If My Heart Beats for You

Judul : If My Heart Beats for You

Author : ideaFina a.k.a Jung Yuuri

Maincast:

  • Lee Sungmin Super Junior
  • Shin Yoonji

Support cast: all member SUJU

Genre : Romance, Angst

Length : Oneshot

Disclaimer : This story is MINE. Tapi idenya gak jelas darimana. Sungmin pengennya sih kudisclaimer juga, tp aku masih setia sm suami *lirik yeye >///<

Warning: Author narsis nampang jadi ceweknya umin lho. Kekeke~

FF ini kubuat dalam rangka lomba SungJi (Sungmin-Yoonji) di wpnya Tika: specialshin.wordpress.com. Yah Alhamdulillah walaupun gk menang tapi jadi salah satu top imaginator. Hehe~

~Happy Reading~

Seorang gadis berpakaian kaos olahraga tanpa lengan dan celana olahraga pendek, bersiap di depan garis start.

“Mimpiku sederhana…”

Matanya menatap tajam lintasan lari di depannya.

“Aku hanya ingin berlari secepat mungkin dan mengalahkan waktu.”

Start. DOR.

@@@

Sungmin menatap jendela apartemen dormnya dengan tatapan menerawang. Pemandangan Seoul di malam hari kali ini tampaknya tidak menarik perhatiannya. Pikirannya berkelana, ke wajah seseorang yang selama bertahun-tahun ini selalu mengisi benaknya. Bahkan walaupun orang itu sudah tiada, wajahnya selalu berada di benak Sungmin.

Tapi kali ini Sungmin khawatir. Karena kali ini, ia tidak bisa mengingat wajah seseorang itu dengan sejelas biasanya. Padahal biasanya tanpa melihat foto pun Sungmin dapat mengingatnya dengan jelas. Tapi kenapa sekarang…?

Bukankah… bukankah jika seseorang tiada yang bisa membuatnya terus hadir di dunia adalah melalui kenangan-kenangan kita akan orang itu? Sungmin khawatir ia melupakan orang itu. Ia khawatir melupakan Jung Yuuri. Sekarang memang hanya lupa wajah, tapi bagaimana jika ia melupakan kenangan mereka berdua juga?

Pikiran-pikiran itu menakuti diri Sungmin. Apa jika seperti itu, ia mengkhianati Yuuri?

Setelah berkutat lama dengan pemikiran mencemaskan itu, Sungmin beranjak menuju lemarinya dan mengeluarkan sebuah kotak kardus berukuran besar dari bagian bawah lemarinya.

Ia membawanya ke atas ranjangnya dan duduk disana. Perlahan, ia membuka kotak tersebut dan mengambil sesuatu di dalamnya, sebuah sepatu balet lusuh berwarna merah muda berukuran kecil.

Sungmin tersenyum. Ia ingat saat itu.

Autumn, 2000

“Sungmin oppa!”teriak seorang gadis berumur sepuluh tahun dengan berlari ke arah rumah Sungmin remaja.

“Jangan berlari Yuu! Hati-hati!”teriak ibu gadis kecil itu.

Sungmin yang sedang bermain gitar di teras rumahnya langsung menghentikan petikan gitarnya mendengar dua suara bersahut-sahutan itu. Ia tersenyum kecil menatap gadis kecil yang lebih muda lima tahun darinya ini sedang sibuk mengatur nafasnya yang terengah-engah karena sehabis berlari.

Sungmin meletakkan gitarnya di bangku di sebelahnya, lalu bangkit dan menghampiri gadis kecil yang sekarang sudah berjalan mendekatinya dengan wajah riang.

“Oppa, kau tahu…”

“…bahwa kau terpilih untuk tampil di pertunjukkan balet kan?”sela Sungmin dengan senyum aegyo-nya.

Mata gadis kecil itu berbinar-binar bahagia. “Bagaimana oppa bisa tahu?”

“Oppa kan bisa meramalmu, Jung Yuuri.”Sungmin mengedipkan sebelah matanya.

Gadis kecil bernama Jung Yuuri itu tertawa senang. Kemudian ia melepaskan tas ransel di punggungnya dan mengeluarkan sepasang sepatu balet dari sana.

“Lihat oppa! Karena aku berhasil terpilih untuk pertunjukkan nanti, Eomma tadi membelikanku sepatu balet baru!”ucap Yuuri senang.

“Lalu, mana sepatu lamamu?”

“Masih ada, tapi tentu saja tidak akan kupakai lagi. sudah sedikit sobek.”

“Kau membawanya?”

“Bawa, kan tadi pagi masih kupakai. Memangnya kenapa?”

“Mana? Oppa mau lihat.”

“Waeyo?”

“Sudah, keluarkan saja.”

Dengan wajah bingung Yuuri mengeluarkan sepatu balet lamanya dari ransel dan menyerahkannya pada Sungmin.

Sungmin memperhatikan sepatu balet itu dengan seksama, lalu tersenyum lebar.“Ini buat oppa ya?”

“Ne?”

“Buat oppa.”

“Waeyo?”tanya Yuuri bingung.

“Karena sepatu yang sobek ini adalah bukti kerja keras seorang Jung Yuuri dalam balet.”jawab Sungmin sungguh-sungguh dengan menatap lembut Yuuri.

Yuuri tidak berkata apapun, tapi mata coklat beningnya yang menatap Sungmin dengan sayang, dan bibir tipisnya yang melengkungkan senyuman yang begitu manis, sudah menunjukkan jika betapa ia menyukai kata-kata Sungmin itu.

Sepatu balet itu adalah sepatu balet Yuuri yang pertama kali dimiliki oleh Sungmin.

***

“Pemotretan baju olahraga nanti kita akan berpasangan dengan atlet olahraga lari. Apa kalian tahu Shin Yoonji?”

Member Super Junior serentak menggelengkan kepalanya. Leeteuk mendengus tak percaya. “Kalian memalukan sekali. Masa’ kalian tidak mengenal atlet lari nasional yang menjadi wakil olimpiade di London?”

“Aku tahu hyung. Yaahh… hanya sekedar tahu kalau dia berhasil memenangkan olimpiade atletik nasional di cabang lari jarak pendek.”jawab Donghae. “Tapi aku tidak tahu orangnya seperti apa.”

“Kalau begitu kalian harus browsing internet, cari tahu siapa dia. Setidaknya kita mengenal seperti apa orangnya sebelum ia datang sebentar lagi.”perintah Leeteuk, semua member mengangguk setuju. Kecuali Sungmin yang pikirannya masih saja terus menerawang ke sosok Jung Yuuri di masa lalu.

Sungmin tidak bisa fokus pada hal apapun sekarang. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu ruangan. Tanpa menghiraukan panggilan Leeteuk ia terus berjalan keluar ruangan. Pikirannya begitu suntuk sekarang, dan ia ingin sedikit refreshing di luar.

Sungmin berjalan tak tentu arah dan tanpa repot-repot memperhatikan apapun. Sampai tiba-tiba ia terkejut dari lamunannya karena bahunya terbentur oleh bahu seseorang.

“Jweseonghamnida…”ucap orang yang menabrak bahunya itu.

Sungmin menoleh.“Gwenchana…” DEG.

Kalimat Sungmin terputus saat melihat yeoja yang kini berada di hadapannya. Yeoja yang sama sekali tidak dikenalnya. Tapi kenapa… kenapa jantungnya berdegup dengan tidak normal saat melihat yeoja ini?

Degup jantung yang biasanya hanya dirasakannya saat bersama dengan almarhum Yuuri, kini… muncul lagi.

***

Shin Yoonji berlari-lari ke dalam gedung yang akan menjadi tempat pemotretannya. Sesekali ia mengumpat kesal. Ini gara-gara pelatihnya menyuruhnya latihan pagi-pagi buta, membuatnya kelelahan dan bablas ketiduran. Padahal siang ini ia ada pemotretan.

Sambil berlari kencang Yoonji berharap jika ia tidak terlalu terlambat. Mudah-mudahan partner pemotretannya, yang katanya boyband terkenal, tidak terlalu mempermasalahkan keterlambatannya.

Tiba-tiba Yoonji tersentak kaget saat bahunya tidak sengaja menyenggol seseorang. Ia menghentikan larinya dan berbalik menghadap orang itu. “Jweseonghamnida…”ucapnya. Kemudian orang itu menoleh. “Gwenchana…”

DEG.

Jantung Yoonji yang malang, melonjak dan berdebar begitu keras saat melihat namja di hadapannya. Sangat keras, sampai-sampai Yoonji merasa takut jantungnya akan berubah menjadi berhenti mendadak.

Yoonji masih terpaku pada namja itu dan perlahan tangan kanannya menyentuh dada kirinya, dengan sangat takut merasakan debaran jantungnya yang dirasanya aneh untuk pertama kalinya.

Kemudian suara deringan ponsel mengejutkannya. Terburu-buru Yoonji merogoh ponsel di tas selempangnya dan mengangkat telpon itu.

“Yeoboseyo? Ah, ne…. aku sudah sampai… eo… ruangannya di… ah, ne, ne. aku akan segera kesana…” Yoonji menutup telponnya dengan perasaan tidak enak. Merasa bersalah sekali sudah datang terlambat. Kemudian ia menoleh ke tempat namja tadi, tapi namja itu sudah tidak ada.

“Dia pergi kemana?”gumam Yoonji. Lalu tanpa berlama-lama penasaran ia kembali berlari mencari ruangan yang ditujunya.

***

“A… annyeong….has…seyo!”ucap Yoonji dengan napas tersengal-sengal saat tiba di ruang pemotretan. Semua mata yang berada disana menatapnya heran, membuatnya malu. Kemudian setelah nafasnya sudah kembali normal, Yoonji membungkukkan tubuhnya ke arah orang-orang itu. “Jweseonghamnida sudah membuat kalian menunggu lama. Tadi aku tertidur karena kelelahan setelah latihan pagi. Sekali lagi jweseonghamnida.”ucap Yoonji merasa tidak enak.

