In My Camera Chapter 9

Tittle:: In My Camera Chapter 9

Author:: ideaFina a.k.a Jung Yuuri

Maincast::

  • Jung Yuuri
  • Kim Jaejoong DBSK
  • Jung Yunho as Lee Yunho DBSK

Supportcast::

  • Kim Junsu DBSK
  • Park Yoochun DBSK
  • Shim Changmin DBSK

Genre:: Romance, Angst

Rate:: G

~Happy Reading~

 

“Yuuri-ya, gwenchanayo?”tanya Yoocun cemas melihat Yuuri yang masih menangis dalam diam di pelukannya. Padahal sudah sejam lebih Yunho pergi dari apartemen Yuuri, tapi gadis itu masih belum berhenti menangis.

“A… aku… capek menangis…”jawab Yuuri sama sekali tidak nyambung dengan pertanyaan Yoochun.

“Tentu saja kau capek. Makanya jangan menangis lagi. Uljimarayo…”

“Bu… bukan mauku… un…tuk terus menangis…”ucap Yuuri lalu melepaskan pelukan Yoochun. ia memandang Yoochun dengan airmata yang terus mengalir. “Igeo…”Yuuri menepuk dada kirinya. “Appo… Jeongmal appeuda…”

Yoochun memandang sedih wajah Yuuri. Sekian lama ia tidak melihat wajah Yuuri sesedih ini. Memang ketika kamera Yuuri rusak, gadis itu menangis. Tapi menurut Yoochun kesedihan Yuuri saat itu tidak sebanding dengan yang sekarang. Saat ini yang Yoochun lihat benar-benar menyakiti hatinya. Yuuri adalah adiknya. Walaupun tidak ada hubungan keluarga, baginya Jung Yuuri adalah adik Park Yoochun. Tapi ia sama sekali tidak tahu harus melakukan apa untuk membuat adiknya ini berhenti menangis. Ia bahkan tidak tahu masalahnya apa.

“Kau mau menceritakan padaku kenapa kau menangis?”tanya Yoochun. “Siapa namja tadi?” Kemudian Yoochun teringat perkataan Yunho sebelumnya, jika mereka telah berpisah selama belasan tahun, berarti Yunho adalah… “Dia… oppamu?”

Yuuri mengangguk pelan. “Dia… Yun oppa.”

“Lalu? Kenapa kau tidak senang bertemu dengannya?”tanya Yoochun bingung. Padahal semenjak mereka saling mengenal, Yoochun tahu jika Yuuri selalu meminta pada ayahnya untuk memberitahunya dimana Yunho berada. Tapi kenapa sekarang Yuuri malah bersikap seperti itu pada Yunho?

“Aku… takut.”

“Takut apa?”

Yuuri menghela napas lalu mengusap airmata yang masih keluar dari pelupuk matanya. “Takut jika kami akan berpisah lagi seperti dulu. Apalagi dengan kenyataan kalau kakeknya membenciku. Lebih baik… lebih baik aku tidak mempunyai apa-apa… daripada aku harus… mendapati milikku… secara paksa diambil orang lain… itu… lebih menyakitkan buatku…”

Yoochun lebih sedih lagi saat mendengar kalimat itu keluar dari bibir mungil Yuuri. ia mengusap airmata yang masih menetes keluar dari pelupuk mata Yuuri dengan jempolnya.

“Selama ini aku… sudah terbiasa hidup tanpa dirinya. Lalu… ti..ba-tiba… ia datang. Ia bahkan terlihat bahagia tanpa aku. Ia baik-baik… saja… tanpa aku. Tidak seperti aku. Tidak seperti aku yang selalu merasa kurang… tanpanya… “Napas Yuuri tercekat saat mengatakan kalimat itu. Emosinya menjadi lebih tak terkendali.

Yoochun langsung memeluk erat Yuuri dan mengusap punggung gadis itu dengan lembut, membuat airmata Yuuri keluar semakin deras. “Yuuri-ya… aku berjanji akan selalu bersamamu…”

Yuuri menggelengkan kepalanya pelan di pelukan Yoochun. “Jangan berjanji oppa… Kau… membuatku semakin…takut untuk melepasmu… jika kau berjanji seperti itu…”

“Anhi. Aku tidak akan berjanji lagi. Tapi aku akan membuktikannya.”ucap Yoochun yakin lalu mencium puncak kepala Yuuri dengan lembut. “Kau adikku. Dan selamanya aku oppamu kan?”

