepertinya kau harus menghadapiku dulu baru bisa mendapatkannya, Kim Jaejoong-ssi.”
***

Sejak ia melihat Yoochun dan Yuuri berbicara akrab di dalam ruang ganti, Ji Hye tidak bisa melepaskan pandangannya dari Yoochun. Sebenarnya ia masih tidak percaya jika Yoochun berpacaran dengan Yuuri, apalagi Yoochun pernah mengatakan jika baginya Yuuri yeodongsaeng yang sangat manis.
Matanya terus menatap Yoochun yang sedang mempersiapkan peralatan untuk pemotretan. Kemudian dilihatnya Yoochun menghampiri jendela, dan terlihat kaget dengan apa yang dilihatnya di luar sana. Penasaran, Ji Hye mendekati Yoochun dan melihat apa yang dilihat Yoochun dari belakang. Yuuri dan Jaejoong.
Ji Hye terbelalak melihat senyum Jaejoong yang sangat kentara ketika Yuuri memberikan jus kaleng kepada namja itu. Ia melirik Yoochun cemas. Apakah Jaejoong…
“Jangan-jangan ia menyukai Yuuri?”gumam Yoochun, menyuarakan pikiran Ji Hye. Kemudian namja itu tertawa kecil. “Sepertinya kau harus menghadapiku dulu baru bisa mendapatkannya, Kim Jaejoong-ssi.”
Ji Hye berbalik meninggalkan Yoochun. Walaupun pelan, Ji Hye bisa mendengar kata-kata Yoochun tadi dengan jelas. Dan semua keraguan di hatinya terjawab sudah. Yoochun dan Yuuri memang berhubungan. Dan itu berarti ia harus mengubur perasaannya dalam-dalam.

Jaejoong’s POV

Akhirnya pemotretan hari ini selesai juga. Aku masuk ke ruang ganti dan duduk di sana untuk beristirahat sebentar. Awalnya memang mood-ku buruk sekali saat melihat Yuuri dan Yoochun. Tapi setelah berbicara dengan Yuuri di halaman, moodku langsung membaik. Aku mengingat kejadian tadi pagi dengan tersenyum.
*Flashback.*
“Tetaplah disini. Temani aku.”
Yuuri menatap tangan Jaejoong yang sekarang sedang memegang lengannya. Jaejoong melihat tatapan Yuuri kemudian langsung melepaskan tangannya. “Mianhe…”
Yuuri hanya tersenyum kecil. Ia duduk kembali di sebelah Jaejoong lalu menelpon Yoochun. “Yeoboseyo. Oppa, sepertinya kita harus menunda pemotretan sekitar setengah jam. Jaejoong-ssi sedang tidak enak badan. Aku akan menemaninya sebentar. Ne, oppa. Gomawoyo.”
Yuuri tersenyum memandang Jaejoong. “Kau bisa beristirahat selama setengah jam. Bagaimana jika kita ke dalam saja? Kau bisa tidur sebentar.”
Jaejoong menggeleng dan tersenyum. Bukan tidur yang dibutuhkannya. Ia hanya butuh yeoja ini bersamanya. Tapi mana mungkin ia mengatakan hal itu.
“Aku hanya perlu duduk sebentar disini dan kau hanya perlu menemaniku.”
Yuuri menatapnya bingung, tapi ia tidak mengatakan apapun. Mereka hanya terdiam sampai kemudian Jaejoong memejamkan matanya dan mendendangkan lagu ciptaannya dengan merdu.

Jikyeo jugo sipho neoui jalmotdwin nappeun boreutdeul kkajido
Himdeun nal utge mandeuneun geoya
Jom himdeul getjiman neol saranghae rago maldo halgeoya
Meonjeo nae phume oneun nal kkaji
(I want to protect you… even your bad habits make me smile
When I’m tired
Although it may be difficult, I’m going to say that I love you
Until the day you first come into my arms)
I’ll Protect You – by Kim Jaejoong

Lagu itu sangat mewakili perasaannya saat itu. Jaejoong tahu sekarang yeoja yang berada di sampingnya ini sudah menjadi milik Park Yoochun, tetapi ekspresi Yuuri saat melihatnya bernyanyi membuatnya berpikir lain.
“Akan kubuat kau menyukaiku.”
*End of flashback*

Aku segera mengganti bajuku dan keluar dari ruang ganti. Kulihat Yoochun menghampiriku dengan tersenyum, membuat moodku jelek lagi. Untuk apa ia menghampiriku?
“Aku ingin berbicara sebentar denganmu.”katanya, menjawab pikiranku. Aku memandangnya malas. Apa sih yang ingin ia bicarakan? Aku sedang malas berbicara dengannya.
“Bisa kita bicara di dalam?”tanyanya saat melihatku masih diam saja. Kemudian aku mengikutinya masuk kembali ke ruang ganti. Aku menghempaskan tubuhku di sofa di ruangan itu. Ia hanya berdiri dan menyandarkan punggungnya di dinding dan melipat tangannya di depan dadanya. Hah! Sok sekali!
“Ada apa?”tanyaku langsung, aku tidak ingin berlama-lama bersamanya. Bisa-bisa aku meledakkan kemarahanku padanya.
Aku mengambil botol air mineralku di meja, dan meminumnya. “Kau menyukai Yuuri?” aku langsung tersedak dan memuntahkan air yang kuminum saat mendengar pertanyaan Yoochun yang langsung itu.
Aku terbatuk-batuk dan menatapnya kesal. Ia hanya memandangku dengan wajah datar.
“Kenapa tiba-tiba kau menanyakan itu?”
“Aku bisa melihatnya dari wajahmu saat kau memandang Yuuri. Aku benar kan?”
Aku menatapnya tajam. “Kalau iya memangnya kenapa?”
Yoochun mengangkat alisnya. “Kurasa kau sudah tahu. Hubunganku dengan Yuuri bukan hanya sekedar teman. Kami…”
“Aku tahu.”langsung saja kupotong kata-katanya. Aku tidak ingin mendengarnya mengatakan mengenai hubungan mereka.
“Lalu?”
“Apa salah jika aku menyukainya? Apa aku tidak punya hak untuk menyukainya?” Aku melontarkan pertanyaan itu dengan tajam. Rasanya semakin lama disini aku semakin panas. Aku ingin sekali melampiaskan kemarahanku pada namja ini.
Aku tercengang ketika melihat Yoochun tersenyum alih-alih marah atau kesal. “Tidak ada salahnya menyukai seseorang. Kau juga punya hak untuk menyukainya. Hanya saja, jangan memaksanya atau menyakitinya dengan perasaanmu. Biarkan ia memilih siapa yang ia sukai.” Kemudian ia keluar meninggalkanku yang bingung dengan kata-katanya.
“Kau benar-benar percaya diri sekali Park Yoochun!”desisku kesal.

Yuuri’s POV

Aku berjalan ke halte bis dengan pikiran menerawang. Sejak beberapa hari yang lalu, sejak Kim Jaejoong bernyanyi di depanku, aku jadi terus-menerus memikirkan namja itu. Hari itu pertama kalinya aku mendengar suaranya saat bernyanyi, dan itu membuatku…terpesona. Apa suara merdunya itu yang membuat yeoja-yeoja seakan-akan terhipnotis olehnya. Sekarang aku baru sadar kenapa ia bisa sangat terkenal. Ia sangat berbakat, dan sejak kemarin aku jadi sangat menyukai lagu yang ia nyanyikan itu. Anhi. Bukan hanya lagunya, tapi suaranya juga. Suara merdunya benar-benar membuatku merasa nyaman ketika mendengarnya.
Hmm.. tapi suara Yoochun oppa juga merdu kok. Kalo Yoochun oppa juga penyanyi pasti jika mereka digabungkan akan menjadi grup yang lebih terkenal lagi dari popularitas Jaejoong-ssi sekarang.
Aku melihat bis yang sudah tiba dan bergegas masuk ke dalamnya. Kemudian aku tersenyum melihat Yunho yang menatapku dengan senyum lebar dan menepuk-nepuk kursi di sebelahnya yang kosong. Aku menghampirinya dan duduk di sebelahnya.
“Bagaimana kabarmu?”tanyanya.
“Akhir-akhir ini semuanya berjalan baik. Bagaimana denganmu?”
Ia terlihat berpikir-pikir sebentar, kemudian menghela napas. “Tidak begitu baik.”jawabnya murung.
“Waeyo?”
“Aku sedang bersitegang dengan harabeoji. Ia mengatakan akhir-akhir ini aku tidak becus mengurus perusahaan. Padahal kan aku hanya perlu sedikit bersantai.” Ia menghela napas lagi. “Kenapa ya semakin tua seseorang, sifat egoisnya semakin kuat?”
“Ah, tidak juga. Aku banyak mengenal orang yang semakin tua ia semakin pengertian.”
“Benarkah? Tapi memang sudah sifat asli harabeoji dari masih muda sudah seperti itu sih.”katanya terkekeh kecil. “Hei, apa hari ini kau sibuk?”
“Tidak. Sebenarnya hari ini aku tidak ada kuliah, juga tidak ada pekerjaan di studio, tapi aku bosan di rumah, jadi aku pergi ke kampus.”
Yunho tersenyum senang.”Kalau begitu, kau mau menemaniku?”
***

Sekarang aku sudah berada di taman bermain dengan Yunho. Aku menatap taman bermain itu dengan takjub. Sudah bertahun-tahun lamanya aku tidak pernah kesini, dan ternyata permainannya semakin banyak saja. Aku jadi merasa excited.
“Mau mulai naik apa?”tanya Yunho yang tersenyum melihatku yang sekarang pasti terlihat norak sekali. Tapi aku tidak peduli. Aku langsung menunjuk satu permainan. Kemudian kami bergegas kesana.
Perutku merasa sangat lapar setelah sekitar tiga jam kami mencoba berbagai wahana di taman bermain. Yunho mengajakku makan di kafe di taman bermain itu. Ia mengatakan es krim disini enak sekali, terutama es krim duriannya.
“Es krim durian?”
“Ne. kau pernah mencobanya? Buahnya enak sekali.”
“Tentu saja pernah. Durian salah satu buah favoritku. Dulu saat appa mengajakku untuk memotret di Indonesia, saat itu disana sedang musim buah itu. Dan kami sering sekali memakannya. Sejak itu aku jadi sangat menyukai buah itu. Walaupun jarang beli juga sih…”
Yunho menatapku terkejut. “Ayahmu juga seorang fotografer?”
“Juga? Apakah ayah Yunho-ssi…”
Tiba-tiba ada suara ponsel yang mengagetkanku. Yunho merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya. “Yeoboseyo, harabeoji?”kemudian ia pergi ke sudut kafe yang tidak banyak orang untuk meneruskan pembicaraan di telpon itu.
Sambil menunggu Yunho selesai menelpon, aku melihat-lihat ke sekelilingku. Kemudian mataku melihat sebuah dompet yang berada di bawah meja kami berdua. Apa itu dompet Yunho-ssi?
Aku merunduk ke bawah meja dan menjangkau dompet itu. Jika diperhatikan, sepertinya ini dompet mahal. Mungkin benar ini dompetnya Yunho. Aku membukanya, lalu melihat ID cardnya, ada foto Yunho. Berarti ini memang dompetnya. Kemudian aku terpaku melihat foto yang berada di lipatan lain dompet itu.
Foto itu… wajah yang sangat kurindukan berada di foto itu.
Foto aku dan Yun waktu kecil.
Aku langsung memandang Yunho yang sedang menelpon di kejauhan. Kurasakan airmataku menetes.
Jadi kau adalah Yun?

~TBC~

Kenapa appa meninggalkanku setelah memisahkan aku dari Yun…?~ Yuuri’s POV
Apa ini karena Park Yoochun?~ Jaejoong’s POV
Kau masih mau jadi yeojachingu oppa kan?~Yoochun’s POV

OMG! Leeteuk melamar Kang Sora di Panggung Super Show 4

Pada 20 November, sebelum Super Junior World Tour – Super Show 4, yang bertempat di Gymnastics Stadium di Olympic Park, Kang Sora menemui Leeteuk, suami virtualnya di acara We Got Married, dengan membawakan makan siang yang telah disiapkannya untuk Leeteuk.

Leeteuk terlihat surprise oleh makanan yang Kang Sora buat sendiri sebelum konser. “Apa ini? terima kasih aku akan memakannya sampai habis.”

Tapi ternyata Teukie memberikan surprise yang lebih manis untuk Sora dan membuat semua orang terpesona dan iri! *gue juga -_-” *

Dalam konser ini, Teukie turun panggung ke arah Sora, yang saat itu duduk di antara penonton lainnya, ketika tubuhnya tergantung di udara. Dia menghampiri istrinya perlahan sebelum kemudian membawanya naik ke atas panggung sambil menyanyikan lagu “She”. *so sweet abisss *

Dengan malu Sora menerima bunga mawar pemberian Teukie kemudian terkejut saat Teukie mengeluarkan sebuah cincin dari kantongnya.

“Aku mempersiapkan sebuah cincin. Karena Aku tidak tahu ukuranmu, ini mungkin sedikit kebesaran,” dan memakaikan sebuah cincin ke jari Kang Sora. Teukie bertanya, “Apakah kebesaran?” dan Kang Sora menganggukkan kepalanya. Teukie berkata, “Kalau begitu Aku akan melakukan ini,” dan memeluknya. *Di foto di bawah ini badannya Sora kaku banget waktu dipeluk Teukie, malu ye?*

Semua penonton berteriak histeris dan iri. *gyaaa~ jadi ikut jejeritan deh 🙂 *

Ditambah lagi, Teukie juga memanjakan telinga sang istri dengan permainan saxophonenya mengcover lagu “She” dari ‘Notting Hill‘.  Setelah pertunjukkannya, dia kemudian menggenggam tangan Kang Sora dan keduanya menghilang dari panggung, meninggalkan para fans yang  penasaran apa yang selanjutnya terjadi.

Hmm… mereka kira-kira beneran jadian nggak ya setelah acara We Got Married ini? I hope so. abisnya udah berasa feelnya sihhh 🙂

source: Koreanindo, hallyucafe

Lirik Lagu Trax – Blind (Romanization + Translation)

Nah, ini nih lirik lagunya Blind.

 

na ege meoril gidaego
mulkkeu reomi bara bo ado moreujyo
du pareul yeoreo bo imyeon
shiwon hada mal hamyeon seodo moreujyo

tumyeong han na ijiman
ni ape, seo it janha
ne, nuneun nal
neomeo chyeoda bol ppuniya

dan han beonman
han beonman nal chajabwa jebal
heuneukki myeon deo uk heuneu kkil surok
tumyeong haejyeo man ga neunde

jugeul mankeum
ganjeol han nae gido ye kkeute
nae pume gajil su itge
ojik neomani chaja jundamyeon

hee ppunyeon gyeoul seori e
nae maeumeul geuryeo boyeo do moreujyo
heut ppurin bit bangul moa
nunmul daeshin heullyeo boa do moreujyo

chaga un na ijiman
neol hyanghae, heureu janha
ne, monan nal
hangsang won mang hal ppuniya

dan han beonman
han beonman nal chajabwa jebal
heuneukki myeon deo uk heuneu kkil surok
tumyeong haejyeo man ga neunde

jugeul mankeum
ganjeol han nae gido ye kkeute
nae pume gajil su itge
ojik neomani chaja jundamyeon

geumi ga be igo, nae shimjangi da kkae jigo
geochilge nari seon kkeute, Oh
jogak jogak nuseo jin
geuttaen nal boge dwel tende

anbo ini
ireohke neol sarang ha janha
hangu seoge nameun neoye jimun do
jidokhi aro saegin chae

jugeul mankeum
kka manhge meong deun gaseum sogeul
kkeo nae da boyeo jwot neunde
geujeo chang bakki, chilheuk gat dan neo

anbo ini
geujeo chang bakki, chilheuk gat dan neo
hayeom eobshi, geujeo chang bakkman
bara boneun neo

Translation:

Even when you lean your head against me and stare vacantly, you don’t know
Even when you spread my arms, claiming “How refreshing”, you don’t know
Though I’m transparent, I’m standing in front of you
Your eyes just look over me

Just once, once, please find me
Harder and harder as I keep sobbing, I only grow more transparent
But if you and just you find me, so that at the end of my desperate prayer, I can have you in my embrace

Even when I try to draw my heart in the hazy winter frost, you don’t know
Even when I collect the scattered raindrops and have them flow as my tears, you don’t know
Though I’m cold, I have them flow towards you
You always just blame it on the square me

Just once, once, please find me
Harder and harder as I keep sobbing, I only grow more transparent
But if you and just you find me, so that at the end of my desperate prayer, I can have you in my embrace

Maybe at the end of mine when I’m cracked and cut, with my heart all shattering and my edges turning sharp
When I’m broken into pieces, you might finally see me

Can’t you see? I love you this much
Even the fingerprint that you left on my corner, I have it engraved
My deadly black bruised heart, I’ve pulled it all out to show you
You who just say “It’s pitch dark outside the window”
You who just say “It’s pitch dark outside the window” ’cause you can’t see it
You who just blankly stare only outside the window

 

Kyuhyun Super Junior dan Victoria f(x) pemeran utama MV Blind Trax

Trax, band beraliran rock-ballad yang terdiri dari dua personil, Jay dan Jungmo, akhirnya pada 10 November lalu merilis MV terbarunya. Judulnya Blind.

Dan tahu gak siapa model utama di MV itu?

Jengjengjengjeng

Cho Kyuhyun! Magnae super tampan di Super Junior! Kyaaaaaa~ *lebay mode on*

Dan pasangannya leader f(x) Victoria Song.

