In My Camera (Chapter 6)

 

Cast       : Jung Yuuri (OC), Kim Jaejoong, Park Yoochun, Jung Yunho, DBSK

Genre  : Romance, angst(?)

Rating : General

Length: 1- (maybe 8, on writing)

baca chapter sebelumnya: Chapt1  Chapt2  Chapt3  Chapt4  Chapt5

 

 

Jaejoong’s POV

“Yuuri-ah… kau tidak apa-apa?”tanyaku cemas. Ia masih saja kaku setelah melihat hal tadi. Park Yoochun brengsek! Kenapa dia malah mencium yeoja lain sih!

“Mereka… mereka berciuman…”gumam Yuuri. “Aku… tidak percaya…” matanya mulai basah.

Kupeluk ia untuk menenangkannya.“Kau boleh menangis Yuuri-ah…”

“Kenapa aku harus menangis?”tanyanya dengan suara heran. Aku melepaskan pelukanku dan menatapnya. Wajahnya terlihat berseri-seri, tapi matanya basah?

“Tapi… kau… menangis…”aku bingung. Kemudian senyumnya melebar.

Author’s POV

Yoochun mencium bibir Ji Hye dengan lembut. Awalnya Ji Hye menolak, tapi kemudian ia membalas ciuman Yoochun. Tiba-tiba Ji Hye tersentak dan mendorong Yoochun. Yoochun yang mulai menikmati ciuman itu, menatapnya bingung dan kesal.

“Ini tidak benar!”ucap Ji Hye sedih.

“Apanya?”

“Kau tidak seharusnya menciumku. Bagaimana dengan Yuuri…” Ji Hye menggeleng-gelengkan kepalanya kesal. “Aku tidak seharusnya melakukan hal ini.”

Yoochun tertawa kecil. “Yuuri bukan yeojachinguku Ji Hye-ah…”

“EH?!”

“Apa selama ini kami pernah bilang jika kami pacaran?”

Ji Hye menatap Yoochun bingung. “Tapi kalian terlihat…”

“Mesra?”Yoochun tertawa. “Aku hanya menganggapnya yeodongsaengku saja Ji Hye-ah… lagipula kami memang sengaja bersikap seperti itu karena ingin menguji seseorang.”

“Maksudmu?”

“Saranghae, Ji Hye-ah…”ucap Yoochun, mengelus pipi Ji Hye lembut dan menatap matanya dalam-dalam.

 

 

Jaejoong’s POV

“Benarkah aku menangis? Aku menangis bahagia! Akhirnya penantian oppa selama ini terbayar juga! Ji Hye onni suka juga sama oppa!”

Aku menatapnya bingung. “A…aku tidak mengerti… bukankah kalian berpacaran?”

“Siapa?”

“Kau dan Park Yoochun.”

“Kapan aku bilang begitu? Apa oppa pernah mengatakan kita pacaran?”

Aku makin bingung. “Tapi kalian terlihat…”

“Mesra?”kemudian ia tertawa terbahak-bahak. “Ternyata kau tertipu juga ya! Kami bersikap seperti itu karena ingin tahu bagaimana perasaan Ji Hye onnie. Selama kami bertiga kenal, tidak sekalipun aku dan Yoochun oppa bisa melihat bagaimana perasaannya. Oppa ingin mencoba memastikan perasaan Onnie, jadi kami berpura-pura seperti itu.”

“Jinjjayo? Tapi waktu itu aku pernah melihat kalian berpelukan.”

“Kapan?”

“Waktu kau mengaku sebagai stalker.”

“Oohh… yang itu…”

 

*flashback*

Setelah pemotretan selesai, Yuuri menghampiri Yoochun. Sebenarnya ia tidak ingin merepotkannya, tapi dia satu-satunya orang yang bisa Yuuri mintai tolong.

“Yoochun sunbae, ada yang ingin kubicarakan…”ucap Yuuri ragu-ragu.

“Apa?”

“Bisa bicara di tempat lain yang lebih sepi?”

Mereka masuk ke dalam ruang ganti kostum. Dengan wajah yang terus ditundukkan Yuuri bertanya lirih. “Sunbae, bolehkah aku meminta gajiku di awal?”

“Untuk memperbaiki cassie?”

“Anhi. Aku butuh uang itu untuk hal…lain… Mianhe aku tidak bisa memberitahukan alasannya.”

Yoochun terlihat berpikir-pikir sebentar. “Hmm… ada syaratnya.”

Yuuri mendongakkan kepalanya menatap Yoochun yang tersenyum kecil. “Kau harus memanggilku ‘oppa’ lagi.”

“Eh?”

“Sejak kau masuk Kyunghee kau tidak pernah memanggilku ‘oppa’ lagi. Walaupun aku seniormu tapi sebelumnya kita kan sudah saling mengenal. Jujur saja aku merasa tidak nyaman kau mengubah panggilanmu padaku.”