Yuuri mengangguk pelan dalam pelukan Yoochun. “Aku… hiks… bersyukur… hiks…. bisa mengenalmu… oppa…”

“Na do, Yuuri-ya… aku senang memiliki adik secantik dirimu. Kehadiranmu selalu berhasil mengusir para fansku yang mengganggu.”ucap Yoochun bercanda membuat Yuuri tertawa kecil di sela isak tangisnya.

***

Yunho merapikan barang-barang di apartemennya dengan gelisah. Ia memang memutuskan untuk membuktikan ucapannya pada kakeknya jika ia akan pergi dari keluarga Lee. Yunho memang tidak ragu untuk meninggalkan semuanya. Yang membuatnya gelisah adalah keadaan Yuuri sekarang. Walaupun Yuuri terlihat dekat dengan namja bernama Park Yoochun itu, tapi Yunho sama sekali tidak mengenal namja itu. Ia khawatir karena membiarkan adiknya dekat dengan seseorang yang tidak dikenalnya.

Pikiran Yunho kalut memikirkan Yuuri yang bersama Yoochun. Kemudian dengan kesal ia melempar bukunya ke lantai, dan berjalan keluar apartemennya. Yunho memutuskan untuk menanyakan mengenai Park Yoochun pada Changmin, yang entah bagaimana kebetulannya namja itu ternyata satu kampus dengan Yuuri dan juga mengenal gadis itu.

Yunho menekan bel apartemen Changmin berkali-kali dengan gelisah. Kemudian saat ia akan meneka bel untuk yang keenam kalinya, pintu apartemen itu terbuka.

“Ng… Lee Yunho-ssi?”Ternyata Junsu. “Ada yang bisa kubantu?”

“Bisa ketemu Changmin?”tanya Yunho langsung.

Junsu mengernyit bingung melihat ekspresi serius Yunho. “Changmin belum pulang.” Yunho menghela napas kecewa. “Ada apa? Apa bisa kubantu?”

Kemudian Yunho teringat jika Junsu juga satu universitas dengan Yuuri dan Changmin. “Kau… apa kau mengenal… Jung Yuuri?”tanya Yunho ragu.

Junsu mengangkat alisnya. “Jung Yuuri si fotografer itu?”

“Ne. Jung Yuuri yang itu.”

“Tentu saja aku mengenalnya. Dia kan teman Jaejoong hyung.”

“Teman… Jaejoong?” Yunho langsung teringat saat Jaejoong memeluk Yuuri. apa mereka pacaran?

“Ne. Mereka cukup dekat.”

Mendadak rasa cemburu muncul di diri Yunho.

 “Apa kau mengenal… Park Yoochun?”

“Aku tidak mengenalnya. Tapi yang kutahu ia adalah oppanya Yuuri, walaupun tidak ada hubungan keluarga. Yuuri sendiri tidak punya keluarga, dan selama ini Yoochun lah yang jadi keluarganya.”

“Dia… Park Yoochun… apa dia orang baik?”

Junsu mengangkat sebelah alisnya. Bingung dengan pertanyaan Yunho. “Apa yang membuatnya menjadi tidak baik? Setahuku ia sangat menyayangi Yuuri. Bahkan semua orang yang mengenalnya pun tahu jika ia menyayangi Yuuri seperti adiknya sendiri.”

Kali ini Yunho merasakan kecemburuan yang lebih besar. “Jae hyung saja yang bodoh pernah berpikir mereka berpacaran…”gumam Junsu.

“Hah?”

“Ah, anhiya…”jawab Junsu cepat-cepat, menyadari jika tadi ia hampir saja kelepasan. “Lalu? Kau kesini cuma ingin menanyakan hal itu? ada urusan apa Yunho-ssi dengan Yuuri dan Yoochun-ssi?”

“Ng…”Yunho kebingungan. Walaupun ia tahu Kim bersaudara ini adalah teman Yuuri, tapi dengan penolakann Yuuri yang sekarang ia tidak mungkin kan mengaku sebagai kakak yeoja itu di depan teman-temannya? “… aku ada sedikit urusan mengenai fotografi. Jadi ya…”

“Oh begitu? hubungi saja mereka. Kau punya nomornya?”

“Aku punya nomor Yuu, tapi tidak ada nomor Yoochun-ssi. kau punya nomornya?”

“Kurasa aku punya…”gumam Junsu lalu mengotak-atik smartphone-nya.  Walaupun Junsu tidak kenal dekat dengan Yoochun, tapi ia pernah membantu hyungnya, Jaejoong, untuk mengurus persiapan pemotretannya dengan  Yoochun, sehingga ia pernah menghubungi namja itu beberapa kali.

“Gomawoyo, Junsu-ssi.”ucap Yunho setelah mendapatkan nomor Yoochun. ia segera pergi dari apartemen Junsu dan memutuskan untuk menghubungi Yoochun, ia ingin bicara secara pribadi dengan namja itu.

