Lirik Lagu Trax – Blind (Romanization + Translation)

Nah, ini nih lirik lagunya Blind.

 

na ege meoril gidaego
mulkkeu reomi bara bo ado moreujyo
du pareul yeoreo bo imyeon
shiwon hada mal hamyeon seodo moreujyo

tumyeong han na ijiman
ni ape, seo it janha
ne, nuneun nal
neomeo chyeoda bol ppuniya

dan han beonman
han beonman nal chajabwa jebal
heuneukki myeon deo uk heuneu kkil surok
tumyeong haejyeo man ga neunde

jugeul mankeum
ganjeol han nae gido ye kkeute
nae pume gajil su itge
ojik neomani chaja jundamyeon

hee ppunyeon gyeoul seori e
nae maeumeul geuryeo boyeo do moreujyo
heut ppurin bit bangul moa
nunmul daeshin heullyeo boa do moreujyo

chaga un na ijiman
neol hyanghae, heureu janha
ne, monan nal
hangsang won mang hal ppuniya

dan han beonman
han beonman nal chajabwa jebal
heuneukki myeon deo uk heuneu kkil surok
tumyeong haejyeo man ga neunde

jugeul mankeum
ganjeol han nae gido ye kkeute
nae pume gajil su itge
ojik neomani chaja jundamyeon

geumi ga be igo, nae shimjangi da kkae jigo
geochilge nari seon kkeute, Oh
jogak jogak nuseo jin
geuttaen nal boge dwel tende

anbo ini
ireohke neol sarang ha janha
hangu seoge nameun neoye jimun do
jidokhi aro saegin chae

jugeul mankeum
kka manhge meong deun gaseum sogeul
kkeo nae da boyeo jwot neunde
geujeo chang bakki, chilheuk gat dan neo

anbo ini
geujeo chang bakki, chilheuk gat dan neo
hayeom eobshi, geujeo chang bakkman
bara boneun neo

Translation:

Even when you lean your head against me and stare vacantly, you don’t know
Even when you spread my arms, claiming “How refreshing”, you don’t know
Though I’m transparent, I’m standing in front of you
Your eyes just look over me

Just once, once, please find me
Harder and harder as I keep sobbing, I only grow more transparent
But if you and just you find me, so that at the end of my desperate prayer, I can have you in my embrace

Even when I try to draw my heart in the hazy winter frost, you don’t know
Even when I collect the scattered raindrops and have them flow as my tears, you don’t know
Though I’m cold, I have them flow towards you
You always just blame it on the square me

Just once, once, please find me
Harder and harder as I keep sobbing, I only grow more transparent
But if you and just you find me, so that at the end of my desperate prayer, I can have you in my embrace

Maybe at the end of mine when I’m cracked and cut, with my heart all shattering and my edges turning sharp
When I’m broken into pieces, you might finally see me

Can’t you see? I love you this much
Even the fingerprint that you left on my corner, I have it engraved
My deadly black bruised heart, I’ve pulled it all out to show you
You who just say “It’s pitch dark outside the window”
You who just say “It’s pitch dark outside the window” ’cause you can’t see it
You who just blankly stare only outside the window

 

Kyuhyun Super Junior dan Victoria f(x) pemeran utama MV Blind Trax

Trax, band beraliran rock-ballad yang terdiri dari dua personil, Jay dan Jungmo, akhirnya pada 10 November lalu merilis MV terbarunya. Judulnya Blind.

Dan tahu gak siapa model utama di MV itu?

Jengjengjengjeng

Cho Kyuhyun! Magnae super tampan di Super Junior! Kyaaaaaa~ *lebay mode on*

Dan pasangannya leader f(x) Victoria Song.

KyuToria Couple muncul!

Seperti biasanya, MV Trax pasti bernuansa warna putih kayak Let You Go, sama Oh! My Goddess.

Waktu awal nonton video ini aku kaget banget karena model MV Trax lagi-lagi Victoria. Dulu waktu di Let You Go, Vic sama Heechul, eh sekarang dipasangin sama suamiku,eh, biasku.

Kalo di Oh! My Goddess yang modelnya Seohyun, cerita di MV-nya Seohyun ceria banget. Tapi kalo di Let You Go sama Blind Vic nangis-nangisan. *ya iyalah, kan disesuaikan sama lirik lagunya*

 

 

Aku agak nggak ngerti sih cerita MVnya kayak gimana. Kayaknya sih sedih. *ya iyalah, vic aja ampe mewek gtu* Nah, trus aq cari deh liriknya.

Nih liriknya.

 

Even when you lean your head against me and stare vacantly, you don’t know
Even when you spread my arms, claiming “How refreshing”, you don’t know
Though I’m transparent, I’m standing in front of you
Your eyes just look over me

Just once, once, please find me
Harder and harder as I keep sobbing, I only grow more transparent
But if you and just you find me, so that at the end of my desperate prayer, I can have you in my embrace

Even when I try to draw my heart in the hazy winter frost, you don’t know
Even when I collect the scattered raindrops and have them flow as my tears, you don’t know
Though I’m cold, I have them flow towards you
You always just blame it on the square me

Just once, once, please find me
Harder and harder as I keep sobbing, I only grow more transparent
But if you and just you find me, so that at the end of my desperate prayer, I can have you in my embrace

Maybe at the end of mine when I’m cracked and cut, with my heart all shattering and my edges turning sharp
When I’m broken into pieces, you might finally see me

Can’t you see? I love you this much
Even the fingerprint that you left on my corner, I have it engraved
My deadly black bruised heart, I’ve pulled it all out to show you
You who just say “It’s pitch dark outside the window”
You who just say “It’s pitch dark outside the window” ’cause you can’t see it
You who just blankly stare only outside the window

Tuh kan sedih. Tapi tetep aja nggak ngerti jalan ceritanya. Trus karena nggak bisa baca hangul aku nggak tau juga arti tulisan di awal pas Vic sama Kyu muncul. Baca-baca di blog orang katanya sih pas Vic muncul artinya ‘She’s missing him’, trus pas Kyu muncul ‘but he can’t remember’.

Jadi aku simpulin kalo KyuToria itu terpisah, trus Kyu hilang ingatan dan Vic gak tau sekarang Kyu ada dimana. *kayak sinetron apa ya?* Pantesan aja muka Kyu pas lagi liat fotonya sama Vic kayak orang bingung gtu. “Ni ngapain gw fto sama cewek ini ya? seharusnya kan gw fto sama Ideafina.”kata Kyu sambil ngebayangin wajahku. hehe..

 

Nah, ada lagi yang bilang kalo Kyu mati ninggalin Vic. Jadi itu settingnya Kyu di surga, di neraka kale, kan evilKyu, dia gak inget sama Vic, trus pas dia buka kotak pandora, dia baru inget sama Vic.

 

Kyuhyun ganteng banget pake baju putih, celana coklat, sama sepatu putih. Aigoo~

Tapi pake apa aja biasku yang satu ini tetep ganteng kok. hehe ^_^

 

Walaupun Kyu cuma akting bingung-bingung gitu feel-nya lumayan dapet sih *feel bingungnya, hehe* Makanya aku berharap banget Kyu bisa main drama kayak hyung-hyungnya di SuJu.  kapan yaaa??

About KyuToria nih. Bagi aku yang pro SeoKyu Couple agak-agak gak setuju nih sama KyuToria. Tapi entah kenapa abis ngeliat mereka berdua di MV ini koq ngerasa kalo mereka cocok ya? Abisnya bajunya itu lho kompakan banget! Trus fotonya itu yang walaupun gak mesra kayak Vic-Heechul di Let You Go, bikin aku “kyaaaa~ cantik ganteng! cocooookkk!!!” >,<

Eh, tapi bukan berarti aku gak pro SeoKyu lagi yaaa~

Pokoknya lagu Trax ini daebak banget deh! Wajib di dengerin. Easy listening banget, trus artinya so sweet… plus KyuToria yang ganteng ‘n cantik. ^_^

 

JYJ, Park Yoohwan, dan Song Ji Hyo : Proyek Amal Elle ‘Share Happiness’

Dalam rangka proyek amal Elle ‘Share happiness’, JYJ, Park Yoohwan -adik Park Yoochun JYJ-, dan Song Ji Hyo, mengadakan pemotretan khusus. Foto-foto mereka yang diambil bertemakan musim gugur dan bergaya kasual.

Nah, ini beberapa foto mereka.

kereeenn yaaa, apalagi JJ. XD

ya, ampuuunn gaya JJ gk nahan deehh XD

Di foto ini Song Ji Hyo kelihatan cantik banget dengan rambut coklatnya, gk keliatan sama sekali kalo dia udah 30 tahun deh. Yoohwan juga imut. XD Agak jealous nih Ji Hyo onnie deket sama JYJ oppa-deul trus sama Yoohwan juga. Tapi cocok sih sama Junsu (kepengaruh MV In Heaven, hehe..)