“Habisnya banyak yang tidak suka aku memanggilmu ‘oppa’. Walaupun Sunbae sudah lama lulus, tapi Sunbae kan masih terkenal disana. Aku diprotes sana-sini. Mereka bilang aku sok akrab.”

“Lho? Memang kita akrab kan?Aku kan sudah menganggapmu sebagai yeodongsaengku. Jadi kau harus memanggilku oppa lagi.”

Wajah Yuuri memerah dan ia memandang Yoochun dengan malu. “Ne, oppa.”

Yoochun tertawa kecil mendengar kata-kata itu keluar lagi dari mulut yeoja yang sudah seperti adiknya sendiri itu. ia lalu memeluk Yuuri yang tersenyum dan membalas pelukannya.

*end of flashback*

 

Mendengar hal itu membuat hatiku dipenuhi kelegaan, senyumku merekah. “Jadi kalian benar-benar tidak berpacaran?”

Ia tersenyum sangat cantik. “Tentu saja tidak. Kenapa kau terlihat senang begitu sih?”

“A…anhiyo… Aku hanya senang Ji Hye noona dan Yoochun-ssi jadian.”

“Benarkah?”Ia tersenyum. Tiba-tiba suara nyaring ponselnya terdengar. “Oh! Yoochun oppa!”ia mengangkatnya dan menjerit senang. “Oppaaaa!!! Kyaaaa!!! Akhirnya kalian berciuman! Chukaeee!”

Aku tidak bisa berhenti tersenyum melihatnya begitu gembira. Kenapa ada yeoja sebaik dia? Yang bisa diam menanggung kesalahan orang lain. Yang bisa menangis karena kebahagiaan orang lain…

“Tadi aku kembali ke studio mau mengambil cassie, trus aku dan Jaejoong-ssi melihat kalian berdua. Wah… senangnyaaa! Aku sampai menangis saking bahagianya!”Yuuri terus saja mengoceh.

Aku juga senang sekali, Yuuri-ah.

“Iya, dia juga senang.”kata Yuuri sambil tersenyum melihatku. Yoochun membicarakanku? “Eh? Kenapa oppa tahu ia senang?”tanya Yuuri bingung dan memperhatikanku dengan seksama, membuatku pura-pura melirik ke arah lain.

Hah! Kenapa Park Yoochun membicarakanku?! Dia bisa menebak jika aku senang? Tentu saja aku senang! Tapi kenapa harus mengatakannya pada Yuuri sih?!

“Chankamanyo, oppa! Simpan cassie yaaa!”

Setelah menutup ponselnya, Yuuri tersenyum lebar padaku. “Aku senang sekali Kim Jaejoong-ssi. Aku senang…. sekali! Aku bahagia untuk mereka.”Aku tersenyum melihatnya begitu senang. tiba-tiba ia berhenti tersenyum, wajahnya terlihat cemas. “Sudah lama sekali aku tidak merasa senang. apa seterusnya semuanya akan baik-baik saja?”

Kuusap kepalanya dengan lembut untuk menenangkannya.

“Ya! Kenapa kau memperlakukanku seperti anak kecil?!”serunya sebal dan melepaskan tanganku dari kepalanya. Aku hanya tertawa melihat ekspresinya.

 

 

Yuuri’s POV

Hari ini aku bangun lebih cepat. Tadi malam aku merasa senang sekali. Yoochun oppa dan Ji Hye onni. Dua orang teman baik yang sangat kusayangi akhirnya bersama. Bukankah sangat membahagiakan bisa bersama orang yang kita cinta? Aku tersenyum lebar mengingat hal itu.

Seandainya saja aku bisa bersama dengan Yun…

Ya. Aku bisa berada di dekatnya kan? Walaupun bukan sebagai Jung Yuuri, aku bisa berada di dekatnya. Aku akan mengambil kesempatan itu, seperti yang disarankan Jaejoong-ssi.

Kim Jaejoong. Kemudian aku teringat sikap lembutnya padaku, membuatku tersenyum. Aku tidak pernah menyangka kami bisa berteman baik seperti sekarang.

***

Melegakan sekali melihatnya duduk di tempat yang sama. Memandangku dengan tatapan dan senyum yang sama. Ia menepuk-nepuk tempat duduk di sebelahnya.

“Kenapa kemarin kau menghilang tiba-tiba?”tanyanya setelah aku duduk di sebelahnya.

“Aahh… ada urusan yang mendesak. Makanya aku pergi tanpa pamit padamu.”jawabku yang jelas-jelas bohong.

Ia mengangkat alisnya dan menyipitkan mata padaku, membuatku grogi. Apa dia tidak percaya?

“Berikan ponselmu.”

“Eh? waeyo?”tanyaku bingung.

