In my Camera (Chapter7)

Tittle               : In my Camera (Chapter7)

Author            : IdeaFina a.k.a Jung Yuuri

Main cast        :

  • Jung Yuuri
  • Kim Jaejoong DBSK
  • Jung Yunho DBSK as Lee Yunho

Support cast   :

  • Park Yoochun DBSK
  • Shim Changmin DBSK
  • Kim Junsu DBSK
  • Choi Siwon Super Junior
  • Choi Minho Shinee (numpang lewat bentar, hehe)

Genre             : Romance, Angst

Rate                : G

Disclaimer: This story and YunJae is MINE! *dibacok Cassiopeia* 😛

Previous chapter:    1    2    3    4   5   6

 

~HAPPY READING~

Jaejoong’s POV

“Hyung, kau tahu Lee Yunho-ssi yang apartemennya sebelah kita?”tanya Junsu saat kami sarapan pagi.

“Yang pebisnis itu? Aku pernah mengobrol beberapa kali dengannya. Waeyo?”

“Malam dua hari yang lalu kami dengar ada ribut-ribut di apartemennya. Kami pikir ada rampok, jadi kami kesana. Tapi ternyata…”

“Ternyata apa?”tanyaku yang tiba-tiba jadi penasaran dengan cerita Changmin.

“Pintunya sedikit terbuka saat kami kesana, dan kami lihat ia sedang mengamuk. Ckckck…menyeramkan sekali…”Junsu geleng-geleng kepala.

“Mengamuk bagaimana?”

“Melempar semua barang-barang yang ada di dekatnya termasuk tivi flat seperti milik kita, yang kurasa jika aku membuatnya lecet sedikit hyung akan memukulku.”

“Separah itukah?”Aku agak tidak percaya dengan cerita Changmin dan Junsu. Karena walaupun aku tidak sering mengobrol dengan namja bernama Lee Yunho itu, tapi aku tahu ia orang yang  baik juga sangat berpikir logis.

“Sudahlah. Jangan menggosip terus.”kataku akhirnya setelah berpikir lama.

“Hyung pikir kami bohong?!”seru Changmin dan Junsu kesal. Aku tertawa karena mereka berbicara berbarengan padahal mereka bukan anak kembar. Mereka hanya merengut melihatku tertawa.

***

Beberapa hari yang lalu Appa bercerita mengenai masalah perusahaannya yang sedang mengalami kesulitan. Hampir sebagian besar penjelasannya tidak kupahami. Tentu saja, aku kan penyanyi, bukan pebisnis. Jadi kuputuskan untuk bertanya kepada yang lebih ahli. Tetangga apartemenku, Lee Yunho. Ia seorang pebisnis muda. Kudengar ia pewaris perusahaan ponsel terbesar itu. Jadi pasti ia mengerti banyak.

Aku menekan bel apartemennya. Tidak ada jawaban. Bukankah ini masih pagi? Seharusnya ia belum berangkat kerja kan? Aku menekan bel sekali lagi dan seorang namja bertubuh tinggi membukanya.

“Nuguseyo?”sapanya ramah. Siapa dia? Bukankah Lee Yunho itu hanya tinggal sendiri?

“Aku pemilik apartemen sebelah. Nan neun Kim Jaejoong imnida. Apa Lee Yunho-ssi ada?”

“Mianhata. Ia sedang tidur sekarang, sakit sejak dua hari lalu.”

“Sakit apa?”tanyaku agak kaget.

“Hanya sedikit stress dan kelelahan karena terlalu sibuk bekerja. Ada yang ingin kau sampaikan?”

“Ah, tidak, lain kali saja. Sampaikan salam semoga cepat sembuh padanya, tuan…”

“Choi Siwon. Aku sahabat Yunho.”

“Ne.Siwon-ssi.”Ia tersenyum, lalu menutup pintu.

Aku berjalan masuk ke lift yang berada di samping apartemen tetanggaku itu.  Aku melihat jam tanganku. Masih terlalu pagi untuk pergi ke kampus. Kenapa aku tidak mengajak Yuuri berangkat ke kampus bareng? Setelah sampai di basement dan keluar dari lift, aku memutuskan untuk menelponnya.

“Kau dimana?”tanyaku langsung saat ia mengangkat telponku.

“Di bis….” “Chankaman, Jaejoong-ssi! Nanti kutelpon lagi!”

Aku menatap ponselku bingung. Setelah mengatakan dua kalimat itu kenapa ia memutuskan telponku?

 

Yunho’s POV

“Park…Yuu..ri-ssi?”

Ia mempererat pelukannya. “Kumohon. Sebentar… saja… Biarkan aku memelukmu…”

Aku tidak tahu ia kenapa. Tapi akhirnya kubiarkan saja ia terus memelukku dari belakang. Awalnya aku merasa aneh. Setelahnya entah kenapa aku merasa nyaman dengan pelukannya. Aku tidak mempedulikan bajuku yang basah karena airmatanya. Kami tetap seperti ini selama sepuluh menit.

“Gomawo.”katanya setelah melepaskan pelukanku. Kenapa aku merasa kecewa saat ia melepaskan pelukannya?

“Ah! bajumu basah!”serunya kaget, aku berbalik memandangnya dan tersenyum melihat wajah basahnya yang tampak merasa bersalah. “Mianhe, aku sudah membuat bajumu basah.”

“Tidak apa-apa…”

Kemudian kami terdiam lama. Ia terus menunduk, dan aku bingung harus bersikap seperti apa atau harus mengatakan apa lagi. Aku ingin bertanya ada apa dengannya, dan kenapa ia memelukku, tapi sepertinya ini bukan karenaku. Mungkin ia hanya butuh tempat untuk melepaskan kesedihannya.

