[Prolog] The Queen of Money!

Title : The Queen of Money – PROLOG
Author : Jung Yuuri a.k.a ideaFina (@ideaFina),VanFlaKets91 (@van_alexasntani), & Keiriangel_ (@Keiriangel_)
Genre : AU, romance, comedy (maybe), family, friendship, school-life and…. I don’t know .___.
Rating : G
Main cast : 
Lee Hyeri (OC), Lee Jinki (Onew SHINee)

Support and other cast : menyusul .__.v
Disclaimer : this story, Lee Hyeri and OCs are belong to the authors. SHINee and other cast are belong to God and their family.

Haloha readers~~!
Ini FF kolaborasi pertamaku dengan dua ‘keluarga’ku (author di My Room ‘n SBC) :*
Seperti biasa, wajib komentar. Kalau gak mau komentar, mending jangan baca!
Ini FF juga sedikit nyindir lho~! Nyindir di mananya silakan kamu cari sendiri ya!
-Author Gahoel :p- 

***

Prolog by VanFlaKets91 (@van_alexasntani)

 

“Kau tidak tahu siapa aku? Huh! Amazing sekali! Baiklah kalau kau tak tahu. Aku Lee Hyeri, gadis terkaya di sekolah ini. Pemegang kendali kuasa karena aku adalah pemilik sekolah ini. Tidak ada yang tidak mengenalku, aku pintar dan aku kaya. Aku bisa membeli apapun termasuk cintamu. Tch, itu mudah bagiku! Cinta itu murah sekali untukku!”

—-HAPPY READING!—-


Malam terasa begitu dingin, seperti malam-malam yang sebelumnya. Jalanan kota Seoul juga sudah mulai sepi, tidak seperti jam-jam yang telah berlalu tak akan terulang kembali. Di sudut ibukota Korea Selatan tersebut, seorang gadis dalam balutan kaus putih berlapis cardigan hitam tengah melangkah terseok-seok dengan seorang lelaki bermata sipit yang tampak kewalahan menopang berat tubuhnya.

“Nona, sebenarnya rumahmu di mana?” tanya Pria Mata Sipit itu sambil terus menyeret kakinya yang rasa-rasanya seperti hendak patah. “Ugh, cantik-cantik berat…”

Gadis yang sedang menyusahkannya malah tertawa kecil sambil sesekali meracau, “Hik, dasar hik bodoh! Kenapa kau mau mengantarku kalau.. hik kau tak tahu rumahku!” Ia kemudian melanjutkan racauannya dengan bernyanyi-nyanyi kecil.

Pria berwajah manis itu hanya bisa mendesah kesal. Sedikit menyalahkan takdir yang menurutnya kejam karena dipertemukan dengan seorang gadis tengah berjalan sambil memegangi tembok, terhuyung-huyung dan menenteng sepasan sneakers putih. Ia tidak pernah tega membiarkan sesuatu yang buruk terjadi di depan matanya, apalagi ini wanita. Dia khawatir wanita mabuk ini akan kenapa-napa jika ia tinggalkan.

Tadinya ia enggan saat melihat siapa sebenarnya wanita itu, tapi jiwa kemanusiaannya jauh lebih tinggi.

“Kenapa, hik, kau diam saja?! Ayo antar aku! Eh, kau tampan, ya! Hahaha.” Lagi-lagi pria itu mendesah kesal sambil mendudukkan wanita itu di trotoar sementara dia sendiri sedang berpikir keras.

Bodoh, di saat seperti ini kenapa aku malah tidak tahu rumahnya! Pria itu bersungut di dalam hatinya, lalu mendekati si wanita yang masih asyik meracau tak jelas bak orang gila baru sembuh (?)

“Hei, kau tahu aku tidak? Aku Onew, juara umum sekolahan milikmu itu, lho…” ujarnya berusaha lembut dan berharap sedikit banyak wanita di depannya mengenal siapa orang yang berbaik hati menolongnya.

