Rain That Made Me Fall in Love with You

Tittle:: Rain That Made Me Fall In Love With You

Author:: ideaFina a.k.a Jung Yuuri

Maincast::

  • Lee Donghae Super Junior
  • Kim Hyora (@kimhyoraseokyu)

Support cast::

  • Yesung Super Junior
  • Jung Yuuri (@ideafina)

Genre:: Romance

Rate:: G

FF ini requestannya Nahdila (@kimhyoraseokyu). Udah lumayan lama sih Dila ngerequestnya, tapi berhubung minta dipairing sama Dongek (yg bukan cast yang sering aku bikin kayak Yeye atau Kyu) jadinya stuck mulu deh FF bertitelkan ‘FFDongek’ di ms.wordku. hehe~

Ni FF hiburan buat Dila abis UN, mudah2an Dila suka FF yang Onnie buat ya.^^

~HAPPY READING~

“Siapa namja yang kau sukai?”

Hyora tersenyum pada namja yang merupakan sahabatnya sejak empat tahun lalu ini. “Bi.”jawabnya.

“Bi? Rain penyanyi itu maksudnya?”tanya Donghae bingung.

“Mmm.. Bi.”jawab Hyora lagi dengan senyum lebarnya.

“Aish Kim Hyora! Suka pada idola dengan suka pada seseorang itu berbeda!”protes Donghae.

“Jadi maksudmu, suka yang seperti apa?”tanya Hyora pura-pura tidak mengerti, membuat Donghae merasa gemas.

“Jadi perlu kujelaskan? Suka yang kumaksud adalah rasa suka seperti aku pada Yuuri!”

Senyum Hyora memudar. Niat bercandanya yang sebelumnya langsung menghilang saat mendengar Donghae menyebut nama Yuuri, yeoja yang disukai Donghae sekaligus saudara kembar Hyora.

“Kau kenapa?”tanya Donghae bingung saat melihat perubahan raut wajah Hyora.

“Jadi maksudmu adalah suka seperti rasa sukamu pada Yuuri, rasa suka yang kau pendam selama 4 tahun ini?”ucap Hyora tajam yang langsung menyentak Donghae.

“Hyo-ya… jangan bahas hal ini lagi.”ucap Donghae pelan.

“Tidak sampai kau sadar jika sikapmu salah Hae-ya. Kau tahu jika Yuu sudah punya Yesung Oppa, dan selama enam tahun ini mereka bahagia sebagai sepasang kekasih. Tapi kenapa kau harus terus mengharapkannya?”ucap Hyora tajam.

Donghae menghela napas. “Kau tidak mengerti…”

“Kau salah jika kau menganggap aku tidak mengerti Lee Donghae.”ucap Hyora tajam.

“Hyo-ya… maksudku bukan begitu…”ucap Donghae dengan merasa bersalah sekaligus bingung. Apa bagi Hyora Rain itu bukan hanya sekedar idola? Tapi ia benar-benar tidak mengerti kenapa Hyora bisa mencintai seorang Rain yang bahkan belum pernah ditemuinya sekalipun?

 Kemudian Hyora bangkit dari duduknya. “Aku harus kembali. Nanti malam Appa dan Yuu datang, jadi aku harus membantu Eomma memasak makan malam.”ucap Hyora pelan.

Donghae bangkit dari duduknya lalu memegang lengan Hyora. “Kau tidak marah kan Hyo? Mianhe…”

Hyora menghela napas, lalu tersenyum kecil pada Donghae. “Kapan aku bisa benar-benar marah padamu?”

Donghae ikut tersenyum. “Gomawo, Hyo-ya. Salam untuk keluargamu.”ucap Donghae.

“Ne.”jawab Hyora dengan senyum lebar.

“Terutama untuk…”

“Yuu. Arayo.”jawab Hyo, masih berusaha tersenyum dengan menahan sakit di hatinya.

***

*Flashback.*

Donghae mengarahkan kameranya dengan bersemangat saat melihat orang-orang yang berlarian di tepi pantai. Ia selalu menyukai memotret ekspresi orang-orang saat bermain dengan riang di tepi pantai. Membuatnya semakin mencintai laut dan keindahannya.

Kemudian Donghae sedikit terkejut saat merasakan sesuatu menabrak punggungnya. Ia berbalik dan mendapati seorang yeoja jatuh terduduk memegangi kepalanya.

“Gwenchana?”tanya Donghae sambil mengulurkan tangannya pada yeoja itu. Yeoja itu masih memegang kepalanya dengan sebelah tangan tetapi ia meraih tangan Donghae dengan tangan satunya. Donghae menarik yeoja itu untuk berdiri.

“Mianheyo sudah menabrakmu tadi.”ucap yeoja itu saat sudah berdiri dan ia menurunkan tangannya dari kepalanya. Donghae tertegun saat melihat mata besar yeoja itu yang bening. Entah kenapa ia merasakan perasaan yang berbeda. Ia merasakan aliran listrik di sekujur tubuhnya yang seolah-olah dapat menyetrumnya. Tapi alih-alih merasa tersetrum, ia merasakan hatinya menghangat dan jantungya berdebar-debar keras.

“Gamsahae sudah menolongku. Aku pergi dulu.”ucap yeoja itu tanpa tersenyum, sebelum Donghae sempat mengatakan apapun.

“Chankaman…”tapi Donghae terlambat. Yeoja itu sudah berjalan pergi. tapi setelah agak jauh, yeoja itu berbalik dan tersenyum pada Donghae. Senyum yang tidak akan mungkin bisa Donghae lupakan.

Donghae meletakkan tangan kanannya di dada kirinya. Ia masih bisa merasakan jantungnya berdebar-debar dengan keras.

“Perasaan apa ini? Apa ini ‘Love at first sight’?”gumamnya bingung. Kemudian Donghae menangkap sesuatu di bawah saat ia menunduk. Sebuah dompet. Ia memungutnya kemudian membuka dompet itu dengan penasaran.

Donghae tersenyum saat melihat foto yeoja yang tadi menabraknya di dalam dompet itu. Ia mengeluarkan kartu identitas di dalamnya, lalu membacanya.

“Jadi namanya Jung Yuuri?”ucapnya dengan senyum lebar.

*End of Flashback.*

***

“Jadi kapan kalian akan menikah kembali?”tanya Hyora bersemangat saat makan malam bersama kedua orangtuanya dan saudara kembarnya, Yuuri.

Ayahnya tertawa kecil mendengar pertanyaan anaknya. “Kau terdengar bersemangat sekali Hyo-ya. Padahal kami yang akan menikah. Kau seperti orangtua yang bersemangat sekali mendengar anaknya akan segera menikah.”ucap ayahnya diiringi tawa ibunya dan Yuuri.

Hyora mengerucutkan bibirnya sebal. “Tentu saja aku bersemangat. Aku kan sudah tidak sabar ingin mengganti namaku menjadi ‘Jung’ lagi.”

Wajah kedua orangtua Hyora langsung berubah saat mendengar komentar putri bungsu mereka. Hyora menyadari perubahan itu, lalu merasa menyesal.

“Mianhe, Hyo-ya, Yuu-ya, karena perceraian kami membuat kalian berdua sedih…”ucap ibunya dengan mata berkaca-kaca.

“Eomma… uljima… mianhe. Seharusnya aku tidak mengatakan hal itu.”ucap Hyora dengan mata berkaca-kaca. Perceraian kedua orangtuanya saat Hyora dan Yuuri masih sangat kecil memang membuat Hyora harus memakai marga ‘Kim’ karena ia dibawa ibunya, dan Yuuri memakai marga ‘Jung’ karena ia tetap bersama ayahnya. Hal itu memang sering membuat Hyora merasa sedih karena seharusnya seorang anak memakai marga ayahnya. Makanya ia senang sekali sekarang saat orangtuanya memutuskan untuk rujuk, walaupun sudah bertahun-tahun lamanya mereka berpisah.

“Hei! Kenapa kalian menjadi cengeng begitu sih? Kita kan mau bersenang-senang malam ini.”ucap ayahnya dengan nada ceria, berusaha membuat kedua yeoja yang dicintainya berhenti menangis.

“Ah Appa seperti tidak mengenal Hyo saja. Ia kan lebih suka menangis daripada tertawa.”ucap Yuuri dengan nada malas.

“YAK!”seru Hyora, kemudian mereka berempat tertawa-tawa dan menghabiskan malam itu dengan gembira.