“Yeoboseyo? Park Yoochun-ssi?”

***

“Oppa!”

Yoochun tidak menghiraukan panggilan Yuuri dan terus saja sibuk mengangkat kardus-kardus berisi barang-barang milik Yuuri ke mobilnya di depan apartemen Yuuri.

“Oppa… shireoyo! Aku tidak mau pindah ke apartemen oppa!”ucap Yuuri kesal dengan menarik lengan baju Yoochun.

Yoochun menghela napas, lalu meletakkan kardus berisi album-album foto milik Yuuri di lantai apartemen kecil itu. Ia menyilangkan kedua tangannya di dadanya lalu menatap Yuuri tajam.

“Wae shireoyo?”

“Aku tidak mau merepotkan Oppa. Lagipula aku kan sudah terbiasa hidup sendiri.”ucap Yuuri pelan dengan menundukkan wajahnya karena takut melihat ekspresi Yoochun.

“Aku oppamu kan? Lalu apa salah jika seorang oppa ingin adiknya tinggal bersamanya agar ia bisa melindungi adiknya?”tanya Yoochun tajam.

“Aku tidak perlu dilindungi Oppa… Nan gwenchana…”

 “Gwenchana? Aku tidak yakin akan hal itu setelah melihatmu menangis terus-terusan selama dua hari ini.”

Yuuri cemberut. “Aku kan hanya menangis Oppa…”

“Terus menangis diam dan setelah itu demam tinggi. Seharusnya aku bisa memaksamu untuk tinggal denganku sejak awal.”Yuuri baru membuka mulut, bersiap untuk membantah lagi, ketika Yoochun menyela dengan kesal. “It enough! Don’t deny me!”

Akhirnya Yuuri pasrah dan mengikuti keinginan Yoochun untuk menyuruhnya pindah ke apartemen namja itu. Dengan perasaan tidak rela ia mengepak baju-bajunya dan barang-barang yang masih belum dibereskan Yoochun.

Sesekali Yuuri melirik Yoochun yang sedang sibuk mondar-mandir mengangkat barang-barang Yuuri ke mobilnya. Gadis itu tersenyum. Apa jadinya ia jika tidak ada Yoochun di sisinya?

*Flashback*

“Nah, perhatikan Oppa baik-baik ya. Pertama, masukkan kartu disini.”ucap Yoochun lalu memasukkan kartu di mesin atm. “Kedua, tekan nomor pin. Kau sudah bisa membedakan angka dengan baik kan?”

“Kalau angka aku bisa Oppa. Kan tidak banyak. Tapi huruf yang susah. Aku masih belum bisa membaca dengan baik.”ucap Yuuri dengan wajah cemberut.

Yoochun tersenyum. “Sama seperti memakai kamera, kau tinggal mengingat letak tombolnya saja. Jadi nanti setelah nomor pin dimasukkan, tekan tombol yang sebelah sini. Lalu tekan tombol ini, dan ketik jumlah uang yang ingin kau ambil. Tidak perlu dibaca, asal kau bisa mengingat letaknya pasti bisa.”

Kemudian Yuuri mencoba yang diajarkan Yoochun. Ia mencobanya beberapa kali dan menjerit senang saat bisa melakukannya. Untungnya saat itu malam hari, jadi tidak ada orang selain mereka di atm center itu. Waktu yang memang sengaja dipilih Yoochun agar lebih leluasa untuk mengajarkan Yuuri.

“Aku bisa! Gomawo Oppa!”ucap Yuuri senang lalu memeluk Yoochun erat.

“Ne. cheonma. Tapi Yuuri-ya, besok kau harus menemaniku ke bank.”

Yuuri melepaskan pelukannya dari Yoochun lalu memandang namja itu bingung. “Eh? waeyo?”

“Karena kita harus kembali menabung semua uangku yang kau keluarkan di mesin atm ini.”kata Yoochun lalu menunjukkan berlembar-lembar uang yang tadi dikeluarkan Yuuri dari mesin atm. Yuuri tertegun, kemudian mereka berdua tertawa.

***

 

“Tombol nomor 1 adalah nomorku.”ucap Yoochun setelah memasukkan nomornya di ponsel baru Yuuri. “Kau tinggal menekan tombol 1 jika ingin menelponku.”

Yuuri tersenyum kecil, merasa tidak enak terhadap Yoochun. “Mian, Oppa. Aku pasti akan mengganggumu jika sering-sering menelpon.”

