In My camera (Chapter 5)

Cast       : Jung Yuuri (OC), Kim Jaejoong, Park Yoochun, Jung Yunho, DBSK

Genre  : Romance, angst(?)

Rating : General

Length: 1- (maybe 8, on writing)

baca chapter sebelumnya: Chapt1  Chapt2  Chapt3  Chapt4

Author’s POV

Setelah melihat selembar foto lama di dompet Yunho, Yuuri langsung pergi dari kafe itu tanpa sepengetahuan Yunho yang sedang menelpon. Yuuri bingung, apa yang harus dilakukannya. Ia bahagia bisa bertemu Yunho lagi, tapi ia takut akan resikonya saat Yunho mengetahui siapa dirinya, saat ‘orang itu’ tahu dirinya bersama Yunho lagi.

Yuuri berjalan di trotoar tanpa fokus pada arah yang sedang ditujunya. Pandangan matanya kosong dan air matanya terus mengalir. Bahkan ia tidak mempedulikan topinya yang sudah terjatuh saat ia menabrak orang yang ia lewati di taman hiburan yang ramai tadi. Yang membuat rambut panjangnya tergerai berantakan.

“Aku… bertemu Yun lagi…”gumamnya, lalu ia memegang keningnya yang sekarang terasa sakit. “Aku bahagia sekali, appa… Tapi aku harus bagaimana…? Dia tidak boleh tahu siapa aku…”

Kenangan-kenangan indah masa kecilnya bersama Yunho muncul satu-persatu membuatnya tersenyum tapi seketika senyuman Yuuri berubah ketika mengingat kenangan buruk mereka. Yang membuat mereka berdua terpisah. Yuuri benci mengingatnya. Tapi kelebatan bayangan-bayangan menyedihkan itu terus menerus muncul di matanya, membuat kepalanya pusing.

Sakit kepalanya bertambah parah, membuat Yuuri berhenti berjalan dan tubuhnya melemas. Saat tubuhnya hampir saja terjatuh, sebuah tangan kuat dan lembut menangkapnya.

 

Jaejoong’s POV

Hari ini aku merasa sangat bosan. Hari ini tidak ada pemotretan, lalu ketika rekaman di studio selesai dan aku ke kampus, ternyata Yuuri tidak ada kuliah. Padahal ia biasanya kuliah sampai sangat sore. Aku telpon pun ia tidak mengangkatnya. Sebenarnya ia kemana sih? Padahal aku ingin sekali bertemu dengannya.

Aku pun memutuskan untuk memakai penyamaranku, topi, kacamata dan masker untuk berjalan-jalan sendirian. Aku memarkirkan mobilku di parkiran sebuah toko lalu berjalan kaki di sepanjang trotoar. Rasanya menyenangkan melakukan hal ini. Selama ini setiap aku berjalan kemanapun, pasti ada banyak orang yang mengenaliku, dan akan ada banyak orang yang memfotoku, meminta tanda tangan, intinya tidak bebas dan sama sekali tidak nyaman. Jika aku menyamar seperti ini orang-orang tidak akan mengenaliku dan aku bisa bebas.

Seandainya saja aku berjalan-jalan seperti ini bersama dengan Yuuri, pasti lebih menyenangkan.

Belum jauh aku berjalan dari tempatku memarkir mobil, aku melihat seseorang yang sedari tadi aku pikirkan berjalan ke arahku. Seperti biasanya ia memakai pakaian  berwarna merah. Kemeja lengan panjang hitam dilapisi kemeja lengan pendek motif kotak-kotak berwarna merah, bawahannya celana jeans belel berwarna hitam, dan tas selempang merah yang sudah ada robekan kecil disana sini. Tapi ia tidak memakai topinya seperti biasa, rambut panjangnya tergerai berantakan. Aku baru akan menyapanya saat menyadari sesuatu.

Wajahnya basah oleh airmatanya, dan matanya tampak kosong. Kemudian ia tersenyum kecil lalu memegang keningnya. Aku merasa khawatir sekali.

Apa ia baik-baik saja?

Kulihat Yuuri tidak lagi berjalan, ia hanya terdiam sambil memegangi kepalanya. Tanpa kuperintahkan, kakiku langsung berlari ke arahnya dan aku menangkap tubuhnya sebelum menyentuh tanah.

“Yuuri!”panggilku khawatir sambil menepuk-nepuk pipinya yang basah oleh airmata. Tapi ia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan sadar. Aku menggendongnya dan dengan sedikit berlari membawanya ke mobilku. Aku terheran menyadari tubuhnya yang sangat enteng.  Sebenarnya ia makan apa sih sampai tubuhnya enteng sekali? Atau ia malah tidak makan?