Fighting, JYJ! ^_^

Source: Koreanindo

Seoul

 

Cast : Cho Kyuhyun Super Junior, Seohyun SNSD

Genre : Romance

Rate : General

Mendadak ide cerita ff ni muncul waktu aku kangen-kangenan nonton mv suju +snsd yang Seoul Song.  Kyu so sweet yaaa, pikirku. Eh, tiba-tiba cerita ini selesai. Hehe..

Ntar kalo sempet ‘n kepengen, aku bikin yang tokoh lain di mv ini lagi.

Mudah-mudahan menurut readers ceritanya se-sweet mv-nya ya.

Seo hyun berjalan dengan tidak bersemangat. Tadi ia ke tempatnya bekerja, dan bosnya bilang hari ini ia harus membagi-bagikan balon kepada anak-anak di Seoul Park sebagai perayaan hari anak. Biasanya ia bekerja sebagai badut boneka di depan taman hiburan yang tidak jauh dari Seoul Park, membagi-bagikan selebaran dan tentu saja menghibur pengunjung yang datang.

Seohyun mengambil kostum kepala boneka anak kecil yang rambutnya diikat dua. Boneka yang lucu, tapi tetap saja ia tidak suka memakainya. Sebenarnya ia kurang suka pekerjaan ini, karena ia tidak suka memakai kostum boneka itu berlama-lama. Panas sekali. Tapi ini satu-satunya pekerjaan yang didapatnya.  Lagipula jika ia memilih-milih pekerjaan, bagaimana ia bisa mendapat biaya untuk hidupnya dan adiknya?

Seohyun akhirnya tiba di taman Seoul. Ia sudah memakai kostumnya sebelumnya. Kaos lengan panjang dan dress selutut motif kotak-kotak warna putih merah, dengan ujung rok yang berenda. Kostum yang sangat manis. Ia lalu memakai kepala bonekanya dan mulai membagi-bagikan balon pada anak-anak kecil yang lewat, tentu saja sambil sedikit menari-nari untuk menghibur.

Setelah balonnya habis, dengan lega Seohyun membuka kepala boneka itu dari kepalanya. Ia mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan. Tapi tentu saja tidak ada gunanya. Memangnya tangannya bisa mengeluarkan angin?

Kruyuuukkk…

“Lapar…”gumamnya sambil mengelus-elus perutnya yang kosong. Ia memegang kepala boneka yang besar itu dengan kedua tangan dan mulai berjalan-jalan di sekitar Seoul Park untuk mencari penjual makanan yang murah. Tapi saat mencari-cari makanan itulah ia menemukan sesuatu yang menarik. Sebuah lukisan keluarga yang dipajang dengan disandarkan pada dinding bata taman itu. Di samping lukisan itu seorang pelukis jalanan sedang asik melukis.

Seohyun berjalan mendekati lukisan itu. Lukisan keluarga yang hangat. Seorang ibu menggandeng anak perempuannya, dan seorang ayah yang menggendong anak perempuan satunya yang lebih kecil. Latarnya adalah Seoul Park. Seohyun tersenyum lembut melihatnya. Lukisan ini mengingatkannya pada keluarganya dulu.

“Kau menyukainya?”tanya pelukis jalanan yang berada di sebelah lukisan itu.

Seohyun menoleh pada pelukis jalanan itu. “Ne. Lukisanmu bagus sekali. Terasa hangat.”puji Seohyun dengan tersenyum.

“Gomapseumnida.”ucap pelukis itu dengan tersenyum juga.

“Berapa harganya?”tanya Seohyun, ia berpikir ingin membeli lukisan ini.

“Ah, mianhamnida. Lukisan ini tidak bisa kujual padamu.”

Seohyun kecewa. Ia ingin sekali lukisan itu. “Apa karena harganya mahal? Seperti yang kau lihat aku memang bukan orang yang punya banyak uang. Tapi nanti saat aku gajian, aku pasti bisa membayarnya sedikit mahal.”bujuk Seohyun.

Pelukis itu tersenyum menyesal. “Bukan seperti itu maksudku, Agassi. Aku memang tidak akan menjualnya pada siapapun. Ini salah satu lukisan favoritku.”

Seohyun menatap pelukis itu kecewa. Kemudian ia tidak berkata apa-apa lagi, hanya diam memperhatikan lukisan itu.

“Kau bekerja sebagai mascot ya?”tanya pelukis itu melirik ke kepala boneka yang dipegang Seohyun dengan kedua tangan.

“Ne. aku bekerja di taman hiburan di depan sana. Tapi karena hari ini adalah hari anak, jadi aku ditugaskan untuk membagi-bagikan balon gratis di taman ini sampai acara perayaan hari anak selesai.” (ni author ngarang banget, gk tau di korea ada perayaan hari anak pa gk kyk di jepang -_-“)

Pelukis itu mengangguk-angguk mengerti.

“Apa kau melukis disini setiap hari?”tanya Seohyun.

“Ne. aku memang disini setiap hari. Waegurae?”

“Bolehkah besok aku kembali kesini untuk melihat lukisan ini?”tanya Seohyun penuh harap. Pelukis itu tertegun mendengar nada suara Seohyun yang terdengar sedih dan wajah yang terlihat sangat berharap padanya. Ia tersenyum lembut.

“Tentu saja kau boleh melihatnya terus.”

Kyuhyun’s POV

Aku melihatnya lagi dengan kostum maskotnya. Gadis itu masih membagi-bagikan balon kepada anak-anak yang melewatinya. Sudah sekitar dua jam ia melakukannya. Apa ia tidak kepanasan di dalam kepala boneka itu?

Diam-diam aku penasaran padanya. Sudah sekitar tiga hari ini ia selalu datang untuk melihat lukisanku. Lukisan keluarga yang katanya terlihat sebagai keluarga yang hangat. Ia selalu memandang lukisan itu dengan wajah sendu yang penuh kerinduan. Apa ini mengingatkannya akan keluarganya?

Aku memperhatikannya lagi. Sudah kuduga ia kepanasan. Gadis itu melepaskan kepala boneka itu lalu mengipas-ngipas wajahnya yang berkeringat dan memerah. Tapi ada yang aneh dengannya. Ia terlihat pucat dan matanya menerawang. Apa ia sakit?

Gadis itu berjalan sedikit tapi tubuhnya limbung. Ia meletakkan tangannya di tembok. Aku merasa cemas dan berlari menghampirinya. Benar saja pikiranku. Badannya mulai limbung ke belakang. Dan sebelum kepalanya membentur tanah, aku menangkapnya.

“Ya! Agassi!”panggilku, menepuk-nepuk pipinya. Ia masih belum bangun juga. Aku harus segera membawanya ke tempat yang lebih teduh.

Seohyun’s POV

Aku merasakan ada seseorang yang menyentuhkan sesuatu yang basah di wajahku berkali-kali. Kubuka mataku perlahan lalu berusaha untuk memfokuskan mataku. Aku memegang kepalaku yang sedikit pusing.

“Ah, akhirnya kau sadar juga!”kata suara seorang… namja?

Aku terkejut, lalu bangkit dari tidurku tiba-tiba.

“Jangan langsung bangun, nanti kau tambah pusing.”

Ia benar, sekarang  kepalaku sangat pusing. Akhirnya setelah mataku berhasil fokus, aku mengetahui suara siapa itu. Suara namja pelukis jalanan itu. Ia tersenyum padaku.

“Ke…kenapa aku bersamamu?”tanyaku takut. Aku melihat ke sekelilingku. Ternyata aku tidur di sofa sebuah ruangan yang berisi berbagai macam pernak-pernik dan accessories. Seperti toko?  “Dimana aku?”

“Tadi saat di taman kau pingsan. Jadi aku membawamu ke toko kenalanku yang berada di dekat taman. Tenang saja. aku tidak mengapa-apakanmu.”

Ia tersenyum lagi lalu memberikanku secangkir teh hangat. Aku mengambilnya dan meminumnya sedikit. “Gomapta.”ucapku.

Ia tersenyum lagi. senyum yang sangat meneduhkan. “Cheonmaneyo. Aku akan kembali ke taman.”

“Aku ikut.”

“Sebaiknya kau tetap beristirahat disini sampai benar-benar baikan. Aku sudah mengatakan pada temanku jika kau sakit, dan ia mengijinkanmu beristirahat disini.”

Ia baik sekali. Padahal ia kan tidak mengenalku. “Siapa namamu?”tanyaku.

“Naneun Cho Kyuhyun imnida.”jawabnya dengan senyumnya yang takkan mungkin bisa kulupakan.

***

Aku melirik namja pelukis yang sedang berjalan di sebelahku ini. Tadi saat sore hari aku merasa baikan dan ingin pulang, ia memaksa akan mengantarku pulang. Awalnya aku menolak. tapi ia bilang ia masih belum yakin dengan keadaanku. Sebenarnya memang aku belum benar-benar kuat berjalan. Jadi akhirnya aku menerima tawarannya untuk mengantarku pulang.