Wanita itu memandangi Onew dengan pandangan yang mampu membuat bulu roma Onew – lelaki tadi – meremang seketika. Pandangannya terlalu menyeramkan.

“Onyu? Nama aneh macam apa itu? Nama planet baru yang menggantikan Pluto? Hahahaha!” Wanita itu tertawa puas padahal dia tidak mengerti sama sekali dengan apa yang baru saja ia ucapkan. “Mirip Onta! Hahaha” Ia kembali melanjutkan, seakan tidak puas mengejek Onew dengan sekali sebut saja.

Onew memutar bola matanya ke atas, berpikir di mana letak keanehan namanya. Menurut dia, itu nama terkeren yang pernah ia pikirkan. Merasa tak perlu berpikir lagi dan tentu karena ia menyerah, Onew membiarkan dirinya sendiri duduk di samping gadis mabuk itu.

Dingin menembus ke balik kulit mereka. Entah setan apa yang merasuki Onew. Dengan sigap ia memakaikan gadis itu jaket miliknya, bertingkah seakan mau menghangatkan tubuh gadis di sampingnya yang, well, menyebalkan.

“Ya! Antarkan aku pulang!” Gadis yang sedang di bawah pengaruh alkohol itu menyadarkan Onew dari kekakuan yang tercipta di antara mereka.

“Bagaimana bisa aku mengantarmu pulang kalau…”

Ucapan Onew terputus tatkala tubuh gadis itu ambruk dan tidak mengeluarkan lagi suaranya. Dengan perlahan, Onew menghembuskan nafasnya kesal. Baiklah, sepertinya kesabaran Onew sudah di ambang batas.

***

 

06.15 KST

Pintu kayu tua yang hampir ambruk itu terhempas ke dalam dengan kasar, membuat seorang wanita yang kulit wajahnya mulai sedikit berkerut itu melepaskan genggamannya terhadap seutas benang wol dan sepasang jarum rajutnya, terkejut.

“Ya, Jinki-ya! Kenapa kau?” seru Nyonya Lee, umma Onew yang bernama asli Jinki, yang… yah, kurang disukai namja itu sendiri. Itulah alasan kenapa Onew merubah nama aslinya jadi aneh, ia kurang suka ‘Jinki’.

Onew tidak langsung menjawab, ia berlari ke kamarnya, “Aku sudah hampir telat! Waktu untuk ke sekolah kan..” Ucapannya terputus karena ia sudah ada di jarak yang jauh dari ummanya. Ya, dia sudah di kamar dan mengganti kaus putih kekecilan yang mencetak tubuhnya dengan seragam sekolah berlabel internasional miliknya.

“Umma, aku pergi.” Onew mencium pipi ummanya dan pergi setelah melepas senyum terbaiknya pada umma. Nyonya Lee menggeleng melihat kelakuan putranya itu dan kembali merajut saat Taemin – adik Onew – keluar dari kamarnya sambil mengucek kedua matanya.

“Hyung sudah kembali dari aktivitas mengantar susu, belum?” tanya lelaki tampan berambut coklat tua itu sambil duduk di samping Nyonya Lee, mengulurkan tangannya untuk meraih sekeping kue.

Nyonya Lee memukul lengan Taemin pelan, “Sikat gigi dulu!” Taemin mengerucutkan bibirnya. “Hyungmu baru saja pergi dengan sepeda tua milik appamu dulu…” balas Nyonya Lee.

Mendengar ‘appa’, mata Taemin yang masih tertutup setengah langsung terbuka lebar. Ia teringat appanya, Tuan Lee, yang stroke dan sedang mendekam di kamar utama tanpa adanya terapi atau pengobatan khusus seperti yang dilakukan orang-orang berduit jika mengalami hal serupa. Berduit? Jangankan membayar biaya Tuan Lee, dirinya saja sampai tidak sekolah untuk meringankan beban Onew yang bekerja keras menghidupi keluarganya. Mengingat kenyataan itu, ia jadi sedih. Merasa hampa karena tak bisa berbuat banyak.