“Sebaiknya kita makan, aku sudah lapar.”kataku mencoba memecahkan kecanggungan di antara kami. Aku berjalan menuju kulkas, tapi ia memegang tanganku. Aku menoleh padanya.

“Aku saja yang memasak. Aku tidak mungkin membiarkan orang sakit memasak.”katanya lalu membuka kulkas dan mengeluarkan bahan-bahan masakan dan membawanya ke meja dapur.

Aku menarik kursi dari meja makan dan duduk disana, hanya diam memperhatikannya yang sedang memasak. Ternyata walaupun ia terlihat tomboy tetap saja ia seorang yeoja yang bisa memasak.

Yuu pasti sekarang sudah sebesar ini, apa ia juga sudah bisa memasak ya?

Aku menghentikan lamunanku saat ia meletakkan semangkuk bubur yang mengepul di hadapanku. Aku menatapnya tercengang.

“Kok bubur?”protesku.

Ia mengangkat alisnya, menyiratkan keheranan. Kenapa ia terlihat seperti Yuu? “Ini kan makanan orang sakit.”

“Tapi mana mungkin aku kenyang dengan air seperti ini?”gerutuku lalu mengaduk-aduk makanan cair ini.

Ia menggeleng-gelengkan kepalanya heran. “Biasanya orang sakit nggak nafsu makan. Tapi kau malah memikirkan kenyang atau tidak. Tenang saja. Aku sudah membuatkan sepanci penuh agar kau kenyang.”

Aku tertegun melihat reaksinya yang mengingatkanku akan bertahun-tahun yang lalu.

 

*flashback*

“Nggak mau. Kalo makan bubur mana bisa kenyang!”Yunho kecil menolak melihat bubur yang akan disuapkan oleh gadis cilik yang lebih kecil darinya.

Gadis cilik itu menggeleng-gelengkan kepalanya heran.“Biasanya orang sakit nggak nafsu makan. Tapi Yun malah mikirin kenyang atau nggak. Tenang aja Yun. Halmeoni udah bikin sepanci penuh kok biar Yun kenyang.”

*end of flashback*

 

Kenapa ia bisa mengatakan hal yang persis sama? Apakah dia Yuu?

“Yuu…”panggilku. “Kau Yuu kan?”

 

Yuuri’s POV

Aku tersentak kaget mendengar kata-katanya. Ia menatapku dengan mata menerawang. Apa ia mengenaliku?

“A..apa maksudmu? Siapa Yuu?”tanyaku gugup.

Kemudian ia mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu tertawa kecil, tapi tawa yang menyedihkan. “Kurasa aku sudah mulai gila…”gumamnya lalu menyendok bubur dan memakannya.

Aku memandangnya sedih. Apa kau seperti itu karena aku? Karena memikirkanku?

Aku menarik kursi dan duduk, menatapnya yang memakan buburnya dengan lahap. Ternyata walaupun sudah empat belas tahun berlalu ia masih tetap sama. Bukan jenis orang yang kehilangan nafsu makan saat sakit. Aku tersenyum kecil saat ia minta nambah untuk keempat kalinya.

Ia terlihat malu saat aku tersenyum melihatnya yang makan dengan lahap. “Buburnya enak…”katanya pelan.

“Aku tahu, dan kau juga kelaparan kan?”

Ia nyengir kecil. “Sekitar tiga hari ini aku sakit dan tidak nafsu makan, dan sekarang aku lapar sekali.”jelasnya dan kembali menghabiskan semangkok penuh bubur itu. wajahnya itu… bikin aku gatal ingin memotretnya. Akhirnya aku mengeluarkan Cassie dari tasku dan memotretnya tepat saat ia bergumam “Aahh…. Kenyaaanngggg….”

Kemudian ia melihat ke arahku dengan kaget. “Kenapa kau memotretku?!”protesnya berusaha mengambil cassie, yang langsung aku jauhkan dari tangannya.

“Kau lucu sekali, Lee Yunho-ssi!”kataku iseng, lalu kembali memotretnya. Tapi kali ini ia tidak protes, ia malah bergaya-gaya lucu, membuatku yang memotretnya tertawa-tawa.

Kemudian ia diam dan memandangku dalam-dalam. “Neomu yeppeo.”gumamnya, membuatku kaget. Apa ia memujiku?

“Nu..nugu?”jantungku mulai berdebar-debar dengan kencang.

“Neo. Kau cantik sekali Yuuri. tapi kenapa kau bergaya seperti namja?”tanyanya masih tetap menatapku. Tapi kali ini aku sudah bisa mengatasi debaran jantungku.

Aku menghela napas. Sebenarnya pertanyaan ini sudah sangat sering ditanyakan oleh orang-orang yang kukenal. “Karena segalanya akan lebih mudah jika menjadi namja.”

“Aku tidak mengerti maksudmu. Apa sulit sekali menjadi seorang yeoja?”

Sulit sekali, Yun. Karena aku sendirian. Apa kau tidak tahu kalau sulit sekali untuk seorang yeoja di bawah umur mencari pekerjaan?

Aku tersenyum kecil. Aku tidak mungkin mengatakan hal itu padanya. Tiba-tiba mataku terpaku pada sebuah bingkai foto di atas rak buku ruang tengah. Aku bangkit dan mengambil bingkai foto itu. Foto dua orang yeoja cantik sedang berangkulan berlatarkan menara jam besar yang bergaya antik dan terkesan mewah. Big ben? London?

“Mereka siapa?”tanyaku. Yunho menghampiriku dan melihat foto itu.