KyuToria Couple muncul!

Seperti biasanya, MV Trax pasti bernuansa warna putih kayak Let You Go, sama Oh! My Goddess.

Waktu awal nonton video ini aku kaget banget karena model MV Trax lagi-lagi Victoria. Dulu waktu di Let You Go, Vic sama Heechul, eh sekarang dipasangin sama suamiku,eh, biasku.

Kalo di Oh! My Goddess yang modelnya Seohyun, cerita di MV-nya Seohyun ceria banget. Tapi kalo di Let You Go sama Blind Vic nangis-nangisan. *ya iyalah, kan disesuaikan sama lirik lagunya*

 

 

Aku agak nggak ngerti sih cerita MVnya kayak gimana. Kayaknya sih sedih. *ya iyalah, vic aja ampe mewek gtu* Nah, trus aq cari deh liriknya.

Nih liriknya.

 

Even when you lean your head against me and stare vacantly, you don’t know
Even when you spread my arms, claiming “How refreshing”, you don’t know
Though I’m transparent, I’m standing in front of you
Your eyes just look over me

Just once, once, please find me
Harder and harder as I keep sobbing, I only grow more transparent
But if you and just you find me, so that at the end of my desperate prayer, I can have you in my embrace

Even when I try to draw my heart in the hazy winter frost, you don’t know
Even when I collect the scattered raindrops and have them flow as my tears, you don’t know
Though I’m cold, I have them flow towards you
You always just blame it on the square me

Just once, once, please find me
Harder and harder as I keep sobbing, I only grow more transparent
But if you and just you find me, so that at the end of my desperate prayer, I can have you in my embrace

Maybe at the end of mine when I’m cracked and cut, with my heart all shattering and my edges turning sharp
When I’m broken into pieces, you might finally see me

Can’t you see? I love you this much
Even the fingerprint that you left on my corner, I have it engraved
My deadly black bruised heart, I’ve pulled it all out to show you
You who just say “It’s pitch dark outside the window”
You who just say “It’s pitch dark outside the window” ’cause you can’t see it
You who just blankly stare only outside the window

Tuh kan sedih. Tapi tetep aja nggak ngerti jalan ceritanya. Trus karena nggak bisa baca hangul aku nggak tau juga arti tulisan di awal pas Vic sama Kyu muncul. Baca-baca di blog orang katanya sih pas Vic muncul artinya ‘She’s missing him’, trus pas Kyu muncul ‘but he can’t remember’.

Jadi aku simpulin kalo KyuToria itu terpisah, trus Kyu hilang ingatan dan Vic gak tau sekarang Kyu ada dimana. *kayak sinetron apa ya?* Pantesan aja muka Kyu pas lagi liat fotonya sama Vic kayak orang bingung gtu. “Ni ngapain gw fto sama cewek ini ya? seharusnya kan gw fto sama Ideafina.”kata Kyu sambil ngebayangin wajahku. hehe..

 

Nah, ada lagi yang bilang kalo Kyu mati ninggalin Vic. Jadi itu settingnya Kyu di surga, di neraka kale, kan evilKyu, dia gak inget sama Vic, trus pas dia buka kotak pandora, dia baru inget sama Vic.

 

Kyuhyun ganteng banget pake baju putih, celana coklat, sama sepatu putih. Aigoo~

Tapi pake apa aja biasku yang satu ini tetep ganteng kok. hehe ^_^

 

Walaupun Kyu cuma akting bingung-bingung gitu feel-nya lumayan dapet sih *feel bingungnya, hehe* Makanya aku berharap banget Kyu bisa main drama kayak hyung-hyungnya di SuJu.  kapan yaaa??

About KyuToria nih. Bagi aku yang pro SeoKyu Couple agak-agak gak setuju nih sama KyuToria. Tapi entah kenapa abis ngeliat mereka berdua di MV ini koq ngerasa kalo mereka cocok ya? Abisnya bajunya itu lho kompakan banget! Trus fotonya itu yang walaupun gak mesra kayak Vic-Heechul di Let You Go, bikin aku “kyaaaa~ cantik ganteng! cocooookkk!!!” >,<

Eh, tapi bukan berarti aku gak pro SeoKyu lagi yaaa~

Pokoknya lagu Trax ini daebak banget deh! Wajib di dengerin. Easy listening banget, trus artinya so sweet… plus KyuToria yang ganteng ‘n cantik. ^_^

 

JYJ, Park Yoohwan, dan Song Ji Hyo : Proyek Amal Elle ‘Share Happiness’

Dalam rangka proyek amal Elle ‘Share happiness’, JYJ, Park Yoohwan -adik Park Yoochun JYJ-, dan Song Ji Hyo, mengadakan pemotretan khusus. Foto-foto mereka yang diambil bertemakan musim gugur dan bergaya kasual.

Nah, ini beberapa foto mereka.

kereeenn yaaa, apalagi JJ. XD

ya, ampuuunn gaya JJ gk nahan deehh XD

Di foto ini Song Ji Hyo kelihatan cantik banget dengan rambut coklatnya, gk keliatan sama sekali kalo dia udah 30 tahun deh. Yoohwan juga imut. XD Agak jealous nih Ji Hyo onnie deket sama JYJ oppa-deul trus sama Yoohwan juga. Tapi cocok sih sama Junsu (kepengaruh MV In Heaven, hehe..)

Fighting, JYJ! ^_^

Source: Koreanindo

Seoul

 

Cast : Cho Kyuhyun Super Junior, Seohyun SNSD

Genre : Romance

Rate : General

Mendadak ide cerita ff ni muncul waktu aku kangen-kangenan nonton mv suju +snsd yang Seoul Song.  Kyu so sweet yaaa, pikirku. Eh, tiba-tiba cerita ini selesai. Hehe..

Ntar kalo sempet ‘n kepengen, aku bikin yang tokoh lain di mv ini lagi.

Mudah-mudahan menurut readers ceritanya se-sweet mv-nya ya.

Seo hyun berjalan dengan tidak bersemangat. Tadi ia ke tempatnya bekerja, dan bosnya bilang hari ini ia harus membagi-bagikan balon kepada anak-anak di Seoul Park sebagai perayaan hari anak. Biasanya ia bekerja sebagai badut boneka di depan taman hiburan yang tidak jauh dari Seoul Park, membagi-bagikan selebaran dan tentu saja menghibur pengunjung yang datang.

Seohyun mengambil kostum kepala boneka anak kecil yang rambutnya diikat dua. Boneka yang lucu, tapi tetap saja ia tidak suka memakainya. Sebenarnya ia kurang suka pekerjaan ini, karena ia tidak suka memakai kostum boneka itu berlama-lama. Panas sekali. Tapi ini satu-satunya pekerjaan yang didapatnya.  Lagipula jika ia memilih-milih pekerjaan, bagaimana ia bisa mendapat biaya untuk hidupnya dan adiknya?

Seohyun akhirnya tiba di taman Seoul. Ia sudah memakai kostumnya sebelumnya. Kaos lengan panjang dan dress selutut motif kotak-kotak warna putih merah, dengan ujung rok yang berenda. Kostum yang sangat manis. Ia lalu memakai kepala bonekanya dan mulai membagi-bagikan balon pada anak-anak kecil yang lewat, tentu saja sambil sedikit menari-nari untuk menghibur.

Setelah balonnya habis, dengan lega Seohyun membuka kepala boneka itu dari kepalanya. Ia mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan. Tapi tentu saja tidak ada gunanya. Memangnya tangannya bisa mengeluarkan angin?

Kruyuuukkk…

“Lapar…”gumamnya sambil mengelus-elus perutnya yang kosong. Ia memegang kepala boneka yang besar itu dengan kedua tangan dan mulai berjalan-jalan di sekitar Seoul Park untuk mencari penjual makanan yang murah. Tapi saat mencari-cari makanan itulah ia menemukan sesuatu yang menarik. Sebuah lukisan keluarga yang dipajang dengan disandarkan pada dinding bata taman itu. Di samping lukisan itu seorang pelukis jalanan sedang asik melukis.

Seohyun berjalan mendekati lukisan itu. Lukisan keluarga yang hangat. Seorang ibu menggandeng anak perempuannya, dan seorang ayah yang menggendong anak perempuan satunya yang lebih kecil. Latarnya adalah Seoul Park. Seohyun tersenyum lembut melihatnya. Lukisan ini mengingatkannya pada keluarganya dulu.

“Kau menyukainya?”tanya pelukis jalanan yang berada di sebelah lukisan itu.

Seohyun menoleh pada pelukis jalanan itu. “Ne. Lukisanmu bagus sekali. Terasa hangat.”puji Seohyun dengan tersenyum.

“Gomapseumnida.”ucap pelukis itu dengan tersenyum juga.

“Berapa harganya?”tanya Seohyun, ia berpikir ingin membeli lukisan ini.

“Ah, mianhamnida. Lukisan ini tidak bisa kujual padamu.”

Seohyun kecewa. Ia ingin sekali lukisan itu. “Apa karena harganya mahal? Seperti yang kau lihat aku memang bukan orang yang punya banyak uang. Tapi nanti saat aku gajian, aku pasti bisa membayarnya sedikit mahal.”bujuk Seohyun.

Pelukis itu tersenyum menyesal. “Bukan seperti itu maksudku, Agassi. Aku memang tidak akan menjualnya pada siapapun. Ini salah satu lukisan favoritku.”

Seohyun menatap pelukis itu kecewa. Kemudian ia tidak berkata apa-apa lagi, hanya diam memperhatikan lukisan itu.

“Kau bekerja sebagai mascot ya?”tanya pelukis itu melirik ke kepala boneka yang dipegang Seohyun dengan kedua tangan.

“Ne. aku bekerja di taman hiburan di depan sana. Tapi karena hari ini adalah hari anak, jadi aku ditugaskan untuk membagi-bagikan balon gratis di taman ini sampai acara perayaan hari anak selesai.” (ni author ngarang banget, gk tau di korea ada perayaan hari anak pa gk kyk di jepang -_-“)

Pelukis itu mengangguk-angguk mengerti.

“Apa kau melukis disini setiap hari?”tanya Seohyun.

“Ne. aku memang disini setiap hari. Waegurae?”

“Bolehkah besok aku kembali kesini untuk melihat lukisan ini?”tanya Seohyun penuh harap. Pelukis itu tertegun mendengar nada suara Seohyun yang terdengar sedih dan wajah yang terlihat sangat berharap padanya. Ia tersenyum lembut.

“Tentu saja kau boleh melihatnya terus.”

Kyuhyun’s POV

Aku melihatnya lagi dengan kostum maskotnya. Gadis itu masih membagi-bagikan balon kepada anak-anak yang melewatinya. Sudah sekitar dua jam ia melakukannya. Apa ia tidak kepanasan di dalam kepala boneka itu?

Diam-diam aku penasaran padanya. Sudah sekitar tiga hari ini ia selalu datang untuk melihat lukisanku. Lukisan keluarga yang katanya terlihat sebagai keluarga yang hangat. Ia selalu memandang lukisan itu dengan wajah sendu yang penuh kerinduan. Apa ini mengingatkannya akan keluarganya?

Aku memperhatikannya lagi. Sudah kuduga ia kepanasan. Gadis itu melepaskan kepala boneka itu lalu mengipas-ngipas wajahnya yang berkeringat dan memerah. Tapi ada yang aneh dengannya. Ia terlihat pucat dan matanya menerawang. Apa ia sakit?

Gadis itu berjalan sedikit tapi tubuhnya limbung. Ia meletakkan tangannya di tembok. Aku merasa cemas dan berlari menghampirinya. Benar saja pikiranku. Badannya mulai limbung ke belakang. Dan sebelum kepalanya membentur tanah, aku menangkapnya.

“Ya! Agassi!”panggilku, menepuk-nepuk pipinya. Ia masih belum bangun juga. Aku harus segera membawanya ke tempat yang lebih teduh.

Seohyun’s POV

Aku merasakan ada seseorang yang menyentuhkan sesuatu yang basah di wajahku berkali-kali. Kubuka mataku perlahan lalu berusaha untuk memfokuskan mataku. Aku memegang kepalaku yang sedikit pusing.

“Ah, akhirnya kau sadar juga!”kata suara seorang… namja?

Aku terkejut, lalu bangkit dari tidurku tiba-tiba.

“Jangan langsung bangun, nanti kau tambah pusing.”

Ia benar, sekarang  kepalaku sangat pusing. Akhirnya setelah mataku berhasil fokus, aku mengetahui suara siapa itu. Suara namja pelukis jalanan itu. Ia tersenyum padaku.

“Ke…kenapa aku bersamamu?”tanyaku takut. Aku melihat ke sekelilingku. Ternyata aku tidur di sofa sebuah ruangan yang berisi berbagai macam pernak-pernik dan accessories. Seperti toko?  “Dimana aku?”

“Tadi saat di taman kau pingsan. Jadi aku membawamu ke toko kenalanku yang berada di dekat taman. Tenang saja. aku tidak mengapa-apakanmu.”

Ia tersenyum lagi lalu memberikanku secangkir teh hangat. Aku mengambilnya dan meminumnya sedikit. “Gomapta.”ucapku.

Ia tersenyum lagi. senyum yang sangat meneduhkan. “Cheonmaneyo. Aku akan kembali ke taman.”

“Aku ikut.”

“Sebaiknya kau tetap beristirahat disini sampai benar-benar baikan. Aku sudah mengatakan pada temanku jika kau sakit, dan ia mengijinkanmu beristirahat disini.”

Ia baik sekali. Padahal ia kan tidak mengenalku. “Siapa namamu?”tanyaku.

“Naneun Cho Kyuhyun imnida.”jawabnya dengan senyumnya yang takkan mungkin bisa kulupakan.

***

Aku melirik namja pelukis yang sedang berjalan di sebelahku ini. Tadi saat sore hari aku merasa baikan dan ingin pulang, ia memaksa akan mengantarku pulang. Awalnya aku menolak. tapi ia bilang ia masih belum yakin dengan keadaanku. Sebenarnya memang aku belum benar-benar kuat berjalan. Jadi akhirnya aku menerima tawarannya untuk mengantarku pulang.

Kami berjalan dalam diam. Sebenarnya aku ingin berbicara dengannya, tapi aku malu. >_<

“Apa kau baik-baik saja?”tanya namja bernama Cho Kyuhyun itu.

“Ah, ne. aku baik-baik saja.”jawabku pelan.

“Aku kira kau masih pusing, makanya kau diam saja.”

“Ng… aku hanya bingung mau bicara apa.”jawabku jujur.

Dia tertawa kecil. “Santai saja padaku. Aku bukan orang jahat kok.”

Aku tersenyum kecil. “Aku tahu.”kataku pelan.

“Di rumah kau tinggal dengan siapa?”

“Dengan yeodongsaengku.”

“Hanya berdua?”

“Ne. orangtua kami sudah meninggal dua tahun lalu.”kataku murung.

“Ah, mianhe.”katanya menyesal.

“Tidak apa-apa. Lagipula sekarang aku sudah terbiasa tanpa mereka.”

“Jangan berbohong.”katanya, membuatku berhenti berjalan karena kaget.

Aku melihatnya  -yang sekarang juga berhenti berjalan- dengan bingung. “Ne?”

“Jika kau terbiasa, kau tidak mungkin melihat lukisanku setiap hari.”

Kata-kata itu seolah-olah tepat menusuk jantungku. Padahal aku berusaha menyembunyikannya, tapi ia dapat melihatnya. Ia tahu apa yang kurasakan. Kenapa ia bisa membaca isi hatiku?

“Kau tidak apa-apa?”tanyanya lagi. Ia terlihat cemas.

“A.. aku tidak apa-apa.”jawabku gugup lalu mulai berjalan lagi. tapi karena aku berjalan sedikit terburu-buru, membuatku kehilangan keseimbanganku.

Saat aku hampir terjatuh, tangan namja itu menarikku dan aku terempas ke pelukannya.

Badanku kaku. Ini pertama kalinya aku berada di pelukan seorang namja. Aku bisa merasakan wangi tubuhnya, wangi natural dan sedikit keringat, tapi aku menyukainya. Rasanya hangat…

“Kau tidak apa-apa?”tanyanya. aku mengangkat wajahku dan melihat wajahnya yang berada di atasku.

DEG.

Ya, tuhan! Kenapa aku baru menyadarinya? Wajahnya begitu tampan…

DEG.

Kenapa jantungku jadi berdebar-debar terus? Lalu, kenapa suara debaran ini terdengar begitu banyak? Apa ini debar jantungnya?

“Seohyun-ssi?”

Aku terkesiap kaget mendengar panggilannya. Buru-buru aku melepaskan diri dari pelukannya.

“Go…gomapseumnida…”ucapku. Aku menundukkan wajahku malu. Kurasakan pipiku memanas. Pasti wajahku sekarang sudah memerah. “Kyu…kyuhyun-ssi, ru…rumahku sudah dekat, jadi kau tidak perlu mengantarku lagi..” Aduuuhh… aku benar-benar grogi!

“Kau yakin sudah tidak apa-apa?”tanyanya dengan wajah cemas. Kenapa ia baik sekali?

“Ne. aku yakin aku bisa berjalan sendirian sampai rumahku.”

Ia tersenyum lagi. dan kenapa jantungku tambah berdebar-debar melihatnya? “Baiklah. Aku pergi dulu.”

“Gamsahamnida, sudah menolongku tadi.”ucapku lalu membungkukkan badan sedikit.

“Cheonmaneyo. Hati-hati ya.”katanya, lalu berjalan pergi. kemudian ia balik badan, dan tersenyum lebar. “Sampai ketemu besok!”