Kemudian seorang namja dengan senyum berlesung pipi menghampirinya. “Kau Shin Yoonji?”tanyanya.

“Ne. Choneun Shin Yoonji imnida. Sekali lagi maaf karena terlambat datang.”ucap Yoonji lagi-lagi sambil membungkukkan badan.

“Tidak perlu meminta maaf terus-menerus Yoonji-ssi. Perkenalkan, Nanneun Leeteuk imnida. Aku leader Super Junior yang hari ini akan pemotretan denganmu.”ucap namja itu.

Yoonji tersenyum lebar. “Ah, bangapseumnida, Leeteuk-ssi.”kata Yoonji dengan perasaan lega melihat partner pemotretannya yang bisa mentolerir keterlambatannya. Kemudian ia berkenalan dengan member Super Junior lainnya. Yoonji merasa bahwa mereka semua menyenangkan dan itu membuatnya sangat lega.

“Ini pertama kalinya kau ikut pemotretan ya?”tanya Ryeowook.

“Ne. Makanya aku gugup sekali. Tanganku sampai berkeringat.”Yoonji menggosok-gosokkan kedua tangannya, kebiasaannya saat merasa gugup.

“Kkokjongmal, Yoonji-ssi. Aku akan mengajarimu.”kata Eunhyuk sok akrab yang langsung disambut oleh jitakan dari Donghae.

“Jangan genit, babo!”omel Donghae yang membuat Yoonji tertawa lepas.

Segera saja semua rasa gugup yang dirasakan Yoonji menguap dan digantikan rasa gembira karena candaan namja-namja partner pemotretannya.

“Kalian sudah siap?”tanya seorang kru pemotretan setelah mereka semua mengganti pakaian mereka dengan kostum untuk pemotretan.

“Ah, ne. Tapi Sungmin belum…”

“Aku disini hyung.”jawab sebuah suara, menyela ucapan Leeteuk.

Entah kenapa Yoonji merasa ia mengenali suara itu, dan jantungnya lagi-lagi berdebar tak karuan. Ia berbalik untuk melihat siapa si pemilik suara. Tapi ada yang aneh dengan perasaannya. Kenapa… kenapa Yoonji merasa tidak heran jika si pemilik suara itu adalah namja yang tadi bertabrakan dengannya? Kenapa Yoonji merasa tidak aneh jika saat ini jantungnya berdebar lebih keras saat melihat Lee Sungmin berjalan mendekatinya?

***

Ada yang aneh dengan Sungmin akhir-akhir ini. Awalnya ia merasa khawatir karena tidak bisa mengingat wajah Yuuri sejelas biasanya, tapi sekarang ada yang lebih membuatnya khawatir. Kenapa saat ia bertemu dengan Shin Yoonji jantungnya selalu berdebar tak terkendali? Dan debaran itu sama seperti debaran yang dirasakannya saat bersama dengan Yuuri. Seolah-olah ia memiliki perasaan yang sama seperti perasaannya ke Yuuri.

Apa itu berarti ia sudah menemukan pengganti Yuuri di hatinya? Tapi mengapa secepat itu? dan mengapa… harus Shin Yoonji? Yeoja yang hanya dikenalnya selama dua kali pemotretan. Yeoja yang sama sekali tidak dikenalnya selain nama dan profesinya yang seorang atlet lari nasional.

Pikiran itu berkecamuk di kepala Sungmin. Ia melajukan mobilnya tak tentu arah dengan kecepatan sedang. Tiba-tiba muncul sebuah sosok yang melintas di hadapan mobilnya. Sungmin yang terkejut langsung mengerem mobilnya. Tapi terlambat, bagian depan mobilnya sudah mengenai tubuh si penyeberang. Dengan panik Sungmin keluar dari mobilnya dan menghampiri orang yang sekarang sudah tergeletak pingsan di depan mobilnya.

Sungmin memeluk tubuh yeoja itu dan menyibakkan rambut panjang yang menutupi wajahnya. Kemudian tubuh Sungmin langsung menegang saat melihat wajah familiar yeoja yang berada di pelukannya itu.

***

 

“Kita harus mengadakan tes ulang Yoonji-ssi. Sepertinya ada sedikit masalah…”

 

Semuanya terasa seperti mimpi saat Yoonji harus mendengar ucapan dokter tadi. Padahal semuanya sudah tinggal selangkah lagi. Sebentar lagi mimpinya untuk menjadi wakil Korea Selatan di Olimpiade London akan terwujud.

 

“Dengan kondisi seperti ini… kau tidak akan bisa ikut olimpiade, Yoonji-ssi…”

Tapi kenapa dokter mengatakan hal itu sekarang?

Sepulangnya dari rumah sakit ia pergi ke lapangan dan mencoba berlari. Saat itulah ia menyadari jika perkataan dokter mungkin benar. Dan itu membuatnya putus asa.

Jika ia tahu sejak awal… jika ia tahu kondisi tubuhnya sejak awal, ia tidak mungkin meletakkan harapannya tinggi-tinggi. Ia tidak mungkin bermimpi setinggi ini. Dan ia pasti tidak akan jatuh sesakit ini kan?

Kenapa semuanya harus terjadi sekarang? kenapa tidak sebelum ia mendapatkan kesempatan itu?

Setetes airmata menitik dari mata Yoonji, membuat penglihatannya perlahan mengabur. Hari sudah sangat malam, dan Yoonji tidak tahu dimana ia sekarang. Ia berjalan tak tentu arah di trotoar. Kemudian entah apa yang merasuki pikirannya, Yoonji berjalan cepat ke tengah jalan saat ia melihat dari jauh ada mobil yang sedang melaju kencang di jalan.

Setelah itu semuanya terasa gelap bagi Yoonji.

***

 

“Aku hanya ingin berlari. Berlari secepat mungkin. Apakah aku bisa Eomma? Apakah aku bisa seperti atlet itu?”

“Ne. Tentu saja kau bisa. Saat nanti tubuhmu sudah sehat.”

“Ah! akhirnya kau sadar juga!”

Suara itulah yang menyambut Yoonji saat ia perlahan membuka matanya. Yoonji berusaha menyesuaikan penglihatannya. Ia tahu ada seseorang yang mendekat padanya, dan sedang menatapnya. Tapi semuanya masih terlihat samar-samar oleh Yoonji. Kemudian setelah beberapa saat, ia bisa mengenali wajah seseorang yang sedang menatapnya dengan senyum penuh kelegaan.

“Kau…” Yoonji menatap orang itu dengan terkejut. “Sungmin-ssi?”

“Kau masih mengingatku?”

Tentu saja Yoonji masih mengingat namja itu. Mereka kan baru saja bertemu tiga hari yang lalu.

Yoonji menyentuh dada kirinya. Lagi-lagi Yoonji merasakan hal yang aneh di jantungnya.

“Kau… apa yang kau lakukan disini?”tanya Yoonji bingung. Seingatnya tadi ia masih berjalan tak tentu arah di trotoar, masih merasa sedih akan perkataan dokter padanya. Lalu ia…

“Mianhata. Jeongmal mianhata. Aku tidak sengaja menabrakmu tadi.”ucap Sungmin dengan penuh penyesalan.

Yoonji mengerjap-ngerjapkan matanya bingung. “Kau yang menabrak…”Yoonji tidak melanjutkan ucapannya saat ia merasakan sakit di kaki kanannya ketika ia mencoba bangkit dari tidurnya. Ia berusaha duduk, kemudian dengan takut Yoonji memandang selimut yang menyelimuti bagian bawah tubuhnya, lalu menyibakkannya.

Yoonji langsung melenguh sedih saat melihat kaki kanannya sudah terbalutkan oleh perban tebal berwarna putih. Matanya mendadak menjadi kosong. Sungmin menatapnya khawatir.

“Yoonji-ssi…”

Mata Yoonji memanas. Airmatanya mengalir tanpa bisa ditahannya.

“Yoo… Yoonji-ssi…” Sungmin mulai panik.

“Ka.”

“Ne?”

“Jebal kayo (kumohon pergi).”ucap Yoonji pelan.

“Hajiman…”

“Karago! (kubilang pergi!)”teriak Yoonji lalu kembali berbaring dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

“Ka! Ka! Ka!”jerit Yoonji dari balik selimutnya.

Sungmin menatap Yoonji sedih dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia merasa ini semua salahnya. Lalu… apa yang harus dilakukannya?

***

Sungmin menatap sedih sesosok yeoja yang sedang memandang jendela ruang rawat rumah sakit dengan tatapan kosong. Rasanya hatinya perih sekali melihat keputusasaan di wajah yeoja itu.

*Flashback*

 “Apa yang harus kulakukan sekarang?”ucap Sungmin putus asa dengan air mata mengalir dari pipinya.

Semua member Super Junior memandangnya sedih. Bahkan Eunhyuk dan Donghae sudah mulai ikut menangis. Mereka semua bisa merasakan kesedihan dan keputusasaan Sungmin saat ini.

“Aku… aku sudah merusak kaki seorang atlet lari. Aku… sudah menghancurkan impiannya. Ia tidak mungkin bisa ikut olimpiade. Bahkan dokter bilang akan sulit untuknya berlari seperti sebelumnya…”ucap Sungmin dengan terisak.

“Hyung…”Kyuhyun yang berada di sebelah Sungmin berusaha menahan tangisnya dan merangkul bahu Sungmin, berusaha menenangkan hyungnya dengan sesekali mengusap bahu hyungnya itu.

Sungmin menatap Leeteuk dengan pandangan memohon. Ia tahu Leeteuk bukan tempat yang tepat untuknya meminta pertolongan. Tapi ia terlalu bergantung pada hyungnya itu. Sungmin tidak tahu harus berbuat apa lagi.

Leeteuk memalingkan wajahnya dari pandangan Sungmin. Tidak sanggup melihat kesedihan di wajah dongsaengnya itu. Belum pernah, semenjak Yuuri meninggal dua tahun lalu, Sungmin terlihat sekalut ini.