***

“Berhenti tersenyum selebar itu Hyo, sebelum wajahmu lebarnya mencapai telingamu!”canda Yuuri karena Hyora masih terus tersenyum lebar sejak makan malam keluarga tadi. Yuuri tentu saja juga sangat bahagia karena orangtua mereka berdua kembali bersama, tapi ia merasa geli juga melihat adiknya terus-terusan tersenyum seperti itu.

“Ah Yuu… aku ini bahagia sekali tahu! Jangan suruh aku berhenti tersenyum!”rengek Hyora yang membuat Yuuri tertawa-tawa dengan adiknya yang sangat emosional itu.

“Eh Hyo, menurutmu apa yang Eomma dan Appa lakukan di kamar? Membuat adik baru untukku mungkin?”

“Ya! Jung Yuuri!”omel Hyora dengan wajah bersemu merah, membuat Yuuri tertawa terbahak-bahak karena berhasil menggoda adiknya itu.

Yuuri senang sekali melihat wajah Hyora yang terus tersenyum sejak tadi. Ia merasa bersyukur dan lega sekali karena setelah perjuangan mereka berdua yang panjang untuk menyatukan kedua orangtua mereka, akhirnya mereka kembali bersama. Walaupun harus menunggu selama belasan tahun untuk mereka berempat kembali menjadi satu keluarga.

Masih segar di ingatan Yuuri saat Hyora kabur dari rumah empat tahun lalu karena orangtua mereka yang kembali bertengkar hebat. Ia tidak mau hal itu terjadi lagi.

*Flashback.*

“Uljima Hyo…”ucap Yuuri dengan menahan tangis memeluk adik kembarnya yang terus-menerus menangis semenjak tadi melihat kedua orang tuanya bertengkar hebat.

“Ke… kenapa… sulit sekali… membuat mereka kem… bali bersama Yuu…”ucap Hyora disela isak tangisnya. “Aku mau pergi dari rumah saja! Aku tidak mau melihat mereka bertengkar terus! Aku tidak mau harus berganti-gantian untuk tinggal bersama Appa dan  Eomma!”

“Yak!”seru Yuuri. “Don’t you dare to leave me!”omel Yuuri lalu semakin mengeratkan pelukannya pada Hyora yang menangis semakin keras.

Esok paginya Yuuri tidak menemukan Hyora di tempat tidurnya. Ia yang mengerti bagaimana sifat adiknya, langsung merasa panik saat menyadari jika Hyora benar-benar melaksanakan ucapannya tadi malam. Kemudian ia melihat surat dari Hyora di mejanya.

 

Yuu, aku ingin menenangkan diri dulu di suatu tempat. Jangan khawatir, aku tidak akan pergi lama. Saranghae.

PS: Aku pinjam dompetmu dulu ya. Aku lupa menaruh dompetku dimana 😛

 

“Aish! Kim Hyora! Kenapa kau bawa dompetku!”ucap Yuuri sebal dengan perasaan khawatir yang besar.

***

 

Hyo, are u okay? Please hang up my call… (=,=)

 

Hyora menghela napas membaca sms dari Yuuri. Hari ini sudah hari ketiganya pergi dari rumah, dan dari sms-sms panik Yuuri, Hyora mengerti jika sekarang pasti kedua orangtuanya sudah menanyakan dimana keberadaannya. Tapi Hyora masih belum mau pulang.

“Yuu… I’m okay.”gumam Hyora sambil berjalan dan terus mengetik sms untuk Yuuri. “Kkokjongmal. Aku akan pu… Aah!”

Hyora terkejut karena merasakan sesuatu yang menubruk kepalanya. Ia terjatuh terduduk lalu memegang kepalanya yang sakit dengan tangannya yang menggenggam ponsel, sementara tangan satunya bertumpu di tanah, menahan jatuhnya tadi.

“Gwenchana?”tanya sebuah suara berat. Hyora melihat namja yang berdiri di hadapannya menjulurkan tangannya untuk membantu Hyora bangkit. Hyora tersadar kalau tadi ia sudah menabrak punggung namja itu. Ia meraih tangan namja itu lalu berdiri dengan tarikan namja itu.

Hyora menurunkan tangannya. “Mianheyo sudah menabrakmu tadi.”ucap Hyora. Namja itu tidak menjawabnya, hanya menatap Hyora dengan aneh. Tapi entah kenapa Hyora menyukai tatapan mata namja itu padanya.

“Gamsahae sudah menolongku. Aku pergi dulu.”kata Hyora akhirnya karena namja itu masih diam saja. Hyora berbalik lalu berjalan menjauh, dan ia tidak menoleh saat namja itu memanggilnya.

Tapi setelah beberapa saat, Hyora berbalik. Ia tertegun saat melihat namja itu masih berdiri di tempat yang sama dan memandangnya. Kemudian tanpa bisa ditahannya, ia tersenyum pada namja itu.

*End of Flashback.*

***

“Yuu!”panggil Donghae riang saat melihat Yuuri di koridor kampus. Yuuri berbalik dan tersenyum saat melihat Donghae, sahabat Hyora, berlari menghampirinya.

“Daebak, Lee Donghae!”ucap Yuuri saat Donghae sampai di hadapannya.

“Hah? Apanya?”tanya Donghae bingung.

“Hanya kau yang bisa membedakan mana Yuuri dan mana Hyora dari jarak sejauh itu di kampus ini!”kata Yuuri tertawa.

“Tentu saja!”ucap Donghae dengan senyum lebar. Mana mungkin aku tidak mengenali gadis yang kucintai, ucap Donghae di dalam hati.

“Haha… tentu saja kau bisa membedakan yang mana Hyora, kalian kan dekat sekali! oh ya, bagaimana hubungan kalian berdua? Apa ada kemajuan?”goda Yuuri dengan menyipitkan mata dan tersenyum-senyum.

Donghae mengerti maksud Yuuri adalah hubungannya dengan Hyora. Selama ini Yuuri tidak pernah tahu jika yang Donghae sukai adalah dirinya, bukan Hyora. Tapi tentu saja Donghae hanya bisa meralatnya sebatas jawaban ‘sahabat’ bukan karena ia sebenarnya menyukai Yuuri.

“Kan sudah kubilang jika kami ini hanya sahabat, Yuu-ya…”ucap Donghae putus asa. Ia sudah capek berkali-kali mengkonfirmasi hal ini pada Yuuri.

Yuuri cemberut. “Ish! Padahal aku mengharapkannya! Kan kalau kalian jadian kalian bisa ikut denganku dan Yesung Oppa untuk double date!”

Lagi-lagi Donghae harus merasakan sakit di hatinya saat Yuuri menyebut nama Yesung. Tapi ia tidak bisa mengatakannya kan? Anggap saja Donghae pengecut. Ia memang merasa takut sekali jika Yuuri akan menjauhinya jika ia menyatakan perasaannya pada yeoja itu. Walaupun Donghae tahu jika Yuuri dan Yesung saling mencintai dan tak terpisahkan, tapi ia masih tetap berharap. Berharap sesuatu yang mustahil, kata Hyora.

“Sudah selesai kuliah kan? habis ini kau ada acara?”tanya Donghae.

“Hmm… tidak ada sih. Tadinya aku mau ke kantornya Yesung Oppa. Tapi ternyata ia ada meeting di luar, makanya aku tidak jadi kesana.”jelas Yuuri dengan wajah kecewa.

“Bagaimana kalau kita jalan-jalan?”tanya Donghae penuh harap. “Temani aku, aku sedang suntuk.”tambahnya, agar Yuuri mau.

“Memang Hyo dimana? Kenapa kau tidak mengajaknya?”

“Aku sedang ingin jalan bersamamu saja. Kau kan bisa membuatku tertawa dengan cerita-cerita anehmu itu.”jawab Donghae jujur, membuat Yuuri terkekeh.

“Itu kupelajari dari Yesung Oppa lho!”jawab Yuuri riang, yang tanpa diketahuinya malah membuat hati Donghae kembali perih. “Jadi kita mau kemana? Aku sedang ingin berjalan-jalan di luar.”

“Kita ke…”

Tiba-tiba terdengar suara hujan turun. Yuuri dan Donghae refleks menoleh keluar. “Yah… Donghae-ya, sepertinya aku tidak bisa menemanimu jalan-jalan.”ucap Yuuri sebal saat melihat hujan yang semakin besar.