Kami berjalan dalam diam. Sebenarnya aku ingin berbicara dengannya, tapi aku malu. >_<

“Apa kau baik-baik saja?”tanya namja bernama Cho Kyuhyun itu.

“Ah, ne. aku baik-baik saja.”jawabku pelan.

“Aku kira kau masih pusing, makanya kau diam saja.”

“Ng… aku hanya bingung mau bicara apa.”jawabku jujur.

Dia tertawa kecil. “Santai saja padaku. Aku bukan orang jahat kok.”

Aku tersenyum kecil. “Aku tahu.”kataku pelan.

“Di rumah kau tinggal dengan siapa?”

“Dengan yeodongsaengku.”

“Hanya berdua?”

“Ne. orangtua kami sudah meninggal dua tahun lalu.”kataku murung.

“Ah, mianhe.”katanya menyesal.

“Tidak apa-apa. Lagipula sekarang aku sudah terbiasa tanpa mereka.”

“Jangan berbohong.”katanya, membuatku berhenti berjalan karena kaget.

Aku melihatnya  -yang sekarang juga berhenti berjalan- dengan bingung. “Ne?”

“Jika kau terbiasa, kau tidak mungkin melihat lukisanku setiap hari.”

Kata-kata itu seolah-olah tepat menusuk jantungku. Padahal aku berusaha menyembunyikannya, tapi ia dapat melihatnya. Ia tahu apa yang kurasakan. Kenapa ia bisa membaca isi hatiku?

“Kau tidak apa-apa?”tanyanya lagi. Ia terlihat cemas.

“A.. aku tidak apa-apa.”jawabku gugup lalu mulai berjalan lagi. tapi karena aku berjalan sedikit terburu-buru, membuatku kehilangan keseimbanganku.

Saat aku hampir terjatuh, tangan namja itu menarikku dan aku terempas ke pelukannya.

Badanku kaku. Ini pertama kalinya aku berada di pelukan seorang namja. Aku bisa merasakan wangi tubuhnya, wangi natural dan sedikit keringat, tapi aku menyukainya. Rasanya hangat…

“Kau tidak apa-apa?”tanyanya. aku mengangkat wajahku dan melihat wajahnya yang berada di atasku.

DEG.

Ya, tuhan! Kenapa aku baru menyadarinya? Wajahnya begitu tampan…

DEG.

Kenapa jantungku jadi berdebar-debar terus? Lalu, kenapa suara debaran ini terdengar begitu banyak? Apa ini debar jantungnya?

“Seohyun-ssi?”

Aku terkesiap kaget mendengar panggilannya. Buru-buru aku melepaskan diri dari pelukannya.

“Go…gomapseumnida…”ucapku. Aku menundukkan wajahku malu. Kurasakan pipiku memanas. Pasti wajahku sekarang sudah memerah. “Kyu…kyuhyun-ssi, ru…rumahku sudah dekat, jadi kau tidak perlu mengantarku lagi..” Aduuuhh… aku benar-benar grogi!

“Kau yakin sudah tidak apa-apa?”tanyanya dengan wajah cemas. Kenapa ia baik sekali?

“Ne. aku yakin aku bisa berjalan sendirian sampai rumahku.”

Ia tersenyum lagi. dan kenapa jantungku tambah berdebar-debar melihatnya? “Baiklah. Aku pergi dulu.”

“Gamsahamnida, sudah menolongku tadi.”ucapku lalu membungkukkan badan sedikit.

“Cheonmaneyo. Hati-hati ya.”katanya, lalu berjalan pergi. kemudian ia balik badan, dan tersenyum lebar. “Sampai ketemu besok!”

Aku melambai padanya dan juga tersenyum lebar. tiba-tiba aku tersadar. Kenapa aku jadi seriang ini?

Kyuhyun’s POV

“Apa kau baik-baik saja?”tanyaku kepada yeoja yang berjalan di sebelahku ini.

“Ah, ne. aku baik-baik saja.”jawabnya pelan.

“Aku kira kau masih pusing, makanya kau diam saja.”

“Ng… aku hanya bingung mau bicara apa.”

Aku tertawa kecil. Sepertinya ia masih takut padaku. Ya iyalah, walaupun kami sering bertemu karena ia sering melihat lukisanku, tapi kami belum mengenal satu sama lain. Baru tadi saja saat ia pingsan dan aku menolongnya, kami berkenalan. Namanya Seo Joo hyun, dipanggil Seohyun. Nama yang manis. “Santai saja padaku. Aku bukan orang jahat kok.”

“Aku tahu.”katanya pelan. Aku tersenyum. Apa benar ia merasa aku bukan orang jahat? Ah… sepertinya ia diam saja karena merasa malu padaku.

“Di rumah kau tinggal dengan siapa?”

“Dengan yeodongsaengku.”

“Hanya berdua?”

“Ne. orangtua kami sudah meninggal dua tahun lalu.”katanya dengan nada murung.

“Ah, mianhe.”kataku menyesal. Jadi apakah ini yang membuatnya selalu datang untuk melihat lukisan itu? lukisan keluarga kecil yang bahagia.

“Tidak apa-apa. Lagipula sekarang aku sudah terbiasa tanpa mereka.”

Kata-katanya terlihat sangat berlawanan dengan ekspresi wajahnya. “Jangan berbohong.”kataku, membuatnya berhenti berjalan karena kaget.

Aku berhenti berjalan juga, dan ia melihatku dengan bingung. “Ne?”

“Jika kau terbiasa, kau tidak mungkin melihat lukisanku setiap hari.”

Ia tampak terkejut mendengar kata-kataku, dan terdiam lama. Apa aku salah bicara? “Kau tidak apa-apa?”tanyaku cemas.

“A.. aku tidak apa-apa.”jawabnya gugup lalu mulai berjalan lagi. Ia berjalan sedikit terburu-buru, membuatnya kehilangan keseimbangannya.

Saat ia hampir jatuh, aku mengulurkan tanganku dan menariknya sedikit kencang sampai ia terhempas ke pelukanku. Badannya terasa kaku di pelukanku. Apa ia baik-baik saja?

“Kau tidak apa-apa?”tanyaku menunduk melihat wajahnya yang berada di bawahku. Ia mengangkat wajahnya dan kami berpandangan.

DEG.

Kenapa tiba-tiba jantungku berdebar-debar kencang? Aku terpaku melihatnya. Ia sangat… cantik. Neomu yeppeo.

Tiba-tiba aku merasa grogi dalam posisi seperti ini bersamanya.

“Seohyun-ssi?”panggilku.

Ia terkesiap kaget mendengar panggilanku, dan buru-buru melepaskan diri dari pelukanku.

“Go…gomapseumnida…”ucapnya. Ia menundukkan wajah dengan malu. Wajahnya memerah. Aku tersenyum kecil melihat reaksi yang menggemaskan itu. ingin sekali kusentuh wajahnya yang memerah itu.

Aku tertegun. Apa sih yang barusan kupikirkan?

“Kyu…kyuhyun-ssi, ru…rumahku sudah dekat, jadi kau tidak perlu mengantarku lagi..”

“Kau yakin sudah tidak apa-apa?”tanyaku cemas.

“Ne. aku yakin aku bisa berjalan sendirian sampai rumahku.”

Aku tersenyum lagi, ia membalas senyumku dengan pandangan aneh. Kenapa jantungku tambah berdebar-debar saat melihat ekspresinya itu? ada yang tidak beres denganku. Aku harus segera pergi dari sini. “Baiklah. Aku pergi dulu.”kataku.

“Gamsahamnida, sudah menolongku tadi.”ucapnya lalu membungkukkan badan sedikit.

“Cheonmaneyo. Hati-hati ya.”kataku, lalu berjalan pergi. tiba-tiba aku ingin melihat wajahnya lagi. kubalikkan badan dan tersenyum lebar padanya. “Sampai ketemu besok!”

Kubalikkan badanku lalu pergi dengan riang.

Tapi kenapa aku jadi seriang ini ya?

***

Esoknya kami bertemu lagi di Seoul Park. Tentu saja dengan mengerjakan pekerjaan masing-masing. Diam-diam aku terus memperhatikannya. Ia sedang mengenakan kostumnya dan membagi-bagikan balon berwarna kuning kepada anak-anak yang lewat. Aku pun melukisnya –tepatnya melukis kostum yang dipakainya– di kanvasku. Lucu sekali.

Kemudian aku mulai sibuk melukis para pengunjung yang meminta dilukis olehku. Bayarannya memang tidak seberapa, tapi aku menyenangi pekerjaan ini. Aku tidak berminat sama sekali menjadi model atau artis seperti banyak orang sarankan padaku. Memangnya hanya artis saja yang boleh punya wajah tampan?  Pelukis jalanan sepertiku juga boleh-boleh saja kan?

Aku memperhatikan Seohyun yang masih membagi-bagikan balon. Padahal sedari tadi ia sudah beristirahat. Tapi tumben ia tidak menggunakan waktu istirahatnya untuk melihat lukisanku?