Aku meletakkannya di kursi penumpang di belakang dengan posisi tidur. Saat menyetir sesekali kuperhatikan ia dari kaca spion depan. Matanya masih tetap terpejam, tapi air matanya masih tetap keluar dari kelopak matanya yang terpejam itu. Aku khawatir sekali. Kuputuskan untuk membawanya ke apartemenku karena jarak ke apartemennya yang terlalu jauh dari tempat kami berada sekarang.

***

Aku meletakkan Yuuri di tempat tidurku yang berukuran king size dan menyelimutinya. Bekas-bekas air mata di wajahnya kubersihkan dengan handuk hangat. Ia masih belum sadar juga. Membuatku tambah khawatir saja, sebenarnya ia kenapa?

Aku memutuskan untuk memasak agar nanti jika Yuuri terbangun ia bisa langsung makan. Setelah kira-kira satu jam aku di dapur aku baru sadar ternyata aku sudah memasak empat jenis makanan yang banyak porsinya sudah pasti tidak bisa kuhabiskan hanya berdua dengan Yuuri tetapi bisa dihabiskan oleh si monster Changmin seorang diri.

Tiba-tiba aku mendengar suara jeritan melengking yang bisa kupastikan itu suara Junsu disusul suara jeritan keras satu lagi, Changmin. Aku meniupkan udara ke telapak tangan yang sedang kugenggam dan meletakkannya kembali ke telingaku, lalu hal yang sama kulakukan ke telinga satunya.

Aku keluar dari dapur dan menuju tempat mereka. Kenapa dua bocah itu suka sekali menjerit sih? Mentang-mentang suara mereka bisa mencapai nada tinggi, setiap hari mereka selalu berisik disini.

“Hyung!”panggil Junsu saat melihatku masuk ke ruang tengah. “Kau sudah gila ya hyung?!

“Apanya?” Kenapa wajah Junsu panik begini sih?

“Kau apakan yeoja itu hyung?!”jerit Changmin yang tiba-tiba muncul. “Kau dendam padanya ya sampai mau mencelakainya?!”

Aku langsung mengerti maksud Changmin lalu menjitak kepalanya. “Aku tidak mengapa-apakannya!”seruku. Karena paksaan mereka berdua, akhirnya aku menceritakan apa yang terjadi tadi. Mereka mengangguk mengerti.

“Mianhe, hyung. Aku kira kau sudah tidak waras tadi.”ucap Changmin.

“Ne, na do hyung. Tadi saking paniknya aku langsung memikirkan bagaimana caranya menyembunyikanmu dari polisi.” Aku melotot mendengar kata-kata Junsu. “Hehe… bercanda hyung.”

“Aku sudah memasak tadi. Kalian makanlah, tapi sisakan untukku dan Yuuri…”

Changmin terlihat senang sekali. “…dan jangan disisakan SEDIKIT!”kataku dengan penekanan, membuat Changmin mengerucutkan bibir sebal. Jika tidak aku tekankan seperti itu ia pasti hanya menyisakan sedikit makanan yang benar-benar sedikit. Dasar monster Changmin!

Aku masuk ke kamarku untuk melihat kondisi Yuuri. Aku melihat wajah tenangnya. Kenapa dia tidak terbangun mendengar suara melengking Junsu dan Changmin? Aku menghampirinya, duduk di tepi tempat tidur dan memeriksa keningnya. Tidak panas. Sebenarnya ia kenapa?

Tiba-tiba Yuuri menggeliat kecil dan air mata mengalir dari kelopak matanya yang terpejam. “Appa.. jangan pisahkan aku dengan Yun…”igaunya sedih. Rasanya ada yang menyayat-nyayat hatiku mendengar igauannya yang terdengar menyedihkan itu.

“Kenapa appa meninggalkanku setelah memisahkan aku dari Yun…? Aku sekarang sendirian appa…”

Airmata Yuuri semakin banyak keluar, tetapi ia masih belum membuka matanya. Apa ia bermimpi buruk? Dengan cemas aku menggenggam erat tangannya, kemudian tubuhnya yang tadinya berguncang karena terus terisak-isak perlahan memelan, dan ia mulai tidur tenang. Tangannya menggenggam erat tanganku, sehingga aku tidak bisa melepasnya.

Aku mengelus lembut keningnya dengan tangan kananku yang bebas.

“Tak apa-apa. Aku akan menemanimu…”bisikku.

Yuuri’s POV

Aku membuka mataku yang terasa sangat berat. Mataku kukerjap-kerjapkan berusaha menyesuaikan dengan cahaya remang-remang di ruangan ini. Setelah mataku mulai terbiasa aku baru menyadari dimana aku. Tepatnya, aku tidak tahu dimana aku.

Aku terkejut saat mendapati seseorang yang tertidur di kursi dengan kepala disandarkan di atas kasur tempatku tidur. Tangan kirinya menggenggam erat tangan kiriku. Tidak, tepatnya tangankulah yang menggenggam erat tangannya. Siapa dia? Aku tidak bisa melihat wajahnya karena poninya yang menutupi wajahnya.