“Tidak apa-apa. Sampai kau bisa membaca dan menulis dengan baik, lalu bisa mengirim sms, aku akan selalu bersedia menerima telpon darimu.”

Yuuri tersenyum lebar mendengar kata-kata Yoochun. Betapa beruntungnya ia memiliki seseorang seperti Yoochun di sisinya.

*End of Flashback*

“Yuuri?”

Yuuri tersentak dari lamunannya saat mendengar Yoochun memanggilnya.

“Sudah semua?”tanya Yoochun setelah ia memasukkan koper baju Yuuri ke dalam bagasi mobilnya. Yuuri mengangguk dan tersenyum lebar. Barang-barang milik Yuuri hanya sedikit, jadi Yoochun bisa membawa semuanya hanya dengan sekali angkut menggunakan mobilnya.

“Kajja! Jihye sudah menyiapkan makan siang yang enak untuk kita!”ajak Yoochun lalu masuk ke kursi pengemudi.

Yuuri membuka pintu mobil lalu sebelum masuk ia berbalik dan memandang apartemen kecilnya dengan sedih. Walaupun ia tinggal sendirian disitu, tapi tidak dipungkiri lagi apartemen kecil itu adalah tempatnya tinggal selama bertahun-tahun ini, tempat yang bisa membuatnya merasa nyaman dengan kesendiriannya.

“Yuuri?”panggil Yoochun dari dalam mobil.

“Ah, ne.”jawab Yuuri lalu masuk ke dalam mobil. Yoochun tersenyum padanya lalu mengacak pelan rambut Yuuri.

“Kita pulang ne?”

Yuuri balas tersenyum dan mengangguk. Ya, mulai sekarang ia akan benar-benar memiliki tempat untuk pulang. Ia tidak akan menolak lagi jika ia memang benar-benar menginginkan Yoochun menjadi seseorang tempatnya bisa pulang.

Yuuri memejamkan matanya saat wajah Yunho melintas di pikirannya. Ia benar-benar menginginkan Yoochun menjadi keluarganya kan? Hanya Yoochun, tidak ada yang lain.

***

Yoochun mengedarkan pandangannya ke sekeliling café, mencari seseorang. Kemudian matanya tertuju pada namja tampan bermata musang yang sedang duduk di salah satu kursi di café itu. ia berjalan menghampiri namja itu.

“Lee Yunho-ssi?”panggilnya pada namja yang sedang sibuk mengaduk-aduk jus jeruknya itu dengan melamun.

“Ah, Park Yoochun-ssi.”ucap Yunho pelan lalu bangkit dan menyalami Yoochun.

“Maaf menunggu lama.”ucap Yoochun.

Yunho tersenyum kecil. “Tidak apa. Aku saja yang datang terlalu cepat. Ah ya, silakan pesan sesuatu.”

“Bagaimana kabar Yuuri?”tanya Yunho setelah Yoochun selesai memesan minuman.

“Yuuri baik.”jawab Yoochun pelan, sedikit ragu dengan jawabannya. Ia tidak ingin mengatakan jika Yuuri sempat sakit kemarin sejak Yuuri bertemu dengan Yunho. Ia hanya tidak ingin namja di hadapannya ini merasa bersalah.

“Kudengar kau dekat sekali dengannya. Boleh tahu sedekat apa? Dan bagaimana kalian bisa saling mengenal?”

“Aku murid ayah kalian dalam bidang fotografi, disitulah kami bisa kenal. Bagiku dia adik yang manis. Aku menyayanginya dan ia juga menyayangiku sebagai oppanya.”jelas Yoochun.

Yunho menundukkan wajahnya dan tersenyum miris. “Oppa ya? Padahal seharusnya aku yang berada di sisinya, yang dipanggilnya ‘Oppa’. Tapi…”Yunho menghela napas, kemudian  ia mengangkat kepalanya untuk memandang Yoochun. “Gomawoyo. Kau selama ini sudah menjaganya dan selalu di sisinya.”

Yoochun bisa merasakan kesedihan dibalik tulusnya kata-kata Yunho dan itu membuat hatinya seperti bisa merasakan kesedihan itu.

“Yuuri menyayangimu. Ia merindukanmu.”

Yunho menatap Yoochun dengan pandangan terluka. “Lalu kenapa ia menolakku? Sejak kami berpisah, aku tidak pernah berhenti memikirkannya dan Appa. Aku terus berusaha mencari mereka. Tapi…”Kemudian Yunho tertawa kecil. Tawa yang menyedihkan. “…kurasa aku terlambat menemukannya ya. Ia sudah menggantikanku denganmu.”