Aku melambai padanya dan juga tersenyum lebar. tiba-tiba aku tersadar. Kenapa aku jadi seriang ini?

Kyuhyun’s POV

“Apa kau baik-baik saja?”tanyaku kepada yeoja yang berjalan di sebelahku ini.

“Ah, ne. aku baik-baik saja.”jawabnya pelan.

“Aku kira kau masih pusing, makanya kau diam saja.”

“Ng… aku hanya bingung mau bicara apa.”

Aku tertawa kecil. Sepertinya ia masih takut padaku. Ya iyalah, walaupun kami sering bertemu karena ia sering melihat lukisanku, tapi kami belum mengenal satu sama lain. Baru tadi saja saat ia pingsan dan aku menolongnya, kami berkenalan. Namanya Seo Joo hyun, dipanggil Seohyun. Nama yang manis. “Santai saja padaku. Aku bukan orang jahat kok.”

“Aku tahu.”katanya pelan. Aku tersenyum. Apa benar ia merasa aku bukan orang jahat? Ah… sepertinya ia diam saja karena merasa malu padaku.

“Di rumah kau tinggal dengan siapa?”

“Dengan yeodongsaengku.”

“Hanya berdua?”

“Ne. orangtua kami sudah meninggal dua tahun lalu.”katanya dengan nada murung.

“Ah, mianhe.”kataku menyesal. Jadi apakah ini yang membuatnya selalu datang untuk melihat lukisan itu? lukisan keluarga kecil yang bahagia.

“Tidak apa-apa. Lagipula sekarang aku sudah terbiasa tanpa mereka.”

Kata-katanya terlihat sangat berlawanan dengan ekspresi wajahnya. “Jangan berbohong.”kataku, membuatnya berhenti berjalan karena kaget.

Aku berhenti berjalan juga, dan ia melihatku dengan bingung. “Ne?”

“Jika kau terbiasa, kau tidak mungkin melihat lukisanku setiap hari.”

Ia tampak terkejut mendengar kata-kataku, dan terdiam lama. Apa aku salah bicara? “Kau tidak apa-apa?”tanyaku cemas.

“A.. aku tidak apa-apa.”jawabnya gugup lalu mulai berjalan lagi. Ia berjalan sedikit terburu-buru, membuatnya kehilangan keseimbangannya.

Saat ia hampir jatuh, aku mengulurkan tanganku dan menariknya sedikit kencang sampai ia terhempas ke pelukanku. Badannya terasa kaku di pelukanku. Apa ia baik-baik saja?

“Kau tidak apa-apa?”tanyaku menunduk melihat wajahnya yang berada di bawahku. Ia mengangkat wajahnya dan kami berpandangan.

DEG.

Kenapa tiba-tiba jantungku berdebar-debar kencang? Aku terpaku melihatnya. Ia sangat… cantik. Neomu yeppeo.

Tiba-tiba aku merasa grogi dalam posisi seperti ini bersamanya.

“Seohyun-ssi?”panggilku.

Ia terkesiap kaget mendengar panggilanku, dan buru-buru melepaskan diri dari pelukanku.

“Go…gomapseumnida…”ucapnya. Ia menundukkan wajah dengan malu. Wajahnya memerah. Aku tersenyum kecil melihat reaksi yang menggemaskan itu. ingin sekali kusentuh wajahnya yang memerah itu.

Aku tertegun. Apa sih yang barusan kupikirkan?

“Kyu…kyuhyun-ssi, ru…rumahku sudah dekat, jadi kau tidak perlu mengantarku lagi..”

“Kau yakin sudah tidak apa-apa?”tanyaku cemas.

“Ne. aku yakin aku bisa berjalan sendirian sampai rumahku.”

Aku tersenyum lagi, ia membalas senyumku dengan pandangan aneh. Kenapa jantungku tambah berdebar-debar saat melihat ekspresinya itu? ada yang tidak beres denganku. Aku harus segera pergi dari sini. “Baiklah. Aku pergi dulu.”kataku.

“Gamsahamnida, sudah menolongku tadi.”ucapnya lalu membungkukkan badan sedikit.

“Cheonmaneyo. Hati-hati ya.”kataku, lalu berjalan pergi. tiba-tiba aku ingin melihat wajahnya lagi. kubalikkan badan dan tersenyum lebar padanya. “Sampai ketemu besok!”

Kubalikkan badanku lalu pergi dengan riang.

Tapi kenapa aku jadi seriang ini ya?

***

Esoknya kami bertemu lagi di Seoul Park. Tentu saja dengan mengerjakan pekerjaan masing-masing. Diam-diam aku terus memperhatikannya. Ia sedang mengenakan kostumnya dan membagi-bagikan balon berwarna kuning kepada anak-anak yang lewat. Aku pun melukisnya –tepatnya melukis kostum yang dipakainya– di kanvasku. Lucu sekali.

Kemudian aku mulai sibuk melukis para pengunjung yang meminta dilukis olehku. Bayarannya memang tidak seberapa, tapi aku menyenangi pekerjaan ini. Aku tidak berminat sama sekali menjadi model atau artis seperti banyak orang sarankan padaku. Memangnya hanya artis saja yang boleh punya wajah tampan?  Pelukis jalanan sepertiku juga boleh-boleh saja kan?

Aku memperhatikan Seohyun yang masih membagi-bagikan balon. Padahal sedari tadi ia sudah beristirahat. Tapi tumben ia tidak menggunakan waktu istirahatnya untuk melihat lukisanku?

***

Aku memperhatikan Seohyun dari jauh. Sudah beberapa hari ini ia tidak pernah datang melihatku lagi. setiap ia melepas kostum kepala boneka itu dan mata kami bertatapan, ia selalu menghindar. Bahkan tidak membalas senyumku. Kenapa dengannya? Apa aku melakukan kesalahan saat mengantarnya pulang waktu itu? apa aku salah bicara mengenai orangtuanya?

Mata kami bertatapan lagi, aku tersenyum, dan ia langsung mengalihkan wajahnya lagi! lalu pergi ke tempat yang agak jauh untuk membagi-bagikan balon. Aku melotot melihat reaksinya.

Aaaahhhh… Seo Joo hyun! Kau membuatku gila! Padahal aku mulai menyukainya, tapi kenapa ia bersikap seperti itu padaku??!!

Dengan kesal aku membereskan alat-alat lukisku, memutuskan untuk pergi ke tempat lain. Saat aku berjalan-jalan di taman, aku memperhatikan lukisan-lukisan karya pelukis jalanan yang disandarkan di bangku taman dan tembok-tembok taman. Lukisan –lukisan itu sangat bagus.

Tiba-tiba mataku terpaku melihat seseorang yang sedari tadi kupikirkan. Seohyun sedang duduk di bangku taman. Kostum kepala bonekanya ia buka dan matanya menatap orang-orang yang berlalu lalang di taman, kemudian tersenyum. Apa yang dipikirkannya?

Kemudian ia menoleh ke arahku. Ia terkejut ketika melihatku lalu kembali memalingkan wajah lagi!

“Seohyun-ssi…”

Tiba-tiba ia memakai kostum kepala bonekanya dengan terbalik! Ia berjalan dan tersandung lukisan yang disandarkan di bangku dekat tempatnya duduk, lalu jatuh terduduk di bawah.

Aku menghampirinya, lalu berlutut di bawah menyejajarkan diri dengannya. “Gwenchanayo?”tanyaku cemas lalu membuka kostumnya. Aku terkejut melihat wajahnya yang memerah. Malu?

“Gwe…gwenchana…”katanya dengan menundukkan wajahnya. Aku jadi penasaran dengan reaksinya ini. Kusentuh dagunya dan kuangkat wajahnya agar bisa kulihat. Wajahnya semakin memerah, membuatku tersenyum.

Tiba-tiba ia melepaskan tanganku dan langsung memakai kostumnya lagi. kali ini tidak terbalik. Kemudian dengan terburu-buru ia berlari meninggalkanku.

Aku tersenyum lebar. sekarang aku tahu alasan kenapa ia menghindari tatapanku. Bukan karena ia tidak menyukaiku, tapi sebaliknya.

Mudah-mudahan tebakanku tidak salah. Aku harus memastikannya malam ini.

 Seohyun’s POV

Aku memang bodoh! Sudah beberapa hari ini aku menghindari tatapan Kyuhyun, bahkan aku tidak datang untuk melihat lukisannya lagi. aku khawatir ia akan membenciku, padahal aku bersikap seperti ini karena aku menyadari bahwa aku menyukainya. Ini pertama kalinya untukku, jadi aku bingung harus bersikap seperti apa. Aku malu dan gugup jika bersamanya, bahkan melihatnya saja sudah bisa membuat wajahku memerah.

Setelah selesai membagi-bagikan balon, aku duduk di salah satu bangku taman yang di beberapa tempat disandari oleh lukisan-lukisan para pelukis jalanan. Aku membuka kostumuku lalu melihat orang-orang yang berlalu lalang di taman itu. banyak sekali keluarga yang datang, membuatku teringat saat orangtuaku masih ada. Aku tersenyum mengingat kenangan indah itu.

Kemudian aku menoleh ke arah lain, dan ada Kyuhyun! Ia tersenyum melihatku dan dengan bodohnya aku memalingkan wajahku lagi!

“Seohyun-ssi…”panggilnya.

Aku malu sekali. Kupakai kostumku dan buru-buru berjalan tapi ternyata kostumnya terbalik! Aku tidak bisa melihat apa-apa dan kakiku menabrak sesuatu.

Aww! Aku kehilangan keseimbangan lalu jatuh terduduk.

Kurasakan ada yang menarik kostumku. Saat menyadari yang membuka kostum kepala itu adalah Kyuhyun, wajahku memerah lagi.

“Gwenchanayo?”tanyanya dengan nada suara cemas.

Aku terus menundukkan wajahku yang memerah. “Gwe…gwenchana…”gumamku.

Tiba-tiba kurasakan tangan lembutnya menyentuh daguku dan mengangkat wajahku. Ia tersenyum lembut memandang wajahku. Wajahku semakin memanas.

Aku melepaskan tangannya lalu memakai kostumku dan pergi meninggalkannya dengan setengah berlari.

Dia benar-benar mempesonaku!

***

Aku masih membagi-bagikan balon sampai malam hari.

Malam ini Seoul Park akan mengadakan acara kembang api, jadi pengunjungnya lebih banyak. Aku pun tidak hanya membagi-bagikan balon pada anak-anak, tapi juga pada para pasangan-pasangan yang sedang berkencan di taman ini. Saat aku akan berjalan ke tempat lain tiba-tiba aku melihat lukisan berada di tangga. Kuperhatikan lukisan itu baik-baik. Itu lukisan wajahku!

Aku membuka kostumku, lalu kulihat seseorang yang memakai kostum kepala boneka anak laki-laki, pasangan dari kostumku. Tapi ia memakainya terbalik. Kemudian orang itu membalik badannya agar wajah boneka itu menghadapku. Dan aku tertegun karena ternyata orang itu memakai tas berbentuk hati di punggungnya. Sehingga sekarang posisinya seolah-olah tas itu adalah hati boneka itu.

Tiba-tiba di tembok taman muncul lampu hati besar yang berkelap-kelip hijau-kuning.

Aku tertegun melihatnya. Indah sekali. Kemudian orang itu mengangkat kedua tangannya ke atas membentuk huruf Y.

Saat ia membuka kostum itu, airmataku langsung mengalir.

Cho kyuhyun tersenyum lembut padaku, dan ia tertawa kecil melihatku menangis bahagia.

“Saranghae.”ucapnya pelan. Ia mengangkat kedua tangannya, sehingga tubuhnya membentuk huruf Y. yes?

Dan airmata bahagia terus mengalir dari mataku. “Yes.”ucapku yakin.

 

Kyuhyun’s POV

Ia masih menatapku dengan malu. Aku tersenyum bahagia melihatnya.

Keputusanku memang benar untuk menyatakan perasaanku padanya malam ini. Apalagi saat ini Seoul Park sedang ada acara kembang api. Menambah suasana romantis diantara kami.

“Indah yaa…”ucapnya tersenyum melihat kembang api yang berkelap-kelip di langit di atas kami.

Aku merangkulnya, lalu mencium keningnya dengan lembut. “Saranghae, Seohyun-ah…”

“Na do saranghae, oppa…”

END

In my Camera (Chapter 3)

Cast    : Kim Jaejoong, Jung Yuuri, Park Yoochun, DBSK

Genre : Romance

 

Author’s POV

Yuuri tidak bisa tenang. Tiap ada break kuliah, Jaejoong selalu menghampirinya ke kelas ataupun klub hanya untuk menanyakan tentang stalker itu. Yuuri sebenarnya tidak terlalu peduli jika Jaejoong harus menanyakan hal itu setiap hari, tapi setidaknya jangan di kelas, di klub ataupun di tempat-tempat ramai. Ia tidak suka dengan pandangan iri dan kesal yeoja-yeoja di kelas padanya.

“Apa kau sudah menemukan orangnya?”tanya Jaejoong di depan pintu kelas Yuuri saat Yuuri baru selesai kuliah. Yuuri menatapnya heran, apa namja ini tidak ada kelas? Kok bisa cepat sekali sampai kesini?

“Jangan bicara disi..”

“Jaejoong oppaaa, sedang apa disini?”tanya segerombolan yeoja menatap Jaejoong kagum, lalu sekilas melirik sebal pada Yuuri.

“Aku sedang ada urusan dengan Jung Yuuri-ssi,”jawab Jaejoong dengan memasang senyum kharismatiknya yang membuat yeoja-yeoja itu tidak berkedip karena terpesona.

Yuuri agak takjub dengan pemandangan di depannya. Jaejoong yang tersenyum ramah dan yeoja-yeoja yang tampaknya sudah terhipnotis oleh senyum itu. Kemudian muncul lagi yeoja-yeoja lain menghampiri mereka. Yuuri mengernyit bingung. Apa dia memang seterkenal itu?

Kemudian Jaejoong menatap Yuuri, dan dengan sedikit isyarat mata Yuuri mengerti kalau Jaejoong menyuruhnya mengikuti namja itu. Mereka sampai di halaman belakang kampus tempat pertama kali mereka bertemu.

“Jadi?”Jaejong langsung membuka percakapan.

Yuuri menghela napas panjang. “Mianhamnida. Tapi aku masih belum tahu siapa orangnya.”Yuuri menjawab dengan jawaban yang sama seperti 2 hari sebelumnya. Ia merasa lelah jika harus bertemu namja ini setiap hari. Di kampus, di tempat pemotretan, dan namja ini selalu menanyakan hal yang sama yang masih dijawab dengan jawaban yang sama oleh Yuuri.

“Kenapa kau menjawab hal yang sama terus? Apa kau tidak melakukan apapun untuk menemukannya?”Tanya Jaejoong menatap Yuuri tajam. Yuuri memalingkan wajah tak suka.

“Aku sudah mencari tahu. Aku sudah menyelidikinya.”jawab Yuuri sengit.

“Bagaimana caranya?”

Yuuri mendelik kesal.“Apa kau perlu tahu?”

“Tentu saja. Kau pikir aku akan dengan mudah percaya denganmu?”balas Jaejoong tajam.

Yuuri menghela napas. “Saat kau mengejar orang yang berpakaian sama denganku, saat itu aku sedang tertidur di ruang klub fotografi alam. Dan aku yakin ada yang mengambil jaket, topi, dan kameraku.”jelas Yuuri.

“Tidur? Bukankah itu masih pagi? Kau ke kampus pagi-pagi hanya untuk tidur?”Tanya Jaejoong dengan meremehkan.

“Aku memang beberapa hari itu tidur di ruang klub setelah mencari objek foto untuk lomba. Karena aku butuh banyak referensi, dan aku tidak bisa membawa semua buku-buku referensi itu ke apartemenku.”

“Kau sendirian?”

“Tentu saja.”

Jaejoong tercengang. Yeoja ini berani sekali sendirian di tempat itu malam-malam. Kampus di malam hari kan sepi sekali, bisa-bisa ada yang menjahatinya. Apa keluarganya tidak khawatir?

“Lalu paginya aku menyadari kalau kame…”

“Kau tidak takut sendirian di tempat itu? Orangtuamu tidak cemas?” Sekarang malah Jaejoong yang cemas. Pada dasarnya Jaejoong itu seorang namja yang baik pada perempuan, apalagi dari sembilan bersaudara, 7 orang saudaranya adalah perempuan, yang laki-laki hanya dia dan Junsu. Jadi dia terbiasa hormat dan perhatian pada perempuan. Ia selalu merasa khawatir jika saudara-saudara perempuannya pulang sendirian di malam hari. Dan seharusnya keluarga Yuuri pun seperti itu, pikirnya.

Yuuri cemberut karena kata-katanya dipotong. “Kenapa harus takut? Di mana-mana pun aku selalu sendirian, ke makam malam-malam pun aku berani!”

“Orangtuamu? Keluargamu? Kau seorang yeoja bagaimana mungkin kau…”

“Aku tidak punya keluarga!”

 

Jaejoong’s POV

“Eh?”

“Aku yatim piatu, tidak punya keluarga lain, dan tinggal sendiri! Kau puas?! Jadi berhentilah memotong kata-kataku!”

Aku terdiam mendengar kata-katanya. Tidak punya keluarga? Itu hal menyedihkan yang pertama kali aku dengar dari yeoja menyebalkan ini. Tapi kulihat wajahnya biasa-biasa saja mengatakan  hal itu. Ia melanjutkan ceritanya.