***

Aku memperhatikan Seohyun dari jauh. Sudah beberapa hari ini ia tidak pernah datang melihatku lagi. setiap ia melepas kostum kepala boneka itu dan mata kami bertatapan, ia selalu menghindar. Bahkan tidak membalas senyumku. Kenapa dengannya? Apa aku melakukan kesalahan saat mengantarnya pulang waktu itu? apa aku salah bicara mengenai orangtuanya?

Mata kami bertatapan lagi, aku tersenyum, dan ia langsung mengalihkan wajahnya lagi! lalu pergi ke tempat yang agak jauh untuk membagi-bagikan balon. Aku melotot melihat reaksinya.

Aaaahhhh… Seo Joo hyun! Kau membuatku gila! Padahal aku mulai menyukainya, tapi kenapa ia bersikap seperti itu padaku??!!

Dengan kesal aku membereskan alat-alat lukisku, memutuskan untuk pergi ke tempat lain. Saat aku berjalan-jalan di taman, aku memperhatikan lukisan-lukisan karya pelukis jalanan yang disandarkan di bangku taman dan tembok-tembok taman. Lukisan –lukisan itu sangat bagus.

Tiba-tiba mataku terpaku melihat seseorang yang sedari tadi kupikirkan. Seohyun sedang duduk di bangku taman. Kostum kepala bonekanya ia buka dan matanya menatap orang-orang yang berlalu lalang di taman, kemudian tersenyum. Apa yang dipikirkannya?

Kemudian ia menoleh ke arahku. Ia terkejut ketika melihatku lalu kembali memalingkan wajah lagi!

“Seohyun-ssi…”

Tiba-tiba ia memakai kostum kepala bonekanya dengan terbalik! Ia berjalan dan tersandung lukisan yang disandarkan di bangku dekat tempatnya duduk, lalu jatuh terduduk di bawah.

Aku menghampirinya, lalu berlutut di bawah menyejajarkan diri dengannya. “Gwenchanayo?”tanyaku cemas lalu membuka kostumnya. Aku terkejut melihat wajahnya yang memerah. Malu?

“Gwe…gwenchana…”katanya dengan menundukkan wajahnya. Aku jadi penasaran dengan reaksinya ini. Kusentuh dagunya dan kuangkat wajahnya agar bisa kulihat. Wajahnya semakin memerah, membuatku tersenyum.

Tiba-tiba ia melepaskan tanganku dan langsung memakai kostumnya lagi. kali ini tidak terbalik. Kemudian dengan terburu-buru ia berlari meninggalkanku.

Aku tersenyum lebar. sekarang aku tahu alasan kenapa ia menghindari tatapanku. Bukan karena ia tidak menyukaiku, tapi sebaliknya.

Mudah-mudahan tebakanku tidak salah. Aku harus memastikannya malam ini.

 Seohyun’s POV

Aku memang bodoh! Sudah beberapa hari ini aku menghindari tatapan Kyuhyun, bahkan aku tidak datang untuk melihat lukisannya lagi. aku khawatir ia akan membenciku, padahal aku bersikap seperti ini karena aku menyadari bahwa aku menyukainya. Ini pertama kalinya untukku, jadi aku bingung harus bersikap seperti apa. Aku malu dan gugup jika bersamanya, bahkan melihatnya saja sudah bisa membuat wajahku memerah.

Setelah selesai membagi-bagikan balon, aku duduk di salah satu bangku taman yang di beberapa tempat disandari oleh lukisan-lukisan para pelukis jalanan. Aku membuka kostumuku lalu melihat orang-orang yang berlalu lalang di taman itu. banyak sekali keluarga yang datang, membuatku teringat saat orangtuaku masih ada. Aku tersenyum mengingat kenangan indah itu.

Kemudian aku menoleh ke arah lain, dan ada Kyuhyun! Ia tersenyum melihatku dan dengan bodohnya aku memalingkan wajahku lagi!

“Seohyun-ssi…”panggilnya.

Aku malu sekali. Kupakai kostumku dan buru-buru berjalan tapi ternyata kostumnya terbalik! Aku tidak bisa melihat apa-apa dan kakiku menabrak sesuatu.

Aww! Aku kehilangan keseimbangan lalu jatuh terduduk.

Kurasakan ada yang menarik kostumku. Saat menyadari yang membuka kostum kepala itu adalah Kyuhyun, wajahku memerah lagi.

“Gwenchanayo?”tanyanya dengan nada suara cemas.

Aku terus menundukkan wajahku yang memerah. “Gwe…gwenchana…”gumamku.

Tiba-tiba kurasakan tangan lembutnya menyentuh daguku dan mengangkat wajahku. Ia tersenyum lembut memandang wajahku. Wajahku semakin memanas.

Aku melepaskan tangannya lalu memakai kostumku dan pergi meninggalkannya dengan setengah berlari.

Dia benar-benar mempesonaku!

***

Aku masih membagi-bagikan balon sampai malam hari.

Malam ini Seoul Park akan mengadakan acara kembang api, jadi pengunjungnya lebih banyak. Aku pun tidak hanya membagi-bagikan balon pada anak-anak, tapi juga pada para pasangan-pasangan yang sedang berkencan di taman ini. Saat aku akan berjalan ke tempat lain tiba-tiba aku melihat lukisan berada di tangga. Kuperhatikan lukisan itu baik-baik. Itu lukisan wajahku!

Aku membuka kostumku, lalu kulihat seseorang yang memakai kostum kepala boneka anak laki-laki, pasangan dari kostumku. Tapi ia memakainya terbalik. Kemudian orang itu membalik badannya agar wajah boneka itu menghadapku. Dan aku tertegun karena ternyata orang itu memakai tas berbentuk hati di punggungnya. Sehingga sekarang posisinya seolah-olah tas itu adalah hati boneka itu.

Tiba-tiba di tembok taman muncul lampu hati besar yang berkelap-kelip hijau-kuning.

Aku tertegun melihatnya. Indah sekali. Kemudian orang itu mengangkat kedua tangannya ke atas membentuk huruf Y.

Saat ia membuka kostum itu, airmataku langsung mengalir.

Cho kyuhyun tersenyum lembut padaku, dan ia tertawa kecil melihatku menangis bahagia.

“Saranghae.”ucapnya pelan. Ia mengangkat kedua tangannya, sehingga tubuhnya membentuk huruf Y. yes?

Dan airmata bahagia terus mengalir dari mataku. “Yes.”ucapku yakin.

 

Kyuhyun’s POV

Ia masih menatapku dengan malu. Aku tersenyum bahagia melihatnya.

Keputusanku memang benar untuk menyatakan perasaanku padanya malam ini. Apalagi saat ini Seoul Park sedang ada acara kembang api. Menambah suasana romantis diantara kami.

“Indah yaa…”ucapnya tersenyum melihat kembang api yang berkelap-kelip di langit di atas kami.

Aku merangkulnya, lalu mencium keningnya dengan lembut. “Saranghae, Seohyun-ah…”

“Na do saranghae, oppa…”

END

In my Camera (Chapter 3)

Cast    : Kim Jaejoong, Jung Yuuri, Park Yoochun, DBSK

Genre : Romance

 

Author’s POV

Yuuri tidak bisa tenang. Tiap ada break kuliah, Jaejoong selalu menghampirinya ke kelas ataupun klub hanya untuk menanyakan tentang stalker itu. Yuuri sebenarnya tidak terlalu peduli jika Jaejoong harus menanyakan hal itu setiap hari, tapi setidaknya jangan di kelas, di klub ataupun di tempat-tempat ramai. Ia tidak suka dengan pandangan iri dan kesal yeoja-yeoja di kelas padanya.

“Apa kau sudah menemukan orangnya?”tanya Jaejoong di depan pintu kelas Yuuri saat Yuuri baru selesai kuliah. Yuuri menatapnya heran, apa namja ini tidak ada kelas? Kok bisa cepat sekali sampai kesini?

“Jangan bicara disi..”

“Jaejoong oppaaa, sedang apa disini?”tanya segerombolan yeoja menatap Jaejoong kagum, lalu sekilas melirik sebal pada Yuuri.

“Aku sedang ada urusan dengan Jung Yuuri-ssi,”jawab Jaejoong dengan memasang senyum kharismatiknya yang membuat yeoja-yeoja itu tidak berkedip karena terpesona.

Yuuri agak takjub dengan pemandangan di depannya. Jaejoong yang tersenyum ramah dan yeoja-yeoja yang tampaknya sudah terhipnotis oleh senyum itu. Kemudian muncul lagi yeoja-yeoja lain menghampiri mereka. Yuuri mengernyit bingung. Apa dia memang seterkenal itu?

Kemudian Jaejoong menatap Yuuri, dan dengan sedikit isyarat mata Yuuri mengerti kalau Jaejoong menyuruhnya mengikuti namja itu. Mereka sampai di halaman belakang kampus tempat pertama kali mereka bertemu.

“Jadi?”Jaejong langsung membuka percakapan.