Yoochun menjadi kesal mendengar nada cemburu Yunho. Seolah-olah Yunho menyalahkannya jika ia dekat dengan Yuuri. Dan ia juga tidak suka kata-kata ‘menggantikan’. Yoochun bukan pengganti Yunho. Ia percaya Yuuri tidak pernah berpikir begitu.

“Kita berbeda, Yunho-ssi. Aku bukan penggantimu atau siapapun.”ucap Yoochun tajam, “Kau pikir sudah berapa lama ia sendirian? Apalagi dengan penyakit yang dideritanya sejak kecil. Kau pikir dia tidak perlu siapapun untuk membantunya? Aku menyayanginya, makanya…”

“Penyakit?”tanya Yunho kaget mendengar perkataan Yoochun. jantungnya berdebar keras saat mendengar hal itu. Tidak ada sesuatu yang buruk terjadi pada adiknya kan?

“Kau tidak tahu?”tanya Yoochun bingung.

“Anhiyo! Adikku sakit apa?! Katakan padaku!”

***

“Harabeoji!”panggil Yuuri riang saat memasuki ruang rawat VVIP di rumah sakit.

“Yuuri-ya!”ucap pria tua bernama Lee Young Min yang sedang berbaring di ranjang rumah sakit itu. Ia tersenyum lebar melihat gadis cantik yang baru ia ketahui sebagai cucu kandungnya itu, menghampirinya dengan wajah ceria.

“Bagaimana kabar harabeoji? Sudah baikan?”

“Menurutmu aku terlihat bagaimana?”

Yuuri memandangi wajah Lee Young Min dengan seksama dengan bibir dikerucutkan dan dahi mengernyit. “Kelihatannya sih sudah baikan. Wajah harabeoji tidak sepucat awal-awal.”

“Haha… mungkin karena ada gadis cantik yang menjengukku, makanya aku cepat sehat.”

“Nugu?”tanya Yuuri bingung.

“Eh?”

“Yeppeo nuguya?”

Lee Young Min tertawa kecil karena kepolosan Yuuri. “Hanya gadis bernama Jung Yuuri yang pernah menjengukku, Agassi.”

Kemudian Yuuri tertawa. “Harabeoji! Gadis berantakan sepertiku mana mungkin terlihat cantik!”

“Tapi kau benar-benar cantik, Yuuri-ya.”

Yuuri berdecak. “Aigoo… percuma saja harabeoji menggodaku. Aku tidak tertarik pada pria yang sudah berumur!”

Ucapan Yuuri itu membuat Lee Young Min tertawa lebih keras.

“Oh ya, harabeoji. Ini aku bawakan apel. Maaf bukan apel mahal, tapi apelnya enak kok. Apel organik yang bagus untuk kesehatan.”ucap Yuuri lalu meletakkan plastik berisi apel di meja di samping tempat tidur.

Lee Young Min tersentuh dengan perhatian Yuuri. “Gomapta, Yuuri-ya.”

“Lainkali kalau aku sudah mulai dapat pekerjaan lagi, aku akan belikan yang lebih bagus untuk harabeoji.”

Pekerjaan? Kata itu membuat Lee Young Min bertanya-tanya, bagaimana sebenarnya kehidupan gadis yang ternyata cucunya ini?

“Kau bekerja sebagai apa?”

“Aku bekerja sebagai fotografer lepas. Karena aku kuliah di jurusan fotografi dan cukup berprestasi, makanya banyak orang yang memakai jasaku sebagai fotografer. Selain itu aku juga ikut berbagai lomba fotografi. Uang hadiahnya lumayan untuk hidup sehari-hari.”jelas Yuuri panjang lebar.

“Keluargamu?”

Wajah Yuuri berubah sedih saat mendengar pertanyaan itu. tapi kemudian dengan cepat ia mengubah ekspresi wajahnya menjadi datar dan berbicara dengan nada biasa. “Aku sudah tidak punya orangtua. Eomma pergi saat umurku delapan tahun, sementara Appa empat tahun yang lalu, lalu halmeoni juga.”

Sebegitu sendiriannya kah ia? Jantung Lee Youngmin serasa tertusuk-tusuk saat mendengar hal itu dari mulut cucunya. Cucu kandungnya yang ia sia-siakan selama belasan tahun ini. “Maafkan aku.”ucapnya sedih. Kemudian ia menarik Yuuri ke dalam pelukannya. Maaf untuk semuanya.

“Eh? harabeoji?”ucap Yuuri bingung dalam pelukan Lee Youngmin.