“Aku ini memang pelupa parah, tapi kalo hal itu bersangkutan dengan Cassie aku tidak mungkin lupa. Saat aku bangun Cassie sudah berpindah tempat. Dan seingatku aku tidak meletakkannya di depan computer.”

“Cassie?”

“Nama kameraku yang kau rusakkan!”jawabnya sengit.

Aku tersenyum geli mengetahui ia menamakan kameranya. Kekanak-kanakan sekali. Aku diam, tapi ia tidak meneruskan ceritanya, ia hanya terdiam memandang ke arah lain. Matanya terlihat sendu.

“Kapan ya cassie bisa sembuh…”gumamnya pelan sekali, tapi aku masih bisa mendengarnya. Sepertinya ia kesulitan memperbaiki kameranya. Aku jadi merasa bersalah. Benar kata Junsu, bagi fotografer kamera itu segala-galanya. Aku terus memandanginya sampai kulihat matanya mulai berair.

Tiba-tiba ia menyadari aku menatapnya, lalu ia memelototiku dengan matanya yang sedikit berair. “Apa lihat-lihat?!”serunya, lalu pergi.

Aku tercengang menatap yeoja yang berjalan menjauh itu. “Apa-apaan dia itu?! Yeoja kurang ajar! Dia bahkan berbicara banmal padaku! Apa dia tidak diajari orangtu..”

Kemudian aku teringat oleh kata-katanya tadi. Ia yatim piatu dan tidak punya keluarga. Apa itu benar? Aku harus tanya Changmin.

***

“Hyung benar. Ia yatim piatu. Ia hidup sendirian sejak empat tahun yang lalu neneknya, keluarga satu-satunya meninggal.”

Kata-kata Changmin langsung membuat jantungku hampir copot. *lebay deh, oppa* Jadi kemarin tanpa sadar aku telah menyinggung masalah yang sensitif ini?

“Lalu bagaimana dia bisa bertahan hidup?”

“Aku dengar ia mendapat sedikit warisan dari ayahnya. Dan uang itu digunakan untuk masuk ke kampus kita, biaya hidupnya ia dapat dari memenangkan lomba fotografi alam dan beberapa kerja sambilan. Biasanya ia selalu menolak untuk memotret orang, karena menurutnya hanya hal-hal yang dicintainya yang pantas untuk dia potret. Dan orang yang dia cintai sudah tidak ada semua.”

Aku terdiam mendengar cerita Changmin. Kalau itu benar, mana mungkin ia stalkerku?

“Tapi ia sekarang menjadi asisten fotografer di tempatku pemotretan..”

Changmin menatapku kesal. “Hyung lupa? Kameranya kan rusak. Karena kamera satu-satunya rusak, dan ia tidak bisa ikut lomba, ia menerima tawaran Park Yoochun untuk menjadi asistennya di pemotretan yang sekarang kau lakukan. Yaahh… mungkin untuk memperbaiki kameranya dan biaya sehari-hari. ”

Kata-kata Changmin membuatku pusing. Sejak awal aku tidak pernah berpikiran untuk menyulitkan hidup seseorang. Apalagi seorang yeoja yatim piatu seperti Jung Yuuri. Demi tuhan! Ia seorang yeoja! Aku tidak akan pernah sanggup membayangkan yeodongsaeng-ku atau noona-ku hidup seperti itu.

Walaupun aku yakin aku yang benar, tapi sedikit rasa bersalahku muncul. Apa yang harus kulakukan padanya?

***

Sejak Changmin menceritakan hal itu padaku, aku mulai memandang yeoja itu sedikit berbeda. Aku memang masih tetap menghampirinya setiap hari, menanyakan hal yang sama. Walaupun aku tidak lagi menuduhnya sepenuhnya, tapi ada dorongan kuat di dalam diriku yang membuatku ingin menemuinya setiap hari. Mungkin ini dorongan dari rasa penasaranku. Aku penasaran dengan kehidupan yeoja aneh ini.

Aku kembali menghampiri Jung Yuuri di ruang klubnya. Saat ini semua angota klub itu sudah terbiasa melihatku yang datang kesana setiap hari. Ia tidak memperhatikan kedatanganku dan terlihat sibuk sendiri mendengarkan sesuatu di headphonenya dan berkomat-kamit aneh. aku memandang bertanya kepada salah satu temannya di ruang klub itu.

“Sebentar lagi ada kuis, jadi Yuuri belajar,”jawab seorang yeoja yang kutahu bernama Cho Hye mi.

“Belajar? Apa memang metode belajarnya seperti itu y? bukan membaca tapi mendengarkan?”tanyaku heran. Ini pertama kalinya aku melihat orang belajar hanya dengan mendengarkan, tidak dengan membaca.

Hye mi menatapku bingung, terlihat ragu-ragu, “Ng… soalnya kan Yuuri…”

“Kau datang lagi?”

Aku langsung menoleh  ke asal suara. Yuuri sudah melepaskan headphonenya dan menatapku tajam.   “Sebenarnya apa maumu? Apa kau tidak punya kesibukan lain selain datang kesini setiap hari dan menggangguku?”

Oke, pertanyaan itu tepat mengenai sasaran. Aku penasaran denganmu. Mana mungkin aku menjawab seperti itu kan?

“Kau lupa apa yang kuinginkan darimu? Ini sudah hari keberapa memangnya?”tanyaku tajam.

Dia lalu menghela napas dengan berat.

Jangan menghela napas seperti itu.

“Aku masih mencarinya…”

Kau terlihat capek. Apa karena aku?

“…aku benar-benar tidak tahu siapa stalker itu..”

Tak apa.

“…tapi yang pasti bukan aku.”

Aku percaya.

Lho? Ada apa sih dengan pikiranku?

“Begini saja, bagaimana jika kau memberikanku nomor ponselmu? Biar aku lebih gampang menghubungimu untuk mengingatkanmu tentang tugasmu,”kataku lalu memberikan ponselku padanya.

Dia menatapku sebal, lalu mengetikkan nomor ponselnya. Sepertinya ia kesulitan memakai ponselku. Kemudian ia mengembalikan ponselku. Kulihat ia hanya mengetik nomornya, tidak namanya.

“Kenapa kau tidak mengetik namamu?”

“Aku tidak mengerti bagaimana menggunakannya,”

Aku tertawa kecil sambil mengetik namanya di ponselku. “Ini apa ponselku yang terlalu canggih atau dirimu yang terlalu gaptek?”

Dia menatapku tajam. “Aku yang gaptek. Karena sekarang kau sudah punya nomorku, kau bisa menelponku, tapi jangan sms, aku tidak pernah membalas sms orang.”

“Sok sibuk,”

“Kan sudah kubilang jika aku gaptek.?” Aku mengernyitkan dahiku. Apa susahnya ngetik sms aja?“Yang penting mulai sekarang kau tidak perlu datang lagi kesini.”

“Kata siapa tidak perlu?”

Dia menatapku tercengang.

Yuuri’s POV

“Kata siapa tidak perlu?”

Apa aku tidak salah dengar? Jadi dia berencana untuk tetap datang menemuiku?

“Jangan bingung begitu. Sedikit tekanan akan membuat seseorang lebih cepat bergerak kan?”ujarnya dengan senyum yang menyebalkan. Kemudian ia berjalan menuju ke pintu klub, dan di depan pintu ia berbalik.

“O y, jangan lupa ini sudah hari ke-6, kau tahu kan jika lewat sepuluh hari…” Ia menggantungkan kalimatnya, membuatku menahan napas. “Semoga berhasil,”ucapnya lalu pergi.

Aku menatap kepergiannya dengan kesal, lalu menghentak-hentakkan kakiku ke lantai secara brutal. “AAAHHH…”jeritku. Dia bisa membuatku gila!

Hari-hari berikutnya namja itu menelponku terus. Itu sangat mengganggu. Aku pernah sekali mencoba mematikan ponselku, tapi itu malah membuatnya datang mencariku. Aku selama ini tidak pernah membenci orang, tapi kali ini untuk pertama kalinya aku merasakan hal itu. Aku membenci Kim Jaejoong. Sangat membencinya. Kenapa ada orang semenyebalkan dia sih?

“Aduuhh… kemana lagi aku harus mencari stalker itu? Aku sudah menanyai hampir semua angkatan jurusan fotografi.  Tapi tidak ada yang tahu mengenai kejadian pagi itu. Ini sudah hari ke Sembilan…”kataku putus asa pada Hye mi.

Hye mi menatapku prihatin. “Ada yang ingin kukatakan padamu Yuuri-ah…”

“Apa?”

Ia melihat sekeliling ruang klub yang sepi, Cuma ada kami berdua. Ia memandangku ragu.

“Sebetulnya…”

Dan perkataan Hye mi berikutnya membuatku tercengang.

Jaejoong’s POV

Aku mematikan ponselku, setelah sebelumnya menelpon yeoja aneh itu dan mengintimidasinya lagi. Aku tersenyum kecil. Sepertinya yeoja itu sangat sebal denganku. “Kelihatannya Hyung senang sekali,”kata Junsu memandangku lekat.

“Oh ya? Tentu saja aku senang, aku berhasil membuatnya repot.”

“Ka…yuka..da..nya yung?”Changmin berkata dengan mulut penuh makanan, masakanku.

“Ya! Shim Changmin! Habiskan dulu makananmu, baru bicara!” Aku memang berjanji untuk memasakkannya makanan favoritnya jika ia membantuku mencari tahu tentang Yuuri. Gampang sekali membuatnya menurutiku, hanya dengan iming-iming makanan. Dasar monster! Seandainya segampang itu menyuruh Junsu, ia tidak tertarik dengan makanan enak seperti sepupu kami itu.

Changmin menelan makanannya dengan susah payah. Kemudian berkata, “kau menyukai yeoja itu hyung?”

Aku tersentak dengan pertanyaan Changmin. “Siapa yang menyukainya?!”

Junsu masih memandangku lekat, membuatku gugup. “Lalu kenapa hyung sangat senang menemuinya atau menelponnya? Kurasa itu sikap namja yang tertarik pada seorang yeoja, hyung.”

Tiba-tiba aku menjadi gugup. “Anhi. Aku hanya merasa dia lucu dan aku ingin mengganggunya saja,”

“Hyung sudah tidak berpikir dia stalker lagi?”tanya Changmin, lalu memakan makanannnya lagi.

Aku berpikir sebentar. “Sepertinya begitu. Karena berdasarkan info-info darimu sepertinya ia bukan stalker itu.”

“Ini sudah hari ke-9 hyung. Jadi jika lewat 10 hari apa hyung masih mau melaporkannya?”tanya Junsu.

“Kurasa aku tidak akan melaporkannya. Lagipula kalau dilihat dari usahanya mencari stalker itu dalam beberapa hari ini, sekarang aku percaya dia bukan stalker itu.”

Tiba-tiba ponselku berdering, aku langsung senang begitu melihat nama penelpon itu. Yeoja yang sedari tadi kami bicarakan. Aku langsung mengangkatnya. Ini pertama kalinya yeoja itu menelponku, ia memintaku bertemu besok sekalian membawa memory cardnya yang masih ada padaku.

Junsu dan Changmin menatapku ingin tahu.

“Ia sudah mendapatkan foto-foto itu, jadi besok kami akan bertemu. Aku penasaran siapa pelakunya.”

Author’s POV

Yuuri berjalan pelan menuju halte bis. Pikirannya tidak fokus, ia sedang memikirkan kata-kata Hye mi kemarin.

Dan mendadak muncul rasa sedih dan kasihan di hati Yuuri. Mungkin saja jika dirinya masih punya keluarga, ia akan  merasakan bagaimana kesulitan Hye mi. Selama empat tahun ini ia hanya hidup sendiri, dan hanya memikirkan hal-hal yang menyangkut dirinya sendiri. Semuanya terasa mudah dengan memiliki beban hanya untuk menyambung hidup sendiri. Tapi tetap saja akan lebih menyenangkan jika punya teman berbagi, dan Hye mi beruntung masih punya orang yang bisa dijadikan tempat berbagi saat susah dan senangnya.

Yuuri tidak ingin Hye mi menjadi sepertinya, sendirian. Bagaimana caranya ia menolong Hye mi?

Kemudian bis yang ditunggu-tunggu oleh Yuuri pun muncul. Yuuri bangkit dan berjalan menghampiri bis. Tapi saat di depan pintu bis, tiba-tiba tali tas selempangnya putus, membuat tasnya jatuh dan isi tasnya berserakan keluar. Recorder, beberapa kaset, beberapa lembar foto dan album keluar berserakan.

Yuuri menatap barang-barangnya yang jatuh dengan jengkel. Saat ia akan memungutnya, tiba-tiba ada seorang namja yang membantunya membereskan barang-barangnya yang terjatuh. Tanpa berlama-lama Yuuri berjongkok dan membantu namja itu membereskan barang-barangnya.  Namja itu membawa barang-barang Yuuri yang dipungutnya ke dalam bis, Yuuri pun mengikutinya masuk ke dalam bis. Setelah masuk, namja itu menyerahkan barang-barang Yuuri.

“Gomapseumnida.”ucap Yuuri, kemudian  ia terpaku saat melihat wajah namja itu. Wajah yang tidak asing, ia seperti mengenali wajah itu, wajah yang sangat ia rindukan. Tapi apa mungkin?

“Cheonmaneyo.”jawab namja itu dengan senyum yang membuat jantung Yuuri berdebar-debar. Namja itu duduk di kursi belakang, dan didorong rasa penasaran, Yuuri mengikutinya dan duduk di kursi yang sama, hanya saja ia tidak punya keberanian duduk dekat-dekat.

Yuuri memutuskan untuk memastikan apa namja itu benar adalah orang itu.

“Jogiyo…”ucapnya pada namja yang sedang menghadap ke jendela itu. Namja itu menoleh.

“Ne?”

“Jika anda tidak keberatan, boleh saya tahu  nama keluarga anda?”Tanya Yuuri hati-hati.

Namja itu memandang Yuuri bingung, “Nama keluargaku Lee.”

Yuuri langsung kecewa. ‘Nama keluarganya bukan Jung…’

“Waeyo? Ada masalah dengan itu?”Tanya namja itu.

Yuuri menggeleng. “Anhi. Aku hanya merasa kau mirip seseorang yang kukenal, tapi ternyata bukan.”

“Aku juga tidak mengenalmu, Agassi. Lagipula di dunia ini banyak sekali orang yang mirip.”jawab namja itu dengan senyumnya yang tidak akan mungkin bisa Yuuri lupakan.

Jaejoong’s POV

Hari ini kami bertemu lagi di tempat biasa. Ia duduk di bangku taman sambil menatap ke arah danau. Aku duduk di sampingnya. Sepertinya ia melamunkan sesuatu.

“Jadi…”ucapanku membuatnya kaget, lalu memandangku. “…sudah ketemu siapa pelakunya?”

Ia mengeluarkan flash disk merah dari kantong jaketnya, lalu memberikannya padaku. “Ini foto-fotonya, mana memory cardku?”

“Apa isinya benar-benar foto-fotoku?”

“Kau bisa mengeceknya nanti. Kalau aku berbohong kau kan tahu dimana bisa mencariku.”

Aku menyipitkan mata memandangnya curiga, lalu aku memberikan memorycard miliknya. “Siapa pelakunya?”

Tiba-tiba ia terlihat gugup, dan menggigit-gigit bibirnya. “Aku mengembalikan fotomu dalam sepuluh hari, jadi kau tidak akan melaporkanku kan?”

“Aku selalu memegang janjiku. Itu bukan kau kan?”tanyaku curiga.

Kemudian ia menundukkan kepalanya. “Mianhe. Jeongmal mianhe. Aku stalker waktu itu.”

Aku menatapnya tercengang. Dia? Tidak mungkin!

“Geotjimal. Kau sedang mempermainkanku ya?!”

“Mianhe. Sebelumnya  aku bersikeras tidak mengaku karena kupikir kau akan menyerah dan percaya pada usahaku mencari pelakunya, jadi aku tidak perlu memberikan foto-foto itu. Tapi kurasa aku salah…”

Aku benar-benar tidak percaya ia membohongiku! Padahal aku sudah mulai mempercayainya.

“Tapi kau akan menepati janjimu kan?”

Setelah berbohong seperti itu ia masih bisa menatapku memohon seperti itu? Aku benar-benar tidak mempercayai hal ini!

Aku menatapnya tajam. “Aku akan menepati janjiku.”

Lalu aku bangkit dari dudukku, “Aku benar-benar kecewa padamu Jung Yuuri-ssi.”

Yuuri’s POV

“Aku benar-benar kecewa padamu Jung Yuuri-ssi.”

Aku tidak percaya dengan kata-kata yang kudengar barusan. Apa itu berarti dia mulai mempercayaiku? Kalau tidak mana mungkin ia berkata seperti itu kan?

Kupandangi punggungnya yang berjalan menjauh. Setelah ini kita tidak akan berhubungan lagi kan? Baguslah. Aku tidak ingin ia mengacaukan hidupku lagi.

Tapi kenapa perasaanku jadi tidak enak? Seperti ada sesuatu yang hilang, dan aku tak tahu itu apa.

***

Setelah masalah stalker itu selesai, kakiku jadi terasa lebih ringan melangkah ke tempat pemotretan. Aku tidak perlu merasa tertekan ataupun terintimidasi lagi oleh namja itu. Setidaknya begitulah pikiranku sampai aku bertemu dengannya di tempat pemotretan.

Kim Jaejoong sedang berbicara akrab dengan kru yang seorang yeoja. Ia terlihat ramah saat ini. Tidak seperti denganku. Bahkan ia bisa tertawa? Sebenarnya apa yang mereka bicarakan?