“Sudah. Berikan saja.” Dengan bingung aku memberikan ponselku. Kemudian terdengar dering ponsel. Yunho merogoh saku celana jeansnya dan mengeluarkan ponselnya yang berdering. “Aku sudah memasukkan nomor ponselku, dan aku sudah tahu nomormu. Jadi kita tidak perlu bertemu di bis untuk mengobrol kan?”Ia tersenyum dengan sangat tampan.

Aku tercengang mendengar ucapannya itu. Semudah inikah jalanku untuk dekat denganmu, Yun? Aku tertawa kecil. Rasanya aku ingin menangis karena bahagia.

“Lalu kau akan mengajakku kemana?”tanya Yunho tiba-tiba membuatku bingung lagi?

“Musunseoriya?”

“Minggu lalu kau sudah meninggalkanku tiba-tiba di taman hiburan. Tanpa meninggalkan pesan atau nomor ponselmu. Apa kau tidak tahu rasanya menyedihkan sekali berada di taman hiburan seorang diri?”Ia mengatakannya dengan wajah sedikit cemberut.

Aku nyengir merasa bersalah dengannya. “Mianhata. Kau ingin aku ajak kemana?”

Senyumnya langsung merekah. “Terserah padamu. Aku hanya ingin berjalan-jalan saja.”

Aku tersenyum lebar ketika mengingat masa kecil kami. Tempat yang disukai Yun, apakah masih sama? Ya, pasti masih sama.

“Aku akan mengajakmu ke tempat yang menyenangkan.”

***

Aku memandangi kotak kado kecil berwarna merah yang diberi pita putih. Kado ini kubeli setelah pulang kuliah tadi dan akan kuberikan pada Yoochun oppa dan Ji Hye onnie. Sebagai kado mereka jadian.

Aku masuk ke studio pemotretan. “Annyeonghasseyo!”sapaku ceria pada semua yang berada disana. Tapi ada apa ini? Kenapa atmosfirnya aneh?

“Yuuri-ssi!”tiba-tiba Sun Hwa onnie menarikku dan beberapa kru lain ikut mengerubungiku. Mereka kenapa sih?

“Waeyo?”

“Sebenarnya hubunganmu dengan Yoochun-ssi apa?”tanyanya. kemudian yang lain ikut bertanya.

“Kau yeojachingunya kan?”

“Kalian dekat sekali.”

“Tapi kenapa Yoochun-ssi sekarang terlihat akrab sekali dengan Ji Hye?”

“Jadi mereka berdua sudah datang?”tanyaku gembira, lalu keluar dari kerumunan orang yang penasaran itu.

“Ah! Kim Jaejoong-ssi!”seruku saat melihat namja itu masuk. “Kau datang cepat hari ini?”

“Eh? iya, ada yang ingin aku bicarakan dengan Yoochun-ssi.”

“Kalau begitu sekalian saja. kajja!”ajakku. Aku melirik ke arah para kru dan tertawa kecil. Ternyata bukan hanya Kim Jaejoong yang salah paham. Tapi aku malas menjelaskan. Biar saja mereka sadar sendiri.

Kami berdua masuk ke ruangan Yoochun oppa. Sudah kuduga pasangan yang baru jadian ini sedang berduaan disana.

“Ehem!”Aku nyengir lebar saat melihat tangan mereka berdua yang tadinya pegangan langsung terlepas begitu mendengar dehamanku.

“Ya! Jung Yuuri! kau mengganggu saja!”omel Yoochun oppa yang disambut dengan cubitan oleh Ji Hye onnie. “Jangan bersikap begitu padanya!”bela Ji Hye onnie.

“Huu… udah jadian trus lupa sama dongsaengnya yang udah bantuin. Aku kesini mau kasih kalian ini.”Aku memberikan kadoku ke Ji Hye onnie, dan tersenyum lebar. “Chukae. Aku senang akhirnya kalian berdua jadian juga.”

“Gomawo, saengie.”ucap Ji Hye onnie dengan mata berbinar-binar melihat hadiah dariku. Gantungan ponsel boneka beruang kecil yang memegang kamera. Untuk Ji Hye onnie beruangnya berpita dan memakai rok, sedangkan untuk Yoochun oppa tentu saja berpakaian laki-laki.

“Gomapta, Yuuri-ah.”kata Yoochun oppa. Aku tersenyum kecil pada mereka berdua.

“O y, cassie mana?”

Yoochun oppa membuka laci mejanya, dan mengambil kamera DSLR merah kesayanganku. Aku mengambilnya dengan gembira.

“Wah. Akhirnya aku bisa memotret ke gunung dengan cassie lagi!”gumamku senang.

“Mau pergi kapan?”tanya Yoochun oppa.

“Rencananya weekend ini. Aku akan mengambil banyak objek foto!”kataku senang.

“Sendirian?”tanya Jaejoong-ssi. Aku melihatnya menatapku cemas.

“Jangan khawatir. Aku terbiasa pergi sendirian kok. Tapi sepertinya… aku akan mengajak seseorang…”kataku memikirkan Yun.