Kusingkirkan rambut yang menutupi wajahnya dengan tangan kananku yang bebas. Aku mengenali wajah namja itu. Kim Jaejoong. Segera saja kutarik tangan kiriku, membuat ia tersentak dan terbangun. Aku langsung bangun dan duduk.

Ia menyipitkan mata memandangku, lalu mengerjap-ngerjapkan matanya. “Kau sudah bangun?”tanyanya, lalu menguap.

“Kenapa aku disini?”tanyaku tajam.

Ia tidak langsung menjawab tapi malah mengucek-ucek matanya dan memperhatikanku baik-baik. “Apa kau sudah tidak apa-apa?”

“Kau belum menjawab pertanyaanku…”

“Aku melihatmu hampir pingsan di pinggir jalan. Untung saja aku menangkapmu sebelum kau terjatuh. Karena tempat tinggalmu terlalu jauh dari tempat tadi ku menemukanmu jadi aku membawamu ke apartemenku.”

Aku terdiam dan mencoba mengingat-ingat apa yang tadi terjadi padaku. Kemudian setelah ingat, airmataku pun menetes tanpa bisa kutahan. Kenapa airmataku terus keluar?

“Eottohke…? Kenapa air mataku tidak bisa berhenti mengalir…?”kataku dengan terisak-isak dan berusaha terus-menerus menghapusnya dengan kedua tanganku.

Kurasakan kedua tanganku ditahan, kemudian Jaejoong memelukku dan tangannya mengusap-usap punggungku dengan lembut. “Jangan ditahan… jika sedih keluarkan saja airmatamu…”

Aku semakin terisak mendengar kata-katanya yang lembut, dan semakin kubenamkan wajahku ke dadanya yang bidang.

“Bernyanyilah…”pintaku. Tiba-tiba aku ingin mendengarnya bernyanyi seperti kemarin.

“Nyanyi apa?”

“Apa saja…”

Kemudian sebuah suara merdu mengalun lembut di telingaku.

Nun teugodo neol baraboji mothae
Jichin chueoke heuryojin neoui mameul nan chatji mothae
Manhi ulgo jichyeo deo isang mothae
Saenggakhaedo neoreul bomyeon gwaenchaneul got gata

 

Jikyeo jugo sipho neoui jalmotdwin nappeun boreutdeul kkajido
Himdeun nal utge mandeuneun geoya
Jom himdeulgetjiman neol saranghae rago maldo halgeoya
Meonjeo nae phume oneun nal kkaji

 

Utji mothae useodo gieok mothae
Oneul harudo kkumcheoreom nunteumyeon sarajil got gateun
Neol bogodo gyeothae obneun got gata
Pyeohyeoni seothureun gabwa neol saranghagien

 

Jikyeo jugo sipheo neoui jalmotdwin nappeun beoreutdeul kkajido
Himdeun nal utge mandeuneun geoya
Jom himdeulgetjiman neol saranghae rago maldo halgeoya
Meonjeo nae phume oneun nal kkaji

Lagu ini lagi. Lagu ini yang kemarin ia nyanyikan. Aku menyukai lagu ini dan suara merdunya yang dapat membuatku tenang. Perlahan tangisku mereda, tergantikan oleh rasa nyaman yang tercipta dari suara merdunya itu.

Kruyuuukk.

Aku tersentak mendengar suara perutku yang bernyanyi. Langsung saja aku melepaskan pelukannya. Ia menatapku dengan senyum geli. Aku meringis malu melihatnya, kemudian menunduk, wajahku sekarang pasti sudah merah. Ini karena aku belum makan dari pagi.

Kruyuuukk.

Ini bukan suara perutku. Aku mendongak menatapnya. Ia meringis melihatku.

“Kurasa kita perlu makan.”katanya lalu bangkit dan mengulurkan tangannya untuk mengajakku. Aku menatap tangannya.

“Aku bisa berjalan sendiri.”tolakku halus. Ia hanya tersenyum dan menarik tangannya. Kami berdua keluar dari kamar itu.

Aku ternganga saat melihat apartemen Jaejoong. Apartemennya besar sekali (oke mungkin aku terlalu berlebihan.      Tapi setidaknya besarnya berkali-kali lipat dari tempatku -_-‘) dan… mewah. Apa ia tinggal sendiri disini?

“Dasar! Kenapa mereka malah tidur disini sih!”omel Jaejoong. Aku berjalan mendekatinya dan melihatnya yang sekarang sedang menyelimuti kedua orang namja yang tertidur di karpet di depan tv besar yang masih menyala. Jaejoong mengambil remote dan mematikan  tv. Sepertinya ia tidak tinggal sendiri disini.