“Ah, Yuuri-ah! Kau sudah datang.”sapa Ji Hye Onnie ketika melihatku masuk. Ia menghentikan pembicaraannya sebentar dan menyapaku. Jaejoong langsung memasang ekspresi dingin ketika melihatku.Tentu saja karena aku stalkernya dia bersikap seperti itu.

“Annyeonghasseyo, onnie.”Lalu aku memandang Kim Jaejoong enggan, “Annyeonghasseyo, Kim Jaejoong-ssi.”

Sudah kuduga dia tidak menjawabku. Tapi aku tidak peduli, masalah di antara kami sudah selesai, terserah dia mau bersikap seperti apa. Hanya saja… kenapa aku merasakan hal yang aneh di jantungku jika melihatnya berbicara ramah kepada yeoja lain? Apa aku sebegitu membencinya?

Setelah pemotretan aku selesai, aku menghampiri Yoochun sunbae. Sebenarnya aku tidak ingin merepotkannya, tapi dia satu-satunya orang yang bisa kumintai tolong.

“Yoochun sunbae, ada yang ingin kubicarakan…”ucapku ragu.

“Apa?”

“Bisa bicara di tempat lain yang lebih sepi?”

 

Jaejoong’s POV

Aku memegang kepalaku yang berdenyut dengan sebal. Seharian ini mood-ku jelek, tapi aku mencoba menahannya dengan bersikap professional disini, jadilah mood-ku tambah jelek. Semua ini karena yeoja itu. Entah kenapa aku masih tidak bisa menerima bahwa dialah stalker itu. Ini membuatku kesal. Padahal aku sudah percaya bahwa bukan dia pelaku stalker waktu itu, tapi ternyata malah dia! Aku jadi malu pada diriku sendiri.

Tapi kenapa mataku tidak bisa berhenti memandanginya? Akan lebih mudah jika dia tidak muncul di hadapanku lagi, tapi tentu saja tidak bisa, dia kan asisten fotografer. Karena tugasnya itulah aku jadi lebih mudah memperhatikannya terus.

Yeoja ini selain selalu memakai pakaian berwarna merah, model bajunya pun bukan model baju yang biasa dipakai perempuan. Ia selalu memakai kaus yang kebesaran, celana jeans belel, sepatu kets, dan jaket. Atau kaus tangan panjang putih atau hitam dengan kemeja lengan pendek berwarna merah. Kemejanya pun tidak dikancingkan, memperlihatkan gambar-gambar lucu dan tulisan-tulisan aneh di kaus yang dipakainya. Lalu rambutnya yang panjang dia ikat di belakang dan disembunyikan di balik topinya. Hampir setiap hari penampilannya seperti itu, walaupun bajunya berbeda-beda, tapi gayanya masih sama berantakannya. Jika tidak melihat wajahnya, orang-orang pasti mengira dia namja. Makanya waktu itu aku tidak tahu kalo stalkerku itu namja  atau yeoja.

Lho? Aneh, kenapa aku bisa memperhatikannya seperti itu?

Setelah pemotretan, aku pergi ke ruang ganti di belakang studio untuk mengganti bajuku. Sebentar lagi ada schedule lain, jadi aku harus segera bersiap-siap. Tapi saat di depan pintu ruang ganti aku tidak jadi masuk.

Park Yoochun dan Jung Yuuri? Sedang apa mereka?

Suara mereka kecil sekali,  jadi aku tidak bisa mendengarkan isi pembicaraan mereka. Yang kulihat hanya wajah Yuuri yang agak muram, dan kemudian Yoochun yang tersenyum lalu menepuk-nepuk kepalanya dengan lembut. Dan reaksinya… apa-apaan ini?!

Wajah Yuuri memerah dan ia memandang Yoochun dengan malu. Yoochun tertawa kecil, lalu memeluk yeoja itu. Yuuri tersenyum dan membalas pelukannya.

Mereka berpelukan?! Hei! Singkirkan tanganmu darinya!

Kenapa tiba-tiba aku berpikir seperti itu sih?! Ah, sudahlah. Yang penting aku harus masuk dan berganti pakaian.

Aku mendorong pintu dengan keras, yang membuat mereka kaget dan langsung melepaskan diri dari pelukan masing-masing. Aku memandang mereka dingin.

“Aku harus ganti baju,”kataku singkat.

“Oke, kami akan keluar,”kata Yoochun lalu menarik tangan Yuuri. Tapi Yuuri menariknya pelan.

“Ada yang harus kuambil dulu, Oppa. Oppa duluan saja.”

Oppa? Bukankah ia selalu memanggilnya Sunbae? Apa mereka jadian?

Tiba-tiba saja aku merasa kesal sendiri.

Yuuri sibuk mencari sesuatu di ruangan itu, lalu ketika sesuatu yang dicarinya-recorder-ditemukan, ia berjalan ke pintu. Entah apa yang membuatku menahan tangannya. Yang jelas sekarang aku sedang menatap tajam wajahnya yang terkejut.

“Kenapa kau melakukannya?”

 

Yuuri’s POV

“Hah?”Aku bingung.

“Kenapa kau melakukannya?” ia mengulangi pertanyaan yang sama.

“Melakukan apa?”

“Menstalkerku, membohongiku…”

Aku menghela napas. “Bukankah urusan kita sudah selesai?”aku berusaha melepaskan tangannya. Tapi tangannya terlalu kuat.

“Jawab pertanyaanku.”ucapnya tegas.

Aku menghela napas lagi. “Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku membohongimu karena kupikir jika aku tetap bersikeras, kau akan berpikir jika aku bukan pelakunya. Dan alasan aku menstalkermu adalah karena aku butuh uang.”

Ia menatapku tercengang. “Kau bilang tidak akan melakukan hal rendah seperti itu.”ucapnya sinis.

“Bagiku itu bukan hal rendah jika kau membutuhkannya untuk menolong orang yang kau sayangi.”jawabku dingin. “Tidak semua orang seberuntung dirimu, tuan  terkenal. Apa kau tidak bisa sedikit bermurah hati membiarkan orang lain memotretmu  dan  menjual fotomu  untuk  membantunya sekedar bertahan hidup?”

Ia kelihatannya terkejut dengan kata-kataku barusan, sehingga ia melepaskan tanganku. Aku berbalik dan meninggalkannya yang sedang termangu.

Jaejoong’s POV

Apa maksud ucapannya? Untuk membantu siapa sebenarnya? Bukankah ia sudah tidak punya keluarga? Siapa orang yang ia sayangi yang ia maksudkan itu?

Semakin kupikirkan membuatku semakin penasaran. Bahkan rasa penasaran ini sudah melebihi kemarahanku padanya.

Aku sudah menyuruh Changmin untuk mencari tahu, tapi dua bocah itu malah mengejekku.

“Kau menyukainya hyung,”lagi-lagi Junsu mengatakannya secara blak-blakan.

“Tepat sekali,”Changmin nyengir menatapku.

“Anhi. Aku hanya penasaran saja padanya.”

“Penasaran bisa berubah jadi suka, hyung.”Junsu menatapku dengan geli.

“Tepat sekali,”

Mereka mengulangi kata-kata itu lagi, yang membuatku menjitak mereka berdua. “Ya! Bisa tidak kalian diam?!”

Aku keluar dari kamarku meninggalkan kedua bocah setan itu disana. Memang menyenangkan tinggal dengan dua adik laki-laki cerewet seperti itu, hanya ketika mereka diam. Heran deh, kenapa dulu aku mau-mau saja menerima permintaan Appa dan Omma untuk membiarkan mereka tinggal di apartemenku.

Purple line let me set up my world…

Aku membiarkan ponselku yang terus menerus menyanyikan laguku itu sampai aku kesal dan akhirnya kuangkat juga ponselku. “Yeoboseyo?”

***

Setelah mendapatkan telpon dari Park Yoochun, aku langsung keluar. Daripada aku mendengarkan kedua bocah setan itu, lebih baik aku menerima undangan namja itu makan malam bersama kru. Setelah pemotretan tadi aku memang ada schedule lain jadi tidak bisa ikut mereka, tapi sekarang aku sudah free dan bisa kesana.

Restoran itu restoran kecil dan sederhana yang berada di sekitar sungai Han. Park Yoochun mengatakan tidak perlu cemas jika ada penggemar yang melihatku, karena restoran ini sudah sengaja dibooking untuk seluruh kru.

Aku memandang ke sekeliling, mencari yeoja aneh itu. Tampaknya ia tidak ada. Entah kenapa aku cemas.

“Jangan khawatir tentang makanannya. Walaupun kecil dan di pinggir jalan, disini makanannya bersih dan enak.”kata Park Yoochun.

“Oh. Aku tidak mengkhawatirkan hal itu.”kataku, lalu mengambil bulgogi dan memakannya. Hmm…memang enak.

Aku mengobrol dengan Park Yoochun dan kru-kru yang duduk di dekatku. Mereka menuangkan soju untukku, tapi hanya kuminum sedikit, karena aku tidak mau sampai mabuk, aku kan harus pulang dengan menyetir sendiri.

Dimana yeoja itu? Aku masih penasaran tentang yeoja itu. Ketika aku memutuskan untuk kembali dan berpamitan pada para kru, aku mendengar suara yang familiar.

“Onniieee…. Aku kesaaalll sekaaalllii…”

Aku menoleh ke arah suara itu, dan kulihat Jung Yuuri masuk ke dalam restoran dengan badan dipapah Ji Hye Noona. Wajahnya memerah dan jalannya sempoyongan.

“Yuuri-ah!”seru Yoochun, lalu mengambil Yuuri dari Ji Hye noona. Ia membawa yeoja itu duduk disampingnya, disampingku, di tengah-tengah kami.

“Kenapa kau membiarkannya minum, Ji Hye-ah. Dia kan nggak kuat minum.”

Ji Hye noona tersenyum menyesal. “Aku sudah melarangnya, tapi ia tetap meminumnya. Padahal cuma tiga gelas, tapi ia sudah muntah-muntah di luar. Kurasa lebih baik ia diantar pulang.”

“Yoochun oppaaaa…, aku kesal sekali…”lagi-lagi ia mengoceh tidak karuan. Sebenarnya hubungan mereka berdua seperti apa sih? Kenapa memanggil oppa terus? Membuatku kesal saja.

“…pemenangnya… sudah adaaa.. dan itu bukan akkkuuuu… seandainya aku bisa mengi..rim.. foto-fotoku…”

Aku tersentak mendengar ocehannya. Jangan-jangan foto yang ia maksudkan itu yang di dalam memory card itu?

“Sudahlah, Yuuri-ah. Nanti kau pasti bisa ikut perlombaan yang lain. Lebih baik kita pulang..”kata Yoochun, mencoba menarik Yuuri berdiri. Tapi yeoja itu menarik tangannya.

“Nggak bisa… cassie aja masih ru..saakk…”isaknya.

Yoochun menghela napas, lalu mencoba mengajak Yuuri berdiri lagi. Tapi aku menahannya.

“Biar aku saja yang mengantarnya, sekalian aku pulang.”

“Benarkah?”Yoochun sangsi.

“Dimana alamat rumahnya?”

***

Aku tidak percaya dengan penglihatanku. Berkali-kali aku mengecek alamat yang ditulis Yoochun dan alamat tempat ini. Sama. Daerah ini termasuk daerah yang bisa dibilang hmm… agak kumuh. Aku tidak pernah tahu jika ternyata di balik kota Seoul yang megah, ada tempat seperti ini. Mobilku pasti mencolok sekali disini. Tapi untungnya ini sudah tengah malam dan sepi sekali. Bagaimana mungkin yeoja aneh ini tinggal di tempat seperti ini?

“Jung Yuuri-ssi..”aku memanggilnya, ia tidak menjawab. Tidurnya pulas sekali.

Aku memandang wajah manisnya lekat-lekat.“Babo! Sudah tahu tidak kuat minum, masih minum juga.”

Aku terpaksa mengeluarkannya dari mobil, kuletakkan tangan kananku di bagian punggungnya dan tangan kiriku di lekukan kakinya. Aku menggendongnya sampai depan pintu apartemen kecil itu, dan aku terdiam sebentar saat menyadari aku tidak tahu dimana kunci apartemennya.

Akhirnya aku menurunkannya sejenak, mendudukkannya di lantai dan mencari kunci di tas dan jaket yang dipakai yeoja ini. Setelah berhasil menemukan kunci di dalam tasnya, aku menggendongnya lagi masuk ke dalam. Apartemen ini benar-benar kecil. Cuma ada dua ruangan, dan salah satunya adalah kamar mandi. Dapur dan kamar jadi satu, dengan satu lemari baju, satu rak buku, satu meja kecil pendek, tapi semuanya tersusun rapi. Dindingnya  dipenuhi berbagai foto-foto flora, fauna, dan pemandangan alam, membuatku takjub. Ruangan sekecil ini bisa terlihat menarik juga.

Aku meletakkan Yuuri di tempat tidurnya, kemudian mataku menangkap sesuatu di sudut tempat tidurnya. Sebuah kotak kardus kamera. Aku membukanya, dan melihat kamera DSLR merah marun yang lensanya pecah.

Tiba-tiba suara dering ponsel yang kencang mengagetkanku. Suara itu berasal dari handphone Yuuri. Ia menggeliat-geliat dan menutup telinganya merasa terganggu. Aku mengambil ponsel yang berada di jaketnya, kulihat nama yang tertera di display hp itu. Cho Hye mi. bukankah itu temannya di klub fotografi itu? Kemudian aku mengangkatnya.

“Yuuri-ah! Hye won sudah sadar!”kata suara diseberang telpon sebelum aku sempat mengatakan apapun.

“Aku senang sekali. Ini semua berkat bantuanmu, adikku bisa operasi. Gomawo. Jeongmal. Uangmu akan segera kuganti. Kau benar-benar malaikat Yuuri-ah!”

Lagi-lagi belum sempat kujawab, yeoja di telpon ini mengoceh lagi. “O y, mengenai Kim Jaejoong-ssi…”

DEG.

Kenapa namaku disebut?

~TBC~

Apa kau akan memaafkanku?~ Jaejoong’s POV

Hubunganku dengan Yuuri bukan hanya sekedar teman. ~Yoochun’s POV

Namanya Yunho, bukan Jung Yunho, tapi Lee Yunho. ~Yuuri’s POV

Kenapa yeoja ini terlihat mirip dengannya? Apalagi matanya, mata cokelat muda beningnya. Mengingatkanku akan…~Yunho’s POV

   

In My Camera (Chapter 2)


Cast    : Kim Jaejoong, Jung Yuuri, Park Yoochun, DBSK

Genre  : Romance

Rating : PG13


Yuuri’s POV

“Gimana? Masih bisa diperbaiki kan?”

Aku harap-harap cemas melihat Yoochun sunbae yang masih memeriksa kameraku dengan seksama.“Bisa, tapi butuh biaya yang banyak untuk memperbaikinya.Lebih baik beli yang baru saja.”

Aku menggeleng.“Anhi.Cassie itu sahabat terbaikku, kenangan terakhirku dari Appa.Dia harus sembuh, walaupun butuh biaya banyak.”

“Kau yakin?” kemudian sunbae menyebutkan perkiraan biayanya.

“Mwo?!Mahal banget!”Aku langsung menghitung berapa jumlah tabunganku dan kira-kira berapa banyak kerja sambilan yang harus kulakukan untuk memperbaiki Cassie.

“Memangnya kenapa Cassie bisa sampai seperti itu?Kau juga terlihat berantakan sekali.”

Aku terdiam.Kalau diingat-ingat waktu sampai di apartemen sunbae tadi aku memang terlihat kacau sekali.Lalu aku menceritakan semua kejadian tadi pagi.

“Jadi kau tidak mengenal namja itu?Tapi dia yakin sekali kau menstalkernya?Dia pasti orang terkenal, mungkin artis.Di kampusmu kan banyak artisnya.”

“Sunbae kan tahu aku tidak pernah menonton tv atau ikut acara-acara yang membuatku mengenal artis siapapun.Yang pernah aku tonton paling hanya film documenter national geographic.”

Yoochun sunbae terkekeh pelan.“Jangan terlalu tertutup dengan dunia luar Yuuri-ah.Dunia ini tidak hanya diisi oleh makhluk-makhluk ‘manis’ seperti hewan atau tumbuhan.”

Aku hanya tersenyum kecil mendengar gurauannya.Setelah mendengar Cassie masih bisa sembuh, aku jadi tidak setegang tadi.untunglah aku membawanya ke orang yang tepat.

“Bagaimana jika kau menjadi asistenku untuk pemotretan mulai minggu depan? Bayarannya bisa membantumu memperbaiki kamera.”

“Tapi kan sunbae memotret orang, model. Sementara aku tidak pernah melakukannya….”

“Haha. Tidak apa. Tidak sulit kok. Ini kan juga bisa jadi ajang belajar. Kan sudah kubilang, ‘Dunia ini tidak hanya diisi oleh makhluk-makhluk ‘manis’ seperti hewan atau tumbuhan’.Sesekali kau harus memotret orang juga.”

“Baiklah.Akan kupikirkan dulu.Gomawo, sunbae.”

“Cheonmaneyo. O y, bagaimana dengan kompetisi fotografi alam itu? Kau sudah mengirimkan fotonya?”

Kompetisi fotografi alam?“Fotonya kan di… aish!”

 

Jaejoong’s POV

Aku memasukkan memory card yang kudapatkan dari yeoja itu ke netbook ku.Kubuka folder di dalamnya dan mencari-cari fotoku.