Yoochun oppa tersenyum dan mengulurkan tangan ke kepalaku. Aku yang sudah yakin ia akan mengacak rambutku langsung mundur secepat mungkin. Tapi ternyata gerakanku itu membuatku kehilangan keseimbanganku ke arah belakang. Aku memejamkan mata karena takut terjatuh ke lantai.

Sedetik…

Dua detik…

Tiga detik…

Kok nggak sakit? Tapi kayaknya aku nggak jatuh ke lantai deh. Tangan siapa yang sekarang sedang memegangku?

Aku membuka mataku perlahan, dan terkejut melihat sepasang mata hitam yang menatapku cemas.

“Neo gwenchanayo?”

Entah kenapa mataku tidak bisa berkedip sedikitpun menatap mata Kim Jaejoong.

 

Jaejoong’s POV

“Huu… udah jadian trus lupa sama dongsaengnya yang udah bantuin. Aku kesini mau kasih kalian ini.” Yuuri memberikan kadonya ke Ji Hye noona, dan tersenyum lebar. “Chukae. Aku senang akhirnya kalian berdua jadian juga.”

Aku tersenyum mendengar kata-kata tulusnya. Padahal yang selama ini kulihat dia selalu sendirian. Aku tidak tahu dengan siapa ia bisa berbagi kebahagiaan, tapi ia selalu bisa dengan tulus merasakan kebahagiaan orang lain. Aku jadi… semakin menyukainya.

“Gomapta, Yuuri-ah.”kata Yoochun.

“O y, cassie mana?”

Yoochun memberikan kameranya dan ia menerimanya dengan gembira. Wajahnya yang senang itu terlihat seperti anak-anak. Polos sekali. Tapi aku menyukainya.

“Wah. Akhirnya aku bisa memotret ke gunung dengan cassie lagi!”gumamnya senang.

“Mau pergi kapan?”tanya Yoochun.

“Rencananya weekend ini. Aku akan mengambil banyak objek foto!”

“Sendirian?”tanyaku cemas.

“Jangan khawatir. Aku terbiasa pergi sendirian kok. Tapi sepertinya… aku akan mengajak seseorang…”

Seseorang? Kenapa saat ia mengatakan hal itu ia terlihat sangat bahagia. Wajah gembira yang tidak biasa aku lihat sebelumnya. Siapa orang itu?

Mataku tidak bisa lepas memandangnya. Kemudian Yoochun mengulurkan tangannya ke kepala Yuuri, dan Yuuri langsung bergerak mundur. Membuatnya kehilangan keseimbangan dan sesaat sebelum punggungnya membentur lantai aku menangkapnya dalam pelukanku.

Aku bernapas lega saat berhasil menangkapnya. Ia hanya diam memejamkan matanya. Kemudian secara perlahan matanya membuka.

“Neo gwenchanayo?”

Ia hanya menatapku tanpa berkedip. Membuatku cemas.

“Yuuri-ah!”suara Ji Hyee noona dan Park yoochun yang serempak membuatku terkejut, dan sepertinya ia juga terkejut, karena badannya berguncang dan matanya mulai berkedip-kedip.

Yuuri buru-buru melepaskan pelukanku dan duduk di lantai. “Gwen… gwenchana…”

“Kau ini! Keseimbanganmu buruk sekali!”

“Ya! Ini semua kan karena oppa yang mengagetkanku tadi!”omel Yuuri pada Yoochun. Aku tertawa kecil melihatnya yang sudah bisa mengomel. Itu tandanya ia baik-baik saja.

Kemudian ia menatapku dengan pandangan aneh. “Gomawo… Jaejoong-ssi…”

“Cheonmaneyo.”jawabku tersenyum. Ia lalu keluar ruangan dengan melambai-lambaikan tangannya ceria pada kami bertiga.

“Lalu? Apa yang ingin kau tanyakan padaku?”tanya Yoochun menatapku selidik.

Aku tertawa kecil. “Kurasa kau sudah tahu.”

 

Yunho’s POV

Setelah berhari-hari aku naik bus dan dengan berjalan kaki berputar-putar  menelusuri gang demi gang, bertanya kesana kemari. Akhirnya aku menemukannya!

Rumah kecil dengan cat dinding berwarna putih kusam. Halamannya ditumbuhi dengan bermacam-macam bunga. Rumah lama Yuu.

Aku memang tidak pernah kesini sebelumnya. Menurut info yang selama ini kudapatkan, ia pernah tinggal disini. Tapi aku masih belum yakin sepenuhnya.

“Cari siapa?”

Aku terkejut mendapati seorang ahjumma yang sekarang menghampiriku. “Ng… apa anda kenal siapa pemilik rumah ini?”

“Kau mencari suami istri Kwon?”

“Bukan. Tapi keluarga Jung yang pernah tinggal disini sebelumnya. Anda kenal mereka?”