Yuuri menghela napas panjang. “Mianhamnida. Tapi aku masih belum tahu siapa orangnya.”Yuuri menjawab dengan jawaban yang sama seperti 2 hari sebelumnya. Ia merasa lelah jika harus bertemu namja ini setiap hari. Di kampus, di tempat pemotretan, dan namja ini selalu menanyakan hal yang sama yang masih dijawab dengan jawaban yang sama oleh Yuuri.

“Kenapa kau menjawab hal yang sama terus? Apa kau tidak melakukan apapun untuk menemukannya?”Tanya Jaejoong menatap Yuuri tajam. Yuuri memalingkan wajah tak suka.

“Aku sudah mencari tahu. Aku sudah menyelidikinya.”jawab Yuuri sengit.

“Bagaimana caranya?”

Yuuri mendelik kesal.“Apa kau perlu tahu?”

“Tentu saja. Kau pikir aku akan dengan mudah percaya denganmu?”balas Jaejoong tajam.

Yuuri menghela napas. “Saat kau mengejar orang yang berpakaian sama denganku, saat itu aku sedang tertidur di ruang klub fotografi alam. Dan aku yakin ada yang mengambil jaket, topi, dan kameraku.”jelas Yuuri.

“Tidur? Bukankah itu masih pagi? Kau ke kampus pagi-pagi hanya untuk tidur?”Tanya Jaejoong dengan meremehkan.

“Aku memang beberapa hari itu tidur di ruang klub setelah mencari objek foto untuk lomba. Karena aku butuh banyak referensi, dan aku tidak bisa membawa semua buku-buku referensi itu ke apartemenku.”

“Kau sendirian?”

“Tentu saja.”

Jaejoong tercengang. Yeoja ini berani sekali sendirian di tempat itu malam-malam. Kampus di malam hari kan sepi sekali, bisa-bisa ada yang menjahatinya. Apa keluarganya tidak khawatir?

“Lalu paginya aku menyadari kalau kame…”

“Kau tidak takut sendirian di tempat itu? Orangtuamu tidak cemas?” Sekarang malah Jaejoong yang cemas. Pada dasarnya Jaejoong itu seorang namja yang baik pada perempuan, apalagi dari sembilan bersaudara, 7 orang saudaranya adalah perempuan, yang laki-laki hanya dia dan Junsu. Jadi dia terbiasa hormat dan perhatian pada perempuan. Ia selalu merasa khawatir jika saudara-saudara perempuannya pulang sendirian di malam hari. Dan seharusnya keluarga Yuuri pun seperti itu, pikirnya.

Yuuri cemberut karena kata-katanya dipotong. “Kenapa harus takut? Di mana-mana pun aku selalu sendirian, ke makam malam-malam pun aku berani!”

“Orangtuamu? Keluargamu? Kau seorang yeoja bagaimana mungkin kau…”

“Aku tidak punya keluarga!”

 

Jaejoong’s POV

“Eh?”

“Aku yatim piatu, tidak punya keluarga lain, dan tinggal sendiri! Kau puas?! Jadi berhentilah memotong kata-kataku!”

Aku terdiam mendengar kata-katanya. Tidak punya keluarga? Itu hal menyedihkan yang pertama kali aku dengar dari yeoja menyebalkan ini. Tapi kulihat wajahnya biasa-biasa saja mengatakan  hal itu. Ia melanjutkan ceritanya.

“Aku ini memang pelupa parah, tapi kalo hal itu bersangkutan dengan Cassie aku tidak mungkin lupa. Saat aku bangun Cassie sudah berpindah tempat. Dan seingatku aku tidak meletakkannya di depan computer.”

“Cassie?”

“Nama kameraku yang kau rusakkan!”jawabnya sengit.

Aku tersenyum geli mengetahui ia menamakan kameranya. Kekanak-kanakan sekali. Aku diam, tapi ia tidak meneruskan ceritanya, ia hanya terdiam memandang ke arah lain. Matanya terlihat sendu.

“Kapan ya cassie bisa sembuh…”gumamnya pelan sekali, tapi aku masih bisa mendengarnya. Sepertinya ia kesulitan memperbaiki kameranya. Aku jadi merasa bersalah. Benar kata Junsu, bagi fotografer kamera itu segala-galanya. Aku terus memandanginya sampai kulihat matanya mulai berair.

Tiba-tiba ia menyadari aku menatapnya, lalu ia memelototiku dengan matanya yang sedikit berair. “Apa lihat-lihat?!”serunya, lalu pergi.

Aku tercengang menatap yeoja yang berjalan menjauh itu. “Apa-apaan dia itu?! Yeoja kurang ajar! Dia bahkan berbicara banmal padaku! Apa dia tidak diajari orangtu..”

Kemudian aku teringat oleh kata-katanya tadi. Ia yatim piatu dan tidak punya keluarga. Apa itu benar? Aku harus tanya Changmin.

***

“Hyung benar. Ia yatim piatu. Ia hidup sendirian sejak empat tahun yang lalu neneknya, keluarga satu-satunya meninggal.”

Kata-kata Changmin langsung membuat jantungku hampir copot. *lebay deh, oppa* Jadi kemarin tanpa sadar aku telah menyinggung masalah yang sensitif ini?

“Lalu bagaimana dia bisa bertahan hidup?”

“Aku dengar ia mendapat sedikit warisan dari ayahnya. Dan uang itu digunakan untuk masuk ke kampus kita, biaya hidupnya ia dapat dari memenangkan lomba fotografi alam dan beberapa kerja sambilan. Biasanya ia selalu menolak untuk memotret orang, karena menurutnya hanya hal-hal yang dicintainya yang pantas untuk dia potret. Dan orang yang dia cintai sudah tidak ada semua.”

Aku terdiam mendengar cerita Changmin. Kalau itu benar, mana mungkin ia stalkerku?

“Tapi ia sekarang menjadi asisten fotografer di tempatku pemotretan..”

Changmin menatapku kesal. “Hyung lupa? Kameranya kan rusak. Karena kamera satu-satunya rusak, dan ia tidak bisa ikut lomba, ia menerima tawaran Park Yoochun untuk menjadi asistennya di pemotretan yang sekarang kau lakukan. Yaahh… mungkin untuk memperbaiki kameranya dan biaya sehari-hari. ”

Kata-kata Changmin membuatku pusing. Sejak awal aku tidak pernah berpikiran untuk menyulitkan hidup seseorang. Apalagi seorang yeoja yatim piatu seperti Jung Yuuri. Demi tuhan! Ia seorang yeoja! Aku tidak akan pernah sanggup membayangkan yeodongsaeng-ku atau noona-ku hidup seperti itu.

Walaupun aku yakin aku yang benar, tapi sedikit rasa bersalahku muncul. Apa yang harus kulakukan padanya?

***

Sejak Changmin menceritakan hal itu padaku, aku mulai memandang yeoja itu sedikit berbeda. Aku memang masih tetap menghampirinya setiap hari, menanyakan hal yang sama. Walaupun aku tidak lagi menuduhnya sepenuhnya, tapi ada dorongan kuat di dalam diriku yang membuatku ingin menemuinya setiap hari. Mungkin ini dorongan dari rasa penasaranku. Aku penasaran dengan kehidupan yeoja aneh ini.

Aku kembali menghampiri Jung Yuuri di ruang klubnya. Saat ini semua angota klub itu sudah terbiasa melihatku yang datang kesana setiap hari. Ia tidak memperhatikan kedatanganku dan terlihat sibuk sendiri mendengarkan sesuatu di headphonenya dan berkomat-kamit aneh. aku memandang bertanya kepada salah satu temannya di ruang klub itu.

“Sebentar lagi ada kuis, jadi Yuuri belajar,”jawab seorang yeoja yang kutahu bernama Cho Hye mi.

“Belajar? Apa memang metode belajarnya seperti itu y? bukan membaca tapi mendengarkan?”tanyaku heran. Ini pertama kalinya aku melihat orang belajar hanya dengan mendengarkan, tidak dengan membaca.

Hye mi menatapku bingung, terlihat ragu-ragu, “Ng… soalnya kan Yuuri…”

“Kau datang lagi?”

Aku langsung menoleh  ke asal suara. Yuuri sudah melepaskan headphonenya dan menatapku tajam.   “Sebenarnya apa maumu? Apa kau tidak punya kesibukan lain selain datang kesini setiap hari dan menggangguku?”

Oke, pertanyaan itu tepat mengenai sasaran. Aku penasaran denganmu. Mana mungkin aku menjawab seperti itu kan?

“Kau lupa apa yang kuinginkan darimu? Ini sudah hari keberapa memangnya?”tanyaku tajam.

Dia lalu menghela napas dengan berat.

Jangan menghela napas seperti itu.

“Aku masih mencarinya…”

Kau terlihat capek. Apa karena aku?

“…aku benar-benar tidak tahu siapa stalker itu..”

Tak apa.

“…tapi yang pasti bukan aku.”

Aku percaya.