Wajahnya tersenyum lembut menatap foto itu, wajah lembut pertama yang kulihat setelah bertahun-tahun aku tidak melihatnya. “Mereka yeodongsaeng dan yeojachinguku.”

“Yeodongsaeng… dan yeojachingu…?”

“Ne. yang ini Lee Ji Eun yeodongsaengku,”tunjuknya pada gadis cantik berwajah ceria dengan rambut panjang berponi.“…yang ini Choi Sooyoung, sepupu Siwon, yeojachinguku.”tunjuknya pada gadis berambut panjang satunya yang juga sama cantiknya dengan gadis sebelumnya.

Rasanya seperti ada yang meremas jantungku dengan keras. Sakit sekali. Melihat Yun tersenyum selembut itu pada yeoja lain, bukan padaku. “Sepertinya kau sangat menyayangi mereka…”kataku dengan sekuat tenaga menahan perasaanku.

“Ne. Aku sangat merindukan mereka. Sekarang mereka masih kuliah di London. Mungkin baru tahun depan mereka kembali ke Korea. Membuatku tersiksa saja.” Ia tertawa kecil lalu menatapku dengan tersenyum. “Jika kau punya saudara atau namja chingu yang tinggal sejauh itu, kau pasti akan merasa sepertiku.”

Jangan berkata seperti itu Yun. Apa kau tidak tahu betapa menderitanya aku bertahun-tahun tidak bisa melihatmu?

Jangan… jangan mengingat mereka lalu menatapku… Kenapa kau terus menatapku dengan senyuman lembut untuk orang lain?

Aku terkejut saat ponselku berdering. Segera saja aku merogoh saku celana untuk mengambil ponsel dan menjawab panggilan itu.

“Yeoboseyo? Oppa?”jawabku. thanks, oppa! Kau sudah membuatku mengalihkan pandangan darinya.

Aku tertawa kecil mendengar kata-kata Yoochun oppa. Ia dan Ji Hye onnie mengajakku untuk makan malam bersama sebagai perayaan jadian mereka. Aku mematikan ponselku ketika mendengar Yoochun oppa yang mulai mengomel setelah aku memesan berbagai macam makanan yang aku inginkan untuk nanti malam.

Aku tertawa kecil dan menggelengkan kepala mengingat omelan Yoochun oppa tadi.

“Oppa? Namjachingu?”tanya Yun penasaran.

“Anhiyo. Oppa, kakak laki-lakiku, namanya Park Yoochun. Ia dan yeojachingunya mengajakku makan malam bersama merayakan jadian mereka.”Kenapa aku malah berbohong sih? Aku menggigit bibir kesal, kesal pada diriku sendiri. Rasanya kelenjar airmataku gatal ingin mengeluarkan airnya.

“Ternyata kau punya kakak laki-laki…”gumamnya dengan mata menerawang.

“Yunho-ssi, mianhata, aku harus pergi. Aku masih ada kuliah siang ini.”kataku dengan  terburu-buru ke pintu apartemen. Aku harus segera pergi sebelum mengatakan lebih banyak kebohongan lagi padanya.

“Ah, gomawo sudah datang dan memasakkanku bubur!”teriaknya sebelum aku menutup pintu. Aku berbalik memandangnya untuk terakhir kali. “Cheonmaneyo.”jawabku, lalu menutup pintu.

Setelah menutup pintu, airmata yang sedari tadi aku tahan, perlahan mulai mengalir. Kuputskan untuk turun lewat tangga yang sepi daripada lift. Aku tidak ingin ada orang yang melihatku menangis disana.

Kenapa aku bodoh sekali?

Berharap jika bertemu dengannya, kami akan kembali seperti dulu. Empat belas tahun bukan waktu yang sebentar. Kenapa aku tidak pernah berpikir jika dalam waktu sepanjang itu ia akan punya keluarga baru? Orang-orang baru yang akan dicintainya dan juga mencintainya? Jika ada mereka, ia tidak perlu melihat ke masa lalu.

Hanya aku yang tetap berada di belakang. Hanya aku yang masih sendirian…

 

Author’s POV

“Kau kenapa, Yuuri-ah?”tanya Ji Hye cemas, saat ia menyadari jika ini sudah kesekian kalinya ia dan Yoochun berbicara tidak mendapat tanggapan yang bagus dari Yuuri. Yuuri hanya menjawab ‘Ne’, ‘hm?’ atau kata-kata pendek lainnya selama sejam ini. Ia juga tidak berkomentar melihat apartemen Yoochun yang jadi lebih rapi dari biasanya. Bahkan pasta kesukaannya-buatan Ji Hye- hanya diaduk-aduk tanpa dicicipinya sedikitpun.

Yuuri masih mengingat pembicaraannya dengan Yunho tadi pagi. Dan mata Yunho yang menyiratkan betapa namja itu sangat mencintai kedua orang gadis di dalam foto itu, membuat hatinya sangat sakit. Yuuri menyadari, jika Yunho pantas mendapatkan orang-orang baru yang mencintainya, daripada memikirkan dirinya -orang dari masa lalu- yang bahkan Yunho tidak tahu sama sekali keberadaannya.

Satu hal yang paling menyakitkannya. Kenapa selalu aku yang sendirian?

“Yuuri-ah?”panggil Yoochun.

“Oppa… rasanya menyedihkan sekali ya tidak punya siapa-siapa?”kata Yuuri pelan masih dengan mata menerawang. Yoochun dan Ji Hye terkesiap mendengar pertanyaan yang sejak dulu paling dihindari Yuuri. Lalu Yuuri menatap Yoochun dan Ji Hye dengan mata yang menyiratkan kelelahan dan kesedihan yang sangat. “Apa boleh aku mengatakan kepada orang lain jika oppa dan onnie adalah kakakku?”