“Kita kan bisa jalan-jalan di mal saja Yuu.”bujuk Donghae.

Yuuri menggeleng. “Mianhe, Donghae-ya. Kau kan tahu aku lebih suka jalan-jalan di luar, dan aku tidak suka hujan.”

Tentu saja Donghae tahu jika Yuuri tidak suka hujan.

“Ajak Hyo saja. Dia kan sangat suka hujan. Jadi tidak masalah kalian jalan kemana pun, ia pasti senang selama bisa melihat hujan.”

Dan Donghae juga tahu Hyora sangat menyukai hujan, sama seperti dirinya. Mungkin itulah salah satu hal yang membuat Donghae dan Hyora sedekat sekarang. Selain karena satu jurusan dan sekelas, mereka juga banyak menyukai hal yang sama. Berbeda dengan Donghae dan Yuuri.

“Mianhe, Donghae-ya. Lain kali saja ya kalau cuaca cerah?”kata Yuuri dengan puppy eyes yang tentu saja sulit untuk Donghae tolak.

“Geurae. Tapi lain kali kau harus mau menemaniku ya?”

Yuuri tersenyum lebar. “Nee….. bye Donghae-ya. Aku akan ke perpustakaan dulu.”kata Yuuri lalu pergi meninggalkan Donghae.

Senyum tidak bisa meninggalkan wajah Donghae saat melihat Yuuri berlalu dari hadapannya. Kemudian Donghae memandang hujan yang semakin deras, membuatnya ingat akan hari itu. Alasan kenapa ia mencintai hujan.

*Flashback.*

Donghae menunggu dengan gelisah di kedai ddukboki di pinggir jalan dekat pantai. Ia memperhatikan orang yang berlalu lalang di sekitar pantai itu, berharap jika yeoja yang tadi pagi menabraknya muncul kembali untuk mencari dompetnya yang terjatuh. Dompet yang sekarang sedang dipegang Donghae.

 Tapi sampai hujan turun deras seperti ini Donghae masih belum melihat tanda-tanda kemunculan yeoja itu. Donghae menghela napas. Jika seperti ini berarti ia harus mengembalikan dompet ini ke kantor polisi terdekat atau alamat yang tertulis di kartu identitas yeoja itu. Padahal ia ingin bertemu lagi dengan yeoja yang ternyata sudah memikat hatinya sejak pandangan pertama mereka itu.

Apa nanti jika ia mengembalikan dompet itu ke alamat yeoja ini di Seoul ia bisa kembali bertemu dengan yeoja itu dan bisa mengajaknya berteman? Atau mungkin hubungan mereka cuma berhenti saat pengembalian dompet ini saja?

Hah…. Donghae benar-benar menyukai gadis itu sepertinya, sampai ia terus-menerus memikirkan hal seperti ini.

Kemudian setelah membayar ddukbokinya, Donghae keluar dari kedai itu dengan menggunakan payung. Ia memutuskan kembali ke rumahnya. Tapi tiba-tiba ia melihat yeoja yang familiar sekali untuknya, walaupun baru dilihatnya tadi pagi, sedang menunduk di pinggir jalan di bawah pepohonan dengan tubuh basah kehujanan.

Ia pasti mencari dompetnya, tapi tidak seharusnya ia hujan-hujanan seperti itu, pikir Donghae. Kemudian Donghae tergesa-gesa menghampiri yeoja itu lalu memayungi yeoja itu.

Yeoja itu mengangkat wajahnya untuk melihat ke atas saat merasakan hujan tidak lagi mengguyur tubuhnya.

“Gwenchana? Kenapa kau hujan-hujanan? Apa kau mencari dompetmu?”tanya Donghae cemas. Kemudian ia mengeluarkan dompet yeoja itu dari saku jaketnya dan menjulurkannya ke yeoja itu. “Ini dompetmu.”

Yeoja itu tersenyum kecil, senyum yang membuat Donghae merasakan jantungnya berdebar lebih keras dan tubuhnya yang basah terasa menghangat. “Gomawoyo.”ucap yeoja itu dengan suara bergetar.

Donghae tersenyum lalu mengulurkan tangannya kepada yeoja itu untuk membantunya berdiri. Yeoja itu menerima uluran tangan Donghae. Donghae menariknya berdiri lalu membawanya ke bawah payung Donghae. Donghae merasakan jantungnya berdebar dengan keras karena tubuh yeoja itu yang begitu dekat dengannya. Kemudian ia tertegun saat merasakan tubuh yeoja itu memeluk tubuhnya. Ia bisa merasakan tubuh yeoja itu bergetar hebat.

“Dingin?”tanya Donghae cemas. Yeoja itu mengangguk lemah. Donghae membalas pelukan yeoja itu dengan lebih erat dan mengusap-usap punggung yeoja itu, berusaha menghangatkannya.

Jantung Donghae berdebar kencang karena merasa gugup sekaligus gembira, yeoja yang disukainya berada di dalam pelukannya. Tapi ia tidak bisa berlama-lama dalam posisi seperti ini. Bisa-bisa jantungnya berhenti karena terlalu capek berdebar sekencang ini.

“Sebaiknya kita segera ke tempat yang lebih hangat.”ucap Donghae, tapi tidak ada jawaban dari yeoja di pelukannya itu. Kemudian Donghae merasakan tubuh yeoja di pelukannya melemas, dan Donghae berhasil menangkap tubuh yeoja itu yang pingsan sebelum jatuh.

Dengan panik Donghae mendekap tubuh yeoja itu yang basah kuyup. Ia menjatuhkan payungnya dan menggendong tubuh pingsan yeoja itu dengan setengah berlari mencari klinik terdekat.

Akhirnya Donghae menemukan sebuah klinik dan membawa tubuh yeoja itu ke dalam dan dengan panik meletakkan tubuh yeoja itu di ranjang periksa. Dokter klinik itu segera memeriksa tubuh yeoja itu.

“Dia tidak apa-apa. Hanya kelelahan dan karena hujan-hujanan jadi sekarang ia hipotermia dan tubuhnya demam. Ia akan baikan setelah dirawat disini sampai besok.”

Donghae menghela napas lega mendengar penjelasan dokter.

“Oh ya, apa anda keluarganya?”tanya dokter.

Donghae menggeleng. “Saya tidak mengenalnya. Tapi tadi pagi kami tidak sengaja bertabrakan dan dia menjatuhkan dompetnya, jadi saya memutuskan untuk menunggunya di tempat yang sama, lalu saya melihatnya kehujanan.”jelas Donghae terus terang.

“Kalau begitu anda bisa menghubungi keluarganya?”

“Ah bisa. Akan saya hubungi.”kata Donghae. Ia lalu mengambil tas yeoja itu dan mencari ponsel di dalamnya. Saat menemukannya ia mencari nomor yang bisa dihubungi, lalu ia melihat recent call yang tertera dan menelpon kontak bernama ‘My luvly sister’.

***

 

Donghae membuka matanya yang terasa berat. Semalam setelah mengantarkan yeoja bernama Jung Yuuri itu ke klinik, ia kembali ke penginapan untuk mengganti pakaiannya yang basah. Tapi kemudian ia malah jatuh tertidur sampai pagi.

Setelah membersihkan tubuhnya, Donghae kembali lagi ke klinik. Jantungnya berdebar dengan sangat keras karena ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan yeoja yang membuatnya jatuh hati pada pandangan pertama. Senyum lebar Donghae menghilang saat ia membuka pintu ruang rawat dan hanya menemukan ranjang yang rapi tanpa orang yang dicarinya disana.

“Kemana dia?”tanya Donghae cemas, kemudian ia mencari perawat dan menanyakan dimana keberadaan yeoja yang sudah berhasil mendapatkan hatinya itu.

“Tadi pagi-pagi sekali keluarganya sudah menjemputnya pulang.”

*End of flashback.*

***

 

Hyora berhenti mencatat lalu menatap rintik-rintik hujan diluar jendela perpustakaan dengan wajah senang. Ia sangat menyukai hujan. Bukan tanpa alasan ia menyukai hujan. Semua itu karena Lee Donghae. Karena hujan telah membuatnya jatuh cinta pada namja bernama Lee Donghae.

*Flashback*

Hyora menggerutu kesal melihat selokan di bawahnya. Sepertinya hari ini hari sialnya.