Gadis itu berjalan cepat tanpa memedulikan teriakan para fansnya di sepanjang koridor sekolah. Ia hanya mempedulikan nasibnya di hari yang akan datang. Wajahnya menegang, tampak jelas bahwa dia sedang menahan emosinya.

Dia memang cantik laksana putri kerajaan, dengan harta melimpah dan fans segudang. Otaknya pun cerdas, tak heran kan bila banyak yang kagum padanya? Dia bahkan menempati posisi teratas sebagai seorang Super Diva sekolah yang notabene miliknya itu.

Dan dia berkuasa atas apa yang terjadi di antara setiap murid sekolahan milik ayahnya itu.

Bruk!

Sampai di kelasnya, ia bukan memasang wajah ramah kepada seorang yang duduk di salah satu  bangku di ruangan yang cukup memuat 40 orang murid itu. Sebaliknya, ia malah memasang ekspresi iblis.

“Pergi kau! Masih mending tampilanmu chic! Jangan cari gara-gara denganku,” semburnya kepada gadis berambut pirang dengan tampilan yang menurutnya sangat payah. Namanya Luna. Luna hanya bisa pasrah dibentak begitu dan menyingkir ke tempat lain. Jelas-jelas tempat tadi adalah tempat duduk Luna.

Sebegitu kuatkah kuasanya? Ya! Dia bisa melakukan apa saja untuk membalas dendamnya karena dia punya banyak ‘dayang’ yang mengejar uangnya. Dia tahu itu dan dia tak peduli. Toh baginya uang adalah segalanya. Uang adalah jiwanya dan uang … sahabat sejatinya.

“Arrgh!” Ia mengacak rambut hitam legamnya sambil menyandarkan diri di sandaran kursi. Memejamkan kedua matanya, membiarkan pandangannya menghilang sejenak. Ucapan-ucapan appanya sebelum ia masuk ke Porsche Carreta GT silver miliknya masih terngiang dengan jelas di telinganya bahkan sampai titik komanya.

 

“Aku tak mau tahu! Daripada kau terus menerus gonta-ganti pacar seminggu sekali, aku mau menikahkanmu saja dengan relasi bisnisku! Kau harus siap nanti malam!”

 

“Shit,” umpatnya sambil membuka kembali tatapan elangnya dan mendapati tiga orang yeoja yang menamai diri mereka ‘Jung Group’ berdiri di sampingnya. Ia memandang mereka malas, “Krystal Jung, Jessica Jung, dan Nicole Jung, apa mau kalian sekarang? Aku sedang tak mau membayarkan belanjaan kalian!”

Yeoja dengan rambut coklat panjang dan bertubuh paling bagus menatapnya sambil tersenyum dengan alis terangkat sebelah, “Kami tidak meminta itu sekarang, Hyeri yang manis…”

“Kami hanya bertanya pada sahabat kami, ada apa dengannya?” Jessica – yang berambut pirang melanjutkan ucapan Krystal. Hyeri – gadis angkuh tadi – menatap mereka dengan pandangan jijik, namun sedetik kemudian kembali menutupi tatapannya dengan sebuah kemisteriusan.

“Tidak ada apa-apa.” Hyeri membalasnya dengan singkat lalu mengibaskan tangannya, “Bisa tinggalkan aku sendirian? Aku tidak mau membahas apapun sekarang.”

Nicole, yang berambut pendek dan terlihat paling tegas menyela, “Wow, kau mengusir kami?” tanyanya dengan nada yang membuat Hyeri ingin melayangkan amarahnya kembali. Untung saja dia bisa mengontrol diri dan tersenyum amat manis. Inilah kemampuan terbaiknya, Poker Face. Dia bisa merubah ekspresinya dengan cepat dan ia sangat mensyukurinya.

“Ne. Bisa?”