“Tentu saja aku kenal. Jung Il Suk itu punya anak yang cantik dan baik sekali.”kata ahjumma itu membuat napasku tertahan sejenak. Jadi benar Yuu pernah tinggal disini?

“Anda tahu dimana mereka sekarang? ”

Ahjumma itu menggeleng sedih. “Sejak ayahnya meninggal, gadis pendiam itulah yang bekerja untuk membiayai hidupnya dan neneknya. Dua bulan kemudian mereka pindah entah kemana.”

Napasku tercekat. “Ayahnya meninggal?”

“Kudengar kecelakaan saat memotret. Setahun setelahnya aku bertemu dengan Yuu, dan ia mengatakan neneknya meninggal karena sakit.”Aku memandang nanar pada ahjumma itu. Mereka berdua meninggal?

Mata ahjumma mulai berair saat ia membuka mulutnya lagi. “Gadis yang malang itu masih bisa tersenyum saat kukatakan akan membawanya tinggal bersamaku. Ia menolak dan berkata jika sekarang ia sudah besar, ia bisa mengurus dirinya sendiri…”

Aku tidak bisa mendengar ini lagi. Berkali-kali aku menelan ludah untuk membasahi kerongkonganku yang mulai kering dan sakit. Kakiku mulai tidak kuat menopang tubuhku. Aku jatuh terduduk membuat ahjumma itu panik dan khawatir. Aku tidak menjawab pertanyaannya mengenai keadaanku sekarang. satu-satunya yang kupikirkan hanya Yuu.

“Sekarang ia dimana…?”suara yang keluar dari mulutku hanya berupa bisikan serak dan lemah. “Apa ia baik-baik saja…”

Aku menatap ahjumma dengan pandangan memohon, memohon untuk memberitahuku dimana Yuu sekarang. Tapi ahjumma hanya menggeleng lemah dan membuat badanku terasa lebih kaku.

Mereka meninggal?

Kurasakan pertahananku selama ini runtuh. Airmataku tak bisa dibendung lagi, mengalir setetes demi setetes. Tetesan penyesalan, kemarahan, kesedihan untuk kedua orang yang sangat kucintai itu, yang sudah tidak mungkin kutemui lagi. Dan untuk seseorang yang selama ini terus kucari tanpa kenal lelah.

Sekarang kau dimana, Yuu?

 

 

Jaejoong’s POV

“Aku mengenalnya sudah sekitar enam tahun. Ayahnya merupakan fotografer senior yang sangat berbakat, aku belajar banyak dari beliau. Dan Yuuri dekat denganku karena kami punya kesamaan hobi.”jelas Yoochun saat kami berdua memutuskan untuk mengobrol sambil minum soju di kedai kecil dekat studio.

“Kudengar ayahnya kecelakaan saat memotret.”Aku mengernyit mengingat saat Junsu mengatakan hal itu padaku. Apa memotret bisa membuatmu celaka juga?

Yoochun tersenyum pedih. “Lima tahun lalu, saat mereka naik gunung untuk memotret ayahnya terpeleset dan jatuh ke jurang. Setelah beberapa hari koma ayahnya meninggal.” Napasku tercekat mendengar cerita Yoochun.

“Selama berhari-hari ia menangis tanpa henti. Bahkan ia merobek semua foto-foto hasil potretannya. Tapi ia tidak bisa menghancurkan Cassie, kamera merah hadiah ulang tahun terakhir dari ayahnya. Ia memeluk kamera itu terus sampai tangisnya mereda. Yuuri menyadari jika satu-satunya cara membuat ayahnya hidup terus dalam dirinya adalah dengan fotografi. Makanya ia sangat mencintai fotografi…”

“Bagaimana dengan keluarganya yang lain?”

“Aku tidak tahu dengan ibunya. Sejak pertama kali aku mengenalnya, mereka hanya hidup bertiga. Yuuri, ayah, dan neneknya. Setahun setelah ayahnya meninggal, neneknya juga meninggal karena sakit…”

Aku terbelalak menatap Yoochun. “Bagaimana mungkin ia bisa tersenyum seperti sekarang dengan hal-hal menyakitkan yang terjadinya padanya?”tanyaku tidak percaya.

Mata Yoochun terlihat menerawang. “Janji terakhirnya pada neneknya, ia akan tetap tersenyum. ‘Jika bukan untuk dirimu, tersenyumlah untuk orang lain.’ Yuuri… hanya menyembunyikan kerapuhannya dengan janjinya pada neneknya. Selama ini dengan cara itulah ia bertahan…”

Rasanya seperti ada sesuatu yang besar menghantam kepalaku, dan seperti ada sesuatu yang tajam menusuk jantungku. Menyadarkanku betapa selama ini aku beruntung sekali. Mempunyai anggota keluarga yang lengkap dan selalu hangat. Sementar Yuuri harus bertahan sendirian. Rasanya ingin sekali aku memeluknya. Mengatakan kalau aku akan selalu menjaganya. Ya, aku ingin selalu menjaganya.