Semua akibat tadi pagi ia datang terlambat pada hari pertama kuliah, sehingga Han Songsaengnim, dosen yang sangat disiplin dan galak, tidak mengizinkannya masuk kelas. Padahal baru hari pertama, tapi dosen itu tidak mau mentolerir keterlambatannya.

Kemudian karena tidak ada kuliah lain, Hyora memutuskan untuk pulang. Saat ia bersiap untuk pulang, hujan mulai turun. Hyora yang tidak membawa payung, hanya bisa pasrah menunggu hujan reda di depan koridor kantin. Hyora memutuskan untuk memesan taksi, lalu mengambil ponsel di kantong tasnya. Tapi saat mengeluarkan ponselnya, gelang perak di tangannya tersangkut kancing tasnya, dan saat ia menarik tangannya, gelang itu terlepas dan masuk ke selokan di depannya.

“Andwae!”jerit Hyora. Buru-buru ia menghampiri selokan, tak peduli terkena hujan. Ia berjongkok di atas selokan yang tertutupi teralis besi itu lalu memandang putus asa gelangnya yang tenggelam di saluran air itu.

Sebenarnya selokan itu tidak dalam, hanya saja teralisnya berat sehingga Hyora tidak bisa membukanya. “Eottohke…??”desah Hyora putus asa. Gelang itu adalah hadiah ulang tahunnya ke-17 dari ayahnya. Gelang perak dengan hiasan kupu-kupu dari emas putih yang dipesan khusus untuk dirinya dan Yuuri. Hyora tentu saja tidak mau kehilangan gelang berharga hadiah dari ayahnya itu.

Tiba-tiba Hyora merasakan air hujan yang sedari tadi menetesinya kini sudah tidak ada. Apa hujan berhenti? Hyora mendongak ke atas. Tapi bukannya langit, ia malah melihat sebuah payung berwarna biru sedang menaunginya. Ia mengalihkan pandangannya pada si pemegang payung.

“Sedang apa?”

Hyora tertegun menatap namja tampan pemegang payung yang sekarang sedang menaunginya itu. Namja yang sama dengan namja yang tiga bulan lalu menolongnya di Mokpo saat kabur dari rumah. Namja dengan tatapan mata yang sangat disukainya.

“Hei! Kau sedang apa?”tanya namja itu lagi. Hyora langsung tersadar dari lamunannya.

“Ah, ng… gelangku terjatuh ke selokan.”ucap Hyora gugup. Ia bisa merasakan jantungnya berdebar keras sekarang.

“Jatuh?”kata namja itu lalu ikut berjongkok. Ia melihat ke balik teralis selokan itu. kemudian ia mengangsurkan payung ke tangan Hyora. “Pegang sebentar.”

Hyora mengambil payung itu untuk menutupi tubuh mereka berdua yang sedang berjongkok di dekat selokan. Namja itu memegang teralis selokan, dengan sedikit bersusah payah mengangkatnya. Setelah berhasil membukanya, ia memasukkan tangannya dan mengambil gelang Hyora yang terendam air.

“Nih!”ucap namja itu dengan tersenyum lebar. Hyora mengadahkan sebelah tangannya lalu namja itu meletakkan gelang itu di tangan Hyora.

“Gomapta.”ucap Hyora dengan tersenyum kecil, lalu menundukkan wajahnya malu. Karena mereka sekarang berada dalam satu payung dan berada begitu dekat, membuat jantungnya berdebar semakin keras sekarang. Ia berharap namja di hadapannya ini tidak mendengar debar jantungnya yang begitu keras itu.

“Cheonmaneyo. Kau mau pulang kan? Mau kuantar? Aku bawa mobil, jadi kau tidak akan kehujanan.”tawar namja itu ramah.

Hyora mengangkat wajahnya, lalu menatap namja itu ragu. Mereka kan baru saling mengenal, apakah baik jika Hyora menerima tawarannya?

“Kkokjongmal. Aku tidak akan membawamu ke tempat yang aneh-aneh kok.”kata namja itu, seperti mengerti apa yang dipikirkan Hyora.

“Ah, mianhe! Bukan begitu maksudku!”ucap Hyora sedikit panik. Merasa tidak enak karena namja itu mengerti apa yang dipikirkannya.

“Kalau begitu, ayo ikut!”ajak namja itu. Akhirnya Hyora tidak bisa menolak lalu ikut bersama namja itu ke mobilnya yang diparkir tidak jauh dari kantin.

Hyora tersenyum malu saat namja itu membukakan pintu mobil untuknya. Belum pernah ada namja yang memperlakukannya semanis itu. Yah tepatnya belum pernah ada namja yang ia izinkan untuk mengantarnya pulang. Tapi kenapa baru sebentar bertemu dengan namja ini, Hyora sudah merasakan hal yang berbeda padanya?

Setelah perjalanan ke rumah Hyora yang penuh keheningan karena kegugupan keduanya, akhirnya mobil namja itu sampai di depan rumah Hyora.

“Gomapta sudah mengantarku, ng…”

“Lee Donghae.”jawab namja itu, lalu cemberut. “Ternyata kau masih belum mengingat namaku juga ya. Padahal kan kita satu kelompok saat ospek kemarin.”

“Hah?”Hyora kebingungan. Saat ospek tiga hari yang lalu kan ia sakit, jadi tidak ikut. Satu kelompok darimana?

“Kau benar-benar lupa padaku, Yuuri-ssi?”

Hyora kemudian tertawa kecil saat menyadari ada kesalahpahaman disini.

“Kenapa kau tertawa?”tanya Donghae bingung.

“Mianheyo, Donghae-ssi. Aku bukan Yuuri. Aku adik kembarnya, namaku Hyora.”

*End of Flashback*

Semenjak itulah Hyora mengenal Donghae. Perlahan perasaan tertariknya pada Donghae menjadi semakin besar saat mereka semakin dekat di jurusan yang sama dan bertemu hampir setiap hari. Hyora berharap jika Donghae memilik perasaan yang sama dengannya, atau mengingat awal pertemuan mereka. Tapi ternyata Donghae tidak pernah sekalipun membahas mengenai pertemuan mereka di Mokpo, membuat Hyora berpikir jika namja itu sama sekali tidak mengingatnya.

Padahal Hyora ingin sekali berterima kasih pada Donghae dan menyatakan bagaimana perasaannya yang sebenarnya pada Donghae. Tapi ia mengurungkan niatnya karena Donghae ternyata menyukai Yuuri, kakak kembar Hyora sendiri.

Hyora menghela napas sedih mengingat hal itu, lalu mulai membereskan alat tulis dan tasnya. Ia berjalan keluar perpustakaan, memutuskan untuk mencari Donghae di tempat yang tadi diberitahu Yuuri.

***

“Hae-ya!”

Donghae tersadar dari lamunannya saat mendengar suara lembut yang dikenalnya. Ia menoleh ke asal suara dan menemukan yeoja yang begitu dekat dengannya selama empat tahun ini, menghampirinya dengan senyuman lebar. “Hyo, kau kemana saja?”tanya Donghae membalas senyuman Hyora.

“Oh tadi aku dari perpustakaan lalu bertemu Yuu. Yuu bilang kau disini. Sedang apa?”

Donghae tersenyum kecil lalu kembali melihat hujan di luar. “Ah… bi.”ucap Hyora senang.

Donghae kembali menatap Hyora dan mengangkat sebelah alisnya. “Jangan bilang kau sedang membayangkan namja bernama ‘Bi’ itu?”

Hyora terkekeh kecil. “Kalau iya memangnya kenapa?”

“Ya! Hyo-ya, katakan padaku siapa namja itu? aku tidak percaya kalau kau menyukai penyanyi terkenal Bi. ‘Bi’ yang kau maksud pasti namja lain kan?”tanya Donghae setengah memaksa.

“Jangan sok tahu, Lee Donghae!”elak Hyora dengan memalingkan wajah. Menyembunyikan wajah paniknya.

Donghae berjalan ke hadapan Hyora. “Kau sangat menyukai hujan, dan kau selalu menyebut namja yang kau sukai bernama ‘Bi’, berarti kau punya kenangan khusus dengan namja itu saat hujan kan? atau pertama kali bertemu saat hujan?”

Gotcha! Tebakan yang tepat!

Tapi mana mungkin Hyora mengiyakannya. Belum saatnya.

“Aku tidak akan menjawab apapun! Kau terlalu mau tahu!”ucap Hyora dengan cemberut.