“Pantas saja mereka sudah tidur, sekarang sudah jam dua pagi.”

Aku menatapnya lalu menatap dua namja itu. Ia mengerti maksudku. “Mereka adik-adikku. Mereka juga kuliah di Kyunghee.”

Aku duduk di kursi dan memperhatikan Jaejoong yang sedang memanaskan masakan yang ada di meja makan.

“Aku memasaknya sekitar jam tujuh malam. Kurasa ini masih enak.”katanya. Aku mengernyit. Dia juga bisa memasak?

Setelah selesai, ia meletakkan masakan-masakan itu di hadapanku, ia memakannya terlebih dahulu. “Mm.. masih enak.”katanya, lalu menyuruhku memakannya. Aku mengambil sumpit dan mengambil salah satu makanan. Mataku terbelalak saat merasakannya di lidahku.

“Mashita (enak)!”ucapku kaget. Ia tersenyum melihatku lalu mulai meletakkan banyak lauk ke piringku.

“Ini terlalu banyak.”protesku.

“Kau harus banyak makan. Lihat, badanmu kurus sekali. Aku bahkan bisa menggendongmu sambil berlari tadi saking entengnya.”

Aku tersenyum kecil mendengarnya yang begitu baik padaku. “Gomawo karena tadi sudah menolongku…”ucapku pelan.

Ia menghentikan makannya lalu menatapku dengan alis terangkat. “Hanya itu?”

“Eh?”

“Aku bukan hanya menolongmu saat kau hampir pingsan. Aku juga menggendongmu, membawamu ke apartemenku, membiarkanmu tidur di kasurku, dan memasakkanmu makanan. Kau mau bayar berapa?”

Aku ternganga mendengarnya. Ternyata ia masih tetap menyebalkan!

Jaejoong tertawa. “Aku hanya bercanda…” Aku mengerucutkan bibirku sebal.

Kami berdua makan dalam diam. Setelah selesai, kami berdua ke balkon apartmennya. Ia memakaikan jaketnya padaku dan kami berdua melihat pemandangan malam yang indah. Lampu-lampu gedung terlihat seperti kunang-kunang yang berkerlap-kerlip dari atas. Aku mendongakkan kepalaku ke atas, berharap bisa melihat rasi bintang Cassiopeia, rasi bintang yang sangat disukai Yun. Tapi ternyata langit sama mendungnya dengan hatiku saat ini. Tidak ada satupun bintang yang terlihat. Aku menghela napas kecewa.

Diam-diam aku memperhatikan Jaejoong yang berada di sebelah kananku. Ternyata dia orang yang baik. Aku bisa melihatnya dari wajah lembutnya saat menatap dan menyelimuti kedua namdongsaengnya tadi. Dia juga mau menolongku dan membuatkanku makanan. Aku benar-benar tidak percaya ada seorang namja yang bisa memasak seenak ini.

“Sudah puas melihat wajahku yang tampan?”

Aku tersentak mendengar kata-katanya. Ia tersenyum lalu memandangku.

“Aku tidak memikirkan itu.”kataku sebal.

“Lalu apa yang kau pikirkan saat melihatku?”

“Aku berpikir bahwa kau kakak yang baik dan jago masak.”jawabku jujur. Ia tertawa.

“Kau hanya tidak pernah melihatku memukul mereka berdua.”

Aku terperangah.“Kau sering memukul mereka?”

“Tidak sebelum mereka mulai mengerjaiku. Kurasa itu hal biasa di antara sesama saudara laki-laki. Mereka berdua terlalu iseng bahkan pada saudara-saudara perempuan kami.”

“Kau juga punya saudara perempuan?”tanyaku tidak percaya.

“Ada 7. Itu sebabnya aku bisa memasak. Ibu dan kakak-kakakku suka menyuruhku membantu mereka memasak.”

Aku tambah terkejut. Tujuh? Jaejoong saja cantik, apalagi saudara-saudara perempuannya? Dan sepuluh bersaudara? Rumahnya pasti ramai sekali.

Ia tertawa melihat ekspresiku. “Aku tau apa yang kau pikirkan. Pasti rumahku ramai sekali kan? Benar-benar ramai, setidaknya sampai kakak-kakakku menikah dan kami bertiga kuliah. Jika kami pulang, rumah pasti sangat kacau.”

Aku melihat wajahnya yang sekarang masih terus tersenyum. Mungkin ia memikirkan keluarganya. Pasti rasanya menyenangkan sekali mempunyai saudara sebanyak itu.

“Setidaknya kau tidak akan sendirian…”kataku pelan dan sedih. Aku memikirkan keluargaku yang satu demi satu meninggalkanku sejak aku berumur 8 tahun. Omma, appa, halmeoni, dan…

Tiba-tiba kurasakan sentuhan lembut di kepalaku. “Kau bisa menceritakan masalahmu padaku jika kau mau. Kau bisa mempercayaiku…”

Aku menggeleng. “Bukan karena tidak percaya padamu. Aku hanya… terlalu menyakitkan jika harus membicarakannya…”

“Apa ini karena Park Yoochun?”