“Setelah hari ketujuh meninggalnya neneknya ia tidak pernah lagi menangis.” Yoochun kemudian mengernyit. “Kecuali saat kau merusak Cassie…”

Aku meringis melihat tatap tajam Yoochun.“Saat itu aku tidak sengaja…”

“Aku tahu.”jawab Yoochun pelan, lalu meneguk sojunya.

Kami terdiam cukup lama dengan pikiran masing-masing.

“Kurasa semua yang kuceritakan cukup untukmu mempertimbangkan perasaanmu padanya.”

“Maksudmu?”

“Bukankah sudah kubilang ‘jangan memaksakan perasaanmu padanya’? yang kulihat saat ini sepertinya kau ingin sekali membuatnya menyukaimu.”

Aku menatapnya bingung. “Apa itu salah?”

Yoochun mendelik kesal. “Kau pikir hubungan kami selama enam tahun tidak pernah membuatku menyukainya?”

“Jangan bilang kau…”

“Aku ‘pernah’ menyukainya.”Yoochun menekankan kata ‘pernah’. “Yuuri gadis yang sangat polos dan baik. Jika mengenalnya dengan baik, siapa yang tidak akan menyukainya. Tapi saat itu yang dibutuhkan oleh Yuuri adalah keluarga. Dia butuh figur seorang kakak. Makanya perlahan aku memposisikan diriku sebagai kakaknya.” Ia tertawa kecil. “Sekarang aku jadi kakaknya kan?”

“Lalu sekarang perasaanmu?”

“Sekarang aku hanya menganggapnya adikku. Aku mengijinkanmu dekat dengannya. Tapi… jangan paksa dia. Karena yang kulihat sekarang, sikapnya padamu sama seperti sikapnya padaku dulu.”

Aku mengangkat alisku. Bingung.

“Ia ingin kau menjadi kakaknya, Jaejoong-ssi.”

 

Author’s POV

Yunho membanting semua barang-barang di apartemennya yang bisa ia jangkau. Sesak di dadanya begitu kuat, begitu mencengkramnya. Ia tidak tahan. Kehilangan yang sekarang sangat dirasakannya membuatnya ingin menghancurkan apapun. Bukan hanya barang-barang kecil, tapi barang-barang elektronik yang besar dan berharga mahal pun tidak luput dari pelampiasan kemarahannya. Setelah tubuhnya merasa lelah dan tidak ada lagi barang yang bisa dihancurkannya, Yunho jatuh terduduk di antara barang-barang hancur itu.

“AAAHHHHHH!!!!”jeritnya sekeras-kerasnya. Airmatanya mengalir deras. Padahal akhirnya hari ini, setelah bertahun-tahun mencari, ia bisa tahu bagaimana keadaan Yuu. Tapi pencarian yang membuka sedikit jalan baginya, membuat pertahanan dirinya selama bertahun-tahun runtuh seketika.  Yunho mememeluk kedua lututnya dan menangis di dalamnya.

Tiba-tiba muncul seorang namja di depan pintu apartemen Yunho. Ia terkesiap kaget ketika melihat ruangan yang biasanya rapi itu berubah menjadi seperti tempat barang-barang rongsok. Dengan panik ia setengah berlari melangkah masuk melewati ruang tengah yang kacau itu. “Yunho-ah!”panggilnya. Kemudian matanya terpaku pada sosok yang sedang tidur meringkuk di antara barang-barang hancur itu.

“Yunho-ah!”serunya, lalu menghampiri Yunho. Dengan cemas ia mengguncang lengan Yunho yang masih tidur di lantai dengan memeluk kedua lututnya. “Yun…”

Yunho mengangkat wajahnya, dan namja itu terkejut melihat wajah Yunho yang berantakan. Mata sembab dan pucat yang belum pernah dilihatnya, juga ekspresi kesedihan yang bisa menyayat hati siapapun yang melihatnya. “Kau kenapa?”

“Mereka meninggal, Siwon-ah…”jawab Yunho dengan mata menerawang dan airmata yang mengalir. “Aku bahkan belum sempat meminta maaf pada mereka…”

“Siapa yang meninggal?”tanya namja bernama Choi Siwon itu dengan panik.

“Mereka meninggal… Lalu bagaimana dengan Yuu? Aku sudah berjanji akan selalu menjaganya. Tapi sekarang ia sendirian, Siwon-ah… Bahkan aku tidak tahu dimana ia sekarang…”

Sekarang Siwon mengerti apa maksud perkataan sahabat baiknya itu. Usaha pencarian Yunho selama bertahun-tahun, yang seringkali mengalami jalan buntu, dan membuatnya terpuruk. Tapi tanpa kenal lelah sahabatnya itu bangkit lagi mencari, dengan keyakinan akan ditemukannya mereka, orang-orang yang dicintainya, dan gadis kecil yang sangat dicintainya itu.