Lho? Ada apa sih dengan pikiranku?

“Begini saja, bagaimana jika kau memberikanku nomor ponselmu? Biar aku lebih gampang menghubungimu untuk mengingatkanmu tentang tugasmu,”kataku lalu memberikan ponselku padanya.

Dia menatapku sebal, lalu mengetikkan nomor ponselnya. Sepertinya ia kesulitan memakai ponselku. Kemudian ia mengembalikan ponselku. Kulihat ia hanya mengetik nomornya, tidak namanya.

“Kenapa kau tidak mengetik namamu?”

“Aku tidak mengerti bagaimana menggunakannya,”

Aku tertawa kecil sambil mengetik namanya di ponselku. “Ini apa ponselku yang terlalu canggih atau dirimu yang terlalu gaptek?”

Dia menatapku tajam. “Aku yang gaptek. Karena sekarang kau sudah punya nomorku, kau bisa menelponku, tapi jangan sms, aku tidak pernah membalas sms orang.”

“Sok sibuk,”

“Kan sudah kubilang jika aku gaptek.?” Aku mengernyitkan dahiku. Apa susahnya ngetik sms aja?“Yang penting mulai sekarang kau tidak perlu datang lagi kesini.”

“Kata siapa tidak perlu?”

Dia menatapku tercengang.

Yuuri’s POV

“Kata siapa tidak perlu?”

Apa aku tidak salah dengar? Jadi dia berencana untuk tetap datang menemuiku?

“Jangan bingung begitu. Sedikit tekanan akan membuat seseorang lebih cepat bergerak kan?”ujarnya dengan senyum yang menyebalkan. Kemudian ia berjalan menuju ke pintu klub, dan di depan pintu ia berbalik.

“O y, jangan lupa ini sudah hari ke-6, kau tahu kan jika lewat sepuluh hari…” Ia menggantungkan kalimatnya, membuatku menahan napas. “Semoga berhasil,”ucapnya lalu pergi.

Aku menatap kepergiannya dengan kesal, lalu menghentak-hentakkan kakiku ke lantai secara brutal. “AAAHHH…”jeritku. Dia bisa membuatku gila!

Hari-hari berikutnya namja itu menelponku terus. Itu sangat mengganggu. Aku pernah sekali mencoba mematikan ponselku, tapi itu malah membuatnya datang mencariku. Aku selama ini tidak pernah membenci orang, tapi kali ini untuk pertama kalinya aku merasakan hal itu. Aku membenci Kim Jaejoong. Sangat membencinya. Kenapa ada orang semenyebalkan dia sih?

“Aduuhh… kemana lagi aku harus mencari stalker itu? Aku sudah menanyai hampir semua angkatan jurusan fotografi.  Tapi tidak ada yang tahu mengenai kejadian pagi itu. Ini sudah hari ke Sembilan…”kataku putus asa pada Hye mi.

Hye mi menatapku prihatin. “Ada yang ingin kukatakan padamu Yuuri-ah…”

“Apa?”

Ia melihat sekeliling ruang klub yang sepi, Cuma ada kami berdua. Ia memandangku ragu.

“Sebetulnya…”

Dan perkataan Hye mi berikutnya membuatku tercengang.

Jaejoong’s POV

Aku mematikan ponselku, setelah sebelumnya menelpon yeoja aneh itu dan mengintimidasinya lagi. Aku tersenyum kecil. Sepertinya yeoja itu sangat sebal denganku. “Kelihatannya Hyung senang sekali,”kata Junsu memandangku lekat.

“Oh ya? Tentu saja aku senang, aku berhasil membuatnya repot.”

“Ka…yuka..da..nya yung?”Changmin berkata dengan mulut penuh makanan, masakanku.

“Ya! Shim Changmin! Habiskan dulu makananmu, baru bicara!” Aku memang berjanji untuk memasakkannya makanan favoritnya jika ia membantuku mencari tahu tentang Yuuri. Gampang sekali membuatnya menurutiku, hanya dengan iming-iming makanan. Dasar monster! Seandainya segampang itu menyuruh Junsu, ia tidak tertarik dengan makanan enak seperti sepupu kami itu.

Changmin menelan makanannya dengan susah payah. Kemudian berkata, “kau menyukai yeoja itu hyung?”

Aku tersentak dengan pertanyaan Changmin. “Siapa yang menyukainya?!”

Junsu masih memandangku lekat, membuatku gugup. “Lalu kenapa hyung sangat senang menemuinya atau menelponnya? Kurasa itu sikap namja yang tertarik pada seorang yeoja, hyung.”

Tiba-tiba aku menjadi gugup. “Anhi. Aku hanya merasa dia lucu dan aku ingin mengganggunya saja,”

“Hyung sudah tidak berpikir dia stalker lagi?”tanya Changmin, lalu memakan makanannnya lagi.

Aku berpikir sebentar. “Sepertinya begitu. Karena berdasarkan info-info darimu sepertinya ia bukan stalker itu.”

“Ini sudah hari ke-9 hyung. Jadi jika lewat 10 hari apa hyung masih mau melaporkannya?”tanya Junsu.

“Kurasa aku tidak akan melaporkannya. Lagipula kalau dilihat dari usahanya mencari stalker itu dalam beberapa hari ini, sekarang aku percaya dia bukan stalker itu.”

Tiba-tiba ponselku berdering, aku langsung senang begitu melihat nama penelpon itu. Yeoja yang sedari tadi kami bicarakan. Aku langsung mengangkatnya. Ini pertama kalinya yeoja itu menelponku, ia memintaku bertemu besok sekalian membawa memory cardnya yang masih ada padaku.

Junsu dan Changmin menatapku ingin tahu.

“Ia sudah mendapatkan foto-foto itu, jadi besok kami akan bertemu. Aku penasaran siapa pelakunya.”

Author’s POV

Yuuri berjalan pelan menuju halte bis. Pikirannya tidak fokus, ia sedang memikirkan kata-kata Hye mi kemarin.

Dan mendadak muncul rasa sedih dan kasihan di hati Yuuri. Mungkin saja jika dirinya masih punya keluarga, ia akan  merasakan bagaimana kesulitan Hye mi. Selama empat tahun ini ia hanya hidup sendiri, dan hanya memikirkan hal-hal yang menyangkut dirinya sendiri. Semuanya terasa mudah dengan memiliki beban hanya untuk menyambung hidup sendiri. Tapi tetap saja akan lebih menyenangkan jika punya teman berbagi, dan Hye mi beruntung masih punya orang yang bisa dijadikan tempat berbagi saat susah dan senangnya.

Yuuri tidak ingin Hye mi menjadi sepertinya, sendirian. Bagaimana caranya ia menolong Hye mi?

Kemudian bis yang ditunggu-tunggu oleh Yuuri pun muncul. Yuuri bangkit dan berjalan menghampiri bis. Tapi saat di depan pintu bis, tiba-tiba tali tas selempangnya putus, membuat tasnya jatuh dan isi tasnya berserakan keluar. Recorder, beberapa kaset, beberapa lembar foto dan album keluar berserakan.

Yuuri menatap barang-barangnya yang jatuh dengan jengkel. Saat ia akan memungutnya, tiba-tiba ada seorang namja yang membantunya membereskan barang-barangnya yang terjatuh. Tanpa berlama-lama Yuuri berjongkok dan membantu namja itu membereskan barang-barangnya.  Namja itu membawa barang-barang Yuuri yang dipungutnya ke dalam bis, Yuuri pun mengikutinya masuk ke dalam bis. Setelah masuk, namja itu menyerahkan barang-barang Yuuri.

“Gomapseumnida.”ucap Yuuri, kemudian  ia terpaku saat melihat wajah namja itu. Wajah yang tidak asing, ia seperti mengenali wajah itu, wajah yang sangat ia rindukan. Tapi apa mungkin?

“Cheonmaneyo.”jawab namja itu dengan senyum yang membuat jantung Yuuri berdebar-debar. Namja itu duduk di kursi belakang, dan didorong rasa penasaran, Yuuri mengikutinya dan duduk di kursi yang sama, hanya saja ia tidak punya keberanian duduk dekat-dekat.

Yuuri memutuskan untuk memastikan apa namja itu benar adalah orang itu.

“Jogiyo…”ucapnya pada namja yang sedang menghadap ke jendela itu. Namja itu menoleh.

“Ne?”

“Jika anda tidak keberatan, boleh saya tahu  nama keluarga anda?”Tanya Yuuri hati-hati.

Namja itu memandang Yuuri bingung, “Nama keluargaku Lee.”

Yuuri langsung kecewa. ‘Nama keluarganya bukan Jung…’

“Waeyo? Ada masalah dengan itu?”Tanya namja itu.

Yuuri menggeleng. “Anhi. Aku hanya merasa kau mirip seseorang yang kukenal, tapi ternyata bukan.”

“Aku juga tidak mengenalmu, Agassi. Lagipula di dunia ini banyak sekali orang yang mirip.”jawab namja itu dengan senyumnya yang tidak akan mungkin bisa Yuuri lupakan.