Tangis Ji Hye merebak. Ia langsung bangkit dari duduknya, menghampiri Yuuri yang duduk di hadapannya dan memeluk gadis yang masih duduk itu dengan erat.

“Kenapa onnie menangis?”tanya Yuuri lirih. Ia bangkit dari duduknya, agar posisi mereka berpelukan lebih nyaman. “Aku sangat menyayangimu, Yuuri-ah… Kau sudah seperti adikku…”Ji Hye berbisik di antar isak tangisnya.

Kemudian Yoochun bangkit dan memeluk mereka berdua.

“Sejak dulu aku memang kakakmu, Yuuri-ah…”ucapnya pelan. Kedua kalimat itu mampu menciptakan sedikit ketenangan di hati Yuuri. Yuuri menangis terisak-isak di pelukan Ji Hye dan Yoochun.

Setelah beberapa lama mereka berpelukan dan menangis, Yoochun melepaskan pelukannya. Ji hye pun melepaskan pelukannya, lalu mengusap airmata di pipi Yuuri.

“Yuuri-ah… Jika aku kakakmu, maka Ji Hye adalah kakak iparmu.”kata Yoochun dengan mengedipkan mata.

“Siapa yang mau menikah denganmu!”kata Ji Hye protes.

“Tentu saja kau!”

“Kau belum melamarku. Aku tidak menerima lamaran seperti itu!”

Yuuri tertawa kecil melihat pertengkaran mereka berdua. “Gomawo, oppa, onnie…”ucapnya lirih, tapi dengan perasaan yang berbeda, perasaan bahagia karena memiliki kedua orang kakak sebaik mereka.

Ji Hye dan Yoochun kembali memeluk Yuuri dengan erat.

 

Author’s POV

Yuuri membereskan barang-barangnya yang berada di studio. Hari ini adalah hari terakhirnya bekerja di studio pemotretan ini. Sebenarnya ia senang bekerja disini, apalagi semua orang yang berada disini sangat baik terhadapnya dan mengajarinya banyak hal. Tapi ia merasa kurang sreg dengan objek fotonya. Ia lebih suka memotret alam daripada orang.

“Kau mau kemana?”tanya Jaejoong saat melihat Yuuri yang kerepotan membereskan barang-barangnya.

“Hari ini aku berhenti bekerja disini.”kata Yuuri.

“Kenapa berhenti?”tanya Jaejoong kecewa.

“Tidak cocok denganku. Lagipula kenapa kau terlihat sedih begitu? Kita kan satu kampus, jadi walaupun tidak bertemu disini kita kan masih bisa ketemu di kampus.”kata Yuuri dengan senyuman yang membuat jantung Jaejoong berdebar kencang.

“Ah iya, kau benar juga.”ucap Jaejoong tersenyum lega. “Oh ya, karena photobook albumku sudah jadi. Hari ini aku akan mentraktir semua kru. Tinggalkan saja barang-barangmu itu. sekarang kita pergi! kajja!”katanya lalu menarik tangan Yuuri.

Ternyata Jaejoong mengundang semua kru makan di sebuah restoran yang bergaya nature dan terdapat taman yang bagus. Yuuri memandang restoran itu dengan takjub.

“Bagus sekali…”gumamnya kagum. Jaejoong terkekeh mendengar yeoja disampingnya ini. Ia menarik tangan yeoja itu untuk ikut duduk bersama di meja makan bersama kru lainnya.

Selama makan malam mereka mengobrol dengan akrab dan memberi selamat pada Jaejoong yang sudah menyelesaikan photobook albumnya dan akan segera memulai promosi album barunya. Saat membahas hal ini Yuuri hanya diam. Masalahnya ia tidak mengerti sama sekali mengenai album rekaman Jaejoong atau promosi lewat photobook. Ia tidak pernah menyentuh hal-hal seperti itu, dan ia sama sekali tidak tertarik. (=__=)’

Kurasa aku benar keluar dari studio, batinnya.

Akhirnya untuk mengatasi rasa bosannya Yuuri mengeluarkan kamera kesayangannya dari tasnya dan beranjak ke taman. Naluri alamnya muncul melihat taman yang tertata sangat indah itu. ia mulai mengitari taman itu dan memotret sana-sini. Ia memandang hasil jepretannya dengan puas.

“Aaahhh… aku ingin naik gunung…”gumamnya penuh dengan kerinduan.

“Sedang apa?”

Yuuri berbalik dan mendapati Jaejoong menghampirinya dan tersenyum. Yuuri mengangkat kameranya menunjukkan bahwa ia sedang memotret.

“Kenapa kau tidak ikut mengobrol dengan yang lain?”

“Aku bingung dengan apa yang kalian bicarakan. Sejujurnya aku tidak mengerti dengan promosi albummu atau segala macam itu. Makanya aku merasa sangat bosan tadi. jadi aku kesini.”

“Kau berhenti bekerja di studio karena tidak mengerti mengenai hal-hal semacam itu?”

“Ne. Aku lebih suka dan lebih mengerti tentang fotografi alam.”kata Yuuri lalu mengarahkan lensa kameranya pada burung yang bertengger di atas pohon.

Jaejoong menarik tangan Yuuri pelan. “Waeyo?”tanya Yuuri bingung.

“Apa kau tidak lihat ada model setampan aku disini? Kenapa kau malah memotret burung?”