“Whatever you, Princess. Satu yang jangan kau lupakan,” ujar Krystal berhenti sejenak dan menatap dua Jung lainnya dengan seringai. Matanya kembali beradu tatap dengan mata Hyeri. “Jangan lupa untuk selalu berbagi dengan kami!” Krystal yang malas berdebat saat melihat isyarat wajah Hyeri yang seperti hendak menyela langsung menarik tangan Jessica dan Nicole menjauhi Hyeri yang menatap kepergian tiga yeoja itu dengan muak.

Ia kembali bersandar, “Huh, mengganggu saja.”

***

 

Hyeri berdiri di antara Jiyeon dan Suzy sambil menjatuhkan satu persatu lembaran uang miliknya ke atas kepala seorang gadis malang berpenampilan biasa dan sangat ‘sampah’ di mata Hyeri cs.

“Kau berani sekali ya menumpahkan es krim itu ke seragam Jiyeon? Kau mau uang, kan jadi kau menarik perhatian, hah? Ini! Kuberikan banyak uang untukmu, semoga kau menikmatinya, Babe~!” ucap Hyeri sarkastik. Dia menyusuri rambut gadis malang di depannya dengan sentuhan dingin dan terakhir menjambaknya dengan kuat sampai terdengar ringisan kecil dari mulut korbannya.

“Jangan ulangi lagi! Aku bisa membeli apapun, termasuk dirimu! Sangat mudah bagiku.” Hyeri menyeringai dan menegakkan tubuhnya sambil menghempaskan gadis tadi kasar.

Suasana kantin mendadak sepi sedetik setelah kejadian itu, semua pasang mata menatap Hyeri dengan pandangan yang campur aduk. Pandangan yang bagi Hyeri terlalu… munafik.

Hyeri berjalan sedikit lebih depan dari Jiyeon dan Suzy yang mengekor di belakangnya sambil menebarkan pesona cantik mereka. Angin berhembus sedikit memainkan rambut ketiga primadona sekolah itu.

DRRT…

Ponsel Hyeri bergetar keras di saku roknya, tanpa basa-basi ia langsung menjawab panggilan itu.

“Hyeri-ya! Nanti pulangnya kau dijemput calon tunanganmu, yaaa~! Kau…”

Hyeri mendesah kesal mendengar suara ummanya saat itu. Inilah yang membuat moodnya rusak seharian ini. Benar-benar memuakkan.

“Tidak! Aku sudah punya…” Hyeri mengamati sekelilingnya. Memilah-milah setiap sosok makhluk tampan yang diciptakan untuk bersama wanita, hingga pandangan bak elang itu tertuju pada satu sosok di bawah sebuah pohon akasia tua di taman belakang sekolah. “…kekasih, dan kali ini kau tak akan bisa memaksaku, Umma.”

Klik!

“Huaaa! Onew keren sekali!” Jiyeon tiba-tiba bersuara, membuat Hyeri mengernyitkan dahinya seperti berpikir. Onew? Ia seakan tidak asing dengan nama itu. Gadis itu melayangkan pandangan bingung kepada gadis yang sedikit lebih pendek darinya itu. Merasa ditatap bingung oleh Hyeri, Jiyeon tersenyum dan menunjuk seseorang di kejauhan.

Pria dengan kacamata  berbingkai hitam yang duduk di bawah pohon akasia.

Perlahan senyum Hyeri terukir kecil, membuat wajahnya semakin cantik. Ia tahu siapa pria itu, pria yang sekaligus ia lirik saat bertelepon dengan ummanya. Pria berpipi chubby yang terlihat dewasa dan kekanakan dalam waktu bersamaan.

“Jiyeon-ah, kau tahu apa tentang dia?” Pertanyaan yang sukses membuat Jiyeon mengerutkan kedua alisnya terlontar begitu saja dari mulut kecil Hyeri. Ia berusaha menyusuri tatapan Hyeri dengan kedua mata coklatnya dan mendesah berat saat tidak menemukan apa-apa di sana.