Kali ini Donghae yang cemberut. “Ya Kim Hyora! Sudah berapa lama kita bersahabat? Dari awal kuliah sampai sebentar lagi wisuda. Kenapa kau masih saja merahasiakan hal sepenting ini? Kau saja tahu aku menyukai Yuu.”

Hyora tersenyum sedih. Justru karena kau menyukai Yuu, bukan aku. batinnya.

“Sudahlah, Lee Donghae. Lebih baik kita jalan-jalan saja. Bukankah tadi kau sedang suntuk?”

“Geurae. Kau harus membuatku bersenang-senang hari ini!”ucap Donghae senang lalu menarik tangan Hyora. Membuat jantung gadis itu berdebar-debar dengan sentuhan tangan mereka.

Donghae mengajak Hyora bermain di game center. Berkali-kali mereka bertaruh saat bermain game, dari mulai taruhan paling murah dengan mentraktir es krim, sampai taruhan yang menyebalkan, bersedia menceritakan rahasia terpenting yang disembunyikan yang kalah.

Hyora berdecak sebal saat mendengar taruhan itu. “Kau sengaja ya supaya aku memberitahu siapa namja ‘Bi’ itu?!”

Donghae tertawa. “Kan itu kalau kau kalah Hyo-ya. Kalau kau berhasil menang berarti kau tidak harus mengatakannya.”

Hyora menyipitkan matanya sebal. “Kau sengaja memilih game ini agar menang kan?!”

“Ehem! Apa kau takut Nona Kim?”

Ejekan Donghae membuat Hyora semakin terbakar. “Tadi aku sudah menang, Lee Donghae. Sekarang aku akan menang lagi!”

Donghae menyeringai kecil. Itu kan di game lain, batinnya. “Kita lihat saja.”ucap Donghae penuh percaya diri. Lalu mereka berdua mulai memainkan game basket yang biasa mereka mainkan saat mereka ke game center. Mereka saling bersaing untuk melemparkan bola ke ring lebih banyak. Tapi Donghae yang lebih jago tentu saja berhasil memasukkannya lebih banyak. Ia menang.

“Aish! Menyebalkan!”gerutu Hyora saat mereka meninggalkan game center. Donghae tertawa-tawa di belakangnya.

“Taruhan tetap berjalan ya.”ucap Donghae dengan sedikit menggoda.

“Iya! Aku tahu!”

Donghae tertawa lalu menarik Hyora ke toko es krim. Ia membelikan Hyora seporsi besar es krim blueberry cheese kesukaannya. Hyora menatap es krim di hadapannya dengan mata berbinar-binar lalu menyendokkan sesendok besar ke mulutnya.

“Wuaahhhh…. Mashita!”ucapnya senang membuat Donghae tertawa.

“Ah seandainya aku tadi menang lagi, aku pasti memintamu membelikanku es krim lebih banyak.”ucap Hyora dengan menatap es krimnya senang, lalu kembali menyuapkannya.

“Tapi sayangnya aku yang menang, Hyo-ya. dan kau harus menepati janjimu.”

Hyora menelan es krimnya dengan susah payah. Rasa panic menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia benar-benar tidak siap jika harus menyatakan perasaannya pada Donghae. Apa yang harus ia katakan sebagai gantinya? Bagaimana jika ia harus berbohong?

Donghae bisa melihat kecemasan di mata Hyora, lalu tersenyum kecil.

“Aku tidak akan memaksamu untuk mengatakannya Hyo-ya.”ucap Donghae lembut, membuat Hyora mengangkat kepalanya dengan kaget.

“Musun mariya?”tanya Hyora tak percaya.

“Aku percaya kau tidak mau memberitahuku pasti karena ada alasannya. Jadi aku akan menunggu sampai kau mau mengatakannya.”jelas Donghae dengan senyuman lembut dan tatapan mata hangat yang sangat disukai Hyora.

“Jinjja?”tanya Hyora lagi. ia tersenyum lalu menyuapkan es krimnya lagi.

“Ne, jinjja.”ucap Donghae, kemudian ia tertawa kecil.

“Eh, mworago?”tanya Hyora kebingungan.

Donghae menghentikan tawanya lalu melap bibir Hyora dengan tisu. Hyora merasakan tubuhnya menegang dengan perlakuan Donghae itu. “Kau ini tumben makannya berantakan seperti Yuu…”

Lagi-lagi Yuu.

Hyora merasakan hatinya perih lagi saat mendengar Donghae kembali menyebut nama Yuuri. Ia kembali menyuapkan es krimnya, kali ini dengan kesal.

“Kau tahu, Hyo? Tadinya aku mengajak Yuu untuk jalan-jalan hari ini. Tapi ia menolak karena hujan. Untung saja kau mau pergi denga…”

“Aku akan mengatakan siapa namja ‘Bi’ itu padamu sekarang!”ucap Hyora tiba-tiba, memotong perkataan Donghae.

Donghae membulatkan matanya tidak percaya. “Eh? jeongmalyo?”

Hyora tidak menjawab pertanyaan Donghae. Ia menundukkan wajahnya dan mengaduk-aduk es krimnya. Ia tahu apa yang terjadi jika nanti ia mengatakan semua yang dirasakannya pada Donghae. Tapi ia tidak bisa lagi terus-menerus mendengar Donghae menyebut-nyebut Yuuri dengan nada sayang. Hatinya sudah cukup terluka, dan Hyora ingin segera menghentikannya.

“Aku selalu memanggilnya ‘Bi’ karena aku pertama kali bertemu dengannya saat hujan.”ucap Hyora pelan.

Donghae tersenyum senang. “Aha! Tebakanku benar!”

Hyora tetap menundukkan wajahnya. “Namja itu muncul di tengah hujan saat aku membutuhkan pertolongan. Pertolongan keduanya saat di kampus. Saat itu ia menolongku mengambil gelangku yang terjatuh di selokan.”

Donghae melebarkan matanya tidak percaya saat mendengar cerita Hyora. Kenapa situasinya sama seperti dirinya dan Hyora dulu?

“Kemudian ia mengantarku pulang setelah itu.”lanjut Hyora. “Tapi ia salah mengira jika aku adalah Yuu. Bukankah itu menyedihkan?”ucap Hyora sedih, kali ini dengan menatap Donghae yang sudah shock dengan ceritanya.

“Hyo-ya, a… aku…”

Hyora tersenyum sedih. “Inilah alasan kenapa aku tidak pernah mengatakannya padamu. Sekarang saat kau mendengarnya, apa kau merasa puas?”

Donghae tidak bisa mengatakan apapun. Ia memalingkan wajahnya dari Hyora, merasa terlalu bingung dengan semuanya. Ia sama sekali tidak menyangka jika Hyora mempunyai perasaan seperti itu padanya. “Mianhe…”hanya itu yang bisa diucapkannya.

Hati Hyora menjadi semakin sakit saat mendengar kalimat itu dari mulut Donghae. Hyora bisa merasakan matanya mulai menghangat dan berair, tapi ia tidak ingin menangis di depan Donghae. Ia tidak mau membebani perasaan namja itu.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan. Kau tenang saja, aku juga tidak perlu jawaban. Aku cuma mengatakannya karena aku kalah taruhan tadi.”ucap Hyora pelan lalu bangkit dari duduknya.

Donghae mendongak menatap Hyora yang sudah berdiri. Hatinya terasa perih saat melihat mata gadis itu yang mulai memerah. “Hyo-ya…”

“A… aku…. Aku pulang duluan. Saat nanti kita bertemu lagi, aku harap kau melupakan semua yang kukatakan tadi dan kita kembali bersikap biasa.”ucap Hyora berusaha menahan isakannya yang sebentar lagi akan keluar. Kemudian ia berlari keluar toko es krim, meninggalkan Donghae yang masih merasa shock dan sedih akan pengakuan Hyora tadi.

***

Yuuri mondar-mandir di kamarnya sambil dengan cemas terus berusaha menghubungi ponsel Hyora berkali-kali dengan cemas. Sejak beberapa hari yang lalu Hyora tidak pulang dan hanya mengirim sms yang isinya lagi-lagi membuat jantung Yuuri melonjak lebih keras.

Yuu, kakak kembarku tercinta.

Mianhe karena lagi-lagi aku pergi dari rumah. Aku hanya butuh waktu untuk memikirkan banyak hal, jadi aku mau berlibur untuk sementara waktu. Tenang saja, tempatnya tidak jauh kok.