Dengan perasaan sedih akan keadaan sahabatnya itu, ia memeluk Yunho dengan erat, berusaha menenangkannya. “Aku akan membantumu mencarinya, Yunho-ah… Kita akan menemukannya…”ucap Siwon berusaha menenangkan Yunho yang masih terus-menerus mengeluarkan airmata tanpa suara.

 

Yuuri’s POV

DEG.

Perasaan aneh ini lagi? Rasanya sakit, cemas, dan membuatku… takut.

Aku kenal perasaan aneh ini. Dulu sekali aku pernah merasakannya. Setiap Yun sakit. Bahkan saat Yun kecelakaan dan aku mendengar dari dokter jika kaki Yun lumpuh karena kecelakaan itu. Lalu setelah itu kami berpisah.

Kali ini siapa? Apakah Yun lagi?

Aku takut. Ikatan batinku dengan Yun sejak kecil sangat kuat sekali. Aku bisa merasakan hal buruk yang terjadi dengannya, begitu pula sebaliknya. Tapi setelah berpisah aku tidak lagi merasakan hal-hal seperti ini. Kecuali hari ini. Aku yakin perasaan ini muncul karena sekarang aku bertemu dengannya lagi. Dan ini bukan perasaan bagus.

Kenapa dia tak ada?

Aku duduk di bis yang biasa kami naiki. Tapi ini sudah hari ketiga ia tidak muncul di bis ini. Apakah kekhawatiran ini benar? Bagaimana aku bisa bertemu dengannya?

Tiba-tiba ponselku berdering. Aku mengangkatnya.

“Yeoboseyo?”

“Kau dimana?”suara Jaejoong-ssi yang merdu itu lagi. Aku tersenyum mendengarnya.

“Di bis….”kemudian dengan bodohnya aku teringat. Yun kan memberikan aku nomor ponselnya. “Chankaman, Jaejoong-ssi! Nanti kutelpon lagi!”kataku lalu langsung memutuskan hubungan telpon dengan Jaejoong-ssi, dan menelpon Yunho.

“Yeoboseyo?”suara berat di seberang sana bukan suara Yunho?

“Ng… ini benar nomor Lee Yunho?”tanyaku ragu. Apa salah nomor? Tapi kan Yun sendiri yang memasukkannya di ponselku.

“Ne. kau teman Yunho kan? Park Yuuri-ssi?”

“Ah, ne. Yunho ada?”

“Nan neun Choi Siwon imnida, aku sahabat Yunho. Ia sekarang sedang sakit,”Napasku tercekat mendengarnya. “Bisakah kau…”

“Sakit apa?”tanyaku cepat. Aku bisa merasakan suaraku pasti terdengar sangat khawatir saat ini.

Namja bernama Choi Siwon itu tertawa kecil. “Tidak perlu secemas itu. ia tidak sakit parah kok. Hanya kelelahan karena masalah yang dihadapinya sangat  berat…”

Masalah apa? Kenapa nada suara namja ini terdengar murung?

“Karena itu, bisakah kau datang ke apartemennya dan menjaganya sebentar? Jujur saja aku agak kerepotan sekarang, karena aku ada urusan lain dan tidak bisa meninggalkannya sendi…”

“Dimana alamatnya?”

Setelah itu, Choi Siwon menyebutkan alamat apartemen Yunho padaku. Aku segera pindah bis untuk ke apartemen itu. aku tiba di sebuah apartemen bertingkat yang terlihat mewah. Tapi ini bukan waktunya untuk kagum. Aku segera berlari ke dalam lift dan menuju lantai 20 tempat apartemen Yunho.

Aku melihat ke sekelilingku. Sepertinya aku pernah kesini? Kemudian aku menggeleng-gelengkan kepalaku pelan.

Mungkin itu hanya perasaanku saja. Mana pernah aku datang ke apartemen mewah seperti ini.

Akhirnya aku menemukan apartemen yang kucari. Kutekan bel pintu apartemen itu, dan belum sampai semenit aku diluar, pintu itu terbuka. Seorang namja tinggi dan tampan tersenyum padaku.

“Kau pasti Park Yuuri?”tanyanya ramah.

“Ne. bagaimana Yunho-ssi?”

Namja yang pasti bernama Choi Siwon itu tertawa kecil. “Sejak ditelpon kau selalu memotong kata-kataku. Kau sangat mengkhawatirkannya ya?”

Aku hanya terdiam. Kurasakan pipiku memerah.

“Ayo masuk.”Kami berdua berjalan masuk ke apartemen itu. kemudian Siwon-ssi mengajakku ke sebuah kamar. Ia membuka pintu kamar itu.

Di dalam kamar itu terbaring di atas kasur king size, namja yang sangat kucintai itu dengan wajah pucat dan lemah. “Dia kena..pa..?”tanyaku dengan napas tercekat.