Aku memandangnya bingung. “Kenapa kau berpikir karena dia?”

“Dia kan sangat dekat denganmu. Jadi kupikir ia menyakitimu sehingga kau menangis seperti itu.”

Aku tersenyum. “Selama aku mengenalnya, Yoochun oppa tidak pernah menyakitiku. Ia sangat baik dan menyayangiku. Dan aku sangat menyayanginya.”

“Oh, bagus.”jawabnya. tapi ekspresi wajahnya malah berkebalikan dengan kata-katanya. Ia terlihat kesal.

“Boleh aku bertanya padamu?”

“Apa?”

“Bagaimana rasanya jika kau mendapatkan kesempatan untuk  dekat dengan seseorang yang sudah lama berpisah denganmu? Seseorang yang sangat kau rindukan, yang tidak mungkin bisa kau temui. Apa kau akan mengambil kesempatan itu?”

 

Jaejoong’s POV

“Apa ini karena Park Yoochun?”

Ia memandangku bingung. “Kenapa kau berpikir karena dia?”

“Dia kan sangat dekat denganmu. Jadi kupikir ia menyakitimu sehingga kau menangis seperti itu.”

Ia tersenyum. “Selama aku mengenalnya, Yoochun oppa tidak pernah menyakitiku. Ia sangat baik dan menyayangiku. Dan aku sangat menyanyanginya.”

“Oh, bagus.”jawabku kesal. Yoochun tidak pernah menyakitinya, tapi aku yang pernah menyakitinya. Tentu saja aku kalah banyak dari Yoochun.

“Boleh aku bertanya padamu?”

“Apa?”Aku memandangnya yang sekarang sedang menatap pemandangan dengan mata menerawang.

“Bagaimana rasanya jika kau mendapatkan kesempatan untuk dekat dengan seseorang yang sudah lama berpisah denganmu? Seseorang yang sangat kau rindukan, yang tidak mungkin bisa kau temui. Apa kau akan mengambil kesempatan itu?”

Aku bingung mendengarnya. “Apa maksudmu?”

“Jawab saja.”

Aku berpikir-pikir sebentar. “Tentu saja aku akan senang dan mengambil kesempatan itu.”

“Tapi jika harus berbohong, dengan tidak memberitahu siapa dirimu, apa kau masih mau mengambil kesempatan itu?”matanya menatapku sendu.

“Kenapa harus berbohong?”tanyaku lembut.

“Karena jika aku beritahu siapa aku, mungkin aku tidak akan bisa bersama dengannya lagi…”

Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya. Sejujurnya aku bingung dengan apa yang dikatakannya. Tapi aku tidak tega melihat matanya yang menatapku memohon, meminta jawaban.

“Kenapa kau tidak mengambil kesempatan itu? Bukankah kau sangat merindukannya? Masalah nanti ia akan meninggalkanmu lagi atau tidak, kau masih belum tahu hal itu akan terjadi kan?”

Matanya melebar mendengar jawabanku, kemudian ia tersenyum kecil. “Kau benar. Aku masih belum tahu hal itu.” Ia terlihat sangat lega, membuatku juga lega karena sepertinya jawabanku tidak salah.

“Gomawo, Jaejoong-ssi. Kau sudah melakukan banyak hal baik padaku hari ini. Perasaanku sudah sedikit membaik.”katanya tersenyum kecil.

“Cheonmaneyo…”kemudian aku teringat sesuatu yang dapat membuatnya lebih senang lagi, senyumku melebar.

“Tunggu disini. Ada sesuatu yang ingin kuberikan.”kataku lalu masuk ke dalam.

Setelah mengambil sesuatu di kamarku, aku langsung kembali ke balkon dan memberikan sesuatu itu pada Yuuri. Ia mengambil kotak besar di tanganku.

“Apa ini?”tanyanya bingung.

“Sesuatu yang akan membuatmu merasa lebih baik lagi.”kataku tersenyum misterius.

Ia menatapku penasaran, lalu membuka kotak itu dan seketika terperangah.

“Cassie!”jeritnya senang, kemudian mengeluarkan kamera DSLR merah itu dari kotak. “Ini Cassie kan? Kenapa bisa ada padamu dan tidak rusak lagi?”

Aku tersenyum melihatnya tersenyum lebar. “Aku mengambilnya saat mengantarmu pulang ke apartemenmu. Kameramu sudah tidak rusak lagi, aku sudah memperbaikinya di tempat yang bagus.”

Ia memandangku dengan mata berbinar-binar. “Gomawo, jeongmal gomawoyo…”

“Tidak perlu berterima kasih, kan memang salahku yang sudah merusaknya. Jadi aku yang harus memperbaikinya.”