Aneh.Tidak ada satupun fotoku disana.Yang ada malah foto-foto pemandangan, sunset, sunrise, bunga-bunga, hewan-hewan.Kemudian mataku terpaku dengan sebuah foto.Foto yang memperlihatkan seorang ibu hamil yang sedang menggenggam tangan anak perempuan kecil.Tatapan mata ibu itu begitu lembut, dan wajah anak itu sangat ceria. Kemudian aku melihat foto lain yang begitu menyentuh. Seorang ayah yang mengajari anaknya main sepeda. Di foto berikutnya anak itu terjatuh dari sepeda dan menangis, sementara sang ayah menenangkannya dengan wajah kasihnya. Aku menatap foto itu lama.

“Bagus sekali fotonya,”kata sebuah suara mengagetkanku.

“Ya! Kim Junsu! bisa tidak kau muncul dengan cara normal!”

“Aku sudah memanggil hyung sejak tadi.”kata namdongsaengku itu, lalu duduk di sebelahku.

“Ada apa?”

Junsu tidak menjawab, ia malah memperhatikan foto-foto di laptopku. “Fotonya sangat menyentuh.Siapa yang memotretnya?”

“Stalkerku.”

“Hyung berhasil menangkapnya?”Aku terlonjak mendengar suara kencang itu.

“Jangan membuatku kaget dengan suara cemprengmu Shim Changmin!”teriakku. suara changmin tadi hampir saja membuatku terjatuh dari kursiku.

“Hehe.Mianhe hyung.”katanya cengar-cengir membuatku tambah sebal. Ia duduk di sebelah Junsu. “hyung berhasil mendapatkan kameranya?”

“Anhi, memory cardnya.tapi tidak ada satupun fotoku di memory card kameranya.” Lalu aku menceritakan kejadian tadi pagi di taman belakang.

“Wah, Kim jaejoong, kau jahat sekali. Bagi seorang fotografer kamera itu sama dengan nyawa. Tapi hyung malah merusak kameranya.”komen Junsu.

“Ya! Aku kan tidak sengaja! Lagipula dia duluan kan yang salah.”Aku merengut kesal.“ Lalu untuk apa kalian berdua ke kamarku?! Ini kan sudah malam!”

Changmin menatapku sebal.“Aku sudah tahu identitas si stalker itu. Namanya Jung Yuuri. Mahasiswi jurusan fotografi tingkat dua.Dia memang hobi memakai warna merah.Dan dia satu-satunya mahasiswa yang suka memakai merah disana.”

“Tuh kan.”desisku kesal.

“Tapi aneh jika dia menjadi stalker.”

“Mwo?”

“Karena selama ini dia jarang sekali memotret orang.Ia dikenal di jurusan fotografi sebagai Nature Photographer dan sering menjuarai perlombaan fotografi alam. Selain itu, kata temanku, kurasa dia tidak mengenal hyung. Karena ia tidak pernah nonton tv, menghadiri acara music di kampus, atau hal-hal yang dapat membuat dia mengenal seorang Kim Jaejoong. Dan menurut informanku, kerjaannya tiap libur adalah menjelajah untuk memotret alam.”

Aku mengangguk-angguk mendengar info dari Changmin.pantas saja ia bilang ia tidak mengenalku tadi.

“OK. Mungkin dia bukan penggemar fanatikku atau semacam itulah.Tapi tetap saja dia adalah satu-satunya orang yang suka memakai baju merah semencolok itu di fakultas seni. Bisa jadi dia dibayar orang untuk memotretku diam-diam. Lagipula memotretku secara diam-diam tidak memerlukan teknik khusus seperti memotret nature kan?”

Changmin terlihat berpikir-pikir sebentar.”Bisa jadi.”

“Nah, maka dari itu kau harus membantuku untuk mencari tahu lebih banyak tentang stalker itu.Dia pasti menyembunyikan foto-fotoku.Besok aku harus menemuinya untuk meminta foto-fotoku segera!”

Junsu tertawa kecil.“Kurasa tidak semudah itu mendapatkan foto darinya.Apalagi hyung sudah merusak kameranya.”Junsu berjalan keluar kamar.“Hoi, Changmin-ah!Ayo main game lagi!”

***

Aku memikirkan kata-kata Junsu  tadi. dia benar, pasti akan sulit untuk mengambil foto-fotoku dari yeoja itu. Kemudian aku teringat benda milik yeoja itu yang tertinggal di taman tadi. aku mengeluarkannya dari tasku. Sebuah recorder, headphone merah dan topi merah.Kurasa benda-benda ini tidak bisa membuatku memaksanya untuk memberikan foto-fotoku.Seharusnya tadi kuambil sekalian saja kameranya.

Aku melirik recorder milik yeoja itu.Apa sih isinya? Aku pun menyetelnya dan mengernyit ketika mendengarkannya dari headphone.Sepertinya ini suara dosen yang sedang mengajar.Teknik-teknik pengambilan foto.Hal-hal seperti itulah yang aku dengar.Sepertinya yeoja ini merekam penjelasan dosen dan belajar dengan mendengarkan rekaman ini berulang-ulang.Yeoja yang aneh.

 

Yuuri’s POV

Sudah hampir dua jam aku menunggu di dekat gerbang kampus untuk mencari namja menyebalkan itu. Aku tidak tahu namanya, tidak tahu fakultasnya apa. Jadi caraku satu-satunya adalah menunggunya di depan gerbang. Gara-gara hal ini aku bolos kuliah pagi.Ini semua demi memory card foto-fotoku.Dua hari lagi batas pengumpulan fotonya.

Bagaimana kalau dia ternyata masuk siang?Atau malah nggak kuliah? Aish! Aku bisa kering nunggu disini!

Aku terus memperhatikan orang-orang yang keluar masuk pintu gerbang.Tapi bukan hanya orang yang berjalan kaki yang masuk keluar, ada mobil dan motor juga. Omo! Kenapa aku baru kepikiran?Jangan-jangan dia malah pake mobil lagi?Bagaimana aku bisa mencarinya kalau begitu?

Akhirnya setelah kupikir-pikir tidak ada gunanya juga menunggu yang tidak pasti seperti ini, aku pun berjalan masuk ke dalam. Lebih baik aku tanya orang dengan menggunakan ciri-cirinya.

“Hmm… ciri-cirinya itu…”aku bergumam. “Tinggi badan sekitar 180cm…

TIN TIN…

“Rambut hitam….”

TIN TIN…

“…kulit putih…”kenapa aku hanya mengingat ciri-ciri yang standar aj y? gimana bisa orang tau?

TIN TIN… TIN TIN…….

Siapa sih yang klakson-klakson? Aku kan udah di pinggir jalan. TIN TINNNNNN……

Aku membalikkan badan dan berteriak.“Ya! Berisik banget sih! Jalan masih lebar tau!”

Dan ternyata orang yang aku cari mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil yang sedari tadi mengklaksonku.

 

Jaejoong’s POV

Hari ini aku harus menemui yeoja itu lagi. Aku harus memaksanya memberikan foto-fotoku sebelum ia mengedarkannya di internet atau menjualnya ke para penggemar fanatikku.

Aku menyetir mobilku masuk gerbang, lalu melihat seseorang dengan baju dominan merah dan putih (?) berjalan masuk ke kampus. Kurasa aku tidak perlu susah payah mencarinya. Aku mengklaksonnya.

TIN TIN…

Dia tetap berjalan pelan.Apa ia tidak dengar?

TIN TIN…

Yeoja ini…

TIN TIN…

Aku mulai kesal. TIN TIIIINNNNN……

Kemudian ia membalikkan badannya. “Ya! Berisik banget sih! Jalan masih lebar tau!”

Aku lalu mengeluarkan kepalaku dari jendela kemudi dan melepaskan kacamataku.Ia terlihat terkejut.

“Masuk.”perintahku dingin padanya.

Ia diam menatapku sinis. Aku balas menatapnya tak kalah sinis.

“Diantara kita masih ada persoalan yang belum selesai.Masuk.”

Ia menghela napas dengan kesal, lalu masuk ke kursi penumpang di sebelahku. Akupun melajukan mobilku ke tempat yang sama seperti kemarin kita ketemu.

“Jadi?Mana foto-fotoku?”tanyaku langsung saat kami sudah turun dari mobil. Saat di dalam mobil tadi kami memang tidak berbicara apapun.

“Bukankah seharusnya aku yang bertanya! Kembalikan memory card ku! Disana tidak ada foto-fotomu!”

“Justru karena tidak ada aku memintanya kepadamu!”

“Kenapa kau masih menuduhku sih?!Kan sudah kubilang aku bukan stalker!”

“Mana mungkin aku percaya semudah itu?!”

“Kalau begitu kenapa tidak coba cari tahu saja!Yang pasti itu bukan aku!”

“Mana buktinya?”

“eh?”

“Mana buktinya kau bukan stalkerku?”

“Mana buktinya kalau aku stalkermu? Aku tidak punya foto-fotomu! Kan sudah kau lihat sendiri!”

“Tapi aku melihatmu memotretku diam-diam! Memangnya ada orang lain di fakultasmu yang berpakaian merah mencolok seperti itu?!”

Ia menghela napasnya dan memejamkan mata. Mencoba menenangkan diri sepertinya. Kemudian ia membuka matanya dan menatapku dalam.

“Memang cuma aku yang selalu memakai pakaian berwarna merah.Tapi benar-benar bukan aku yang menstalkermu.Aku hanya memotret alam, tidak orang.Jadi itu pasti bukan aku. Aku akan menolongmu mencari tahu siapa orang itu. Aku juga tidak akan menuntutmu karena sudah merusak kameraku. Tapi tolong, kembalikan foto-fotoku. Aku akan mengikuti perlombaan, dan fotonya adalah salah satu foto yang ada di memory card itu…”

Ia berbicara panjang lebar dengan wajah memohon.

“Kumohon… kesempatanku hanya tinggal besok untuk mengirimkan fotonya…”

Matanya yang besar… Dari matanya ia tidak terlihat sedang berbohong. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku.Anhi Jaejoong-a.Jangan percaya pada yeoja ini.

“Tidak akan.Sampai kau memberikan foto-foto itu. Kita barter.”

“Kenapa kau sejahat itu?!”jeritnya tiba-tiba. “Aku tidak punya salah apa-apa padamu! Kau terus menuduhku! Memangnya ada untungnya buatku memotretmu!”

“Tentu saja ada!Kau bisa menjual foto-fotoku diam-diam ke pers dan aku bertaruh kau pasti dapat uang banyak dari sana!”

Ia menatapku sangat marah dan mendekatiku.

“AWWW!!!”

Ia menginjak kakiku lagi. “Michyeoso?!”

“Jangan kau pikir karena kau punya mobil dan memamerkannya kemana-mana aku akan tertarik untuk mempunyainya!Aku lebih baik mati kelaparan daripada harus melakukan hal rendah seperti itu!”Ia berbalik dan pergi.

“Ya!Urusan kita belum selesai!”seruku kesal.

 

Yuuri’s POV

Aku tidak percaya saat mendengarnya menuduhku akan menjual foto-fotonya ke pers. Aku merasakan kepalaku mulai mendidih. Aku mendekatinya lalu menginjak kakinya.

“AWWW!!!”Ia menjerit keras. “Michyeoso?!”

“Jangan kau pikir karena kau punya mobil dan memamerkannya kemana-mana aku akan tertarik untuk mempunyainya!Aku lebih baik mati kelaparan daripada harus melakukan hal rendah seperti itu!”Dengan kesal aku berbalik dan pergi.

“Ya!Urusan kita belum selesai!”serunya kesal.

Aku tidak mempedulikan panggilannya. Yang pasti saat ini aku memutuskan tidak akan mau melihatnya lagi.

Lalu bagaimana dengan foto-fotoku?Apa aku harus menyerah?

Aku menghela napas. Aku akan mencoba mencari foto baru dari sekarang, mungkin masih sempat. Lagipula Yoochun sunbae sudah meminjamkan kameranya padaku.Mudah-mudahan aku dapat objek foto yang bagus dengan waktu sesempit ini.

***

Akhirnya satu hari pun berlalu, dan aku tidak mendapatkan objek foto yang bisa kukirimkan.Aku menggigit bibirku menahan tangis dan duduk di lantai apartemenku yang kecil. Padahal selama ini kan aku hidup dari uang hasil memenangkan perlombaan. Mana mungkin aku terus-terusan memakai tabungan warisan dari Appa.Padahal kalau aku menang dalam kompetisi ini, aku bisa jadi fotografer tetap di majalah National Geographic.Aku bisa bekerja sesuai hobiku. Tapi kalau begini, bagaimana nasibku, bahkan untuk bulan ini saja..?

Tiba-tiba HPku berdering. “yoboseyo?”

“Yuuri-ah, besok jadi kan kau bekerja denganku?”Tanya Yoochun sunbae.

“bekerja?”

“Jadi asistenku di pemotretan. Jadwalnya ternyata dimajukan, bukan minggu depan, tapi mulai besok. Kau bisa datang kan?”

Aku langsung tersenyum dan membungkukkan badan, kemudian aku sadar jika sunbae tidak ada disana.“Gamsa hamnida, sunbae-nim!”ucapku riang.

“Cheonmaneyo.”

Aku langsung menjerit girang setelah mematikan ponselku. Jung Yuuri, kau memang beruntung!

***

Esoknya aku datang ke tempat yang sudah diberitahukan oleh Yoochun sunbae.Di lokasi pemotretan itu ternyata sudah banyak kru yang sedang mempersiapkan alat-alat.Aku tersenyum ketika Yoochun sunbae menghampiriku.

“Aku akan mengenalkanmu pada kru yang lain.”katanya, lalu mengajakku ke dalam.

Ia menyapa para kru, lalu mulai mengenalkanku. “Dia hoobae ku di kampus, dan sangat berbakat.Ia masuk tim kita sekarang.”

“Annyeonghasseyo.Choneun Jung Yuuri imnida.”Aku membungkukkan badan lalu menjabat tangan para kru satu-satu.Mereka ternyata sangat ramah.Mungkin aku bisa betah bekerja bersama mereka.

Kemudian aku sibuk mendiskusikan tema pemotretan dengan Yoochun sunbae. Aku memperhatikan penjelasannya baik-baik, apa saja yang harus kukerjakan sampai salah seorang kru mengatakan kalau modelnya sudah siap.

Aku menoleh ke arah suara kru tersebut, dan tubuhku langsung membeku saat melihat model yang dimaksud.Namja itu.Refleks aku membalikkan badan.

“Sunbae-nim, aku permisi ke toilet dulu.”

 

Jaejoong’s POV

Setelah selesai berpakaian di ruang ganti, aku langsung menuju tempat pemotretan.Seorang fotografer kemudian menyapaku dan mengenalkanku pada kru-krunya.

“O y, masih ada satu orang lagi.”kata fotografer bernama Park Yoochun itu. Matanya mencari-cari seseorang.Tiba-tiba ponselku berdering.“Sebentar,”kataku padanya.Aku balik badan dan menjawab telpon itu sebentar.Ketika aku berbalik menghadap fotografer itu.Mataku terbelalak menatap seorang yeoja berjaket merah dengan rambut panjang yang tertutupi topi rajut putih berada di samping fotografer itu.

“Kenalkan Kim Jaejoong-ssi, namanya Jung Yuuri. Dia asisten fotografer.Yuuri, dia Kim Jaejoong, model pemotretan kita.”

Dengan mata kesal yeoja itu membungkukkan badannya sedikit, “Annyeonghaseyo, choneun Jung Yuuri iminida.Mohon kerjasamanya.”

Aku menatap yeoja itu kesal lalu menarik tangannya menjauh dari Park Yoochun.

“Tidak memotret orang?Kau bilang tidak memotret orang?!”seruku padanya. Bisa kurasakan semua kru yang ada disana menatap kami berdua, tapi aku tidak peduli.

“Ini pertama kalinya.”jawabnya pelan dan menatapku dingin. “Sebaiknya kita bersikap professional disini.”Ia berjalan kembali ke tempat pemotretan. Aku memukul dinding dengan kesal, lalu masuk ke dalam.

Para kru kebingungan melihatku yang masuk dengan tampang marah. Park Yoochun menatapku sejenak lalu dengan gerakan kepalanya ia menyuruh seorang pengarah gaya menghampiriku dan mulai menjelaskan konsep pemotretannya sekali lagi serta bagaimana aku harus bergaya di depan kamera.

Aku tidak bisa fokus, dan masih memandang ke arah yeoja itu yang sekarang sedang berbicara dengan Park Yoochun.bisa-bisanya dia santai seperti itu melihatku.

“Aku tidak akan melakukan pemotretan jika nona Jung Yuuri yang menjadi fotografernya!”ucapku lantang.

 

Yuuri’s POV

Aku terkejut mendengar kata-kata yang keluar dari mulut namja menyebalkan bernama Kim Jaejoong itu.Ia menatapku sengit. “Jika aku tahu kau fotografernya, aku tidak akan mau datang!”

Aku balas menatapnya tak kalah sengit.Tapi aku tidak membalas perkataannya, aku tidak ingin ribut disini.Kami hanya saling memelototi.

Yoochun sunbae mendesah pelan. “Kim Jaejoong-ssi, aku tidak tahu ada masalah apa di antara kalian. Tapi bersikaplah professional.Tidak ada untungnya ribut-ribut saat ini.”

“Siapa yang mau cari ribut?!Mana mungkin aku bisa pemotretan dengan baik jika ada orang yang membuatku kesal?!”

Kenapa dia semenyebalkan itu sih?!Aku selalu sial jika bertemu dengannya.Semua kru kini menatapku.Aku tertunduk malu, merasa tidak enak pada mereka.Ini hari pertamaku bekerja, dan aku sudah membuat mereka kesulitan.