“Kau pasti… kesepian sekali…”ucap pria tua itu sambil mengelus-elus punggung Yuuri. Walaupun bingung dan tidak terbiasa dengan pelukan seperti ini, tapi Yuuri dapat merasakan perasaan tulus dan kehangatan dari pria tua yang sekarang sedang memeluknya ini. Momen ini selalu ia harapkan terjadi padanya saat ia melihat Yunho kecil dipeluk sayang oleh kakeknya. Pelukan yang tidak pernah didapatkannya hanya karena ia anak perempuan, dan dianggap tidak berguna.

Tanpa sadar airmatanya menetes perlahan di bahu Lee Young Min. Pria tua itu terkejut merasakan bahunya yang mulai basah. Kemudian ia melepaskan pelukannya pada Yuuri.

“Yuuri-ya, gwenchanayo? Apa harabeoji menyakitimu?”tanya Lee Young Min panik.

Yuuri menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tetap menangis. “Anhiyo… aku hanya terlalu senang…”ucapnya disela-sela isak tangisnya.

“Senang?”

“A… aku tidak pernah dipeluk… seperti itu oleh kakekku…”ucap Yuuri lirih. “Boleh… Yuu memeluk harabeoji lagi?”

Lee Young Min merasakan hatinya semakin sakit. Melihat Yuuri tumbuh dewasa sendirian, tanpa siapapun disisinya, dan semua rasa kesepian, kesedihan yang dialami gadis itu, membuat rasa bersalahnya semakin besar. Kemudian dengan lembut ia kembali menarik Yuuri ke dalam pelukannya, membiarkan gadis itu menangis senang.

“Yuu… apa kau akan memaafkan harabeoji?”ucap pria tua itu, bertanya-tanya dalam hati.

***

Lee Young Min menatap sedih jendela ruang rawatnya yang mewah. Ia teringat pembicaraannya beberapa saat yang lalu dengan Yuuri. Setelah membiarkan Yuuri menangis di pelukannya, ia mulai bertanya banyak hal lagi. Ia ingin mengetahui semua hal pada diri cucunya yang sudah ia lewatkan selama bertahun-tahun.

*Flashback*

“Aku punya seorang Oppa. Ia tampan, baik, dan sangat menyayangiku!”

Lee Young Min merasa hatinya sedikit lega. Yunho sudah bertemu dengan Yuuri ternyata. Dan sepertinya hubungan mereka baik-baik saja. “Sepertinya kau sangat menyayanginya ya.”

“Dangyunhaji! Yoochun Oppa itu Oppa terbaik untukku!”jawab Yuuri bangga.

Lee Young Min terkesiap kaget mendengar nama yang tidak familiar di telinganya. “Yoochun?”

“Ne. Nama Oppaku itu Park Yoochun.”

“Bukan Jung?”

“Yoochun Oppa itu bukan Oppa kandungku. Ia murid fotografi Appa. Sejak dulu sampai sekarang ia yang selalu melindungiku, dan mengajarkanku banyak hal. Ia sangat perhatian. Kurasa tanpanya aku tidak bisa hidup dengan baik setelah semua keluargaku pergi.”ucap Yuuri, tersenyum lembut mengingat semua hal yang sudah dilakukan Yoochun untuknya.

Lee Young Min bingung dengan cerita Yuuri. Apa maksudnya ini? Apa Yunho belum bertemu dengan Yuuri?

“Kau tidak punya Oppa kandung?”

Senyum Yuuri memudar. Lalu ia memalingkan wajahnya ke jendela. Pandangan matanya kosong. “Ia… tidak pernah ada untukku. Ia dan harabeoji… mengabaikanku. Jadi kuputuskan untuk tidak mau mengingatnya lagi.”

 *End of flashback*

Bagaimana ini? Ia kira selama ini Yuuri hanya membencinya, karena dirinya lah yang memisahkan Yuuri dengan Yunho dan juga ibu mereka. Tapi perkataan Yuuri barusan. Ya Tuhan… Yunho sudah cukup menderita selama ini terpisah dari adik kandungnya. Tapi kenapa di saat Yunho sudah menemukan Yuuri, gadis itu malah tidak menginginkannya.

Rasa bersalah pria tua itu pada cucu laki-lakinya menjadi semakin besar.

Suara pintu yang terbuka cukup membuat Lee Young Min terusik dari pikiran kalutnya. Ia menoleh dan mendapati cucu laki-laki satu-satunya masuk menghampirinya dan menatapnya dengan tatapan marah dan terluka.

“Yunho…”

“Jadi karena itukah harabeoji menolak Yuu?”tanya Yunho dengan suara bergetar marah. Airmata kesedihan dan kemarahan mulai mengalir di pipi namja tampan itu.

“Musun mariya?”

“Harabeoji tahu jika Yuu menderita disleksia kan?!”