“Kan sudah kubilang, ia kelelahan. Dokter bilang ia hanya butuh istirahat beberapa hari, setelah itu ia akan baik-baik saja. yaa… itu jika masalahnya juga selesai.”

“Masalah apa?”tanyaku langsung, dan menatap Siwon-ssi.

“Itu bukan sesuatu yang perlu kau tahu, Agassi.”jawab Siwon walaupun dengan senyum tapi aku tahu ia menegurku. “Mianhe.”ucapku merasa bersalah. Aku terlalu ingin tahu apapun yang terjadi dengan Yun.

“Tidak apa-apa. Sekarang aku harus pergi, kutitipkan ia padamu ya.”kata Siwon-ssi. Setelah itu ia pergi dengan terburu-buru. Aku menghampiri Yun yang terbaring lemah di tempat tidur. Aku tidak bisa menahan tanganku yang ingin sekali mengelus wajahnya.

Kuelus wajah dan rambutnya dengan penuh kerinduan.

Tiba-tiba ia menggeliat kecil dan membuka bibirnya yang pucat. “Yuu…”

Airmataku menetes mendengar igauannya. Apa ia mengingatku? Apa ia memimpikanku?

Aku terduduk di lantai dan membiarkan airmataku terus mengalir. Mulutku kututup dengan kedua tangan, mencegah suaraku keluar.

“Kau kena…pa…, Park Yuuri?”

Aku mendongak mendengar suara itu. Yunho sudah bangun dari tidurnya, dan ia menatapku bingung. Buru-buru aku menghapus airmataku dan menghampirinya yang sudah duduk di tempat tidur. “Aku hanya sedih melihatmu yang sakit.”jawabku jujur, walaupun pasti terlihat bohong. Karena ia kan tidak sakit parah, kami juga tidak sedekat yang ia tahu, jadi mana mungkin aku sebegitu sedihnya melihat keadaannya.

Betul kan? Ia terlihat tertegun mendengar jawabanku. Tapi kemudian ia tersenyum kecil. “Gomawo. Tapi aku hanya kelelahan, sekarang aku  sudah tidak apa-apa.”

Ia bangkit dari tempat tidur. Aku mencegahnya.“Kau mau kemana? Tubuhmu masih lemah. Jika ada yang kau butuhkan akan kuambilkan.”

Bibir pucatnya tersenyum. “Aku hanya butuh keluar kamar dan berjalan. Aku sudah baikan kok. Lama-lama di kamar aku bisa tambah sakit. Lagipula aku harus menjamu kau yang sudah repot-repot datang menjengukku.”

“Aku tidak merasa kerepotan…”

Ia tersenyum. Senyum yang sangat kusukai. Membuatku harus menahan diriku agar tidak memeluknya.

“Ayo ke ruang makan.”katanya berbalik lalu keluar kamar. Aku mengikutinya keluar.

Tapi Yun terdiam di ruang tengah. Kenapa ia memandang sekeliling? “Sudah rapi rupanya. Pasti Siwon.”gumamnya.

Aku menatap punggungnya di hadapanku. Punggung itu… punggung yang sewaktu kecil sering menggendongku. Lalu tanpa bisa kucegah, aku memeluknya dari belakang.

“Park…Yuu..ri-ssi?”Aku bisa merasakan ia terkejut, dan berusaha melepaskan pelukanku. Tapi aku mengeratkan pelukanku.

Bukan. Aku bukan Park Yuuri. Aku Jung Yuuri.

Apakah aku bisa mengatakan itu?

“Kumohon. Sebentar… saja… Biarkan aku memelukmu…”

~TBC~

 

 

Kau Yuu kan?~Yunho’s POV

Yuuri tersenyum pada Lee Yunho? Apa namja itu…? ~ Jaejoong’s POV

Kenapa ia berbohong? Kenapa ia tidak mengatakan kalau ia adalah Jung Yuuri?~Siwon’s POV

 

6 pemikiran pada “In My Camera (Chapter 6)

  1. chingu …
    gak tau aku mau komen apa di ff ini … bener2 bingung sama ceritanya … bener2 penuh misteri … alurnya susah ditebak …
    tiba2 ada siwon juga ,, sukses nambah puyeng baca nig ff … hmm
    tapi salut sama chingu yang bisa bikin ff-nya serumit ini …
    kalo boleh minta nih chingu ,, besok2 jangan buat ff yang serumit ini yah 😀
    daebak!!

  2. Ahh critanya makin seru dan bkin penasaran..
    Yunho pasti kakaknya yuuri..
    Ahh jadi pgen nangis bca ff nya..
    *ok abaikan*

    Skg lanjut part 6,, anneyong eonnie..

  3. Tapi mereka kakak b’adik kandung kan??
    Baguslah,,

    masih pjg ya cerita’x??

    Hmm
    seneng juga ada Siwon oppa,
    tapi Kyu nggak ada yaa..
    Hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s