“Sunbae-nim, jika Kim Jaejoong-ssi tidak ingin aku ada disini, tidak apa-apa.Lebih baik aku keluar saja.Aku tidak ingin mengacaukan kerja kalian.”kataku pada Yoochun sunbae. Kulirik namja itu yang sudah tersenyum menang.

“Anhi, Yuuri-ah.Aku sudah memintamu menjadi asistenku, jadi aku tidak akan menariknya.”lalu sunbae menatap namja itu tajam, “Kim Jaejoong-ssi, jika anda bersikeras bersikap seperti itu kurasa itu hanya akan menyulitkanmu. Kau sudah menandatangani kontrak kan? Sikap anda hanya akan membuktikan ketidakprofesionalan anda.”

Namja bernama Kim Jaejoong itu kini menatapku dengan death glare-nya.

“Kurasa aku butuh menenangkan diri sejenak,”ucapnya kesal lalu berjalan keluar.

Aku merasa tidak enak dengan keadaan ini. “Jweseunghamnida,”ucapku pada Yoochun sunbae dan membungkuk padanya, kemudian aku melakukan hal yang sama pada setiap kru disana.

“Gwenchana, Yuuri-ah.”kata Yoochun sunbae.

“Seharusnya sunbae tidak perlu membelaku tadi, tidak apa-apa kok jika aku tidak ikut jadi bagian pemotretan ini.”kataku menunduk, aku benar-benar merasa malu.

“Gwenchana, Yuuri-ssi.Bukan salahmu. Huh! Hanya karena dia orang terkenal dia tidak boleh bersikap seperti itu padamu–atau siapapun.Tidak seharusnya ia mencampur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan,”salah seorang costume designer bernama Han Sun Hwa membelaku, kru yang lain mengiyakan.

“Gomapseumnida.”ujarku sambil membungkuk sekali lagi. Mereka semua sangat baik. Aku tidak akan mengecewakan mereka.

Setelah 15 menit, namja itu di luar, ia masuk ke dalam. Wajahnya tidak menunjukkan kemarahan seperti tadi, tapi ketika mata kami bertatapan, aku bisa dengan jelas melihat kemarahan disana.Itu membuatku sedikit takut.Tapi aku tetap menatap matanya dengan menantang, membuatnya tersenyum sinis.

Pemotretan pun dimulai.Yoochun sunbae mulai memotret.Ia tidak perlu mengarahkan gayanya, sepertinya Kim Jaejoong tahu pose-pose yang dibutuhkan. Dia terlihat… keren dan tampan.Aku langsung menepis pikiran itu.Apa sih yang tiba-tiba kupikirkan?!

Tapi dia hebat. Baru beberapa menit yang lalu ia terlihat kesal denganku, tapi sekarang aku berhasil memotretnya. Aku baru mengerti yang disebut professional disini.

Pemotretan hari ini pun selesai.Aku membantu para kru yang sibuk membereskan peralatan.Tiba-tiba namja itu menghampiriku dan menyeretku keluar.

“Ah, appo!”seruku saat dia menarikku ke halaman belakang. Ia menyentakkan tanganku dengan keras. Aku menatapnya kesal lalu mengusap-usap lengan kiriku yang tadi ditariknya.

“Mana fotonya?”tanyanya dingin.

“Kan sudah kubilang bukan aku!”

“Dan aku tidak percaya!”

“Terserah padamu mau percaya atau tidak.Jangan ganggu aku.Aku hanya ingin bekerja disini.Tidak bisakah kau bersikap professional?”ucapku tajam.

Dia mendengus kesal.“Aku tidak akan mengungkit masalah ini disini.Tapi jangan harap di kampus aku akan diam saja!”

Kata-katanya menyulut kemarahanku, dan mataku memanas.“Seharusnya aku yang bersikap seperti itu! Kau menuduhku yang bukan-bukan! Merusak Cassie-ku! Mengambil foto-foto yang akan kukirimkan ke kompetisi! Mempermalukanku di depan semua kru! Aku sangat membencimu!”

Aku terengah-engah setelah berteriak seperti itu.Namja itu terlihat terkejut dengan teriakanku.

“Kau tahu Kim Jaejoong-ssi, jika pada akhirnya kau tahu bukan aku yang melakukannya, kau akan menyesal!Dan saat itu jangan harap aku akan memaafkanmu!”

Kemudian aku balik badan dan pergi meninggalkannya yang masih terpaku.

 

Jaejoong’s POV

“Seharusnya aku yang bersikap seperti itu! Kau menuduhku yang bukan-bukan! Merusak Cassie-ku! Mengambil foto-foto yang akan kukirimkan ke kompetisi! Mempermalukanku di depan semua kru! Aku sangat membencimu!”

Aku terkejut dengan teriakannya yang tiba-tiba disertai air matanya yang mengalir. Sepertinya ia tidak sadar jika airmatanya mengalir. Setelah terengah-engah sebentar, ia berteriak lagi.

“Kau tahu Kim Jaejoong-ssi, jika pada akhirnya kau tahu bukan aku yang melakukannya, kau akan menyesal!Dan saat itu jangan harap aku akan memaafkanmu!”

Aku terpaku mendengar kata-katanya.Ia bilang aku akan menyesal saat tahu bukan dia pelakunya. Dan ia tidak akan memaafkanku. Kenapa hatiku merasa tidak enak?

“Dia lah pelakunya Kim Jaejoong.Kan kau sendiri yang melihatnya.Jadi dia harus bertanggung jawab.”gumamku berulang kali. Tapi bagaimana jika dia memang bukan pelakunya?

***

“Hyung!Coba lihat ini!”

Changmin memberikan selembar foto padaku.Aku menghentikan makanku dan mengambil foto itu dari tangannya.Senyumku melebar.Ini dia yang kubutuhkan untuk mendapatkan foto-foto memalukan itu.Tunggu saja Jung Yuuri.

Aku pergi ke fakultas seni dan mencari ruang klub fotografi alam tempat yeoja itu berkumpul bersama teman-temannya (tentu saja aku tahu dari changmin). Kemudian aku sampai di depan ruangan yang aku tuju, lalu kuketuk pintunya.

Seorang yeoja membukanya, dan ia tampaknya terkejut melihatku.

“Ki..Kim Jae Joong- ssi?”

“Ne. aku kesini mencari Jung Yuuri.”

 

Yuuri’s POV

Aku menghabiskan waktuku di ruang klub fotografi untuk belajar dengan mendengarkan rekaman kuliahku.Sebentar lagi ujian, dan akhir-akhir ini waktuku habis untuk bekerja di pemotretan.Tanpa Cassie aku jadi tidak bersemangat, makanya aku harus segera memperbaikinya. Yoochun sunbae menawarkan untuk meminjami aku uang yang akan membantuku memperbaiki cassie, tapi aku menolaknya. Yoochun sunbae sudah terlalu sering membantuku, dan aku tidak ingin merepotkannya lagi.

Aku mengacak-acak isi tasku, mencari kaset rekaman kuliah hari lain. Aku mulai kesal karena sampai sekarang aku masih tidak bisa mengingat dimana aku menjatuhkan perekamku dan headphone merahku beberapa hari yang lalu.Inilah susahnya kalau punya sifat pelupa yang parah.

Aku memandang ke sekeliling, mencari Hye mi, teman satu jurusanku. Oh, ternyata dia ada di depan pintu. Tapi kenapa ia terlihat terkejut begitu?

“Hye mi, ada a…” aku tidak jadi melanjutkan kata-kataku ketika melihat siapa yang berada di depan pintu. Kenapa namja ini lagi?!

“Baguslah kalau ternyata kau ada disini.Sekarang kau tidak bisa menuduhku telah memfitnahmu.Karena aku punya bukti kalau kau yang melakukannya.”

Deg.

Jantungku berdegup kencang.Tidak mungkin dia punya buktinya.

Ia menghampiriku dan menyodorkan selembar foto. Dan di dalam foto tersebut ada namja itu yang sedang berlari mengejar seseorang yang tampak seperti…. Aku.Pakaiannya, topinya, dan kamera yang dipegang orang yang dikejar itu, semuanya memang milikku.

“Bagaimana?Masih mau mengelak lagi?”tanyanya tersenyum sinis dan langsung mengambil foto itu dari tanganku. “Itu kau kan?”

“Darimana kau mendapatkannya?”

“Ternyata saat aku mengejarmu seorang penggemarku melihat dan menfotonya.Akhirnya ada buktinya juga,”wajahnya tersenyum puas.

“Di, dia memang tampak seperti aku, tapi ini bukan aku!”bantahku.

“Oh. Masih mau mengelak juga?Hal yang kau lakukan ini merupakan tindak kriminalitas.Aku bisa melaporkanmu ke pihak kampus, dan kupastikan kau akan dikeluarkan.”

Jantungku hampir copot saat mendengar kata-katanya.

“Kumohon… jangan lakukan itu…”

“Kembalikan foto-fotoku!”

“Tapi aku memang benar-benar tidak memilikinya…”

Dia mengangkat alisnya dan menatapku dingin.“Masih bersikeras juga?Kalau begitu aku laporkan sekarang.” dia berbalik dan aku menangkap tangannya.

“Chankaman!”

Dia berbalik dan menatapku dingin.“Aku sungguh-sungguh tidak memilikinya. Tapi akan kucari tahu. Tolong jangan laporkan aku…”

“Masih bersikeras juga..”

“Kumohon, sekali ini.Tolong percaya padaku. Aku akan mencari tahu, akan kucari fotonya. Tapi tolong…. Jangan laporkan aku…”

 

Jaejoong’s POV

Aku terpaku menatapnya, menatap mata coklat muda yeoja itu. Jung Yuuri. Mata besarnya yang memohon terlihat…indah.Terlihat ketakutan, dan itu membuatku tak tega.

“Baiklah.Aku beri kau kesempatan 10 hari. Kalau dalam 10 hari kau tidak bisa mendapatkan foto-foto itu, aku akan melaporkanmu! Arasseo?!”

“10 hari?”

“Kenapa?Keberatan?”

Ia menggeleng kuat. “Anhi.Akan kucari tahu dalam waktu 10 hari.”jawabnya pelan.

Aku menatap wajahnya yang tertunduk.Ia menggigit bibir bawahnya dengan cemas. Kemudian aku pergi.tapi apa aku harus menunggu 10 hari?

Di depan pintu aku terdiam kemudian balik badan.

“Jung Yuuri-ssi,” Ia terlihat terkejut dengan panggilanku. “Walaupun aku memberimu waktu 10 hari, aku akan tetap mencarimu tiap hari.Arasseo?”

Dan tanpa menunggu ia menjawab, aku pergi dari ruangan itu.

~TBC~

Kau lupa apa yang kuinginkan darimu? Ini sudah hari keberapa memangnya?~Jaejoong’s POV

Kau menyukai yeoja itu hyung?~Changmin’s POV

Ini sudah hari ke-9 hyung. Jadi jika lewat 10 hari apa hyung masih mau melaporkannya?~ Junsu’s POV

Mianhe.Jeongmal mianhe.Aku stalker waktu itu. ~Yuuri’s POV

 

Picture of You

changmin2


Tema: Autumn season

Cast : Shim Changmin DBSK, Han So Hee

Genre: Romance

 

Changmin duduk menatap pantai dengan mata menerawang. Kemudian ia memejamkan matanya. Angin dingin musim gugur yang menerpanya, aroma laut yang khas, suara debur ombak, dan sayup-sayup kicauan burung. Semuanya terasa indah dulu, tapi tidak sekarang. Changmin tidak lagi bisa merasakan indahnya musim gugur di pantai ini tanpa adanya dia.

Changmin membuka sebuah buku diary berwarna coklat kemerahan. Warna daun gugur. Warna yang sangat disukainya dan yeoja itu. Sudah hampir setahun ini ia membaca buku diary itu, tapi ia tidak pernah bosan dengannya.

Ia memandang foto-foto yang tertempel di setiap halaman dan membaca tulisan kecil di bawahnya.

Foto pertama adalah foto dirinya yang sedang berdiri di dermaga. Ia membaca tulisan di bawah foto itu.

13 September 2010

Aku melihatmu lagi…

@@@

Menyakitkan mendengarnya. Ternyata ia adalah anak appa-nya dari wanita lain.

Seharusnya ia senang mendengarnya, karena ternyata ia adalah benar-benar bagian dari keluarga Kim. Selama ini yang ia tahu adalah namanya Shim Changmin. Anak dari kerabat jauh keluarga Kim. Ibunya meninggal saat umurnya enam tahun. Kemudian ia diangkat anak oleh suami istri Kim, diperbolehkan memanggil mereka ‘appa’ dan ‘eomma’, menganggap anak-anak mereka sebagai saudara kandungnya, tetapi tidak pernah namanya berubah. Namanya tetap Shim Changmin. Dan ia baru mengerti hari ini kenapa namanya tidak diubah menjadi Kim.

Ia mengerti saat acara pemakaman halmeoni selesai. Ternyata halmeoni selama ini tidak pernah menerimanya sebagai bagian dari keluarga Kim, itulah alasan namanya tidak berubah. Dan setelah halmeoni tidak ada, eomma meminta appa mengubah namanya. Itulah yang membuat hatinya merasa sakit.

Eomma, menerima anak selingkuhan suaminya, menganggapnya sebagai anak sendiri, dan mencintainya sepenuh hatinya. Changmin merasakan pipinya basah oleh airmata saat tidak sengaja mendengar permintaan seorang ibu yang begitu mencintainya itu.

Malam itu ia memutuskan untuk meninggalkan rumah.

@@@

Changmin sangat menyukai musim gugur. Karena banyak kenangan indah bersama keluarganya di musim gugur. Ya, bersama keluarga Kim. Tapi musim gugur saat ini ia akan melaluinya sendiri. Disini, di Busan, tempat yang ia pikirkan pertama kali saat ia berpikir akan meninggalkan rumah. Kota pinggir pantai yang sering dikunjunginya dan keluarga Kim jika mereka berlibur.

Angin sore musim gugur yang dingin menerpa kulitnya yang hanya berbalutkan jaket kulit tipis. Bodohnya ia, saat kabur yang diingatnya hanya dompetnya dan ranselnya yang ternyata kosong tidak ada apa-apanya. Sekarang Changmin menyalahkan kebodohannya dan berjalan menuju dermaga yang cukup tinggi. Ia memegang pagar dan menatap ombak yang berada di bawah dermaga tempatnya berada.

“Hmm… apa aku bisa mencoba kemampuanku berenang di tempat ini ya?”gumam Changmin lalu duduk di pagar dermaga itu. Ia tertawa kecil. “Ini sih kelihatannya aku mau  bunuh diri.”

“Chankamanyo!”teriak seseorang ketika Changmin akan turun dari pagar dermaga. Seorang yeoja menghampirinya dengan berlari. Ia menangkap tangan Changmin dan berkata dengan heboh. “Jangan bunuh di…”

Terlambat. Saat tangan yeoja itu menangkap tangan Changmin, namja itu kehilangan keseimbangan dan ia terjatuh. Dengan membawa yeoja itu bersamanya ke dalam air laut.

@@@

“Ya! Michyeoso! Kau mau membunuhku ya?!”seru Changmin pada yeoja yang basah kuyup di sebelahnya.

“Jwesunghamnida. Kukira kau mau…”

“Bunuh diri?! Ya! Aku tidak setolol itu! Lagipula kalau mau bunuh  diri, aku akan cari cara lain! Tidak dengan menyeburkan diri ke laut. Aku ini bisa berenang tahu! Tidak sepertimu!”urat leher Changmin keluar saking marahnya ia dengan yeoja itu. Ia kesal sekali. Tadi saat mereka berdua tercebur ke laut. Ia harus berjuang berenang di dalam air laut yang dingin dengan membawa yeoja itu juga. Karena yeoja itu tidak bisa berenang. -_-‘

“Jwesunghamnida…jwesunghamnida…sudah membuatmu tercebur. Gamsahamnida sudah… menolong… HACHIIHH!!”

Changmin menatap kesal yeoja yang terus menerus bersin itu. Ia bangkit dan mengambil ranselnya. Ia memutuskan untuk mencari toko pakaian dan penginapan, tapi ia tidak tahu dimana.

“Hei.”panggilnya pada yeoja itu. “Kau tau dimana toko pakaian dan penginapan terdekat?”

***

 

Kau menyelamatkanku lagi. Tapi bukan karena aku tersesat. Tapi karena aku hampir saja mati tenggelam karena ketololanku.

@@@

“Jebal Changmin-ssi.. aku ikut ya…”pinta So Hee dengan sedikit rengekan. Changmin menatap yeoja yang sedang menarik-narik bajunya ini dengan sebal, kemudian menghela napas.

“Apa Hye Sun ahjumma mengizinkanmu?”

So Hee mengangguk. “Arasseo… naik ke boncenganku.”kata Changmin. Dengan riang So Hee duduk di boncengan sepeda Changmin. Changmin mengayuh sepedanya, sekarang ia harus mengerjakan pekerjaannya setiap pagi, mengantarkan susu.

Sudah seminggu Changmin tinggal di rumah keluarga Yoo, rumah paman dan bibi yeoja yang membuatnya tercebur ke laut, Han So Hee. Changmin tidak bisa menolak saat So Hee dengan wajah sangat menyesal memohon-mohon padanya untuk mau ikut tinggal di rumah paman dan bibinya. Lagipula saat itu Changmin tidak punya kemampuan untuk menolak. Ia kan memang butuh pakaian dan tempat tinggal. Jadi sekarang ia tinggal di rumah keluarga Yoo dan membantu mereka mengantarkan barang-barang kebutuhan pokok yang dijual di toko swalayan kecil milik mereka.