Yuuri tertawa mendengar kata-kata narsis Jaejoong. “Aku lebih tertarik pada burung daripada model tampan sepertimu.”

Jaejoong cemberut. “Kau ini. Setidaknya ayo kita foto bareng!”ajak Jaejoong berusaha merebut kamera Yuuri.

“Eits! Tidak bisa.”kata Yuuri berusaha menjauhkan kameranya dari Jaejoong.

“Cassie hanya dipakai untuk memotret alam dan hal-hal yang kusuka. Lagipula hanya orang yang benar-benar aku cintai yang akan kupotret dengan cassie.”jelas Yuuri, lalu wajahnya berubah sendu. “Sama seperti aku mencintai appa…”

Jaejoong hanya terdiam mendengar jawaban Yuuri.

Apa suatu saat nanti kau akan memotretku dengan cassie-mu itu? apa nanti kau akan mencintaiku? Batin Jaejoog.

***

Yuuri membelalakkan matanya saat melihat buku tabungannya.

“Cuma sisa segini? Cuma sisa segini?! Andwaee!!”jeritnya lalu mengacak-acak rambut panjangnya dengan kesal. Kemudian ia berhenti melakukannya saat ia sadar banyak orang yang melihatnya heran. Ia merapikan rambutnya dan membungkuk kecil pada orang-orang yang melihatnya.

“Jweseonghamnida, jweseonghamnida…”ucapnya. Kemudian ia berjalan cepat meninggalkan ATM center itu.

Yuuri berjalan ke halte bis dengan kesal. Uang di tabungannya menipis. Sudah beberapa hari ini ia berhenti dari pekerjaannya di studio, dan ia tidak ada pekerjaan baru lagi. Tapi ia tidak menyangka uangnya hanya tersisa sesedikit itu. Hanya cukup untuk seminggu itu pun kalau berhemat. Dan ia sama sekali tidak ingin menyentuh tabungan yang berisi warisan dari ayahnya. Uang itu akan ia sentuh saat memang tidak ada lagi yang bisa dilakukannya.

Saat tiba di kampus Yuuri tampak benar-benar tidak semangat. Pikirannya berputar-putar mencari ide mau bekerja apa. Saking fokusnya ia bahkan tidak mendengar Jaejoong memanggilnya.

“Aaaahhhh!! Aku harus mencari uang kemana?!”gerutunya kesal.

“Kau perlu uang?”tanya Jaejoong yang kini sudah berada di sebelahnya.

“Tentu saja! di dunia ini siapa yang tidak butuh…”Yuuri menghentikan kata-katanya saat melihat Jaejoong yang berada di sebelahnya dan menatapnya penasaran. Ia menjerit kaget.

“Kenapa kau mengagetkanku!”omel Yuuri.

Jaejoong tertawa kecil. “Aku tidak mengagetkanmu. Daritadi aku panggil kau tidak dengar. Sibuk memikirkan apa sih? Kau perlu uang?”

Yuuri memanyunkan bibirnya. Ia tidak suka ada orang yang tahu masalah keuangannya. “Bukan urusanmu.”katanya lalu pergi meninggalkan Jaejoong.

“Ya! Yuuri-ah!”panggil Jaejoong. Yuuri tidak menyahut. Jaejoong tersenyum kecil.

“Sepertinya aku harus membantumu kali ini.”gumamnya. ia memencet ponselnya dan menghubungi satu nomor.

“Yeoboseyo, Minho-ah?”

 

Yuuri’s POV

Aku memasuki hotel berbintang lima yang hari ini menjadi tempatku bekerja. Kemarin saat aku sedang putus asanya mencari pekerjaan, Choi Minho, kenalanku di jurusan musik, menawarkanku untuk menjadi fotografer di acara perusahaan keluarganya. Dengan senang hati aku menerimanya. Pekerjaanku hanya memotret suasana acara itu dan bayarannya cukup untuk makanku sebulan. Hehe.

Saat aku sedang asik-asiknya memotret, aku melihat Yunho dan Siwon ada di antara kerumunan tamu. Aduh, kenapa saat-saat seperti ini aku harus melihatnya disini? Sudah seminggu ini aku tidak bertemu dengannya, bahkan aku juga tidak mengangkat telpon dan membalas smsnya. Aku tidak ingin bertemu dengannya dulu. Aku masih harus menyiapkan hatiku jika harus bertemu dengannya lagi. Hatiku masih merasa sakit mengingat foto kedua yeoja di apartemennya itu.

Aku berusaha bersembunyi darinya. Kemudian saat aku berpikir tidak mungkin bersembunyi darinya di tempat itu, aku pergi ke pojok ruangan dan menelpon Minho. Aku mengatakan ingin berbicara dengannya. Kemudian saat ia menghampiriku aku mengajaknya keluar ruangan.

“Kau kenapa?”tanya Minho heran melihatku yang terlihat sangat gugup.

“Mianhe, Minho-ssi. Aku tidak bisa sampai selesai disini.”kataku dengan terburu-buru. Ia menatapku bingung.

“Waeyo? Yuuri, kenapa kau terlihat gugup begitu?”

“Aku ada keperluan mendesak. Kau boleh membayarku setengahnya saja karena aku tidak bisa sampai selesai…”Kemudian aku melihat dari luar Yunho berjalan mendekati pintu. Aku langsung panik. “…sudah ya, aku pergi dulu!”kataku lalu langsung berlari.

“Yuuri! Ya! JUNG YUURI!”teriak Minho. Aduuhh… kenapa ia malah berteriak sih! Aku memutuskan untuk tidak menghiraukan panggilannya dan terus berlari. Dan baru berhenti berlari saat sudah sampai diluar hotel itu.