“Dia anak tukang daging. Appanya stroke dan Onew sekarang bekerja serabutan untuk membantu ummanya membiayai dirinya, adiknya, pengobatan appanya dan kehidupan mereka. Memang kenapa? Jangan ambil dia! Dia jatahku!” Jiyeon menjawab lengkap dengan ancaman. Ia kenal betul Hyeri – gadis player yang tidak akan membiarkan lelaki tampan lewat di depannya tanpa menyandang predikat ‘mantan kekasih Lee Hyeri’.

Hyeri mengangguk dan tersenyum tipis. Dilipatnya tangan di depan dada sambil menatap lurus pada lelaki berwajah manis yang kini sedang menengadah, membuat sinar matahari pagi menyapa wajahnya, memperjelas setiap lekuk ketampanannya.

“Tidak apa. Dia bukan tipeku,” balas Hyeri sambil mengalihkan pandangan tepat saat tatapannya bertemu dengan tatapan Onew. “Ayo!” ajak Hyeri dan Jiyeon menarik tangan Suzy yang sedang digoda Taecyeon.

***

 

Onew membetulkan letak kacamatanya yang sedikit melorot dan kembali fokus membaca buku di tempat favoritnya, di bawah pohon akasia tua. Ini mengingatkannya kepada masa lalu, kepada seorang gadis kecil yang sekilas ia lihat ketika bermain di dekat akasia yang ada di daerah rumahnya.

Tapi, ia tidak fokus lagi pada bacaannya semenjak tatapannya bertemu dengan Lee Hyeri beberapa menit yang lalu. Lee Hyeri yang merepotkannya semalam dan berhasil membuatnya makin muak pada gadis itu karena tingkahnya pada salah satu yeoja di kantin pada jam istirahat pertama tadi.

“Hei! Sendirian aja?” Onew merasakan bahunya ditepuk, membuatnya harus mengalihkan perhatian lagi dari buku yang belum tamat ia selesaikan.

“Ah, Jonghyun. Di mana Jaejoong dan Kyu?” Onew merespon Jonghyun, lelaki tampan dengan tinggi 173 cm itu. Onew kembali menatap bukunya, menyusuri setiap kata yang tercetak di lembar demi lembarnya.

“Tidak tahu,” balas Jonghyun mengangkat bahunya cuek. “Onew-ssi, kapan kau mau bergabung dengan kami untuk hang out? Setiap diajak selalu menolak.” Kalimat yang mampu membuat Onew mengalihkan pandangannya sejenak. Ia menarik nafasnya.

“Maaf,” kata Onew pendek. “Aku harus bekerja setiap malam untuk mendapatkan biaya. Kau tahu sendiri bagaimana hidupku, kan?” Jonghyun mengerjapkan matanya, menyadari sinar kesedihan di sepasang mata sipit yang tengah beradu tatap dengannya.

Belum sempat Jonghyun membalas, sebuah tangan lengkap dengan sebuah kartu kredit bertuliskan ‘platinum’ terulur di hadapan keduanya yang kebetulan sama-sama agak menundukkan kepala mereka. Kontan keduanya mendongak dan menatap aneh kepada seorang perempuan berambut hitam legam yang sudah mereka kenal.

Siapa yang tidak kenal Lee Hyeri? Legendaris sekolah sejak setahun lalu?

“Aku bisa membantumu asal kau mau jadi pacarku.” Gadis itu bersuara dengan lantang, menyuarakan permintaan yang sukses membuat Onew serasa ditimpa batu. Udara dingin nan nyaman mendadak pergi, berganti dengan udara sesak. Ucapannya terdengar tegas, tanpa ragu.

“Siapa kau? Jangan harap kau bisa melakukan itu. Cinta tak bisa dibeli.” tanya Onew mendelikkan matanya tajam. Membalas tatapan menusuk yang seakan menjadi ancaman baginya.

Yeoja itu – Lee Hyeri – tertawa sinis dan memandang Onew dari ujung rambut sampai ujung kakinya dengan remeh dan jijik, “Kau tidak tahu siapa aku? Huh! Amazing sekali! Baiklah kalau kau tak tahu. Aku Lee Hyeri, gadis terkaya di sekolah ini. Pemegang kendali kuasa karena aku adalah pemilik sekolah ini. Tidak ada yang tidak mengenalku, aku pintar dan aku kaya. Aku bisa membeli apapun termasuk cintamu. Tch, itu mudah bagiku! Cinta itu murah sekali untukku!”