Oh ya, tolong jangan beritahu Donghae jika aku menghilang dulu untuk sementara waktu. Bilang saja aku pergi ke rumah Bibi. Tapi tentu saja aku tidak disana. Hehe~ 😛

Hyo, adik kembarmu yang nakal.

 

“Ne. kau memang adik yang nakal, Hyo-ya! bagaimana mungkin kau tega membuatku cemas di saat Appa dan Eomma sedang pergi berbulan madu dan aku ditinggal sendirian?!”umpat Yuuri kesal.

“Sabar Yuu…”ucap Yesung lembut. Ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Yuuri yang terus mondar-mandir itu. “Sebaiknya kau memikirkan dimana Hyo berada dengan duduk tenang.”kata namja itu lalu mengajak Yuuri duduk.

Yuuri mengikuti namjachingunya itu duduk di sofa. Ia menatap Yesung dengan cemas. “Bagaimana ini Oppa? Hyo tidak pernah meninggalkan rumah lebih dari seminggu seperti sekarang. Terakhir kali ia kabur dari rumah hanya em…”Kemudian mata Yuuri membulat lebar.

“Oppa! Hyo kan pernah kabur empat tahun lalu ke Mokpo selama empat hari!”ucap Yuuri senang.

“Kau benar!”ucap Yesung bersemangat. “Mungkin ia disana!”

“Apa Oppa ingat jalan kesana kan?”tanya Yuuri. “Saat itu kan kita lama sekali nyasar mencari tempat Hyo.”

Yesung menggeleng, membuat Yuuri kecewa.

“Bukankah Donghae orang Mokpo?”

Yuuri membulatkan matanya mendengar hal itu. Kemudian mereka berdua segera pergi ke apartemen Donghae.

***

Donghae menatap foto Hyora dan dirinya di ponselnya dengan gelisah. Sudah seminggu lebih ia tidak bertemu dengan Hyora. Saat ia menanyakan keberadaan Hyora pada Yuuri, Yuuri mengatakan Hyora pergi ke rumah Bibi mereka untuk berlibur sebentar. Tapi tentu saja Donghae tidak percaya. Hyora pasti pergi karena sedih akibat penolakannya yang lalu.

Donghae merasa bingung dengan perasaannya sendiri. Gadis yang ia sukai sejak awal adalah Yuuri, dan baginya Hyora hanya sahabat yang sangat ia sayangi. Tapi sekarang Donghae merasakan separuh hatinya hilang saat Hyora menghilang seperti ini. Sebenarnya bagaimana perasaannya yang sebenarnya pada Hyora?

Suara bel apartemen membuat Donghae menghentikan lamunannya. Ia membuka pintu apartemen dan terkejut melihat Yuuri dan Yesung dengan wajah terlihat begitu cemas.

“Yuu? Yesung hyung? Waegurae? Kenapa wajah kalian seperti itu?”tanya Donghae bingung sekaligus cemas. Apa terjadi sesuatu dengan Hyora?

“Izinkan kami masuk dulu, Donghae-ya.”ucap Yesung. Donghae menggangguk lalu mempersilahkan mereka berdua masuk ke apartemennya.

“Donghae-ya, kau bisa mengantar kami ke Mokpo?”tanya Yuuri langsung saat mereka bertiga sudah duduk di ruang tamu apartemen Donghae.

“Eh? Ngapain?”tanya Donghae bingung.

“Ng…” Yuuri kebingungan. Hyo, maafkan aku karena mengatakannya pada Donghae, batin Yuuri. “… Hyo menghilang sejak seminggu yang lalu. Dan aku tidak tahu ia dimana sekarang.”ucap Yuuri pelan.

“MWO?!”seru Donghae shock. “Kau bilang dia ke tempat bibi kalian kan?!”

“Aku bohong. Dari pesan Hyora ia tidak mau kau tahu jika ia kabur dari rumah.”ucap Yuuri dengan kesal. Kesal karena lagi-lagi ia harus berbohong untuk menutupi ulah kekanak-kanakan adik kembarnya itu.

“Lalu ia di Mokpo sekarang?”tanya Donghae.

“Empat tahun lalu Hyora pernah kabur ke Mokpo. Makanya kami pikir ia kabur kesana lagi.”jelas Yesung.

“Eh? empat tahun yang lalu?”Bukankah yang empat tahun lalu ke Mokpo adalah Yuuri? pikir Donghae bingung.

“Iya. Saat itu Hyo sempat pingsan di jalan lalu ditolong orang. Kemudian orang itu menghubungiku, makanya kami bisa tahu dan pergi kesana untuk menjemputnya.”lanjut Yuuri, yang langsung membuat jantung Donghae berdegup dengan kencang.

Apa maksudnya ini semua? Kenapa… kenapa Hyora yang empat tahun lalu ke Mokpo? Waktu itu kan Yuuri?

“Ah!”Yesung menatap Yuuri. “Apa ia membawa dompetmu lagi?”

“Dompet?”tanya Donghae dengan jantung berdebar kencang. Apa mungkin…

Yuuri menatap Donghae lalu cemberut. “Empat tahun yang lalu ia kabur membawa dompetku karena ia lupa meletakkan dompetnya dimana. Hyo selalu saja membuatku repot! Dan sekarang lagi-la…”

Donghae tidak mendengarkan ucapan Yuuri lebih lanjut. Ia bangkit dari duduknya, mengambil kunci mobil di nakas tempat tidurnya dan berlari keluar apartemen. Tidak dihiraukannya kedua orang yang memanggil-manggilnya dengan bingung di belakang, ia masuk ke mobil dan melajukan mobilnya ke tempat yang ia yakini merupakan tempat keberadaan Hyora sekarang.

“Hyo, tunggu aku.”ucap Donghae pelan.

***

“Aku menunggumu.”ucap Hyora pelan, seolah-olah menjawab ucapan Donghae yang berada di tempat lain. Padahal bukan itu yang ditunggu Hyora. Gadis itu menatap matahari di langit dari tepi pantai, menunggu matahari itu terbenam. Pemandangan indah yang sangat disukainya saat empat tahun lalu kesini.

Pemandangan indah kedua setelah tatapan mata hangat namja bernama Lee Donghae.

Hyora menghela napas sedih. Padahal ia kabur dari rumah untuk menyendiri di suatu tempat, mencoba melupakan perasaannya kepada Donghae. Tapi ia malah datang ke tempat yang membuat perasaannya kepada Donghae semakin nyata. Bukankah Hyora bodoh sekali?

“Lee Donghae, apa yang harus kulakukan untuk melupakanmu…?”ucap Hyora dengan airmata yang mulai mengalir di kedua pipi mulusnya. Kemudian Hyora memeluk kedua lututnya dan membenamkan wajahnya disana. Ia berusaha menyamarkan suara isak tangisnya dengan membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya.

Setelah melihat matahari terbenam dan langit mulai gelap, Hyora bangkit dan memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar pantai. Ia berjalan melewati jalan yang empat tahun lalu menjadi tempat awal pertemuannya dengan Donghae. Hyora tersenyum kecil. jika saat itu ia tidak bertindak kekanak-kanakan dengan kabur dari rumah hanya bermodalkan map di ponselnya, dan dompet Yuuri yang lengkap dengan uang tunai dan atm *astaga, ngerampok kakak sendiri -_____-“ * mungkin ia tidak akan sampai di Mokpo dan bertemu dengan namja yang pandangan matanya berhasil memikat hatinya itu.

Hyora menengadah dan menatap langit yang gelap sambil memikirkan apa yang harus dilakukannya setelah ini. Sudah seminggu ia disini dan semua tempat wisata yang mungkin turis datangi sudah habis ia kunjungi. Dan sekarang ia tidak tahu lagi harus kemana. Seandainya saja ada Donghae, mungkin mereka akan bergembira seperti biasanya. Apalagi Donghae adalah orang asli sini, ia pasti tahu tempat-tempat menarik.

Tapi tidak ada Donghae sekarang, dan hubungan mereka pun mungkin tidak akan sama lagi.

Setitik air hujan yang jatuh mengenai pipi kanan Hyora membuat gadis itu tersadar dari lamunannya akan Donghae. Ia mengelap wajahnya yang basah dengan tangannya.

“Ah sial!”umpat Hyora saat hujan turun semakin deras. Kemudian ia berlari mencari tempat berteduh. Hyora semakin mempercepat larinya saat ia melihat sebuah kedai ddukboki dan berteduh disana.