 

Siwon’s POV

Aku baru keluar dari toilet saat melihat Minho, namdongsaengku berbicara dengan seorang yeoja di dekat pintu ruang pesta. Siapa itu? yeojachingunya? Aku tidak bisa melihat wajahnya karena terhalangi tubuh Minho. Yang bisa kulihat hanya rambut lurus panjangnya.

Aku ingin menyapanya, tapi langkahku terhenti saat mendengar Minho berbicara. “Waeyo? Yuuri, kenapa kau terlihat gugup begitu?”

Yuuri?

Saat mendengar nama itu, hanya satu orang yang terlintas di pikiranku. Park Yuuri. teman Yunho yang saat itu menjenguk sahabatku itu ke apartemennya. Dan ternyata memang benar. Minho sedikit menggeser posisi tubuhnya sehingga aku bisa melihat wajah yeoja itu. ya, dia memang Park Yuuri. Mereka saling kenal? Ah ya, Minho dan yeoja itu kan satu universitas.

“Aku ada keperluan mendesak. Kau boleh membayarku setengahnya saja karena aku tidak bisa sampai selesai…”Yeoja itu terdengar panik. “…sudah ya, aku pergi dulu!”Yeoja itu berlari.

“Yuuri! Ya! JUNG YUURI!”teriak Minho.

Aku tersentak mendengar teriakan Minho. Jung… Yuuri? aku tidak salah dengar kan?

“Aish! Dia kenapa sih? Tidak biasanya dia seperti itu”ucap Minho dengan nada heran. Aku menghampiri Minho dan menepuk bahunya.

“Dia siapa?”tanyaku.

“Ah, hyung. Dia teman kampusku. Fotografer. Aku menyewanya untuk jadi fotografer di acara kita.”

“Siapa namanya?”

“Jung Yuuri.”

Aku mengernyit. Jadi aku memang tidak salah dengar? “Bukannya Park Yuuri?”

“Park… Yuuri?”Minho terlihat bingung.

“Ne. dan bukannya dia punya kakak bernama Park Yoochun?”tanyaku lagi. aku mendengar dari Yunho jika yeoja itu punya kakak bernama Park Yoochun.

“Park Yoo..chun…? Setahuku Park Yoochun itu sunbaenya Yuuri di jurusan fotografi. Mereka memang dekat sekali sudah seperti kakak-adik. Tapi mereka bukan saudara kandung. Nama keluarganya saja beda. Jung dan Park.”

Aku tertegun mendengar penjelasan Minho. Jadi aku tadi benar-benar tidak salah dengar rupanya.

“Hyung mengenalnya?”tanya Minho, tapi aku tidak menjawabnya. Pikiranku berkecamuk.

Kenapa ia berbohong? Kenapa ia tidak mengatakan kalau ia adalah Jung Yuuri? Apa dia adalah Jung Yuuri yang dicari Yunho selama ini?

 “Apa yang kau katakan tadi benar, Minho-ah?”

Aku terkejut mendengar suara itu. Saat berbalik kulihat ia memandangi Minho tajam. Dari matanya bisa kulihat berbagai perasaan berkecamuk di dalamnya.

 

Yunho’s POV

Aku mencari-cari Siwon sejak tadi. Rasanya bosan sekali berada di pesta ini tanpa sahabatku itu. Kemudian aku memutuskan untuk mencarinya keluar. Saat akan mendekati pintu aku melihat Minho berbicara dengan yeoja yang kukenal. Park Yuuri. Aku memutuskan untuk menyapanya, tapi ia terlihat terburu-buru lalu berlari pergi.

“Yuuri! Ya! JUNG YUURI!”

Aku tersentak mendengar teriakan Minho. Jung… Yuuri?

Kemudian kulihat Siwon menghampiri Minho dan menanyakan tentang Yuuri. Saat mendengar penjelasan Minho mengenai Yuuri dada kiriku terasa nyeri. Jadi selama ini aku sudah bertemu dengan Yuu dan aku tidak sadar? Apa ia tahu aku adalah Yun? Tidak. Kurasa ia tidak tahu. Jika tidak tahu mengapa ia berbohong padaku? Ini pasti tidak benar.

“Apa yang kau katakan tadi benar, Minho-ah?”tanyaku tajam pada Minho. Siwon dan Minho terkejut melihatku. Perasaanku berkecamuk. Rasanya senang, sedih, marah, kecewa, entahlah, aku tidak tahu lagi. Yang paling kurasakan adalah hatiku rasanya sakit sekali.

“Dia… benar-benar Jung Yuuri?”

Minho menatapku dan Siwon bergantian. Ia terlihat bingung.

“Dia memang Jung Yuuri. Hyung-deul mengenalnya?”

“Dimana ia tinggal? Dengan siapa ia tinggal?”tanyaku lagi.

“Aku tidak tahu dia tinggal dimana. Tapi yang aku tahu dia yatim piatu dan tinggal sendirian.”

“Kau tahu apa lagi tentangnya?”

“Ng… ah iya! Almarhum ayahnya itu dulu fotografer senior yang terkenal. Namanya Jung Il suk.”

Airmataku langsung menetes mendengar kata-kata Minho. Kemudian aku langsung berlari keluar tanpa menghiraukan panggilan Siwon. Hanya satu yang kupikirkan saat ini. Jung Yuuri. Aku harus menemukannya. Aku tidak ingin kehilangan dia lagi.

Kemudian aku melihatnya. Ia duduk di bangku taman hotel. Menatap langit malam yang gelap dengan wajah sendu. Aku menghampirinya dengan gugup.