“Kan sudah kubilang aku sudah melupakan masalah itu.”katanya, lalu mulai mencoba memotret dengan kameranya. “Waahh…. Benar-benar sudah sembuh!”

Aku merasa sangat lega saat melihat wajahnya yang ceria lagi. “Jadi… apa sekarang kita sudah bisa berteman?”

 

Yuuri’s POV

Aku mencoba memotret dengan Cassie. “Waahh…. Benar-benar sudah sembuh!” ucapku girang saat melihat hasil fotonya di display. Hasilnya benar-benar bagus.

“Jadi… apa sekarang kita sudah bisa berteman?”

“Eh?”aku memandang Jaejoong dengan bingung.

“Kau bilang banyak hal yang harus dipertimbangkan untuk menerimaku sebagai temanmu. Apa sekarang kau masih mempertimbangkannya? Atau kita sudah bisa berteman?”

Aku memandangnya lekat-lekat, lalu tersenyum. “Kenapa kau benar-benar ingin berteman denganku? Aku kan sudah memaafkanmu bahkan tanpa perlu berteman denganmu.”

“Ng… ya… karena kupikir kau orang yang menyenangkan..”jawabnya dengan sedikit gugup? Kenapa dia harus gugup?

“Gomawo.”ucapku pelan.

“Apa? Aku tidak mendengarmu.”

“Gomawo. Karena sudah menjadi teman yang baik untukku…”jawabku sedikit kencang tanpa berani menatapnya dan mencoba melihat ke arah lain. Kurasakan wajahku memerah.

Kurasakan Jaejoong menepuk-nepuk kepalaku dengan lembut. “Gomawo, karena sudah menerimaku sebagai temanmu.”

 

Author’s POV

Sejak hari itu, Jaejoong dan Yuuri menjadi sangat akrab. Terkadang setiap makan siang di kampus, mereka makan berdua di halaman belakang kampus yang sepi, atau di ruangan klub fotografi. Jaejoong benar-benar ingin membuat Yuuri menyukainya. Bahkan di studio pemotretan, Jaejoong sudah mulai memperlihatkan perasaannya kepada Yuuri.

Jaejoong sering melakukan hal-hal konyol yang membuat Yuuri tertawa. Seperti menjulingkan matanya saat Yuuri yang sedang bertugas memotretnya, membuat Yuuri tertawa-tawa terus sampai Yoochun yang harus menggantikannya memotret. Semua orang di studio itu bisa melihat perasaan Jaejoong pada Yuuri. Sementara Yuuri hanya berpikir jika Jaejoong memang senang berteman dengannya.

Semua kru yang mengetahui kedekatan Yuuri dengan Yoochun suka melirik-lirik Yoochun dengan takut. Mereka mengira Yoochun akan marah. Tapi namja itu malah bersikap biasa saja. Jaejoong sendiri merasa heran.

“Yuuri-ah, bisa tidak kau hentikan tawamu? Masa’ harus oppa lagi yang memotret?”tegur Yoochun saat Yuuri masih saja tertawa padahal Jaejoong tidak lagi melakukan hal-hal konyol.

“Mianhe, oppa. Peace.”jawab Yuuri nyengir sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya. Yoochun hanya tertawa kecil melihat ekspresi wajah Yuuri.

Setelah pemotretan Yuuri menghampiri Yoochun dan berkata dengan gembira. “Oppa, aku punya kabar gembira!”

“Apa?”

“Sekarang cassie sudah sembuh!”ucapnya dengan gembira.

Mata Yoochun melebar. “Jinjjayo? Kau dapat uang darimana untuk memperbaikinya?”

“Bukan aku yang memperbaikinya. Tapi Jaejoong-ssi.”

Yoochun mengernyit. “Jaejoong? Kenapa dia? Kau menolak bantuan oppa, tapi kau menerima bantuannya untuk memperbaiki cassie.”kata Yoochun sebal.

“Wah, sepertinya Yoochun cemburu.”

Yoochun dan Yuuri menoleh ke asal suara, dan Seo Ji Hye tersenyum menghampiri mereka.

Yoochun menatap Ji Hye tajam. “Aku tidak cemburu.”

“Benarkah? Seharusnya kau cemburu melihat Jaejoong mendekati Yuuri seperti itu.”Ji Hye tersenyum jahil. Yoochun masih menatap Ji Hye dengan kesal.

Yuuri merasa tidak enak melihat wajah Yoochun.“Yang merusak kameraku kan Jaejoong-ssi, jadi dia yang memperbaikinya…”

“EH?”Yoochun kaget mendengarnya. “Jinjjayo?”

“Begitulah.”jawab Yuuri dengan cengiran. Ji Hye tersenyum pada keduanya, kemudian pergi.