“Jweseonghamnida, ahjumma. Boleh kan saya berteduh disini?”tanya Hyora pada pemilik kedai ddukboki itu.

“Ne. silahkan.”jawab ahjumma itu ramah.

“Gamsahamnida.”ucap Hyora lalu duduk di salah satu kursi. Awalnya ia tidak berniat untuk makan, karena sudah makan sebelumnya. Tapi setelah melihat ddukboki di hadapannya, ia merasakan perutnya kembali berbunyi.

“Ah… sekarang aku jadi perut karet seperti Yuu.”keluh Hyora, “Ahjumma, aku pesan satu porsi ddukboki ya!”pesan Hyora pada ahjumma itu. Kemudian ia merogoh tasnya untuk mengambil dompetnya.

“Lho lho lho? Dompetnya dimana?”gumam Hyora panik saat mengacak-acak isi tasnya dan tidak dapat menemukan dimana dompetnya. Kemudian ia mengeluarkan semua isi tasnya di meja dan wajahnya berubah pucat saat menyadari dompetnya betul-betul tidak ada.

“Huwaa…. Bagaimana aku bisa pulang kalau begini?”ucap Hyora panic.

“Waeyo Agassi? Dompetmu hilang?”tanya ahjumma penjual ddukboki.

Hyora menggangguk lemah. “Sepertinya jatuh.”ucapnya lemah, “Ahjumma, aku titip tasku disini ya. aku mau mencari dompetku dulu!”kata Hyora lalu pergi menerobos hujan tanpa menghiraukan panggilan ahjumma penjual ddukboki itu.

Dalam derasnya hujan Hyora menyusuri jalan yang tadi dilaluinya dan sesekali menunduk untuk mencari dompetnya yang mungkin terjatuh di suatu tempat. Kemudian dari jauh ia seperti melihat dompetnya di tepi jalan. Ia berlari ke tempat itu dan berjongkok. Tapi ternyata tidak ada dompet disana. Hyora menghela napas kesal. Ia sudah mulai kedinginan sekarang karena tidak memakai payung.

Tiba-tiba Hyora merasakan hujan mulai berhenti. Ia menengadah ke atas dan tertegun saat melihat payung biru sedang memayunginya. Jantungnya berdebar dengan keras. Apa itu…

“Hyo, kenapa kau suka sekali hujan-hujanan sih?”

Hyora merasakan dirinya bermimpi saat mendengar suara yang sangat dirindukannya itu. Matanya melihat ke asal suara. Wajah namja yang sangat dirindukannya itu menatapnya cemas dengan memayungi dirinya.

“Do…Donghae…”ucap Hyora tergagap.  Ia mengerjap-ngerjapkan matanya, berpikir jika mungkin ia benar-benar bermimpi.

“Hyo,”Donghae mengulurkan tangannya untuk membantu Hyora berdiri. Tapi Hyora masih menatapnya dengan takjub, membuat Donghae berdecak kesal.

Tanpa persetujuan Hyora, Donghae menarik tangan gadis itu sampai ia berdiri. Kemudian mereka berada di satu payung sekarang.

“Kau tidak kedinginan?”tanya Donghae cemas melihat wajah Hyora yang pucat. Hyora mengangguk pelan. Masih merasa sedikit bingung karena kehadiran Donghae disini.

Kemudian Donghae mengangsurkan payung ke Hyora agar gadis itu memegangnya, lalu ia melepaskan jaketnya dan memakaikannya pada Hyora. Donghae tersenyum lembut padanya.

Hyora menundukkan wajahnya, tidak mau menatap senyuman Donghae lebih lama. Ia merasakan jantungnya berdegup dengan kencang. Ia seperti mengalami déjà vu. Empat tahun lalu juga seperti ini. Donghae menolongnya saat hujan, saat ia mencari dompetnya yang hilang. Tapi waktu itu yang Donghae lakukan saat Hyora kedinginan adalah memeluk tubuh gadis itu. Hyora mendapati dirinya kecewa karena sekarang Donghae tidak lagi melakukan hal yang sama.

“Hyo, aku seperti merasakan déjà vu.”ucap Donghae pelan lalu mengambil payung di genggaman Hyora agar dia kembali memegangnya.

“Eh?”Hyora mengangkat kepalanya, menatap Donghae yang kini menatapnya dengan pandangan yang berbeda. Kenapa seperti pandangannya saat menatap Yuuri? Pandangan penuh cinta?

“Empat tahun yang lalu ada seorang gadis yang tidak sengaja menabrak punggungku saat berjalan. Dan tanpa ia sadari ia sudah menjatuhkan dompetnya di dekatku.”cerita Donghae. Hyora membulatkan matanya saat mendengar cerita Donghae. Jadi Donghae ingat?

“Saat itu aku rasa aku jatuh cinta pada pandangan pertama padanya.”Hyora merasa jantungnya berdegup semakin keras. Apakah… itu benar? Tapi kenapa… kenapa Donghae tidak pernah mengatakannya dan malah mencintai Yuuri?

Semua itu hanya bisa Hyora tanyakan di pikirannya, karena sekarang ia tidak bisa mengatakan apapun. Matanya terlalu fokus pada tatapan Donghae padanya.

“Saat aku melihat dompetnya, aku tahu dari sana jika namanya adalah Jung Yuuri.”

“Hah?” Hyora mulai membuka suaranya. “Ke… kenapa Yuuri?”tanyanya bingung, kemudian sebuah kesadaran menghantamnya. Saat itu kan ia membawa dompet Yuuri.

Donghae menatap Hyora serius. “Karena itulah aku berpikir jika cinta pertamaku adalah gadis bernama Jung Yuuri. Karena aku hanya mengetahui namanya lewat dompet yang kutemukan, dan pagi harinya saat aku ingin menemuinya di klinik, dia sudah pergi. Aku mengenalnya tanpa mengetahui namanya langsung dari dirinya.”

Hyora merasakan airmatanya mulai menetes sekarang. Jantungnya berdebar lebih keras, perasaannya berubah lega.

“Saat di kampus aku bertemu dengan Yuuri aku merasa senang sekali karena akhirnya aku bertemu dengan gadis yang kusukai. Tapi ia seperti tidak mengenalku, dan akupun memutuskan untuk tidak mengatakan apapun mengenai pertemuan kami. Lalu aku mengenalmu. Kau yang adalah saudara kembar Yuuri, yang mempunyai wajah yang sama persis, tapi sifat yang bertolak belakang dengannya. Tapi kenapa aku merasa lebih nyaman bersamamu? Kenapa walaupun aku terus mengatakan jika aku menyukai Yuuri, aku selalu lebih menyukai menghabiskan waktuku denganmu?”

Airmata Hyora mengalir lebih deras. Ia mulai menangis sesengukan. Donghae mengusap lembut pipi gadis itu yang basah. Ia merasakan airmatanya mulai mengalir keluar karena merasakan kepedihan yang dirasakan gadis yang dicintainya ini.

“Kau tahu Hyo? Aku merasa ada yang kosong di hatiku saat tidak melihatmu atau tidak mendengar suaramu selama seminggu lebih ini. Bodohkah aku jika aku ternyata baru menyadari jika sejak empat tahun yang lalu, sampai sekarang, hanya Kim Hyora gadis yang kucintai?”

Hyora mulai menangis lebih kencang, seolah-olah mengeluarkan semua beban di hatinya. Ia memukul-mukulkan kedua tangannya di dada bidang Donghae. “Babo! Neo baboya!”ucapnya berulang kali sambil terus-menerus menangis.

Donghae membiarkan Hyora terus-menerus memukul dadanya sampai ia merasakan dadanya sudah cukup sakit. “Ouch! Sudah, Hyo. Appo…”ucapnya lalu menarik Hyora ke dalam pelukannya, membiarkan payungnya terjatuh karena sekarang hujan sudah mulai berhenti.

“Saranghae, Hyo.”ucap Donghae, memeluk Hyora yang menangis di pelukannya dengan erat. “Apa aku sudah terlambat untuk mengatakannya?”

Hyora terus menangis dan membenamkan wajahnya di pelukan Donghae. Ia tidak ingin mengatakan apapun sekarang. Ia hanya ingin merasakan pelukan hangat Donghae, ia hanya ingin merasakan kelegaan menjalari seluruh tubuhnya. Tapi sikap Hyora yang seperti itu malah diartikan lain oleh Donghae.