Kemudian Leeteuk kembali memandang Sungmin dan menatapnya dengan lembut. “Meminta maaf lah dengan tulus.”ucapnya.

“Hyung, itu…”

“Kau bukan Tuhan, aku bukan Tuhan. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi dengan Shin Yoonji selanjutnya. Satu-satunya hal yang bisa kau lakukan sekarang hanya meminta maaf…”

“… semua ini bukan salahmu Sungmin-ah… ini ketidak sengajaan. Jadi mintalah maaf padanya, dan bantulah ia sebisamu…”

*end of flashback*

Sungmin tahu apa yang dikatakan Leeteuk adalah benar. Ia pun tahu jika kata ‘maaf’ tidak akan bisa mengembalikan semuanya. Tapi hanya ini jalan satu-satunya yang bisa dilakukannya untuk memperbaikinya. Bahkan ini mungkin bukan jalan satu-satunya, tapi langkah awal untuk Sungmin memperbaiki semuanya. Dan ia harus mencobanya.

Yoonji memalingkan wajahnya dari jendela. Ia terkejut mendapati Sungmin yang sudah berada di hadapannya. Tiba-tiba Sungmin berlutut di hadapannya.

“Su… Sungmin-ssi? jigeum mwohaneun geoya? (apa yang kau lakukan sekarang ini?)”tanya Yoonji kaget. Ia bingung dengan apa yang dilakukan Sungmin sekarang.

“Maafkan aku karena menabrakmu. Maafkan aku karena aku sudah membuatmu jauh dari mimpimu. Mungkin aku memang tidak pantas meminta maaf padamu, tapi aku tidak tahu harus melakukan apa lagi untuk menebusnya.”ucap Sungmin tulus dengan mata berkaca-kaca memandang Yoonji.

Yoonji terkejut dengan ucapan Sungmin. Padahal ia tidak pernah menyalahkan Sungmin, karena ini bukan salah namja itu. Ia yang menyeberang tiba-tiba saat mobil namja ini melintas. Yoonji sengaja melakukannya saat itu karena ia merasa sangat kalut akan perkataan dokter padanya.

“Baboya.”ucap Yoonji pelan. “Bagaimana mungkin kau meminta maaf padaku padahal kau sama sekali tidak bersalah dalam hal ini?” Yoonji memasang seulas senyum pada Sungmin, berusaha menenangkan namja itu.

Sungmin mengerjapkan matanya, memandang Yoonji dengan tidak percaya. Kenapa yeoja ini dengan mudahnya memaafkannya? Padahal kesalahan Sungmin kali ini sangat fatal. Ia yakin seharusnya ia terkena hukuman atas hal ini.

“Itu bukan salahmu. Aku yang menyeberang tidak lihat-lihat terlebih dahulu.”ucap Yoonji berbohong. Mana mungkin ia mengatakan jika ia memang sengaja ingin menabrakkan diri kan? “Ireona.”

“Hajiman, Shin Yoonji…”Sungmin merasa bingung.

“Palli ireona.”ucap Yoonji memaksa.

Sungmin bangkit dengan masih merasa tidak enak pada Yoonji. Ia memandang sedih Yoonji. “Saat itu… aku sedang terlalu banyak pikiran, dan aku tidak menyetir dengan fokus. Itu salahku karena tidak memperhatikan jika kau menyeberang…”

“Lee Sungmin!”Yoonji berkata sedikit keras. Ia sudah mulai merasa tidak nyaman dengan rasa bersalah Sungmin. Padahal kan itu bukan salah Sungmin. “Bukankah kau meminta maaf padaku dan sudah kumaafkan? Kenapa kau masih terus bersikeras menyalahkan dirimu sendiri?”

“Bagaimana dengan kakimu? Bagaimana dengan karirmu sebagai atlet? Apa aku harus mengabaikan hal itu?!”

Yoonji menghela napas, sedih sekaligus kesal mendengar hal itu. “Kenapa kau harus menanyakan hal itu? Dengan kaki seperti ini tentu saja semuanya selesai untukku… Aku tidak akan bermimpi untuk menjadi atlet lagi…”

 

“Bagi seorang penari balet, kakinya adalah bagian tubuh yang sangat berharga. Aku tidak akan membiarkan kakiku terluka…”

 

Kata-kata Yuuri di masa lalu terngiang di telinga Sungmin. Bukankah hal itu juga berlaku untuk seorang atlet lari? Kakinya sangat berharga kan?

“Kkokjongmal, Sungmin-ssi. Nan gwenchana.” Tidak, aku tidak baik-baik saja, batin Yoonji. “Aku tidak akan menyalahkanmu atau siapapun atas berakhirmya karirku.” Karena jika ini tidak terjadi pun, semuanya akan tetap berakhir sama. “Kau tidak perlu terus-menerus merasa bersalah…”

Sungmin menatap wajah sedih Yoonji. Ia tahu jika Yoonji berbohong dengan mengatakan baik-baik saja. Tidak akan ada orang yang baik-baik saja jika harus melepaskan impiannya. Sungmin sendiri mungkin tidak akan bisa hidup lagi jika ia tidak lagi bisa menyanyi.

“Dokter bilang persentase kemungkinan kau bisa berlari seperti sebelumnya ada sepuluh persen.”ucap Sungmin pelan.

“Aku tahu, makanya aku tidak akan bermim…”

“Kita raih sepuluh persen itu.”

Yoonji menatap Sungmin bingung. “Maksudmu?”

“Apapun yang terjadi… aku berjanji akan membantumu berlari lagi.”

Yoonji tercengang melihat kesungguhan Sungmin.

“Kau akan bisa berlari lagi.”ucap Sungmin dengan yakin.

***

Sudah sebulan semenjak kecelakaan itu. Kaki Yoonji tidak lagi diperban, ia sudah bisa berjalan dengan normal, tapi tidak dengan berlari. Vonis dokter sudah cukup jelas jika kemungkinan ia bisa berlari lagi setelah menjalani rehabilitasi hanya sepuluh persen.

Semuanya tidak menjadi lebih mudah untuk Yoonji. Padahal ia pikir, setelah kakinya tidak mampu lagi berlari, ia akan bisa dengan mudah melepaskan impiannya. Tapi ternyata keinginan untuk menggapai mimpinya itu masih sama besarnya dengan sebelumnya, walaupun diringi oleh rasa putus asa yang juga sama besarnya.

Yoonji duduk di teras dan memandang halaman rumahnya dengan tatapan kosong. Kali ini indahnya bunga-bunga di halaman rumahnya, atau semilir angin sore yang menyejukkan, tak dapat membuat tubuhnya merasa rileks. Terlalu banyak yang dipikirkan Yoonji. Sampai kapan ia harus menjalani tes-tes yang tidak jelas itu? Kapan dokter akan memberikan kepastian akan kondisinya? Kepastian kapan ia harus bersiap-siap melakukan operasi mengerikan itu lagi?

“Apa yang kau lamunkan?”

Yoonji tersentak kaget karena Sungmin muncul tiba-tiba di hadapannya. “Untuk apa kau datang lagi ke rumahku!”

“Bukankah sudah kukatakan kalau aku akan membantumu untuk bisa berlari lagi?”ucap Sungmin, tersenyum tipis. Yoonji merasakan jantungnya kembali berdebar dengan keras.

“Walaupun hanya sepuluh persen, itu tetap sebuah kemungkinan yang bisa diraih.”kata Sungmin, dan tanpa permisi ia duduk di sebelah Yoonji.

“Aku tidak perlu kau kasihani, Lee Sungmin.”ucap Yoonji tajam.

Sungmin menggeleng pelan. “Aku tidak kasihan padamu. Tapi aku kasihan pada diriku sendiri. Bagaimana mungkin aku bisa membuat orang menderita karena kelalaianku?”ucapnya sedih.

“Jangan merasa bersalah, Lee Sungmin-ssi…”

Sungmin menatap Yoonji sendu. “Tidak akan bisa, Yoonji-ssi. Aku tidak akan mungkin menghilangkan rasa bersalahku ini sampai kau bisa kembali berlari lagi.”

“Tapi aku tidak mungkin…”Sekarang Yoonji yang merasa bersalah. Ia menyesal, karena kelakuan bodohnya saat itu malah membuat orang lain seputus asa ini. Tapi ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Sungmin kan? Yoonji tidak ingin dikasihani. Sudah cukup ia dikasihani karena kakinya yang rusak. “Lalu apa yang bisa membuatmu menghilangkan rasa bersalahmu itu?”

“Mulai hari ini, setiap hari, aku akan membantumu melatih otot-otot kakimu.”kata Sungmin lalu berjongkok di depan Yoonji dan memegang kaki kanan yeoja itu, memijit-mijitnya.

“Sungmin-ssi…”Yoonji berusaha melepaskan tangan Sungmin dari kakinya.

Sungmin menepiskan tangan Yoonji dan terus memijat kaki Yoonji. Yoonji yang bingung harus berbuat apa hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan Sungmin pada kakinya.

Hening dan terasa sangat canggung untuk berbicara satu sama lain. Mereka hanya bisa mendengar suara debaran jantung mereka masing-masing. Masih merasa heran dengan debaran yang terlalu keras itu, sekaligus merasa khawatir jika orang di hadapan mereka bisa mendengar detak jantung mereka yang terlampau keras itu.

“Apa kau tidak lelah terus mimijit kakiku?”tanya Yoonji setelah Sungmin memijat kakinya selama setengah jam.

“Jika itu bisa membuat kakimu sembuh, aku tidak keberatan untuk berlama-lama memijitnya.”jawab Sungmin tanpa mengalihkan matanya dari kaki Yoonji.

Yoonji melepaskan tangan Sungmin dari kakinya. “Ini sudah cukup, Sungmin-ssi. Gamsahae.”ucap Yoonji dengan senyum lembut.