***

Yuuri’s POV

Aku meletakkan tangan kananku di dada kiriku. Bisa kurasakan jantungku berdegup dengan kencang. Sakit dan sedih akan penolakan harabeoji belasan tahun lalu bisa sedikit berkurang saat tadi aku memeluk Lee Harabeoji. Pelukan yang sangat kuinginkan, pelukan dari kakek terhadap cucunya yang sejak kecil tidak pernah kurasakan. Akhirnya aku bisa merasakannya tadi. Pelukannya hangat dan nyaman, dan itu membuatku menangis.

Setelah puas menangis di pelukan Lee Harabeoji, kami berdua asik mengobrol tentang banyak hal. Lee Harabeoji sangat perhatian dan menyenangkan. padahal kami baru bertemu beberapa kali, tapi aku merasa nyaman dan dekat dengannya. Aku merasakan hangatnya keluarga dari Lee Harabeoji. Apakah begitu rasanya mempunyai seorang kakek?

Aku melangkahkan kakiku keluar dari rumah sakit tempat Lee Harabeoji dirawat. Sebenarnya aku masih ingin berlama-lama mengobrol dengannya. Tapi aku tidak bisa berlama-lama di luar karena Yoochun Oppa melarangku. Ia melarangku untuk keluar sampai malam karena demamku dua hari yang lalu. Padahal aku merasa sudah cukup sehat kok.

Setelah sepuluh menit menunggu di halte bus, akhirnya bus menuju apartemen Yoochun Oppa tiba juga. Aku membuka tasku untuk mengambil dompetku. Tapi… lho? Lho? Kenapa tidak ada?

“Aish! Babo!”umpatku saat teringat jika tadi saat membeli apel untuk harabeoji aku menaruh dompetku di dalam plastik berisi apel itu. Aku pun berbalik kembali ke arah rumah sakit. Untungnya jarak dari halte bus ke rumah sakit tidak jauh. Hanya butuh waktu 10 menit aku sudah sampai kembali di rumah sakit dan langsung ke ruang rawat Lee Harabeoji.

Kulihat pintu ruangannya terbuka sedikit. Apa ada tamu ya? aku mendekati pintu itu lalu membukanya sedikit saat aku mendengar sebuah suara yang begitu familiar untukku.

“Karena itu kan harabeoji menolaknya?! Karena menurutmu Yuuri anak yang tidak berguna?!”

Aku langsung mendekap mulutku dengan kedua tangan saat mendengar Yun menyebut namaku. Ia… kenapa ia… berbicara dengan harabeoji? Apa… apa Lee harabeoji adalah…

“Yunho-ya… aku benar-benar tidak tahu…”

“Tidak tahu?! Kalau begitu kenapa kau hanya mengambilku?! Kenapa kau tidak membawa adikku juga?! Karena dia perempuan! Karena dia disleksia! Kau lebih memilih merawatku yang cacat sampai sembuh lalu setelah itu menggunakanku untuk membesarkan perusahaanmu!”

Dadaku mulai terasa sesak mendengarnya. Kurasakan wajahku mulai basah dan dialiri cairan hangat. Airmataku mulai keluar tanpa bisa kutahan. Ini menyakitiku. Jadi… jadi Lee harabeoji adalah… kakekku? Kakek kami berdua? Kenapa ia berbohong padaku? Kenapa beberapa hari ini ia bersikap baik padaku? Dia seharusnya tahu aku cucunya hanya dari namaku saja kan? Kenapa ia diam saja…?? Apa ia begitu membenciku dan ingin menghancurkanku sekali lagi? Apa…?

“Aku menyesal, Yunho-ya… aku ingin kau memaafkanku… ingin Yuu…”

Tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara dering ponsel dari kantong jaketku. Aku tersentak kaget dan buru-buru mengeluarkan ponselku dari kantong jaket untuk mematikannya ketika mendengar suara bernada kaget dan lembut.

“Yuu…?”

***

 

Yunho’s POV

 

Aku berteriak marah padanya, pada kakekku sendiri. Kemarahan ini jauh lebih besar sebelumnya daripada saat aku tahu jika Appa dan Halmeoni sudah meninggal.

“Harabeoji tahu jika Yuu menderita disleksia kan?!”

“Mw… Mwo? Disleksia?!”

“Iya. Disleksia. Penyakit yang membuat penderitanya mengalami kesulitan dalam baca tulis. Dan membuatnya menjadi tidak berguna!”ucapku dingin dan tajam.