“Hyo… uljima… kau marah padaku ya?”tanya Donghae cemas karena Hyora masih saja menangis dan tidak menjawabnya. Kemudian ia melepaskan pelukannya agar dapat melihat wajah Hyora. “Hyo, mianhe a…”

Tiba-tiba tubuh Donghae membeku saat merasakan kecupan kilat di bibirnya. Ia menatap Hyora yang tersenyum dengan wajah yang berantakan karena menangis. “Babo namja! Tidak ada kata terlambat untukmu…”

Perlahan bibir Donghae kembali melengkungkan senyuman. Ia lalu meletakkan kembali tangannya di pinggang Hyora dan menarik gadis itu kembali mendekat padanya. Memberikan gadis itu ciuman penuh cinta yang menghangatkan hati dan tubuh mereka.

~END~

Huwaaaaaa~ konfliknya dapet gk sih? Ceritanya menarik gk sih?

Mian ya nahdila, kalo ceritanya ternyata tidak sesuai harapan. Abis buat Donghae aku kepikiran cerita yang kayak gini sih (=,=)”

Eh iya trus jangan pada protes ya kalo aku sama yeye oppa tercinta muncul lagi dan menunjukkan kemesraan kita. *halaahh* abisnya aku paling susah mikirin OC baru sih. Hihi~

Ayo komennyaaaaa~ XD

39 pemikiran pada “Rain That Made Me Fall in Love with You

  1. Unnie aaa..
    Kapan yesung hyung sama unnie ( baca : yuuri ) ad d ff sungri couple nyaaa ?? Ku tunggu lho :p

    Ngomong-ngomong dompetnya gimana th ? Kkkkkk ~

    1. yesung hyung? emng kmu namja?! #JDEERRR
      SungRi lg on going, ntar ada NCnya lho, malam pertamanya gtu deh. fufufu :3

      klo udh dicium dongek kurasa smw yeoja jg lupa sm dompetnya yg ilang. kekeke~ 😛

      1. Aniiii nega yeoja..
        Mksdnya yesung oppa ( akbat kbanyakn coupe disuju jadi kesebut hyung deh #plak ) kesalahan teknis un 😀

        (╥﹏╥) karena ak mash dbawah umur jd gmna dong ? Boleh baca ? -________-”

        .ː̗=))ː̖_, \:D/ ː̗=Dː̖/ =))Ħªª.haaaa
        /.  / __, =))Ħªª… Haaa
        _||_ _/ \_ _| .=))Ħªª…haa
        BeneR banget th wkwkwkwkwk..

  2. konfliknya dapet kok….tp simpel
    ga masalah soalnya kerasa bgt gmn sedihnya hyora
    ngerasain laki2 yang disukainnya suka sm perempuan lain
    diceritain pula di depan dia
    selama 4 tahun pula
    -_________-

  3. .eeeoooooonnnnnoiiiiieeeeee……><
    .ini sssoooo sswwweeeetttt bbbeeeeeuuuuudddddd…….
    .juga goookkkkiiiiilllll…..
    .yang bkin gokil tu karakternya hyo disini.,eh.,gak itu aja ding.,yuuri juga gokil disini….
    .dasar saudara kembar goookkkiiiillll….XDXDXDXD
    .aku itu ngakak pas baca hyo kabur.,tp bwa dompetnya eon….XD
    .waktu bc scene ini aku langsung mikir gni "hyo itu kagak niat banget mau kabur.,masak kabur bwa dompet kakaknya sih.??" XDXDXD
    .trus tanggapannya eon itu looo.,,seakan akan eon itu gak hanya khawatir ma adeknya.,tp juga ma dompetnyaaa…XD
    .mna si donghae babo banget lagi *dirajam donghae* masak nganggep si hyo itu yuu.,tp lagi* itu kesalahannya hyo jga sih.,pake bwa dompetnya eoonn…XDXDXD
    seperti biasa deh eoonn.,,ff.nya DAEBAAAAKKK….^^
    .konfliknya dapet.,menarik banget.,dan juga gokiiilll bangeeeett….XDXDXD

    1. bwahaahahha~ aku emg lebih mikirin isi dompetku dibandingin adek nyusahin kyk hyora *ditabok dila*
      bagus deh klo jd gokil, abisnya sblmnya aku pengen bikin angst tp kyknya bosen deh klo gk ada sdkt gokil2nya. jdnya y bgitu. kekeke~ 😛
      gomapta tya udh jd reader setiaku. hehe~ XD

      1. .ne.,cheonma eoon. . .^^
        .ahahahaha~~
        .sering sering bikin ff gokil kayak gni eooonn. . .XD
        .yg FON itu lhoo.,next part.nya dibikin gokil. . .XDXDXD * ha.?emang bisa ya.?kagak aneh ya.? XDXDXDXD *

  4. .eecciiieeeee. . .
    .akhirnya eon berani juga nglakuin ‘itu’ ma yeppa. . .:D
    .aaaasseeeeekkkk.,bikin adek yg banyak ya eooonnnn…..XDXDXDXD

  5. Eonni..
    Ff.x sukses buat aku senyum.senyam(?) gak jelas

    Krend..

    Eon, couple sungRi q tggu loh lanjtnx..

    *keep writing*

  6. Benar” pasangan babo.. Huft
    Masa’ harus nggu brtahun” dlu bru nyadar..
    Bkin gemes aj dc eon,, rasanya pgen jitak kepala mereka br2 biar cpet sadar.. Haha #plak *ditampol elfishy dan kim hyora*
    Tpi akhrnya happy ending jg..
    Jadi ikutan trharu.. Huhuhu

      1. kemaren sellingkuh ma Umin oppa..
        sekarang ganti ma Hae oppa..
        ah,, eonnie kau tega sekali ma yeppa…
        Udah Yeppa nya buat aq aja dech sini,, daripada diselingkuhin ma eonnie trs… hahahha
        #plak *dirajam Jung Yuuri*

  7. onnie~~~ aku aku aku sukaaaaa banget!! seneng banget deh bayangin momen nya aku ama donghae kaya gitu hwaaa >//////////////.<
    kembaran yang gokil~ kekeke
    eonni gomapta~ jeongmal gomapta atas ff nyaaa~~~ sangat sangat sangat terhibur~ daebak!!!!!

  8. komen 1:
    onnie~~~ aku aku aku sukaaaaa banget!! seneng banget deh bayangin momen nya aku ama donghae kaya gitu hwaaa >//////////////< mwehehehehehe
    donghae paboya~~~ tidak sadarkah 'hyora' yeoja yang kau tolong itu? bukan jung yuuri itu~~ kekekekeke~ yah walaupun akhirnya sadar juga! kekekeke~

  9. komen2:
    tapi eon, momen aku ama donghaenya kurang banyak niii *plak! ditendang* ehehehehhehehe >.<
    kembaran yang gokil~ kekeke
    eonni gomapta~ jeongmal gomapta atas ff nyaaa~~~ sangat sangat sangat terhibur~ daebak!!!!!
    seperti biasa terpotong komennya.. jadi aku bagi dua lg hehehe. ps: donghae saranghae~

  10. eonniiii~~~ annyeong~~~~~~~~~~~ #teriak pke toa’ heheh 😀
    kyaaaa~~~ ckck they’re so really ekhhhh~~~ ngegemesin bngt dehhh… smpe nunggu bertahun-tahun bru nyadar??? *doeng~~~ jinjja….
    itu Hyora,,, bukan yuuri,,, donghae oppa babo~~ #mian 😀
    but,,,,,, as usually it’s happy ending..yeahhh~~~ great ff eonn ^^

  11. Ahh…mereka berdua bodoh semua. Donghae dan hyora.
    Astaga…donghe…aku gemes pengen nabok tau gak sih.
    Nyesek2 aku sampek nangis juga.
    Masak gak sadar kalo 4thn udah salah orang *tanok donge*

    Fina..nice stroy as usual =)

  12. So sweet banget critanya yuu.. Gara2 dompet jd bikin salah paham. Critanya menyentuh banget d part donghae lg bikin pengakuan k hyora klo dia ternyata salah mengira orang,, yuuri daebak..

  13. Kebawa cerita aku eon~
    awalnya wktu bca aku pikir itu ya Yuuri bukan Hyora, ga kepikiran kalau salah orang *ikutan dong” kyak bang ikan* 😀 Aku ga brhasil nebak ceritanya~
    Yuu eonnie Jjang !! ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s