Sungmin menatap Yoonji dengan tercengang. Kenapa melihat senyuman Yoonji dapat membuat debar jantungnya semakin tak terkendali? Sama seperti yang dulu ia rasakan ketika bersama dengan Yuuri. Sebenarnya siapa Shin Yoonji ini? Kenapa ia bisa membuat Sungmin merasakan hal yang pernah dirasakannya dengan Yuuri?

“Sungmin-ssi!”

“Ne?” Sungmin terkejut dengan panggilan Yoonji.

“Apa kau tidak pulang? Kau tidak ada schedule?”

“Ti…tidak ada.”ucap Sungmin gugup. Pikiran itu membuatnya bingung. Benarkah perasaannya pada Yoonji sama dengan perasaannya pada Yuuri?

“Walaupun tidak ada, kau sebaiknya pulang sekarang.”

Sungmin menatap Yoonji sebentar, kemudian ia mengambil bungkusan yang tadi dibawanya lalu mengeluarkan isinya. Yoonji tercengang saat melihat sebuah kotak sepatu olahraga yang dikeluarkan oleh Sungmin. Lebih tercengang lagi saat Sungmin mengeluarkan sepatu berwarna putih itu dan memasangkannya di kedua kaki Yoonji.

“Aku harap kau bisa berlari lagi…”

***

Yoonji menatap sepasang sepatu runner di atas tempat tidurnya. Senyumnya terulas, mengingat perhatian yang diberikan Sungmin tadi pagi. Lalu tiba-tiba jantung Yoonji kembali berdetak lebih keras. Membuat Yoonji lagi-lagi merasa cemas. Sebenarnya apa yang salah dengan jantungnya?

Yoonji meletakkan sepatu pemberian Sungmin itu di lantai kamarnya. Entah kapan ia bisa menggunakan sepatu itu untuk berlari lagi. Tapi yang Yoonji tahu, hal itu mustahil untuk terjadi. Makanya saat itu ia memutuskan untuk berlari ke tengah jalan.

“Aku tidak akan mungkin menghilangkan rasa bersalahku ini sampai kau bisa kembali berlari lagi.”

 

“Aku harap kau bisa berlari lagi…”

Tapi Yoonji tidak mau jika keputusasaannya membuat orang lain merasa bersalah. Ia tidak ingin Sungmin merasa bersalah terus padanya. Yoonji memutuskan untuk mencobanya, demi menghilangkan rasa bersalah Sungmin padanya.

***

Sejak hari itu, saat Sungmin memberikan sepatu itu, hampir setiap hari ia selalu menyempatkan waktunya untuk mengunjungi Yoonji. Membantu yeoja itu melatih kakinya dengan sedikit peregangan dan lari-lari kecil di lapangan.

“Kenapa kau masih belum mengenakan sepatu pemberianku?”protes Sungmin saat mereka berdua sedang jogging di lapangan. Jogging yang biasanya hanya mereka lakukan saat malam hari. Tentu saja itu karena tidak mungkin bagi Sungmin untuk muncul saat pagi atau saat-saat orang banyak berkumpul di lapangan itu.

“Sepatuku kan masih bagus.”

Sungmin mendengus sebal. “Tidak perlu menunggu sepatumu sobek dulu kan untuk memakai sepatu pemberianku? Lagipula kurasa itu bukan karena sepatumu yang masih bagus. Itu karena sepatu itu sepatu kesayanganmu kan?”

Yoonji menatap Sungmin terkejut. “Bagaimana kau tahu hal itu?”

Sungmin tersenyum kecil. “Dua bulan bersamamu sudah cukup untukku mengenalmu, Yoonji-ssi.”

Yoonji langsung memalingkan wajahnya saat melihat senyuman Sungmin. Kenapa ada namja yang mempunyai senyum semanis itu?Membuatku gugup saja. batin Yoonji kesal. Kemudian Yoonji menyadari pikirannya tadi. Gugup? Aku gugup karena Lee Sungmin?

“Kau kenapa, Shin Yoonji?”tanya Sungmin cemas, saat melihat Yoonji yang masih terbengong.

“A… anhiya!”Jantung Yoonji berdegup dengan keras, membuatnya lagi-lagi merasa takut jika jantungnya bisa berubah berhenti seketika.

Sungmin tersenyum lagi. “Apa kau haus? Aku ambil minum ke mobil ya.”ucapnya lalu pergi meninggalkan Yoonji di lapangan sendirian.

Yoonji meletakkan tangan kanannya di dada kirinya, merasakan detak jantungnya yang berdetak tidak normal. Setelah menghirup nafas dalam-dalam, Yoonji merasakan detak jantungnya perlahan melambat. Ia merasa lega. Jantungnya tidak akan apa-apa.

Kemudian Yoonji mulai berjalan di lintasan lari, lalu perlahan semakin mempercepat larinya. Walaupun tidak secepat biasanya karena kaki kanannya yang terluka, tapi setidaknya Yoonji masih bisa sedikit berlari.

Yoonji tersenyum senang. Apa itu berarti ia akan bisa berlari lagi?

Tapi belum sampai semenit ia memikirkan hal itu, Yoonji mulai merasakan sesuatu yang salah di tubuhnya. Jantungnya mulai terasa sangat sakit. Napasnya tersengal. Kepalanya pusing. Matanya bahkan tidak bisa melihat dengan fokus.

Perlahan Yoonji duduk di tanah lapangan. Kedua tangannya ditangkupkan di dada kirinya, wajahnya ditundukkan. Berulang kali ia berusaha mengatur napasnya yang tersengal. Ia tidak boleh terlihat sakit di hadapan Sungmin. Sungmin tidak boleh tahu…

“Yoonji-ssi!”

Yoonji berusaha merubah ekspresi wajahnya menjadi senyuman lalu menoleh pada Sungmin yang berlari ke arahnya. Wajah Sungmin terlihat sangat cemas.

“Shin Yoonji! Gwenchanayo?”tanya Sungmin saat ia tiba di hadapan Yoonji.

“Kenapa kau lama sekali?”tanya Yoonji.

Tapi Sungmin tidak menghiraukan pertanyaan Yoonji. “Gwenchana?”tanyanya lagi.

Yoonji berdecak kesal karena Sungmin tidak menghiraukan pertanyaannya dan malah panik berlebihan. “Jangan berlebihan, Sungmin-ssi. Nan gwenchana. Tadi aku mencoba berlari. Tapi karena masih sulit membiasakan kakiku, aku jadi terlalu kelelahan.”

Sungmin mengerutkan keningnya, memandang wajah Yoonji seksama. “Wajahmu pucat. Kau pasti sangat kelelahan. Lebih baik kita pulang.”kata Sungmin lalu berjongkok di hadapan Yoonji.

“He?”Yoonji menatap punggung Sungmin bingung. “Kenapa kau berjongkok di depanku?”

“Cepat naik.”perintah Sungmin.

“Hah?!”Yoonji terkejut saat sadar bahwa Sungmin akan menggendongnya.

Tapi keterkejutan itu tidak berlangsung lama, karena Sungmin sudah menarik kedua tangan Yoonji, mengalungkannya ke leher Sungmin, lalu mengangkat tubuh Yoonji.

“Yak! Apa yang kau lakukan?! Turunkan aku!”kata Yoonji dengan menepuk bahu Sungmin.

“Berpeganganlah.”

“Shireo! Turunkan aku!”

Tapi bukannya menuruti Yoonji, Sungmin malah menggoyangkan sedikit tubuhnya, membuat Yoonji terpaksa memeluk erat lehernya.

“Begini lebih baik kan?”

Yoonji tidak menjawab Sungmin. Karena kali ini, ia kembali merasakan debaran keras di jantungnya. Tapi kenapa debaran itu terasa sangat nyaman? Membuat rasa sakit yang sebelumnya Yoonji rasakan perlahan-lahan memudar. Dan ia tertidur di gendongan Sungmin.

“Yoonji-ssi?”panggil Sungmin saat merasakan napas teratur yeoja itu di tengkuknya.

Sungmin tersenyum kecil saat menyadari jika Yoonji sudah terlelap, padahal baru saja ia menggendongnya.

“Kau pasti lelah.”ucap Sungmin. Ia bisa merasakan jantung Yoonji berdebar dengan keras di punggungnya.

Entah kenapa Sungmin merasa sangat nyaman merasakan debaran jantung Yoonji di punggungnya. Rasanya sangat nyaman. Tapi kenapa debaran itu mengingatkannya akan Jung Yuuri?

“Shin Yoonji, kenapa aku terus merasakan ini saat bersamamu?”ucap Sungmin pelan.

***

“Kau jatuh cinta padanya, hyung.”

Mata Sungmin mengerjap-ngerjap saat mendengar kalimat itu dari mulut Donghae. “Jatuh… cinta?”

“Ne. jatuh cinta. Bukankah itu sudah jelas? Sebelumnya hyung hanya merasakan perasaan seperti itu saat bersama dengan almarhum Yuuri. Jadi jika hyung merasakannya lagi bukankah itu cinta?”jelas Ryeowook.

Sungmin menggeleng-gelengkan kepalanya. “Itu tidak mungkin, Wookie-ya… Aku hanya mencintai Yuuri. Sampai kapanpun aku hanya mencintai Yuuri…”

“Hyung, Yuuri kan sudah…”

“Tidak. Itu tidak mungkin.”ucap Sungmin lagi, lalu bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan kedua dongsaengnya itu ke kamar.

Sungmin merebahkan tubuhnya di ranjangnya. Matanya memandang langit-langit kamarnya. Sungmin refleks tersenyum saat membayangkan senyuman manis Yuuri.

“Oppa, jangan tersenyum terus!”

“Waeyo?”

“Karena senyummu akan membuat jantungku berhenti!”

“Hahaha~ senyumku hebat sekali bisa membuat jantungmu bermasalah! Ini pasti karena aku terlalu tampan!”

“Ish! Kau PD sekali, Lee Sungmin!”

“Tapi itu benar kaaann…? Buktinya kau sangat mencintaiku.”