Yuuri menatap kepergian Ji Hye dengan bingung. “Oppa, apa kita gagal?”

“Mwolla.”desah Yoochun pasrah.

“Kurasa oppa harus pakai cara langsung.”

“Mwo?! Andwae!”

“Trus gimana? Masa’ mau gini terus sih?!”kata Yuuri sebal.

“Tapi oppa belum bisa Yuuri-ah…”Yoochun mendesah, kemudian menatap Yuuri dengan puppy eyes-nya. “Yuuri-ah.. Kau masih mau jadi yeojachingu oppa kan? Plisss…”

“Ya! Jangan menatapku seperti itu! Tentu saja aku tidak akan memutuskan oppa! Awas ya jika oppa memutuskanku secara sepihak! Bisa-bisa aku nangis sampai mataku bengkak!”

Jaejoong’s POV

Aku menghampiri Yuuri yang sekarang sedang berbicara dengan Yoochun. entah apa yang membuatku begini, tapi yang jelas aku tidak takut pada Yoochun, dan aku akan terus mendekati Yuuri sampai ia suka padaku.

“Kau masih mau jadi yeojachingu oppa kan? Plisss…”Kenapa Yoochun berkata seperti itu?

“Ya! Jangan menatapku seperti itu! Tentu saja aku tidak akan memutuskan oppa! Awas ya jika oppa memutuskanku secara sepihak! Bisa-bisa aku nangis sampai mataku bengkak!”

Kata-kata Yuuri itu membuat dadaku sakit. Apa sebegitu besarnya ia mencintai Yoochun sampai mengatakan hal itu? Apa aku sudah tidak ada kesempatan lagi?

“Ah, Jaejoong-ssi? Ada apa?”tanya Yuuri yang sudah menyadari kehadiranku. Yoochun menatapku dengan cengiran. Hah! Apa kau merasa menang?!

“Aku hanya ingin berpamitan pulang.”kataku.

“Oh iya, kita harus pulang sekarang. Yuk, oppa!”

Yoochun menggeleng. “Kalian pulanglah duluan, masih ada yang harus oppa selesaikan.”

“Oke, kalo gitu aku akan pulang duluan. Yuk, Jaejoong-ssi!”ajak Yuuri yang langsung menarik tanganku. Aku menatap tangannya yang memegang tanganku. Semudah itukah ia memegang tangan namja lain di depan namjachingunya? Aku melihat ekspresi Yoochun yang melotot melihat tangan kami.

“Yuuri-ah..”panggil Yoochun.

“Apa?”Yuuri berbalik.

Yoochun menunjuk tanganku yang masih digenggam Yuuri. Ia menarik tangannya.

“Ah, mianhe oppa. Hehe..”Yuuri nyengir dengan ekspresi merasa bersalah. Yoochun menatapnya tajam dan menggoyangkan jari telunjuknya, menyatakan tidak boleh. Aku menatap namja itu sebal.

“Ayo kita pulang Yuuri!”kataku yang langsung menarik tangannya. Aku tidak peduli Yoochun marah padaku atau tidak.

Author’s POV

Yoochun duduk di sofa sambil memandang keluar jendela. Hujan turun, seharusnya tadi ia langsung pulang saat Yuuri mengajaknya. Baru sekitar sepuluh menit Yuuri dan Jaejoong pergi hujan sudah turun, dan sekarang ia malah terjebak disini. Tidak mungkin ia pulang dengan menaiki motornya.

“Yoochun-ah, kau masih disini?”

Yoochun menoleh. “Ji Hye? Kau masih disini?”

Ji Hye tertawa kecil dan duduk di sebelah Yoochun .

“Jangan mengulangi pertanyaanku. Masih ada hal yang harus kuurus tadi. kau sendiri tadi kenapa tidak pulang bersama Yuuri?”

“Aku juga masih ada yang harus kuurus.”

Hening. Yoochun merasa jantungnya berdetak kencang saat ini. Kenapa Ji Hye harus ada disini sih? Ia bingung harus berkata apa. Jadi ia terus menatap keluar jendela. Sementara Ji Hye juga kebingungan dengan sikap Yoochun padanya.

“Kau namjachingu yang aneh ya.”kata Ji Hye memecahkan keheningan di antara mereka.

“Maksudmu?”

“Kau tahu Jaejoong menyukai Yuuri, tapi kau membiarkan mereka akrab.”

Yoochun mendengus. “Bukankah itu berarti aku namjachingu yang baik? Tidak menghalanginya berteman dengan siapapun yang diinginkannya.”

“Aku tidak menganggapmu salah bersikap seperti itu. Tapi kalau aku, aku tidak akan membiarkan orang yang kusukai dekat dengan orang lain seperti itu.”jawab Ji Hye agak kesal. Kesal dengan dirinya sendiri lebih tepatnya.