Dengan riang So Hee membantu Changmin mengantarkan susu ke rumah-rumah pemesan. Karena setelah mengantarkan susu, Changmin pasti akan mengantarkannya kemanapun yang ia inginkan untuk memuaskan hobinya memotret. Mereka berhenti di pantai. Changmin meletakkan sepedanya di bawah pohon, lalu merebahkan tubuhnya di pasir pantai, sementara So Hee sibuk memotret dengan kamera kesayangannya.

Changmin memejamkan matanya dan wajah seluruh keluarganya terbayang. Eomma, appa, Jaejoong hyung, Junsu hyung, kelima noonanya, dan kedua yeodongsaengnya. Baru seminggu pergi, ia sudah merindukan mereka semua. Merindukan rumahnya yang selalu ramai dan hangat.

JEPRET.

Changmin langsung membuka matanya, dan melotot melihat kamera So Hee yang berada di atas mukanya. So Hee langsung kabur. “Ya! Han So Hee! Hapus fotoku!”seru Changmin mengejar-ngejar So Hee yang sambil berlari sibuk memencet-mencet kameranya.

Changmin berhasil menangkap So Hee lalu mengambil kameranya. Ia mencari fotonya di dalam kamera itu dan tidak menemukannya. “Kau pikir aku mau menyimpan wajah namja galak sepertimu?”cibirnya, lalu memeletkan lidah.

Dengan sebal Changmin menarik rambut panjang So Hee yang diikat ekor kuda. “Ah, appo!”kemudian So Hee memfoto Changmin lagi, dan mereka kembali berkejar-kejaran. Changmin tertawa-tawa saat So Hee terjatuh dan wajahnya terkena pasir pantai. Tapi pada akhirnya ia membantu yeoja itu dan mengajaknya pulang. Wajahnya masih tersenyum melihat ekspresi So Hee.

Han So Hee. Hanya yeoja ini yang dapat dengan segera membuatnya lupa akan kesedihannya.

***

Changmin membaca tulisan di bawah fotonya yang tidur di pantai, yang saat itu ternyata tidak di delete oleh So Hee.

20 September 2010

 

Wajahmu yang sedang tertidur, kau terlihat sedih…

@@@

“Kenapa kau suka memotret daun gugur?”tanya Changmin saat melihat So Hee yang sedang asik memotret daun-daun yang berguguran.

“Karena aku suka musim gugur,”jawab So Hee tanpa menghentikan kegiatannya. “Bukankah daun-daun itu terlihat lebih cantik saat musim gugur? Kau juga menyukai musim gugur kan?”

“Tahu darimana?”Changmin terkejut.

So Hee menghentikan kegiatannya, lalu memandang Changmin dan tersenyum. “Aku bisa melihatnya.”

Changmin menatapnya penasaran, tapi So Hee tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia kembali memotret.

Karena kau terlihat sangat bahagia saat musim gugur, Changmin.

***

25 September 2010

 

Dan aku juga sangat bahagia ketika musim gugur, karena aku hanya bisa melihatmu saat musim gugur…

@@@

Sore ini seperti biasanya Changmin dan So Hee berboncengan sepeda. Changmin mengayuh sepedanya perlahan melewati jalanan dibawah pepohonan di musim gugur. Mereka merasa seperti melewati lorong panjang yang di dominasi berwarna cokelat. Tidak ada tujuan, mereka memang hanya ingin melihat pohon-pohon yang berwarna coklat dan daun-daun berguguran yang berwarna merah kecoklatan. Indah sekali…

Changmin menghentikan sepedanya, dan So Hee turun. Mereka memutuskan untuk berjalan kaki menikmati pemandangan itu.

Tempat ini sangat tenang, dan mereka sangat menikmatinya. Sesekali So Hee melirik Changmin yang berjalan pelan dengan menuntun sepedanya. Wajahnya terlihat damai saat menikmati pemandangan indah daun-daun berguguran. Ia berhenti berjalan dan saat Changmin terus berjalan di depannya, diam-diam ia memotret namja itu. Hanya memotret punggungnya.

 

1 Oktober 2010

 

Punggungmu yang terlihat sangat damai di bawah daun-daun yang berguguran.

@@@

Changmin kebingungan mencari So Hee yang tiba-tiba menghilang. Ini gara-gara dia tertidur di pantai tadi, dan sekarang So Hee tidak ada. Ia khawatir sekali. Masalahnya adalah So Hee suka lupa segalanya ketika memotret, ia bisa mencapai tempat yang jauh sendirian hanya gara-gara keasyikan memotret, dan So Hee paling tidak bisa menghapal jalan. Apa So Hee tersesat?

Padahal So Hee tidak menghilang. Ia hanya bersembunyi di balik pepohonan agar Changmin mengkhawatirkannya. Ia tersenyum ketika melihat Changmin kebingungan mencarinya. Kemudian ia mengendap-endap di belakang Changmin, berjinjit sedikit dan menutup mata namja itu dengan kedua tangannya. “Tebak siapa…?”

Changmin menghela napas lega. “So Hee? Tadi kemana?”tanyanya lalu melepaskan tangan So Hee yang menutupi matanya. Ia memandang So Hee yang sekarang tersenyum lebar.

“Apa kau mengkhawatirkanku?”

“Tentu saja.”

“Benarkah?”So Hee senang mendengarnya.

“Kalau kau menghilang aku bisa dimarahi Hye Sun ahjumma dan Jae Suk ahjussi.”

So Hee cemberut. Jadi kau mengkhawatirkanku karena itu?

Changmin menepuk-nepuk kepala So Hee lembut. “Kita pulang. Kajja!”ajak Changmin kemudian menggenggam tangan So Hee, membuat yeoja itu terkejut.

So Hee mengerjap-ngerjapkan matanya tidak percaya. Kemudian dengan tangan kanannya yang masih bebas, ia memegang kamera yang tergantung di lehernya dan memotret Changmin serta tangan mereka yang berpegangan tangan.

Changmin yang sekarang sudah terbiasa mendengar suara jepretan foto So Hee setiap hari, sekarang sudah tidak protes lagi walaupun So Hee juga memotretnya. Ia sudah merasa nyaman dengan hal itu.

So Hee tersenyum bahagia.

***

Changmin menatap lembut foto tangan mereka berdua yang tergenggam.

 

7 Oktober 2010

 

Pertama kalinya kau menggenggam tanganku…

@@@

Hari ini So Hee tidak seperti biasanya. Wajahnya terlihat pucat sekali. Changmin juga paman dan bibi So Hee sangat cemas dengan keadaannya dan melarangnya untuk berjalan-jalan keluar seperti biasanya. Tapi So Hee merengek-rengek dan meminum obat yang diberikan Hye Sun ahjumma dengan bersemangat.

“Nah! Aku sudah minum obat. Pasti nanti aku segar kembali.”kata So Hee dengan riang dan menatap paman dan bibinya memohon. Akhirnya ia diizinkan untuk berjalan-jalan dengan Changmin.

“Kau sakit apa So Hee?”tanya Changmin saat membonceng So Hee. Mereka kembali melewati jalan biasa yang penuh dengan pohon berwarna coklat dan daun-daun yang berguguran.

“Anemia. Kadang-kadang suka kambuh, tapi setelah minum obat aku pasti segar kembali.”

“Benarkah?”tanya Changmin benar-benar cemas. Terdengar jelas di suaranya, walaupun So Hee hanya bisa melihat punggungnya saat ini.

“Hmm… Changmin-ah… bolehkah aku memeluk pinggangmu?”tanya So Hee yang saat ini memegang kaos Changmin.

“Bukankah seharusnya kau memeluknya dari dulu? Kau kan sering kubonceng…”kata Changmin dengan nada suara gugup.

So Hee tersenyum kemudian memeluk erat pinggang Changmin. Ia menempelkan wajahnya di punggung Changmin dan memejamkan matanya. Ia bisa merasakan kehangatan Changmin dan jantungnya berdebar dengan keras.

***

13 Oktober 2010

 

Pertama kalinya aku memeluk pinggangmu. Rasanya hangat sekali. Jantungku berdebar dengan keras, sampai aku takut kau bisa mendengarnya.

 

“Saat itu aku juga berdebar-debar, So Hee-ah…”gumam Changmin.

Maafkan aku karena saat itu aku berbohong tentang penyakitku. Tapi aku tidak ingin kau tahu. Memikirkan tentang penyakit ini saja aku takut. Aku takut jika penyakit ini akan membuatku melupakanmu. Aku tidak ingin melupakanmu.

 

@@@

Changmin menatap langit malam dengan sedih. Sudah sebulan ia meninggalkan rumah. Ada rasa khawatir di hatinya.

Apa mereka tidak mencariku? Apa mereka melupakanku?

Ia merapatkan jaket yang dipakainya. Kemudian berbaring di pasir pantai dan memejamkan matanya. Ia mendengar suara jepretan kamera. Lagi-lagi So Hee. Tapi ia tetap memejamkan matanya.

“Apa kau tidur, Changmin-ah?” Changmin tidak menjawab. Ia memutuskan untuk berpura-pura tidur.

So Hee menatap wajah Changmin dalam-dalam, kemudian tersenyum. “Kau tampan sekali…”

Changmin sebenarnya ingin tersenyum mendengar kata-kata So Hee, tapi mati-matian ia menahannya. Ia tidak ingin ketahuan jika sedang berpura-pura.

Tiba-tiba Changmin merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. So Hee menciumnya. Changmin tidak lagi berpura-pura. Ia meletakkan tangannya di leher So Hee dan menciumnya lebih dalam.

***

Changmin memandang fotonya yang sedang berbaring di pantai pada malam hari.

 

16 Oktober 2010

 

Aku menciummu dan kau membalasnya lebih lembut. Jantungku berdebar sangat keras, aku bahkan bisa mendengar suara debaran jantungmu juga. Aku bahagia sekali.

 

Changmin-ah, jika nanti otakku tidak lagi bisa mengingatmu, apa jantungku masih bisa berdebar seperti ini saat melihatmu? Apa jantungku masih bisa mengingatmu?

@@@

“So Hee… kau harus segera pulang chagiya…”kata Hye Sun ahjumma.

“Shireo. Biarkan aku bersama Changmin lebih lama, ahjumma… Aku ingin membuat banyak kenangan bersamanya. Saat ini hanya itu yang aku inginkan…”

***

So Hee terus memotret Changmin yang sekarang sedang sibuk membereskan barang-barang di toko pamannya. Changmin berbalik dan menatapnya.

“So Hee-ah, apa aku terlalu tampan sehingga kau memotretku terus?”tanyanya sedikit jengkel.

So Hee tersenyum lebar. “Ne. kau sangat tampan!”

Changmin menyipitkan mata dengan kesal lalu menghampiri So Hee. Ia mengambil kamera yeoja itu, memeluk bahu So Hee dan memotret mereka berdua.

So Hee mengerjap-ngerjapkan matanya. Terkejut dengan blitz kamera tadi.

“Sekali-sekali kau harus memotret kita berdua.”ucap Changmin lalu mencium pipi So Hee sekilas. Ia menatap So Hee dan tertawa kecil melihat wajah So Hee yang sudah memerah.

So Hee memegang pipinya yang terasa panas sekarang. Ia menatap Changmin yang kembali sibuk dengan pekerjaannya dan tersenyum.

Kemudian So Hee merasakan sakit di kepalanya kambuh lagi. Airmatanya menetes.

***

Changmin tertawa kecil melihat foto pertama mereka berdua. Ia tersenyum, sementara So Hee memejamkan mata karena kaget dengan blitz kameranya.

20 Oktober 2010

 

Aku terlalu ingin memotretmu terus, sampai-sampai tidak pernah berpikir untuk berfoto berdua denganmu.

Apa kau tahu? Sejak tiga tahun yang lalu kau menolongku ketika tersesat, sejak itu pula aku ingin terus memotretmu. Tapi kau dan keluargamu hanya kesini saat musim gugur. Ah, aku tidak tahu. Apa itu karena aku yang hanya bisa menjenguk paman dan bibi saat musim gugur, sehingga aku hanya bisa melihatmu pada musim ini?

Yang pasti kau membuatku selalu merindukan musim gugur.

 

Sakit di kepalaku kambuh lagi Changmin-ah… Aku takut…

Apa tahun depan aku masih bisa melihatmu di antara daun-daun cokelat yang indah itu, Changmin-ah?

 

@@@

Changmin duduk di tempat kasir swalayan Jae suk ahjussi, dan melamun lagi. Sekarang kerinduannya akan keluarganya sudah mencapai batasnya. Sudah berhari-hari  ini ia uring-uringan, bahkan So Hee tidak bisa membuatnya tertawa seperti biasanya. Changmin merindukan mereka, terutama eomma-nya.

Ia menyetel radio dan mendengar suara hyung-nya, Kim Jaejoong yang merupakan penyanyi terkenal, melantun dengan merdu. Airmatanya menetes. Hyung, jeongmal bogoshippo…

Suara pintu toko yang terbuka membuatnya mengelap airmatanya dengan cepat.

“Selamat dat…”

Changmin tidak jadi meneruskan kalimatnya. Ia terkejut melihat sosok yang baru saja masuk dan berdiri di hadapannya. Kedua hyung-nya. Jaejoong dan Junsu.

“Changmin-ah…”panggil Jaejoong dan Junsu pelan.

“Hyung…” Dengan cepat ia menghampiri kedua hyungnya dan memeluk mereka berdua.

Mereka bertiga berpelukan dengan erat. Dan bukan hanya Changmin yang menangis, tapi Jaejoong dan Junsu juga.

So Hee melihat pemandangan itu dengan perasaan bahagia juga mata yang basah. Ia memotret momen bahagia itu.

***

24 Oktober 2010

 

Sudah berhari-hari kau uring-uringan. Aku tahu kau sangat merindukan keluargamu. Jadi diam-diam aku mengambil ID cardmu dan menghubungi keluargamu.

 

25 Oktober 2010

 

Kedua hyung-mu datang. Dan kau menangis, memeluk mereka dengan erat.

 

Foto Changmin, Jaejoong dan Junsu yang berpelukan juga menangis.

Foto saat mereka bertiga melepaskan pelukan dan tertawa melihat wajah masing-masing yang basah karena air mata.

Dan…

Foto close up Changmin yang terlihat bahagia walaupun wajahnya basah karena airmata.

Kau terlihat bahagia, Changmin-ah… Aku juga  bahagia melihatmu bahagia.

 

@@@

“Pergilah. Keluargamu menunggumu.”

“Lalu bagaimana denganmu? Aku tidak mungkin meninggalkanmu…”kata Changmin sedih.

“Kau masih bisa menelponku dan datang kesini. Aku tidak akan kemana-mana…”ucap So Hee dengan menahan perasaan dan airmatanya.

“Benarkah kau tidak akan kemana-mana?”

So Hee mengangguk. Changmin memeluk So Hee erat lalu mencium puncak kepala So Hee lama. Airmata So Hee menetes. Setelah itu Changmin pulang bersama kedua hyung-nya.

@@@

Sesampainya di rumah, Changmin sering sekali menelpon So Hee. Tapi setelah hari ke sepuluh, ia tidak bisa lagi berbicara dengan So Hee. Paman dan bibinya menceritakan apa yang terjadi pada So Hee.

So Hee pulang ke tempat orang tuanya, dan memutuskan untuk operasi keluar negeri. Demi Changmin.

***

7 November 2010

 

Aku memutuskan untuk ikut operasi di luar negeri. Aku tahu resikonya jika dioperasi. Dokter hanya mengatakan kemungkinan hidupku hanya 20% jika tumor ganas di kepalaku di operasi. Tapi jika operasi berhasil, aku akan kehilangan sebagian ingatanku.

Awalnya aku takut di operasi. Aku takut cepat mati, aku takut tidak bisa melihat orang-orang yang kucintai lagi. Aku takut tidak bisa melihat Changmin lagi.

Tapi aku lebih takut jika operasiku berhasil, aku tidak bisa mengingat Changmin lagi.

 

Changmin-ah, jika nanti aku melupakanmu, kuharap hatiku tidak. Kuharap jantungku masih tetap berdebar dengan kencang saat melihatmu.

Saranghaeyo, Jeongmal Saranghaeyo…

Airmata Changmin menetes saat membaca kalimat terakhir di halaman itu. Ia membalik kertas itu ke halaman selanjutnya.

Kumohon, jangan lupakan aku…

 

“Tidak. Aku tidak akan pernah melupakanmu. Saranghaeyo So Hee-ah… Jeongmal saranghaeyo…”

@@@

So Hee memotret daun-daun yang berguguran dengan senang. Setelah hampir setahun tinggal di luar negeri untuk tiga kali operasi dan menjalani terapi akhirnya pada musim gugur ia bisa kembali lagi ke Korea. Bisa kembali lagi ke Busan, ke tempat paman dan bibinya.

Ia sampai di pantai kemudian melihat sekeliling melalui lensa kameranya ketika matanya terpaku oleh sosok punggung seseorang. Ia menurunkan kameranya dan menatap sosok itu secara langsung.

Dan jantungnya berdebar dengan kencang saat melihat namja itu berbalik.

24 Oktober 2011

 

Aku tidak mengingatnya. Tapi senyumnya yang lembut, matanya yang menatapku penuh kerinduan, kata-kata cinta yang terucap dari bibirnya, pelukan hangatnya, membuat jantungku berdebar-debar.

Tiba-tiba, terucap kata-kata yang aku sendiri tidak memikirkannya sebelumnya.

“Na do saranghaeyo, Changmin-ah…”

 

END