“Walaupun kau jelek, selama kau tetap Lee Sungmin, aku akan tetap mencintaimu.”

Sungmin merasakan matanya mulai mengabut. Ia takut jika perkataan Donghae dan Ryeowook benar. Ia takut mengkhianati perasaannya pada Yuuri.

“Yuuri-ya… Kau pasti tahu aku akan selalu mencintaimu…”

Lalu Sungmin memejamkan matanya, membuat airmatanya mengalir keluar.

***

Yoonji menatap sepatu pemberian Sungmin dengan matanya yang sudah basah. Hari ini semua emosinya yang selama ini ditahannya, meluap keluar.

Semua ini karena penyakit sialan yang sejak kecil dideritanya. Padahal Yoonji pikir ia akan baik-baik saja setelah operasi dua tahun lalu. Tapi kenapa sekarang penyakit itu kambuh dan mengganggu kehidupannya lagi?

Jika begini, semua usaha Sungmin dalam membantunya akan sia-sia kan? itu berarti Yoonji harus benar-benar menyerah kan?

“Yoonji-ya…”

Yoonji buru-buru menghapus airmata yang mengalir di wajahnya saat ibunya masuk ke kamar. Ibunya duduk di ranjangnya dan menatapnya lembut.

“Semua akan baik-baik saja, chagi…”ucap ibu Yoonji dengan mengelus lembut rambut putri satu-satunya itu.

Yoonji berusaha mengulas sebuah senyuman. “Ne, Eomma.” Yoonji sebenarnya masih ingin menangis, tapi ia tidak ingin membuat ibunya semakin sedih. Sudah cukup banyak ibunya menangis karenanya.

“Sungmin datang. Ia menunggumu di teras.”

Yoonji bangkit dari ranjangnya lalu mencuci mukanya di wastafel.

“Yoonji-ya, kapan kau akan mengatakannya pada Sungmin?”

Gerakan Yoonji saat mengelap wajahnya yang basah terhenti karena pertanyaan ibunya. Ia berjalan ke rak sepatunya dan mengambil sepatu pemberian Sungmin lalu memakainya.

“Aku… akan segera memberitahunya, Eomma. Kkokjongmal.”kata Yoonji lalu keluar kamar menuju teras rumahnya. Terlihat Sungmin sedang sibuk dengan ponselnya. Tanpa mengatakan apapun Yoonji duduk di sebelah Sungmin.

“Bagaimana kabarmu?”tanya Sungmin setelah ia memasukkan ponselnya ke kantong mantelnya. Senyum aegyo-nya kembali muncul, membuat jantung malang Yoonji lagi-lagi berdebar keras. Namja ini bisa-bisa membuat jantung Yoonji berhenti berdetak jika terus seperti ini!

“Kau sendiri bagaimana?”tanya Yoonji. Ia memperhatikan Sungmin baik-baik. Hari ini namja itu terlihat sangat lesu. Walaupun ia masih menunjukkan senyum aegyo-nya itu, tapi Yoonji masih bisa melihat kemurungan di wajah namja itu.

“Naega? Nan gwenchana. Hanya sedikit merasa lelah.”

Walaupun tidak percaya, tapi Yoonji memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut.

“Lalu kau? Apa kau sudah merasakan ada perubahan pada kakimu?”

“Eopseo.”jawab Yoonji.

Sungmin mendesah kecewa.

“Waeyo? Kenapa dengan ekspresimu? Kau sudah capek ya terus-menerus menemaniku melatih kakiku?”

Sungmin menggeleng cepat. “Aku tidak berpikir seperti itu!”

Yoonji tertawa kecil. “Aku bercanda.”

Sungmin memalingkan pandangannya dari tawa Yoonji. Jantungnya lagi-lagi berdetak keras, sampai-sampai ia takut Yoonji dapat mendengarnya.

“Sungmin-ssi.”

“Ne?”

“Sampai kapan kau mau terus menemaniku?”tanya Yoonji.

“Bukankah sudah kukatakan? Aku akan membantumu sampai kau bisa kembali berlari.”

Kata-kata Sungmin sungguh membuat hati Yoonji sakit. Yoonji merasakan matanya kini mulai memanas. Ia menengadahkan wajahnya ke atas untuk mencegah airmatanya keluar.

 

“Kau harus segera dirawat, Yoonji-ssi. Kita tidak bisa mengambil resiko atas penyakitmu.”

 

Kata-kata dokter beberapa hari yang lalu terngiang-ngiang di telinganya. “Kenapa… kau tidak menyerah saja?”

Sungmin menatap Yoonji yang masih menghadapkan wajahnya ke atas. “Apa kau ingin menyerah?”tanyanya balik.

Tanpa mengubah posisi wajahnya, Yoonji menggeleng. “Tidak ada seorang pun yang ingin menyerah akan impiannya. Tapi keadaan lah yang memaksaku untuk menyerah.”

“Musun mariya? (apa maksudmu?)”

Yoonji tersenyum, lalu menggeleng. Ia bangkit dari duduknya lalu berjalan keluar pagar. “Kajja! kita jogging lagi!”

Sungmin tertawa melihat Yoonji yang begitu bersemangat. Ia berlari menyongsong Yoonji.

Apakah salah jika ia melakukannya? Pertanyaan ini terus berputar di benak Sungmin saat ia melihat Yoonji. Apa salah jika ia mulai mencintai orang lain? Apa itu berarti ia mengkhianati Yuuri?

Tapi pertanyaan itu seakan-akan tidak berguna saat Sungmin melihat senyuman Yoonji. Senyuman itu… senyuman yang dapat membuatnya merasa bahagia lagi. Dan bukankah itu sudah cukup?

Kemudian, tanpa benar-benar disadarinya, tangannya menarik Yoonji ke dalam pelukannya.

“Su… Sungmin-ssi…?” Yoonji terkejut. Jantungnya berdebar lebih keras. Dan Sungmin bisa merasakannya.

“Kau bisa merasakannya?”tanya Sungmin.

“Ne?”Yoonji berusaha melepaskan pelukan Sungmin, tapi Sungmin tidak mau.

“Apa kau bisa merasakan detak jantungku?”tanya Sungmin lebih jelas.

Yoonji menghentikan usahanya untuk melepaskan pelukan Sungmin dan mulai merasakan debaran yang terasa dalam pelukan mereka berdua. Bukan hanya debaran jantung Yoonji, tapi juga debaran jantung Sungmin.

“Kurasa aku… mencintaimu, Shin Yoonji.”

Sungmin merasakan tubuh Yoonji menegang dalam pelukannya.

“Kau pasti merasa ini terlalu cepat ya?”tanya Sungmin, tapi Yoonji masih tetap diam di pelukannya. “Debaran ini… aku rasakan jauh lebih awal dari sekarang. Aku merasakannya saat pertama kali kita bertemu waktu pemotretan. Saat aku menatapmu ketika kau tidak sengaja menyenggolku…”

Yoonji terkesiap mendengar pengakuan Sungmin. Kenapa bisa sama? Ia juga merasakan hal itu saat ia pertama kali melihat Sungmin. Apakah itu normal?

“Aku merasa diriku tidak normal.”jawab Sungmin, seolah-olah bisa mendengar pertanyaan Yoonji. “Bagaimana mungkin aku bisa mencintai yeoja yang baru pertama kali kulihat? Tapi semakin sering aku bersamamu, semakin kuat debaran ini, Yoonji-ya… dan aku tidak mau menolak perasaan ini…”

Airmata Yoonji mengalir. Kenapa harus sekarang? Kenapa harus saat Yoonji memutuskan untuk menjauh dari Sungmin, namja itu malah mengatakan hal ini? Sungmin mungkin benar-benar merasakan debaran untuk Yoonji, tapi Yoonji tidak yakin dengan debarannya sendiri. Karena dia…

Tiba-tiba Yoonji merasakan sakit yang sangat besar di dada kirinya. Ia mendorong Sungmin hingga namja itu melepaskan pelukannya. Yoonji meletakkan kedua tangannya di depan dadanya. Napasnya tersengal. Kepalanya pusing. Keringat mengucur deras dari seluruh tubuhnya.

“Shin Yoonji!”seru Sungmin panik lalu merengkuh tubuh Yoonji yang hampir terjatuh. “Kau kenapa?!”

“Su… Sungmin-ssi… appo…”ucap Yoonji dengan airmata terus mengalir. Kemudian perlahan, kesadaran Yoonji menghilang.

“Shin Yoonji!”

***

“Yoonji mempunyai kelainan jantung sejak kecil…”

Sungmin menatap nanar Yoonji yang tertidur dengan berbagai alat bantu kehidupan di tubuhnya.

“… mimpinya pada olahraga lari sangat besar, makanya ia berusaha untuk terus mengejarnya dengan segala batasannya…”

Tangan Sungmin mencengkeram kuat seprai kasur Yoonji.

Dan aku malah menabraknya dan membuat kakinya tidak berfungsi dengan baik.

“… dua tahun yang lalu ia melakukan transplantasi jantung. sebelumnya tidak ada masalah….”

Kenapa?

“….tapi sekarang dokter mengatakan jantungnya kembali berfungsi tidak normal…”

Kenapa di saat Sungmin kembali mencintai seseorang, ia juga merasakan kembali ketakutan akan kehilangan?

Sungmin memegang tangan kiri Yoonji dengan kedua tangannya. Ia menempelkan tangan dingin itu ke pipinya. “Shin Yoonji… jebal… kau harus kuat. Jebal kajima… jangan tinggalkan aku seperti Yuuri…”

“Sungmin-ssi…”

Sungmin menghentikan kalimatnya saat mendengar suara ibu Yoonji. Ia berbalik dan terkejut melihat seorang wanita paruh baya yang dikenalnya hampir di sepanjang hidupnya berada bersama ibu Yoonji. Ibu almahumah Yuuri, temannya sejak kecil sekaligus gadis yang dicintainya.

“Eommonim…” “Sungmin-ah…” Sungmin dan Mrs. Jung sama-sama terkejut.