Jaejoong’s POV

Hari ini kami bertemu lagi di tempat biasa. Ia duduk di bangku taman sambil menatap ke arah danau. Aku duduk di sampingnya. Sepertinya ia melamunkan sesuatu.

“Jadi…”ucapanku membuatnya kaget, lalu memandangku. “…sudah ketemu siapa pelakunya?”

Ia mengeluarkan flash disk merah dari kantong jaketnya, lalu memberikannya padaku. “Ini foto-fotonya, mana memory cardku?”

“Apa isinya benar-benar foto-fotoku?”

“Kau bisa mengeceknya nanti. Kalau aku berbohong kau kan tahu dimana bisa mencariku.”

Aku menyipitkan mata memandangnya curiga, lalu aku memberikan memorycard miliknya. “Siapa pelakunya?”

Tiba-tiba ia terlihat gugup, dan menggigit-gigit bibirnya. “Aku mengembalikan fotomu dalam sepuluh hari, jadi kau tidak akan melaporkanku kan?”

“Aku selalu memegang janjiku. Itu bukan kau kan?”tanyaku curiga.

Kemudian ia menundukkan kepalanya. “Mianhe. Jeongmal mianhe. Aku stalker waktu itu.”

Aku menatapnya tercengang. Dia? Tidak mungkin!

“Geotjimal. Kau sedang mempermainkanku ya?!”

“Mianhe. Sebelumnya  aku bersikeras tidak mengaku karena kupikir kau akan menyerah dan percaya pada usahaku mencari pelakunya, jadi aku tidak perlu memberikan foto-foto itu. Tapi kurasa aku salah…”

Aku benar-benar tidak percaya ia membohongiku! Padahal aku sudah mulai mempercayainya.

“Tapi kau akan menepati janjimu kan?”

Setelah berbohong seperti itu ia masih bisa menatapku memohon seperti itu? Aku benar-benar tidak mempercayai hal ini!

Aku menatapnya tajam. “Aku akan menepati janjiku.”

Lalu aku bangkit dari dudukku, “Aku benar-benar kecewa padamu Jung Yuuri-ssi.”

Yuuri’s POV

“Aku benar-benar kecewa padamu Jung Yuuri-ssi.”

Aku tidak percaya dengan kata-kata yang kudengar barusan. Apa itu berarti dia mulai mempercayaiku? Kalau tidak mana mungkin ia berkata seperti itu kan?

Kupandangi punggungnya yang berjalan menjauh. Setelah ini kita tidak akan berhubungan lagi kan? Baguslah. Aku tidak ingin ia mengacaukan hidupku lagi.

Tapi kenapa perasaanku jadi tidak enak? Seperti ada sesuatu yang hilang, dan aku tak tahu itu apa.

***

Setelah masalah stalker itu selesai, kakiku jadi terasa lebih ringan melangkah ke tempat pemotretan. Aku tidak perlu merasa tertekan ataupun terintimidasi lagi oleh namja itu. Setidaknya begitulah pikiranku sampai aku bertemu dengannya di tempat pemotretan.

Kim Jaejoong sedang berbicara akrab dengan kru yang seorang yeoja. Ia terlihat ramah saat ini. Tidak seperti denganku. Bahkan ia bisa tertawa? Sebenarnya apa yang mereka bicarakan?

“Ah, Yuuri-ah! Kau sudah datang.”sapa Ji Hye Onnie ketika melihatku masuk. Ia menghentikan pembicaraannya sebentar dan menyapaku. Jaejoong langsung memasang ekspresi dingin ketika melihatku.Tentu saja karena aku stalkernya dia bersikap seperti itu.

“Annyeonghasseyo, onnie.”Lalu aku memandang Kim Jaejoong enggan, “Annyeonghasseyo, Kim Jaejoong-ssi.”

Sudah kuduga dia tidak menjawabku. Tapi aku tidak peduli, masalah di antara kami sudah selesai, terserah dia mau bersikap seperti apa. Hanya saja… kenapa aku merasakan hal yang aneh di jantungku jika melihatnya berbicara ramah kepada yeoja lain? Apa aku sebegitu membencinya?

Setelah pemotretan aku selesai, aku menghampiri Yoochun sunbae. Sebenarnya aku tidak ingin merepotkannya, tapi dia satu-satunya orang yang bisa kumintai tolong.

“Yoochun sunbae, ada yang ingin kubicarakan…”ucapku ragu.

“Apa?”

“Bisa bicara di tempat lain yang lebih sepi?”

 

Jaejoong’s POV

Aku memegang kepalaku yang berdenyut dengan sebal. Seharian ini mood-ku jelek, tapi aku mencoba menahannya dengan bersikap professional disini, jadilah mood-ku tambah jelek. Semua ini karena yeoja itu. Entah kenapa aku masih tidak bisa menerima bahwa dialah stalker itu. Ini membuatku kesal. Padahal aku sudah percaya bahwa bukan dia pelaku stalker waktu itu, tapi ternyata malah dia! Aku jadi malu pada diriku sendiri.

Tapi kenapa mataku tidak bisa berhenti memandanginya? Akan lebih mudah jika dia tidak muncul di hadapanku lagi, tapi tentu saja tidak bisa, dia kan asisten fotografer. Karena tugasnya itulah aku jadi lebih mudah memperhatikannya terus.

Yeoja ini selain selalu memakai pakaian berwarna merah, model bajunya pun bukan model baju yang biasa dipakai perempuan. Ia selalu memakai kaus yang kebesaran, celana jeans belel, sepatu kets, dan jaket. Atau kaus tangan panjang putih atau hitam dengan kemeja lengan pendek berwarna merah. Kemejanya pun tidak dikancingkan, memperlihatkan gambar-gambar lucu dan tulisan-tulisan aneh di kaus yang dipakainya. Lalu rambutnya yang panjang dia ikat di belakang dan disembunyikan di balik topinya. Hampir setiap hari penampilannya seperti itu, walaupun bajunya berbeda-beda, tapi gayanya masih sama berantakannya. Jika tidak melihat wajahnya, orang-orang pasti mengira dia namja. Makanya waktu itu aku tidak tahu kalo stalkerku itu namja  atau yeoja.

Lho? Aneh, kenapa aku bisa memperhatikannya seperti itu?

Setelah pemotretan, aku pergi ke ruang ganti di belakang studio untuk mengganti bajuku. Sebentar lagi ada schedule lain, jadi aku harus segera bersiap-siap. Tapi saat di depan pintu ruang ganti aku tidak jadi masuk.

Park Yoochun dan Jung Yuuri? Sedang apa mereka?

Suara mereka kecil sekali,  jadi aku tidak bisa mendengarkan isi pembicaraan mereka. Yang kulihat hanya wajah Yuuri yang agak muram, dan kemudian Yoochun yang tersenyum lalu menepuk-nepuk kepalanya dengan lembut. Dan reaksinya… apa-apaan ini?!

Wajah Yuuri memerah dan ia memandang Yoochun dengan malu. Yoochun tertawa kecil, lalu memeluk yeoja itu. Yuuri tersenyum dan membalas pelukannya.

Mereka berpelukan?! Hei! Singkirkan tanganmu darinya!

Kenapa tiba-tiba aku berpikir seperti itu sih?! Ah, sudahlah. Yang penting aku harus masuk dan berganti pakaian.

Aku mendorong pintu dengan keras, yang membuat mereka kaget dan langsung melepaskan diri dari pelukan masing-masing. Aku memandang mereka dingin.

“Aku harus ganti baju,”kataku singkat.

“Oke, kami akan keluar,”kata Yoochun lalu menarik tangan Yuuri. Tapi Yuuri menariknya pelan.

“Ada yang harus kuambil dulu, Oppa. Oppa duluan saja.”

Oppa? Bukankah ia selalu memanggilnya Sunbae? Apa mereka jadian?

Tiba-tiba saja aku merasa kesal sendiri.

Yuuri sibuk mencari sesuatu di ruangan itu, lalu ketika sesuatu yang dicarinya-recorder-ditemukan, ia berjalan ke pintu. Entah apa yang membuatku menahan tangannya. Yang jelas sekarang aku sedang menatap tajam wajahnya yang terkejut.

“Kenapa kau melakukannya?”

 

Yuuri’s POV

“Hah?”Aku bingung.

“Kenapa kau melakukannya?” ia mengulangi pertanyaan yang sama.

“Melakukan apa?”

“Menstalkerku, membohongiku…”

Aku menghela napas. “Bukankah urusan kita sudah selesai?”aku berusaha melepaskan tangannya. Tapi tangannya terlalu kuat.

“Jawab pertanyaanku.”ucapnya tegas.

Aku menghela napas lagi. “Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku membohongimu karena kupikir jika aku tetap bersikeras, kau akan berpikir jika aku bukan pelakunya. Dan alasan aku menstalkermu adalah karena aku butuh uang.”