“Ah! Cassiopeia!”

Aku refleks melihat langit saat mendengar ucapannya. Aku tersenyum. Memang ada Cassiopeia, rasi bintang favoritku.

“Wah… sudah lama tidak melihatmu cassie! Terima kasih ya selama ini kau sudah menemaninya saat ia kesepian, terima kasih karena kau sudah menjaganya. Dia tumbuh dengan baik. Terima kasih karena sudah menemani Yun…”

Jantungku berdetak kencang saat melihat airmata menetes di pipinya. Kemudian airmataku menetes lagi. Jadi benar kau mengenalku?

 

Jaejoong’s POV

            Hari ini aku mulai sibuk mempromosikan album baruku. Sebentar lagi aku comeback, jadi banyak hal yang harus kupersiapkan. Aku harus latihan vocal dan dance dari pagi sampai sore. Rasanya lelah sekali.

Entah kenapa disaat lelah seperti inipun wajah yeoja itu selalu terbayang.

Kemarin saat kudengar ia mengeluh masalah uang, aku mengerti ia sedang kesulitan keuangan. Tapi aku tahu ia tipe yeoja yang mandiri dan tidak suka dikasihani, jadi aku memutuskan untuk membantunya lewat jalan lain. Aku tahu hari ini keluarga Minho ada acara besar, dan pasti butuh fotografer. Jadi kusarankan untuk Minho agar ia menawarkan pekerjaan itu kepada Yuuri, dan ia setuju.

Saat ini Yuuri pasti masih di tempat Minho. Aku pun memutuskan untuk melajukan mobilku kesana. Aku merindukannya. Aku ingin melihatnya.

 

Yuuri’s POV

Tadinya aku mau langsung pulang setelah keluar dari tempat pesta itu, tapi entah kenapa saat melihat langit malam yang hari ini sangat cerah aku jadi melangkahkan kakiku ke taman. Tamannya indah sekali, aku sempat terpana melihatnya. Hebat sekali yang bisa mendesain taman seindah ini. Jika aku punya banyak uang aku ingin sekali rumahku punya taman seindah ini. Setelah merasa cukup melihat-lihat taman indah ini, aku memutuskan untuk duduk di bangku taman. Aku ingin melihat bintang dari sini.

Aku memandangi langit malam yang penuh bintang sambil mencari-cari rasi bintang favoritku. Rasi bintang favorit Yun yang menjadi rasi bintang favoritku. Senyumku mengembang saat melihatnya.

“Ah! Cassiopeia!”ucapku senang. “Wah… sudah lama tidak melihatmu cassie! Terima kasih ya selama ini kau sudah menemaninya saat ia kesepian, terima kasih karena kau sudah menjaganya. Dia tumbuh dengan baik. Terima kasih karena sudah menemani Yun…”

Airmataku menetes perlahan. Rasanya hatiku sakit sekali. Sampai kapan aku harus berbohong pada Yun? Aku merindukannya. Aku ingin memeluknya. Aku ingin sekali mengatakan padanya betapa aku menyayanginya, sangat mencintainya. Ia satu-satunya yang kumiliki di dunia ini. Tidak, bukan. Ia satu-satunya hal yang kuinginkan di dunia ini. Karena tidak mungkin kan aku meminta kedua orangtuaku dan halmeoni kembali.

“Kau kenapa?”

Aku tersentak mendengar suara itu. Tiba-tiba Yunho menghampiriku dan duduk di sebelahku. “Kau menangis? Ada masalah?”

Aku langsung buru-buru menghapus airmataku. “Aku hanya sedang mengingat kedua orangtuaku yang sudah tiada…”jawabku tidak sepenuhnya berbohong. Tadi memang selain dirinya aku kan juga memikirkan appa juga eomma.

Airmataku menetes lagi. Eomma… aku bahkan tidak melihat bagaimana ia dikubur.

Kurasakan punggungku dielus dengan lembut. Aku menoleh ke kanan dan melihatnya tersenyum sedih padaku. “Uljima…”ucapnya. Bukannya berhenti menangis, aku malah semakin terisak-isak. Lalu sedetik kemudian kurasakan tangan besar itu memelukku erat.

“Yu…Yunho-ssi?”ucapku bingung. Aku berusaha melepaskan pelukannya, tapi ia memelukku semakin erat.

“Jangan dilepas. Biarkan seperti ini…”ucapnya lirih. Aku semakin terisak-isak di dalam pelukan hangatnya. Tidak. Aku tidak bisa menjauh darinya. Aku tidak bisa menjauh dari Yun. Aku terlalu menyayanginya.

 

Jaejoong’s POV

Aku sampai di Grand Hotel, tempat keluarga Minho mengadakan pesta perusahaan. Karena aku bukan tamu undangan sudah pasti aku tidak bisa masuk. Jadi aku memutuskan untuk menelponnya saja, memberitahu kalau aku datang menjemputnya. Berkali-kali ia kuhubungi, tapi tidak diangkatnya juga. Sepertinya ia masih bekerja, lebih baik aku menunggunya disini sambil berkeliling melihat-lihat hotel mewah ini.

Aku memutuskan untuk berjalan ke taman hotel. Kudengar taman hotel ini bagus sekali, jadi mumpung aku sudah berada disini lebih baik aku melihatnya.

Ternyata memang benar, tamannya bagus sekali. banyak pohon-pohon rindang yang mengelilingi taman yang berbentuk lingkaran itu. Ada air mancur besar di tengah-tengah taman dan di sekeliling  air mancur itu terdapat bunga-bunga beraneka warna.