Onew menatap datar pada Hyeri. Tak bereaksi, tapi Hyeri dapat melihat kilatan emosi dan tersinggung yang begitu besar di balik manik mata bersinar lembut itu. Tidak ada rasa gentar melihat tatapan Onew. Satu poin lagi yang harus diperhatikan tentang Hyeri. Hyeri pantang menyerah.

Jonghyun melihati tangan Onew yang terkepal dan  rahang pria itu mengeras. Ia ngeri, ngeri bila Onew meledak dan memaki Hyeri. Tahu sendirilah, Onew kalau marah pasti sukses membuat semua diam.

Tidak dengan Hyeri.

“Jangan kira karena aku tidak sekaya kau, kau bisa membeliku! Dengar Ratu Uang, aku tak mau menghabiskan waktuku karena yeoja tidak tahu terimakasih sepertimu. Sampai jumpa!” Onew berdiri, hendak pergi. Sayangnya, Hyeri tak mau membiarkan Onew pergi begitu saja. Baginya hanya Onew yang bisa ia gunakan sekarang. Hyeri menangkap pergelangan tangan Onew dan menatapnya sinis.

“Kita lihat saja. Uang selalu menang, kupikir kau tidak mungkin tidak tergoda melihat ayahmu sembuh.” Hyeri melemparkan secarik kertas lusuh yang baru diremas.

Seusai berkata begitu, Hyeri melengos pergi di depan mata Onew yang mulai menyemburkan aura kemarahan. Kedua tangannya terkepal erat di sisi badannya. Ayahnya, Tuan Lee. Entah kenapa sekarang ia jadi bimbang.

Onew melirik tanah yang ia injak dan membungkuk, mengambil kertas yang ‘dibuang’ Hyeri.

Ia membacanya dengan perasaan tak menentu. Antara bingung, marah, dan sedih. Hyeri terkenal sangat kaya dan hambur. Tapi, apakah ia harus mengorbankan harga diri untuk menjadi pacar Hyeri, dicampakan gadis itu? Tapi uang yang diberikan Hyeri bisa membuat ayahnya menjadi lebih baik… minimal bisa bicara.

Tapi, apa motif gadis itu?

Kembali Onew melirik kertas dalam genggamannya dan membacanya dengan teliti.

 

Lee Hyeri, Senior Class C, 778xxxxxxx
Call me if you agree.

 

Onew menghembuskan nafas kesal dan melipat kertas itu menjadi beberapa lipatan sebelum memasukkannya ke dalam saku seragamnya.

Antara harga diri dan keluarganya, apa yang harus ia pilih? Mungkin ia butuh waktu semalaman untuk berpikir. Ini bahkan lebih sulit dari Fisika!

***

 

Hyeri PoV—

Dia pikir dia siapa, ah?! Penampilannya freak begitu saja sudah sombong. The Fucking Nerd, haruskah aku menjulukinya sekasar itu? Ah, apa terlalu kasar? Baik! Bagaimana dengan Si Miskin Sombong?

Kita lihat saja, Onew – itu kan namamu? – kalau aku akan bisa membuatmu menjadi alatku. Aku tak mau dijodohkan, itu metode terkonyol dan terbodoh di dunia. Kurasa kau pasti bisa menyelamatkanku.

Ah, anhi. Uangkulah yang menyelamatkanku. Sudah beberapa kali lembaran kertas itu menyelamatkanku  dari hukuman sekolah, tentu saja. Siapa sih yang mau menghukum anak pemilik sekolahan? Kalau perlu kubeli mereka semua untuk menjadi budakku! Bahkan teman dan sahabatku, cih, mereka hanya mendekati uang. Selama uangku ada, aku tak akan takut.