“Kalian saling mengenal?”tanya ibu Yoonji.

“Ke… kenapa… kalian saling mengenal juga?”tanya Sungmin yang masih terkejut.

Ibu Yoonji tersenyum. “Nyonya Jung adalah ibu dari Yuuri, gadis yang mendonorkan jantungnya pada Yoonji dua tahun lalu.”

Tangan Sungmin mendadak melemas dan melepaskan genggamannya pada tangan dingin Yoonji.

***

*Flashback*

Sungmin menatap kotak kecil berwarna merah di tangannya. Ia membukanya dan tersenyum melihat cincin putih sederhana berhiaskan berlian berbentuk hati di tengahnya. Malam ini, di hari ulang tahun Yuuri, Sungmin akan melamar yeojachingunya itu.

Mungkin semua orang mengatakan ini terlalu cepat. Mereka masih muda. Terutama Yuuri yang lebih muda lima tahun dari Sungmin. Tapi bagi Sungmin yang sudah bersama-sama Yuuri hampir di sepanjang hidupnya, inilah jalan yang tepat. Ia ingin benar-benar menjadikan Yuuri seutuhnya miliknya. Dan pernikahan adalah jalan yang tepat.

Sungmin tahu jika Yuuri mempunyai banyak mimpi. Tapi Sungmin berjanji pernikahan ini tidak akan menghalangi mimpi Yuuri untuk menjadi pebalet. Ia akan terus mendukung Yuuri sama seperti gadis itu yang selalu mendukungnya.

Berulang kali Sungmin membuka tutup kotak cincin itu karena Yuuri tidak kunjung datang. Perasaannya tidak enak. Padahal sebelumya Yuuri tidak pernah terlambat lebih dari setengah jam jika mereka janjian. Tapi ini sudah sejam lebih Yuuri tidak kunjung datang. Tidak mungkin kan Yuuri nyasar? Sungmin yakin ia sudah memberitahukan alamat restoran ini dengan sangat jelas. Dan yang lebih membuatnya cemas ponselnya Yuuri sama sekali tidak bisa dihubungi.

Tiba-tiba ponsel Sungmin berdering, dan tanpa melihat caller idnya, Sungmin langsung mengangkat telpon itu. “Yuuri-ya?”

“Sungmin-ah…”

Sungmin mengernyitkan dahinya saat mendengar suara ibu Yuuri. “Eommonim?” Kenapa bukan Yuuri yang menelponnya? “Waegurae? Yuuri eodigaseyo?”

“Su… Sungmin-ah…”Suara ibu Yuuri bergetar, seperti menahan tangis.

“Eommonim kenapa? Apa yang terjadi?!”cecar Sungmin dengan panik. Nafasnya terasa sesak. Ia merasakan sesuatu yang tidak beres saat suara ibu Yuuri berubah menjadi tangisan. “Yuuri?! ada apa dengan Yuuri?!”

“Yuuri… Yuuri kecelakaan… ia meninggal, Sungmin-ah…”

*End of flashback*

Sungmin memejamkan matanya dan membiarkan airmatanya yang sedari tadi tergenang di pelupuk matanya mengalir keluar. Setelah selama dua tahun berusaha melupakannya, kini Sungmin kembali mengingatnya. Mengingat bagaimana Yuuri meninggalkannya tiba-tiba, menyakiti hatinya dan semua orang yang mencintainya.

Lalu sekarang yang lebih menyakiti Sungmin adalah saat tahu jika jantung Yuuri didonorkan ke orang lain, dan orang lain itu adalah Yoonji. Shin Yoonji. Gadis yang Sungmin pikir akan menjadi cintanya yang baru.

Sekarang setelah tahu hal itu, dan mengingat bagaimana detak jantungnya saat pertama kali bertemu Yoonji, apa Sungmin masih bisa percaya jika ia benar-benar mencintai Yoonji? Bukan mencintai Yuuri yang ada di dalam diri Yoonji?

***

Suara pintu kamar yang terbuka membuat Yoonji yang sedang melamun refleks menoleh ke pintu. Senyum yang sebelumnya tersungging di bibirnya langsung memudar saat melihat siapa yang datang. Bukan orang yang diharapkannya.

“Sepertinya kau tidak senang melihat kami datang.”ucap Donghae saat masuk ke dalam kamar rawat Yoonji bersama dengan Eunhyuk, dan Ryeowook.

“A… anhiyaa…”bantah Yoonji. “Aku hanya kaget kalian datang.”

Ketiga namja itu terkekeh mendengar kepanikan Yoonji. Mereka lalu mengambil kursi dan duduk di dekat ranjang Yoonji.

“Bagaimana keadaanmu?”tanya Ryeowook.

“Sudah sedikit membaik.”jawab Yoonji dengan tersenyum.

“Memangnya kau sakit apa?”tanya Eunhyuk.

“Ng… yang memberitahu kalian jika aku sakit siapa? Kenapa kalian tidak tahu aku sakit apa?”

“Sungmin hyung yang memberitahu kami, tapi ia tidak bilang sih kau sakit apa.”jawab Donghae.

“Sungmin-ssi eodiji?”tanya Yoonji, akhirnya mengungkapkan rasa penasarannya.

“Hmm… dia bilang tadi ada urusan. Nanti ia akan datang kok.”jawab Ryeowook.

Benarkah ia akan datang? Karena sudah hampir seminggu ini ia tidak datang menjenguk Yoonji. Bahkan tidak memberi kabar sama sekali. Apa Sungmin menyesal menyatakan cinta pada Yoonji setelah tahu tentang penyakitnya?

Tidak, tidak. Sungmin bukan orang seperti itu. Yoonji bisa merasakan perasaan tulusnya.

“Waeyo? Kangen yaaa….?”goda Eunhyuk.

Tanpa bisa dicegah wajah Yoonji merona merah, membuat ketiga namja itu tertawa senang.

“Yak! Jangan tertawa!”omel Yoonji yang membuat ketiga namja itu semakin tertawa.

“Sepertinya Sungmin hyung juga menyukaimu Yoonji-ssi, dan itu membuat kami senang.”kata Donghae.

“Waeyo?”

“Yeojachingu Sungmin hyung meninggal dua tahun lalu karena kecelakaan, dan semenjak itu ia jadi sangat tertutup. Bahkan kadang suka menangis sendirian.”jelas Eunhyuk.

“Yaahh… itu karena dia sangat mencintai Yuuri. mereka kan sudah bersama sejak kecil.”timpal Ryeowook.

“Yuuri?” Yoonji merasa aneh. Kenapa namanya sama dengan nama gadis yang mendonorkan jantungnya pada Yoonji?

“Eo.”jawab Ryeowook. “Nama yeojachingu Sungmin hyung adalah Jung Yuuri. Nama yang cantik kan? Sama seperti orangnya juga kepribadiannya.”

Seketika itu juga Yoonji merasakan rasa sakit yang berbeda di hatinya.

***

Sungmin menatap Yoonji yang sedang memerhatikan pemandangan di luar jendela kamar rawat inapnya. Entah apa yang dilihatnya, atau dipikirkannya sehingga ia sama sekali tidak menyadari jika Sungmin sudah duduk di kursi di sisi ranjangnya.

“Sedang melihat apa?”tanya Sungmin membuat Yoonji terkejut dan langsung menoleh padanya.

“Sungmin-ssi? Sejak kapan kau disini?”

“Sejak 5000 milisekon yang lalu.”

Yoonji hanya mendengus mendengar candaan yang tidak lucu itu. kemudian ia menatap wajah Sungmin lekat-lekat.

“Wajahmu kenapa?”tanya Yoonji saat menyadari jika wajah Sungmin terlihat sangat kusut. Matanya sembab dan ada kantung mata di bawah kelopak matanya. Walaupun sudah berusaha disamarkan dengan make up, tetap saja mata sembabnya itu terlihat.

“Hanya sedikit kelelahan.”jawab Sungmin yang tentu saja Yoonji tahu ia berbohong. Tapi Yoonji tidak mau memaksa Sungmin untuk memberitahukan alasannya.

“Sungmin-ssi, maukah kau menemaniku berjalan-jalan ke taman rumah sakit?”

“Eh? kau kan sedang sakit.”

“Aku sudah minum obat. Lagipula kata dokter jika hanya berjalan-jalan sebentar tidak apa-apa. Tidak akan mempengaruhi jantungku.”kata Yoonji, tersenyum kecil. Lalu wajahnya berubah murung. “Tapi jika berlari…”

“Yoonji-ssi…”Sungmin memandangnya kasihan.

Kemudian Yoonji kembali tersenyum. “Bisa tolong ambilkan kedua bungkusan disana?”tanya Yoonji menunjuk dua kantong berukuran sedang di sofa. Sungmin mengambilnya dan memberikannya pada Yoonji.

Yoonji mengeluarkan sebuah kotak dari salah satu kantong itu. Sungmin terkejut saat melihat kotak sepatu pemberiannya.

Sungmin memandangnya cemas. Apa Yoonji akan mengembalikan sepatu itu ke Sungmin? Tapi ternyata tidak. Yoonji malah memakai sepatu itu dan bergerak turun dari ranjangnya.

Sungmin buru-buru menghampiri Yoonji yang sudah berdiri di sisi ranjang. “Kau tidak memakai kursi roda?”tanya Sungmin, lalu memegang lengan Yoonji.

Yoonji tersenyum menenangkan Sungmin. “Tidak perlu. Tubuhku cukup kuat untuk berjalan-jalan sebentar. Aku sudah pernah melakukannya kok.”kata yeoja itu lalu mengambil kantong satunya dan berjalan dengan menyeret tiang alat infusnya.

“Biar aku yang bawa.”kata Sungmin lalu mengambil kantong itu dari tangan Yoonji dan memegang tiang infus Yoonji. Mereka berdua lalu keluar dari kamar rawat Yoonji.