Beberapa bangku taman tersebar di sekeliling taman, dan ada jalan setapak yang menuju bangku taman tersebut, selain jalan setapak, taman itu ditumbuhi rumput-rumput hijau segar. Hal kedua yang aku pikirkan saat melihat taman ini selain kata indah, adalah aku ingin mengajak Yuuri kesini.

Aku melangkahkan kakiku menyusuri jalan setapak menuju ke salah satu bangku taman. Kemudian aku melihat seseorang yang kukenal duduk di bangku taman. Lee Yunho? Sedang apa  dia disini? Siapa yang sedang dipeluknya?

Sebenarnya aku penasaran dengan apa yang kulihat, tapi kurasa tidak baik mengintip seperti ini, walaupun tidak sengaja. Saat aku memutuskan untuk berbalik pergi, yeoja yang dipeluk oleh Lee Yunho itu melepaskan pelukannya. Aku terkejut saat melihat wajahnya.

Jung Yuuri?

Kenapa mereka berpelukan?

Kemudian kulihat Yuuri tersenyum lembut pada Yunho. Kenapa ia tersenyum pada namja itu? Apa namja itu…?

Aku mencengkeram dada kiriku dengan keras saat melihat namja itu mencium kening Yuuri. Mencium kening yeoja yang kucintai.

~TBC~

Ini FF pertamaku yang bikinnya bener2 ngebuat aku desperate banget, cz draft ceritanya ilang, udh gtu pas masa2 sibuk kuliah, jadinya lupa cerita lanjutannya gimana. Makanya updatenya lama banget! Ni FF menurutku sih awalnya amburadul, tapi tiap chapt kuperbaiki terus. Aku butuh pendapat readers nih bwd FF ini. Kira2 perlu dilanjutin apa kuremake aja?

Please leave ur comment yaa ^^

 

19 pemikiran pada “In my Camera (Chapter7)

  1. Critanya kq jd sad bgt gni..
    Aq jd pgen nangis bneran ne eonnie..
    Jd makin penasaran ma endingnya..
    Siapa yunho?! Trz yuuri sukanya ma siapa?! Trz gmn lnjutan?!
    Ahh,, makin penasaran dan bkin frustasi aja nech.. *lebay*

    Ayo dlanjutin eonnie,, aq gag sbar pgen tau lanjutannya..
    Tpi tetep seokyu.nya jgan lama” jg.. ^^

    1. wah bener nih penasaran sm lanjutannya? hmm~ ntar deh kubikin lanjutannya,,
      perkiraan part 10 ending kok.
      seokyu malah lebih bikin sedih lg menurutku, cz aku bikinnya ampe bikin mata berkaca-kaca gtu *abis makan sambel pedesnya gk ilang2,, kekeke~ 😛 * *tampol author*
      ni lg kukerjain part 6nya, tp krn rencananya mw kubikin panjang jd mungkin bakal agak lama.
      jadi sabar ya, cz klo buru2 ngerjainnya karena readers yg pengen cepet2, FFnya malah jadinya gk bagus. aku tuh cukup perfeksionis urusan tulis menulis, mknya aku slalu bikin seperfek mungkin menrutku, mknya FFku jrng ada typo kan? 😀

      1. Iya nc penasaran bgt ma endingnya..
        Awalnya sc aq gag bgtu trtarik ma ff yg cast.nya Dbsk eon kn aq elf,, tp byz bca ff nya eonnie aq kq jd suka ya.. Haha #daebak dc FF nya eonnie ^^
        Waduh byk bgt ampeg part 10,, msh lama donk endingnya.. Huhu *nangis breng jae oppa*

        Bwt seokyu,, hmm.. Gpp dc nggu agak lama yg pntg critanya hruz mkin complicated bgt ya.. #maksa.com

        Ehem.. Ada yg lg narziz nc.. Hehe
        Aq akui dc,, ff nya eonnie emg jrang typo bgt.. Plg cman bbrpa kta.. Daebak bwt eonnie ^^
        Ayo yg semangat lg lnjutin ff nya,, saya bntu doa saja.. *komat-kamit bca mantra breng kyuppa* haha

      1. Nde…
        readers baru.. 🙂
        annyeong eonnie..
        salam kenal
        ne, cassie..^^

        eonnie… kpn ada klnjutnnya?
        masih lama ya?
        nae,, benran pensarn
        sma klnjutnnya !!????

        cahyoooo eonnie !!! ^^

  2. Nggak amburadul kok chingu, malahan bagus sx,.

    B’syukur loh udah sampai chapt 7,

    mau dibikin 8part? Ato?

    Menurut aq lanjutin aja, soalx aq penasaran dgn kelanjutan’x,
    lagian ff’x Fina sllu bagus kok,
    bukti’x aq & reader lain suka..

    Trus gimana tuh Yunho sama Yuuri?

    Waaahhhhh
    Jaejoong oppa salah paham..

  3. lnjutin dOnkz eonni…
    pnasaran nie…
    tpi publish na jngn lma” bngetz y..
    Hehehehe…

    jj slah paham thu kyk na…
    msh bngung m hubngn na yunho m yuuri…
    d part slnjut na ada flashback na g eonni???

  4. bingung deh sama hbngan yuuri ma yunho ,,
    lanjut trs chingu , pngn tau akhir nya ni ff ,,
    bkin penasaran begete

  5. Bagus kok un.. Ff nya nyentuh banget. Klw ak bacanya sih dapat banget feelnya tp gk tw deh klw readers yg lain..

    Klw gak diremake juga gpp un.
    Tapi klw ad waktu luang dan dapat idenya boleh deh tuh dremake khekhekhe ~
    Hwaiitng un !!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s