Yoochun tertawa sinis. “Jangan munafik, Ji Hye-ah…”

Ji Hye menatap Yoochun bingung.

“Bukankah kau sudah melakukan hal yang berkebalikan dengan kata-katamu tadi?”

Ji Hye terkesiap. “Aku tidak mengerti maksudmu.”jawabnya memalingkan wajah.

Yoochun menarik dagu Ji Hye, menyuruh yeoja itu menatapnya.“Kau mengerti maksudku.”kata Yoochun tajam. “Kau menyukaiku kan?”

***

Yuuri terkesiap saat menyadari ia meninggalkan cassie di studio.

“Jaejoong-ssi, turunkan aku disini!”katanya panik.

“Waeyo?”tanya Jaejoong yang sedang menyetir dengan bingung.

“Aku harus kembali ke studio. Cassie tertinggal disana.”

“Tidak usah turun, biar aku antar sampai sana.”

“Tapi…”

“Aku tidak mungkin membiarkanmu hujan-hujanan kesana.”

Yuuri tersenyum kecil mendengar Jaejoong yang begitu perhatian.

Mereka berbalik ke studio. Kemudian Yuuri dan Jaejoong masuk ke dalam.

“Dimana kau meletakkannya tadi?”tanya Jaejoong.

Yuuri membuka pintu pelan. “Kurasa di…”

Yuuri langsung diam dan mundur perlahan saat melihat Yoochun dan Ji Hye yang sedang duduk di sofa dengan wajah berhadapan.

“Kena…”

“Sst..”Yuuri memelototi Jaejoong menyuruhnya diam. Dan sekarang mereka berdua mengintip Yoochun dan Ji Hye dari pintu yang terbuka sedikit.

“Kau menyukaiku kan?”

Yuuri langsung menutup mulutnya agar tidak menjerit. Jaejoong terperangah mendengar hal itu. Apa-apaan si Park Yoochun ini?! Batinnya kesal.

“Siapa yang menyukaimu?!”seru Ji Hye marah, lalu bangkit dari duduknya. Yoochun menarik tangannya hingga ia jatuh terduduk, kemudian mencium bibir Ji Hye.

Jaejoong dan Yuuri terperangah, kemudian Jaejoong menutup kedua mata Yuuri dan menariknya dari sana. Ia tidak ingin Yuuri melihat hal itu. Yeoja ini pasti akan menangis lagi. Brengsek kau, Park Yoochun! batinnya kesal.

Jaejoong langsung mengemudikan mobilnya menjauhi studio, sementara Yuuri masih tetap diam. Jaejoong menghentikan mobilnya di tepi jalan, dan menatap Yuuri yang masih diam karena shock.

“Yuuri-ah… kau tidak apa-apa?”tanya Jaejoong cemas.

“Mereka… mereka berciuman…”gumam Yuuri. “Aku… tidak percaya…” matanya mulai basah.

Kemudian Jaejoong memeluk yeoja itu. “Kau boleh menangis Yuuri-ah…”

“Kenapa aku harus menangis?”

~TBC~

 

Semudah inikah jalanku untuk dekat denganmu, Yun?~Yuuri’s POV

Ia ingin kau menjadi kakaknya, Jaejoong-ssi.~ Yoochun’s POV

Sekarang ia sendirian, Siwon-ah. Bahkan aku tidak tahu dimana ia sekarang.~ Yunho’s POV


9 pemikiran pada “In My camera (Chapter 5)

  1. baca part ini ,, makin bingung n penasaran deh …
    wah … ada tanda2 siwon ikutan main juga di part selanjutnya ….
    dan itu makin sukses nambah rasa penasaran saiya …

    oonie ,, ini kira2 masih berapa part lagi yah ???
    bener2 penasaran saiya …

  2. Jadi yuuri ma yochun cma pura” pcran bwt manas”in ji hye..
    Yeyeye,, jaejong oppa pnya kesemptan..
    Yun siapanya yuri eonnie?! *oke gag usah djawb..*

    Lanjut k part 6 aja dc..
    Anneyong eonnie.. ^^

  3. ngga ush pendek2 juga ngga apa2 kok.. 😀

    yoochun suka sama ji hye yah??
    Nyangkin bingung deh baca part ini..
    Siwon?? Temen nya yunho yah?? #sotoy

    oke!
    Next chap!~^^

  4. , saat ‘orang itu’ tahu dirinya bersama Yunho lagi.
    aku kira,, Yunho tuh di ambil orang dijadiin anak angkat trs syaratnya jgn dideketin lagi .. ???

    Yeojachingunya Yoochun ?? akh masa ,, ngga kan yya,, ehh terjawab jga dg ada nya Ji Hye,, sebenarnya agak ragu juga kenapa Yuuri nangis,, bikin aku yakin,, Yuuri tuh buat JAe Oppa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s