“Kau tidak apa-apa tidak memakai penyamaran?”tanya Yoonji cemas saat melihat orang-orang yang berada di koridor rumah sakit itu menunjuk-nunjuk Sungmin dan menjerit-jerit kecil. Bahkan beberapa ada yang memotretnya dengan kamera ponsel.

Sungmin tertawa kecil lalu menekan tombol lift. “Tidak perlu. Ini rumah sakit, jadi mereka tidak mungkin bertindak berlebihan.” Mereka berdua masuk ke dalam lift. “Kecuali kalau mereka mau diusir pihak rumah sakit.”

“Bukan itu maksudku!”sergah Yoonji sebal. “Maksudku, memangnya tidak apa-apa mereka memotretmu yang sedang bersamaku?”

“Apa kau merasa keberatan ketahuan bersamaku?”

“Kenapa kau membalikkan pertanyaanku?”tukas Yoonji kesal.

Sungmin hanya tertawa kecil lalu membawa Yoonji keluar dari lift. Mereka sudah tiba di lantai dasar, dan menuju ke taman rumah sakit. Lalu mereka berdua duduk di salah satu bangku taman yang kosong dan jauh dari keramaian.

“Aaahhhhhhhhh~ segarnyaaaaaaa…..”ucap Yoonji senang dengan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dan menengadahkan wajahnya ke langit.

Sungmin tersenyum. “Kau senang sekali.”

“Tentu saja aku senang. Sudah seminggu aku terus berada di dalam kamar. Tidak ada yang bisa menemaniku jalan-jalan ke taman. Biasanya aku hanya berjalan-jalan di koridor rumah sakit saja.”kata Yoonji dengan menatap Sungmin, kemudian ia tersenyum. “Aku senang kau akhirnya datang.”

Perkataan itu sejenak membuat Sungmin merasa bersalah. Seharusnya kan ia terus menemani Yoonji, apalagi di masa-masa sulitnya ini. Tapi ia malah terus-menerus bersedih memikirkan jantung Yuuri. Bukankah yang seharusnya lebih sedih itu Yoonji?

“Kau merindukanku ya?”canda Sungmin akhirnya. Ia tidak ingin memikirkan ataupun membahas masalah itu sekarang.

“Mungkin.”

“He?”Sungmin terkejut dengan jawab Yoonji. Padahal ia pikir Yoonji akan mengelak pertanyaannya itu.

“Karena kau selalu bersamaku selama ini. Menemaniku hampir setiap hari selama dua bulan ini. Mungkin aku sudah terbiasa akan kehadiranmu. Atau mungkin… jantungku yang sudah terbiasa…”

Jantung Sungmin serasa mencelos ke dalam saat Yoonji mengatakan hal itu. Apa Yoonji tahu tentang Yuuri? Bukankah Sungmin sudah melarang ibu Yoonji untuk memberitahu Yoonji akan hal itu?

“Mianhata.”

“Mianhata wae?”

Wajah Yoonji terlihat sangat menyesal. “Karena aku sudah membuatmu merasa bersalah akan kakiku.”

“Yoonji-ssi, sudah kubilang kan itu salahku karena aku tidak fo…”

“Aku sengaja ingin menabrakkan diriku!”ucap Yoonji cepat, menyela perkataan Sungmin.

Sungmin terperangah. Ia tidak salah dengar kan? Ia tadi mendengar jika Yoonji sengaja ingin ia menabraknya. Ia pasti hanya selah dengar.

“Kurasa telingaku sedang tidak beres.”kata Sungmin agak bingung.

“Telingamu baik-baik saja, Sungmin-ssi. Aku… memang sengaja ingin mati saat itu.”

“Yoonji-ssi…”

“Malam itu aku baru saja dari rumah sakit untuk mengambil hasil tesku. Dokter mengatakan… jantungku kembali bermasalah. Dan aku tidak mungkin ikut olimpiade…”ucap Yoonji dengan suara bergetar.

“Kau tahu bagaimana rasanya jika mimpimu yang tinggal selangkah lagi harus terpaksa kau lepaskan? Rasanya… seolah-olah… dunia serasa memusuhiku. Aku ingin sekali mati saat itu. Makanya… saat melihat mobilmu dari jauh…”

Yoonji tidak jadi meneruskan kalimatnya. Ia terisak-isak pelan. Sungmin sendiri sudah ingin menangis melihat Yoonji yang begitu putus asa, begitu rapuh. Kemudian dengan perlahan ia merengkuh yeoja itu ke dalam pelukannya.

“Uljimara…”ucap Sungmin pelan sambil mengusap-usap punggung Yoonji.

“Aku bersyukur saat itu aku tidak benar-benar mati. karena jika aku benar-benar mati, aku pasti akan menghancurkanmu juga, menghancurkan mimpi-mimpimu… Sungmin-ssi… Jebal… maafkan aku…”ucap Yoonji di sela-sela tangisnya.

Sungmin memeluk Yoonji lebih erat. “Aku maafkan… jebal uljimara…”

Debar jantung mereka yang seirama membuat Yoonji merasa nyaman dan perlahan-lahan menghentikan tangisnya. Mereka saling merasakan kenyamanan saat mendengar debar jantung keduanya. Kemudian seolah-olah tersadar sesuatu, Yoonji melepaskan pelukan Sungmin dengan cepat.

“Ah, Mianhe…”ucap Sungmin merasa bersalah, mengira Yoonji tidak menyukai pelukannya.

“Gomawoyo… karena kau sudah mau membantuku melatih kakiku… walaupun mungkin itu tidak berguna sekarang…”

Sungmin menggeleng. “Kau pasti sembuh.”

“Aku sudah sering mendengar hal itu, dan kupikir itu benar setelah transplantasi dua tahun lalu. Tapi ternyata…”

“Aku akan terus berada di sisimu. Menemanimu. Aku akan terus menemanimu berjuang menghadapi penyakitmu!”

“Yang kau cintai bukan aku Sungmin-ssi…”ucap Yoonji sedih dan menatap mata Sungmin yang kini terkejut. “Yang kau cintai adalah Yuuri yang berada di dalam diriku…”

“Shin Yoonji!”ucap Sungmin, terkejut.

“Awalnya aku merasa aneh kenapa sejak pertama kali bertemu denganmu di tempat pemotretan, jantungku selalu berdebar, berdetak dengan tidak normal. Apakah aku menyukaimu? Tapi kenapa secepat itu? tapi setelah mengetahui semuanya… setelah mengetahui ini jantung Jung Yuuri yang sangat mencintai Lee Sungmin. Itu tidak lagi mengherankanku. Jantungku berdebar bukan karena aku mencintaimu…”

“… dan sama denganmu. Kurasa kau pasti juga sudah memikirkan hal itu kan?”

Sungmin tidak mampu membantah, karena semua yang dikatakan Yoonji sama dengan apa yang dipikirkannya. Tapi sampai sekarang Sungmin masih tidak tahu apakah yang Yoonji dan ia pikirkan benar? Apakah jantung mereka berdebar setiap mereka bersama itu karena jantung Yuuri yang berada di dalam tubuh Yoonji? Semua masih berupa teka-teki menurut Sungmin.

“Lalu sekarang… bolehkah aku meminta ijinmu?”tanya Yoonji ragu.

“Ijin apa?”

“Dokter mengatakan aku harus melakukan transplantasi jantung yang baru, karena ternyata jantung Yuuri tidak bisa lagi kupakai. Bolehkah?”

Sungmin menghela napas, lalu tersenyum. “Jantung itu milikmu sejak Yuuri memberikannya dua tahun lalu. Itu hakmu. Kau tidak perlu ijinku untuk hal itu.”

“Tapi jantung ini milik kekasihmu…”

“… yang sudah tiada.”potong Sungmin. “Aku tidak mungkin mempertahankan jantungnya dan membiarkan kau menderita karenanya. Kau berhak hidup lebih lama dengan jantung yang baru, dan yang lebih sehat.”

Yoonji tersenyum lega. “Gomawoyo.”

“Aku harap setelah itu kau bisa sehat dan kembali berlari lagi menuju olimpiade.”ucap Sungmin tulus.

Yoonji tersenyum lebar. “Mimpiku sederhana, Sungmin-ssi…”

“Apa itu?”

“Aku hanya ingin berlari secepat mungkin dan mengalahkan waktu. Olimpiade hanya salah satu sarana mewujudkannya.”ucap Yoonji dengan tersenyum dan memejamkan matanya, menengadahkan wajahnya ke langit. Seolah-olah berusaha memberikan hatinya kerelaan akan mimpinya itu.

Sungmin menatap Yoonji tanpa berkedip. Ia meletakkan tangan kanannya di dada kirinya, merasakan jantungnya yang lagi-lagi berdebar keras. “Sesederhana apapun, itu tetap sebuah mimpi, Yoonji-ya…”

“Kau benar.”kata Yoonji lalu membuka matanya, tersenyum pada Sungmin, yang membuat jantung Sungmin kembali berdebar dengan keras.

“Ah, ya!”kata Yoonji tiba-tiba. Ia mengambil kantong yang tadi dibawa Sungmin lalu mengeluarkan isinya. Sepasang sepatu runner kesayangannya. Ia menyodorkannya pada Sungmin.

“Untuk apa?”tanya Sungmin bingung, tapi ia tetap menerima sepasang sepatu itu.

“Maukah kau menjaganya sampai nanti aku kembali?”

Sungmin mengernyit bingung.“Kembali? Kau mau kemana?”

“Operasiku tidak akan dilakukan di Korea. Jadi aku akan segera pergi ke States bersama orangtuaku. Jika operasiku berhasil, aku akan kembali berlari. Dan saat aku kembali, aku harap aku bisa memakai sepatu itu lagi. Sebagai gantinya, aku akan memakai sepatu pemberian darimu.”kata Yoonji, lalu menunjuk sepatu yang dipakainya.

“Kenapa tidak dibawa saja?”tanya Sungmin bingung.

Yoonji menatap namja itu sedih. “Sepatu itu terlalu banyak memiliki kenangan. Jika aku melihatnya saat aku tidak bisa kembali berlari, itu akan membuatku sangat sedih.”