 

Uang selalu menang, bahkan uang bisa membeli keadilan dan hukum…

 

TBC

***

Ok, kembali lagi bersama author galauers ‘n gaje’ers ini. Yang lagi-lagi membawakan FF baru sementara FF lama belum rampung. Mian ya, gini nih kalo terlalu kreatif. #PLAAKK

Nah, seperti yang aku tulis di atas, ini FF kolaborasi aku (fina), vania, dan kei. Idenya datang dari magnae kita (vania) dan prolog ini ditulis sama Vania. Tapi untuk part-part selanjutnya kita bertiga bakalan ganti-gantian nulisnya. Emang bisa? Hoho~ bisa-bisa aja. Karena kami bertiga gaya penulisannya hampir mirip.

Walaupun kami bertiga terkenal dengan FF angst, tapi yang ini dipastikan gak. Itu setelah aku memohon-mohon pada kedua author dongsaeng-deul supaya gak angst (lagi), tapi mudah-mudahan gak gaje kayak FFku yang lain.  -__-

Gimana sama FFku yang lain? Lanjutannya kapan?

Tenang. Setelah sakit lumayan lama dan ujian susulan, akhirnya IP yang keluar bagus juga! Jadi liburan bakalan dihabiskan waktunya dengan nonton K-drama dan update FF. kekeke~ *ketawa evil bareng kyu*

So, ditunggu aja banjir FF dariku! Bye readers-nim. Muach muach. ^_^

 

15 pemikiran pada “[Prolog] The Queen of Money!

  1. onnie udh gk sabar bca kelanjutannya
    kyknya bkal seru,,,kasihan Onew… oppa yg sabar ya
    ayo onnie-onnie smua cpet nulisnya ya biar cepet aku bca kelanjutannya 🙂

  2. aaaaah eonniiiiiii~
    ada Onew Onew Onew Onew Oonyuuu~
    #plak
    lanjutannya lanjutannya.
    prolognya aja udah kereeen~
    Hyeri (bener gak nih?) berasa seperti cewek berduit yang kesepian ya?
    aaaah
    pokoknya gak sabar nunggu lanjutan fanfic ini.
    dan fanfic-fanfic eonni yang lainnya~
    hwaiting!

  3. Woww~

    ‘Uang selalu bisa menang’ aku suka kata-kata itu. Bener banget cuma ngasih ‘uang’ yg ehm, masalah selesai. Eh, ada KYU nyempil*?*.

    Lee Hyeri, coba aja ga sombong, pasti jadi cewek perfect,,,

    Onewww, omo~ jangan sedih ya 🙂 #peyukk onew *ditimpuk

    Lanjutannya ditunggu .. 😀 😀

  4. Annyeong
    I m a blog walker…it s nice blog 😉
    I didnt read ff when shinee was a main cast, but ur ff is good
    I like it so much

    Btw i m 93s lines, hbu?

  5. Hmmm onnie, im elfshawol, a half sone & a quarter of safer * lol

    like to read suju ff, especially kyu, ryeowo0k, n henry

    i just got trauma when read shinee ff, m0st of them bout married, n i couldnt imgne *aish. . . I think i m so over bout this

  6. annyeong, saya reader baru disini..biasanya sy sll baca di ffindo..hehehe
    ini prolognya az uda seru, apalagi lanjutannya yah..semakin penasaran..
    apa yg bakal onew pilih, apa harga diri ato keluarganya?
    itu ga suka banget sama kata2 hyeri : uang bisa membeli segalanya termasuk cinta..
    ckckck..bilang onew nerd pula, awas nanti jatuh cintrong *eh*
    dtunggu next updatenya 😀

  7. Jangan kira karena aku tidak sekaya kau, kau bisa membeliku! Dengar Ratu Uang, aku tak mau menghabiskan waktuku karena yeoja tidak tahu terimakasih sepertimu. Sampai jumpa!”

    suka banged kata2 ONEW>>>> yahm,, sampai kapan pertahanannya bisa kebal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s