Ia menatapku tercengang. “Kau bilang tidak akan melakukan hal rendah seperti itu.”ucapnya sinis.

“Bagiku itu bukan hal rendah jika kau membutuhkannya untuk menolong orang yang kau sayangi.”jawabku dingin. “Tidak semua orang seberuntung dirimu, tuan  terkenal. Apa kau tidak bisa sedikit bermurah hati membiarkan orang lain memotretmu  dan  menjual fotomu  untuk  membantunya sekedar bertahan hidup?”

Ia kelihatannya terkejut dengan kata-kataku barusan, sehingga ia melepaskan tanganku. Aku berbalik dan meninggalkannya yang sedang termangu.

Jaejoong’s POV

Apa maksud ucapannya? Untuk membantu siapa sebenarnya? Bukankah ia sudah tidak punya keluarga? Siapa orang yang ia sayangi yang ia maksudkan itu?

Semakin kupikirkan membuatku semakin penasaran. Bahkan rasa penasaran ini sudah melebihi kemarahanku padanya.

Aku sudah menyuruh Changmin untuk mencari tahu, tapi dua bocah itu malah mengejekku.

“Kau menyukainya hyung,”lagi-lagi Junsu mengatakannya secara blak-blakan.

“Tepat sekali,”Changmin nyengir menatapku.

“Anhi. Aku hanya penasaran saja padanya.”

“Penasaran bisa berubah jadi suka, hyung.”Junsu menatapku dengan geli.

“Tepat sekali,”

Mereka mengulangi kata-kata itu lagi, yang membuatku menjitak mereka berdua. “Ya! Bisa tidak kalian diam?!”

Aku keluar dari kamarku meninggalkan kedua bocah setan itu disana. Memang menyenangkan tinggal dengan dua adik laki-laki cerewet seperti itu, hanya ketika mereka diam. Heran deh, kenapa dulu aku mau-mau saja menerima permintaan Appa dan Omma untuk membiarkan mereka tinggal di apartemenku.

Purple line let me set up my world…

Aku membiarkan ponselku yang terus menerus menyanyikan laguku itu sampai aku kesal dan akhirnya kuangkat juga ponselku. “Yeoboseyo?”

***

Setelah mendapatkan telpon dari Park Yoochun, aku langsung keluar. Daripada aku mendengarkan kedua bocah setan itu, lebih baik aku menerima undangan namja itu makan malam bersama kru. Setelah pemotretan tadi aku memang ada schedule lain jadi tidak bisa ikut mereka, tapi sekarang aku sudah free dan bisa kesana.

Restoran itu restoran kecil dan sederhana yang berada di sekitar sungai Han. Park Yoochun mengatakan tidak perlu cemas jika ada penggemar yang melihatku, karena restoran ini sudah sengaja dibooking untuk seluruh kru.

Aku memandang ke sekeliling, mencari yeoja aneh itu. Tampaknya ia tidak ada. Entah kenapa aku cemas.

“Jangan khawatir tentang makanannya. Walaupun kecil dan di pinggir jalan, disini makanannya bersih dan enak.”kata Park Yoochun.

“Oh. Aku tidak mengkhawatirkan hal itu.”kataku, lalu mengambil bulgogi dan memakannya. Hmm…memang enak.

Aku mengobrol dengan Park Yoochun dan kru-kru yang duduk di dekatku. Mereka menuangkan soju untukku, tapi hanya kuminum sedikit, karena aku tidak mau sampai mabuk, aku kan harus pulang dengan menyetir sendiri.

Dimana yeoja itu? Aku masih penasaran tentang yeoja itu. Ketika aku memutuskan untuk kembali dan berpamitan pada para kru, aku mendengar suara yang familiar.

“Onniieee…. Aku kesaaalll sekaaalllii…”

Aku menoleh ke arah suara itu, dan kulihat Jung Yuuri masuk ke dalam restoran dengan badan dipapah Ji Hye Noona. Wajahnya memerah dan jalannya sempoyongan.

“Yuuri-ah!”seru Yoochun, lalu mengambil Yuuri dari Ji Hye noona. Ia membawa yeoja itu duduk disampingnya, disampingku, di tengah-tengah kami.

“Kenapa kau membiarkannya minum, Ji Hye-ah. Dia kan nggak kuat minum.”

Ji Hye noona tersenyum menyesal. “Aku sudah melarangnya, tapi ia tetap meminumnya. Padahal cuma tiga gelas, tapi ia sudah muntah-muntah di luar. Kurasa lebih baik ia diantar pulang.”

“Yoochun oppaaaa…, aku kesal sekali…”lagi-lagi ia mengoceh tidak karuan. Sebenarnya hubungan mereka berdua seperti apa sih? Kenapa memanggil oppa terus? Membuatku kesal saja.

“…pemenangnya… sudah adaaa.. dan itu bukan akkkuuuu… seandainya aku bisa mengi..rim.. foto-fotoku…”

Aku tersentak mendengar ocehannya. Jangan-jangan foto yang ia maksudkan itu yang di dalam memory card itu?

“Sudahlah, Yuuri-ah. Nanti kau pasti bisa ikut perlombaan yang lain. Lebih baik kita pulang..”kata Yoochun, mencoba menarik Yuuri berdiri. Tapi yeoja itu menarik tangannya.

“Nggak bisa… cassie aja masih ru..saakk…”isaknya.

Yoochun menghela napas, lalu mencoba mengajak Yuuri berdiri lagi. Tapi aku menahannya.

“Biar aku saja yang mengantarnya, sekalian aku pulang.”

“Benarkah?”Yoochun sangsi.

“Dimana alamat rumahnya?”

***

Aku tidak percaya dengan penglihatanku. Berkali-kali aku mengecek alamat yang ditulis Yoochun dan alamat tempat ini. Sama. Daerah ini termasuk daerah yang bisa dibilang hmm… agak kumuh. Aku tidak pernah tahu jika ternyata di balik kota Seoul yang megah, ada tempat seperti ini. Mobilku pasti mencolok sekali disini. Tapi untungnya ini sudah tengah malam dan sepi sekali. Bagaimana mungkin yeoja aneh ini tinggal di tempat seperti ini?

“Jung Yuuri-ssi..”aku memanggilnya, ia tidak menjawab. Tidurnya pulas sekali.

Aku memandang wajah manisnya lekat-lekat.“Babo! Sudah tahu tidak kuat minum, masih minum juga.”

Aku terpaksa mengeluarkannya dari mobil, kuletakkan tangan kananku di bagian punggungnya dan tangan kiriku di lekukan kakinya. Aku menggendongnya sampai depan pintu apartemen kecil itu, dan aku terdiam sebentar saat menyadari aku tidak tahu dimana kunci apartemennya.

Akhirnya aku menurunkannya sejenak, mendudukkannya di lantai dan mencari kunci di tas dan jaket yang dipakai yeoja ini. Setelah berhasil menemukan kunci di dalam tasnya, aku menggendongnya lagi masuk ke dalam. Apartemen ini benar-benar kecil. Cuma ada dua ruangan, dan salah satunya adalah kamar mandi. Dapur dan kamar jadi satu, dengan satu lemari baju, satu rak buku, satu meja kecil pendek, tapi semuanya tersusun rapi. Dindingnya  dipenuhi berbagai foto-foto flora, fauna, dan pemandangan alam, membuatku takjub. Ruangan sekecil ini bisa terlihat menarik juga.

Aku meletakkan Yuuri di tempat tidurnya, kemudian mataku menangkap sesuatu di sudut tempat tidurnya. Sebuah kotak kardus kamera. Aku membukanya, dan melihat kamera DSLR merah marun yang lensanya pecah.

Tiba-tiba suara dering ponsel yang kencang mengagetkanku. Suara itu berasal dari handphone Yuuri. Ia menggeliat-geliat dan menutup telinganya merasa terganggu. Aku mengambil ponsel yang berada di jaketnya, kulihat nama yang tertera di display hp itu. Cho Hye mi. bukankah itu temannya di klub fotografi itu? Kemudian aku mengangkatnya.

“Yuuri-ah! Hye won sudah sadar!”kata suara diseberang telpon sebelum aku sempat mengatakan apapun.

“Aku senang sekali. Ini semua berkat bantuanmu, adikku bisa operasi. Gomawo. Jeongmal. Uangmu akan segera kuganti. Kau benar-benar malaikat Yuuri-ah!”

Lagi-lagi belum sempat kujawab, yeoja di telpon ini mengoceh lagi. “O y, mengenai Kim Jaejoong-ssi…”

DEG.

Kenapa namaku disebut?

~TBC~

Apa kau akan memaafkanku?~ Jaejoong’s POV

Hubunganku dengan Yuuri bukan hanya sekedar teman. ~Yoochun’s POV

Namanya Yunho, bukan Jung Yunho, tapi Lee Yunho. ~Yuuri’s POV

Kenapa yeoja ini terlihat mirip dengannya? Apalagi matanya, mata cokelat muda beningnya. Mengingatkanku akan…~Yunho’s POV