“Kau pasti bisa kembali berlari setelah operasi, Yoonji-ya…”

Yoonji mengerutkan keningnya. Bukankah ini sudah kedua kalinya Sungmin memanggilnya ‘Yoonji-ya’ bukan ‘Yoonji-ssi’?

Yoonji tersenyum. Entah kenapa ia menyukai panggilan akrab Sungmin itu. “Dan aku harap saat aku berusaha untuk bisa kembali berlari, sepatu pemberianmu akan bisa menemaniku. Kau sangat berarti untukku, Oppa.”

Apa benar jika Sungmin tidak mencintai Yoonji? Sungmin tidak tahu. Yang pasti saat mendengar kalimat itu, saat mendengar Yoonji memanggilnya ‘Oppa’, ia merasa sangat bahagia.

Sungmin memandang sepatu milik Yoonji lalu tertawa kecil. Lagi-lagi ia harus menyimpan sepatu seorang gadis. Yah… setidaknya koleksi sepatunya sekarang bukan hanya sepatu balet.

***

 

1,5 tahun kemudian.

 

“Oppa, kau datang kan? Kau akan melihat pertandinganku kan?”

 

“Sepertinya akan terlambat, Yoonji-ya…”

 

“Apa?! Terlambat?! Sejak aku kembali ke Korea kita tidak bisa bertemu karena oppa sibuk konser keliling dunia. Sekarang oppa masih tidak bisa menyempatkan diri menonton pertandingan pertamaku?!”

 

“Mianhe, Yoonji-ya. kuusahakan datang ya.”

 

“Kau harus datang!”

Yoonji menghela napas kesal saat mengetikkan kalimat terakhir smsnya itu. Padahal ia ingin sekali Sungmin melihatnya di pertandingan pertamanya setelah ia operasi. Tapi sepertinya tidak bisa.

Yoonji meletakkan ponsel di tasnya dan berjalan menuju lapangan. Ini gilirannya untuk bertanding. Ia gugup sekali. Setelah perjuangannya di meja operasi dan berbagai latihan yang keras, akhirnya ia bisa kembali lagi ke lapangan ini.

Tidak perlu menang. Yang terpenting bagi Yoonji ia bisa merasakan kembali kecepatannya di lapangan ini. Semua akan baik-baik saja sekarang, ia harus yakin akan hal itu.

Yoonji bersiap-siap melakukan posisi start di lintasan.

“Mimpiku sederhana…”

Matanya menatap tajam lintasan lari di depannya.

“Aku hanya ingin berlari secepat mungkin dan mengalahkan waktu.”

Start. DOR.

***

“Chukae, chagiya! Kau berada di urutan kedua!”ucap ibunya saat Yoonji selesai bertanding.

Yoonji tersenyum lebar. “Aku pikir aku akan kalah jauh Eomma! Aku senang sekali!”

“Yoonji-ya, Sungmin menunggumu di luar.”kata ayah Yoonji tersenyum.

Yoonji menatap ayahnya dengan mata berbinar-binar bahagia. “Jinjjayo?”tanyanya, lalu tanpa menunggu jawaban ayahnya, ia segera berlari keluar lapangan, mencari Sungmin.

Yoonji sampai di pelataran parkir dan melihat seorang namja memakai syal dan topi yang menutupi wajahnya, sedang bersandar di pintu mobilnya. Yoonji mengenali siapa namja itu, kemudian jantungnya kembali berdebar dengan keras.

Aneh bukan? Padahal ini jantung yang baru.

“Kenapa tidak masuk?”tanyanya, menghampiri Sungmin.

Yoonji bisa merasakan senyuman Sungmin dibalik syal itu. “Aku sudah masuk dan melihatmu bertanding. Tapi aku tidak bisa berlama-lama di dalam. Terlalu banyak orang.”

“Eotte?”

“Kau hebat. Juara dua sudah membuktikan jika kemampuanmu masih tetap sama. Padahal kau baru saja sembuh.”kata Sungmin membuat Yoonji tersenyum lebar.

Mereka lalu terdiam. Saling memandang dan melepas rasa rindu. Kemudian Sungmin menarik Yoonji ke dalam pelukannya. Memeluknya erat.

Tidak perlu ada pengakuan. Karena hanya cukup dengan merasakan debaran jantung mereka yang seirama, mereka bisa mengerti, jika cinta ada di antara mereka.

 ~END~

Kekeke~ aku muncul jadi ceweknya Umin di masa lalu tuh. Pengen selingkuh dikit sama Umin, tapi takut diomelin sama suami *lirik yeppa* jadi di ceritanya kubikin meninggal deh. Hehe~

Ayo komennyaaaa~ XD

26 pemikiran pada “If My Heart Beats for You

  1. .eeeooooonnnniiiiieeeee…..><
    .ceritanya ngenes banget.,,untung aja kagak sad ending.,,bisa bisa tambah mewek aku…..T.T
    .aku bingung disini yg paling kasian siapa….
    .semuanya kasian.,minppa.,yuuri.,yoonji perannya ngenesss…T.T
    .menurutku scene yg paling ngenes pas minppa tau jantungnya yoonji punyanya yuuri.,tuh scene bikin aku galau juga….T.T
    .aku kagak tau bilang apa.,ni ff Te.O.Pe Be.Ge.Te dah.,pantes kalo emang di kasih predikat top imaginator….
    .habis gimana lagi.,ffnya bikin yg baca ngegalau plus nangis kejerr..T.T #lebeee
    .pokok.e mantep tenan ff iki.,iso gawe aku nangis misek misek…T.T (bc: pokoknya mantap bener ini ff.,bisa bikin aku nangis terisak isak..T.T)

    1. he? kmu nangis? aigoo~
      ntah kesambet setan cengeng apa aku bikinnya ampe tragis gtu.
      tya tenang aj pokoknya,, ffku th walopun angst gk bakalan sad ending deh. cz aku gk suka sad end. hehe~
      gomawo y udh bilang TeOPeBeGeTe.. kekeke~ XD

      1. .ne.,cheonma eon. . .^^
        .klo gtu sering bikin ff yg kayak gini aja eooonn,,nanti biar bisa bikin aku nangis kejer lagiiii. . .o_O

  2. Wah eonie,, aq gag tega ma nasibnya jung yuuri.. Kekeke
    Ceritanya bgus bgt eon,, tpi syang bgt gag jadi juara pertama..
    Aq aj hampir nangis pas baca..
    Miris amat nasib mereka.. Huhuhu

    Eonnie selingkuh ma umin oppa,, kasian yeppa..
    Yeppa selingkuh ma aq aj sini,, aq rela kq.. #peluk, cium yeppa

      1. *ambil tissue dari eonnie*
        ich sama aja eonn,, meskipun meninggal tapi kn tetep ada niatan selingkuh ma umin oppa…
        huft.. =,=

  3. Bgus,tp aku penah bc yg intinya sama tp lupin bc dimana u.u
    qlo gasalah cast co’a yunho xD qlo gasalah hbis lupin, tp sama critanya, ceny juga hbis jantngny dioperasi lage jd pake jntng bru tp tetep bdbr tiap liat namjanya,jd mrk bner2 suka 😉

  4. wahh eonni punya penyakit narsis akut ya?
    kekeke~ bakal trtular nih..

    like!! 😀
    can u feel my heart beat~?
    eaaa.. suka eonni.. XD

    tpi mnurutku aneh klo namja mrasa deg2an klo liat cwe’ yg dy suka.. — hihihi~ mrk juga punya prasaan UniKyu….
    #jwb prtanyaan sndiri ~~

    1. wkwkwkwk~ boleh dong aku tampil di skenarioku sendiri. 😛
      can u feel my hearbeats? *nyanyi ala 2pm* XD

      lah emgnya klo namja suka sm cwe dy gk bs deg2an y? mrka pny jantung kan?
      dasar reader aneh =_=” 😛

  5. Hwaaaaa.,..
    Hiks..hiks…
    T.T

    1 lagi FF eonn yg bikin aQ nangis *lap pake handuk Kyu*
    airmataQ b’tebaran dmana2..

    Yeeee
    tadi aQ udah nebak klo Yuuri kasih jantung’x, eeehhh ga tw’x bener,.

    Eonn mw selingkuh??
    Kog sama Sungmin,,
    huuuhhhh
    XD

      1. Ga mw handuk yg lain *lempar balik ke eon*
        aQ mw’x cuma handuk Kyu.. ¤.¤

        kasian Yeye klo eon 2’in..
        Ntar aQ ambil lho Yeye’x..
        😛

  6. sad storyy,,huwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa T_______T nangis bnrn gw..
    bgs ff nya~~tp yg penting happy ending..yeeee ktauan slingkuh sm umin oppa..langsung d cerein sm yeppa..*evillaugh*

  7. Nice ff eonnie..
    amanat na : kejarlah mimpi, impian mu., meski kesempatan itu kecil tetap lah berusaha,..

    Q kira bkal sad ending t’nyata happy ending..
    😀

  8. astaga eonni~~~ hwaaaaaa………..hiks..hiks… eonni tanggung jwab bkin aku mewek kyk gni…;( 😀
    galau bngt ni ff, tpi berakhir dgn happy ending… yeyeyye. 😀
    ini kyk crita.y mv timeless, wktu si cwe’ klo jantung yg dipke siwon itu adalah jantung.y han gege… sumpah,, itu nyesekkk~~~
    semua.y kasian~~~ uri min oppa,, yuuri,, yoojin~ssi…..
    ini kerennnn eonn critanya…. hwa….. #lap pke bju abang heenim…# :(((((((((((((
    great ff eonn 😀 daebakkk… jjang!!!! 😀

  9. Wuuaaahh happy ending jg,, setelah melalui banyak kesedihan. Kasian sm ming d sini, secara dia prince aegyo yg slalu ceria. D sini galau aja dia,, ^^V.. Yuuri, koq FON nya lom ada lanjutan nya sih???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s