“Yunho-ya…”

“Karena itu kan harabeoji menolaknya?! Karena menurutmu Yuuri anak yang tidak berguna?!”ucapku terus menerus tanpa mempedulikan airmataku yang terus mengalir. Tanpa memperdulikan ekspresi wajahnya yang terlihat sedih dan menyesal. Menyesal? Cih! Aku tidak percaya itu!

“Yunho-ya… aku benar-benar tidak tahu…”

“Tidak tahu?! Kalau begitu kenapa kau hanya mengambilku?! Kenapa kau tidak membawa adikku juga?! Karena dia perempuan! Karena dia disleksia! Kau lebih memilih merawatku yang cacat sampai sembuh lalu setelah itu menggunakanku untuk membesarkan perusahaanmu!”jeritku melampiaskan seluruh emosiku selama ini padanya.

“Aku menyesal, Yunho-ya…”

Aku tertegun melihat pria tua di hadapanku ini mengalirkan airmatanya. Kenapa… kenapa aku melihat itu sebagai airmata yang tulus? Kenapa…

“Aku ingin kau memaafkanku… ingin Yuu…”

Tiba-tiba aku tersentak oleh suara dering ponsel yang cukup keras di belakangku. Aku berbalik dan terkejut melihat Yuuri berdiri di depan pintu yang sedikit terbuka. Ia dengan paniknya berusaha mematikan ponselnya yang berbunyi kencang.

Kenapa… kenapa Yuuri bisa ada disini? “Yuu…”panggilku.

Kemudian ia terlihat terkejut dengan suaraku dan menghentikan kegiatannya dengan ponselnya. Ia mengangkat wajahnya dan aku tertegun melihat airmata yang mengalir di wajahnya. Matanya terlihat sedih dan terluka. Dia… apa dia mendengar pembicaraan kami tadi?

“Yuuri-ya… kau datang lagi?” Aku terkejut mendengar harabeoji memanggilnya seolah-olah mengenalnya. Aku berbalik untuk menatap harabeoji lalu kembali pada Yuuri.

“A… aku…”ucapnya terbata-bata. Aku berjalan perlahan mendekatinya yang masih mematung dengan airmata yang terus mengalir.

Kemudian ponselnya berbunyi lagi. Ia mengalihkan pandangannya sekilas ke ponselnya lalu berbalik dan pergi dengan berlari.

“Yuu!”panggilku dan mengejarnya keluar. Aku mengejarnya yang berlari di lorong rumah sakit. Tidak peduli dengan peringatan perawat yang melihatku berlari. Yang kupedulikan saat ini hanyalah ingin memeluknya. Ia pasti sangat terluka tadi mendengar pembicaraan kami.

Aku terus mengejarnya menuruni tangga rumah sakit. Tapi setelah sampai di lobi, aku tidak bisa menemukan sosoknya. Kemudian aku terus berlari keluar. Tidak ada.

“Yuu!”panggilku saat berada di halaman rumah sakit. Tapi aku masih belum bisa menemukan sosoknya.

Aku jatuh terduduk di tanah dan memejamkan mata. Dadaku terasa sangat sesak melihat ekspresinya tadi. berbagai pertanyaan muncul di benakku. Kenapa ia bisa berada disana tadi saat kami berbicara? Kenapa harabeoji bersikap seolah-olah sudah pernah bertemu dengannya?

Aku membuka mataku. Aku harus kembali ke dalam rumah sakit dan menanyakan semua ini padanya.

***

Author’s POV

            Yuuri terus berlari tanpa arah. Yang ia tahu ia hanya ingin berlari sejauh-jauhnya dari Yunho. Ia tidak mau, ia tidak siap bertemu lagi dengan kakak kandungnya itu setelah mendengarkan semua pembicaraan yang membuka luka lama baginya itu. Airmatanya terus-menerus mengalir.

Entah bagaimana caranya, entah berapa lama ia berlari, sekarang Yuuri sudah sampai di depan pintu apartemen yang familiar untuknya. Ia tertegun karena ia sama sekali tidak sadar jika sudah berjalan sampai kemari tanpa benar-benar memikirkan tujuannya berlari tadi.

Yuuri berbalik. Ia memutuskan untuk kembali pergi ketika terdengar suara pintu membuka disusul suara lembut seorang namja.

“Yuuri-ya?”

Perlahan ia berbalik dan ia bisa melihat wajah terkejut Kim Jaejoong. Namja itu mendekatinya lalu menyentuh lengannya perlahan, seolah-olah takut menyakitinya.

“Yuuri-ya… kau kenapa?”tanyanya khawatir.

Alih-alih menjawab, Yuuri malah terisak-isak. Jaejoong merasakan hatinya sangat sakit melihat gadis yang dicintainya terlihat begitu rapuh dan terluka. Ia tidak tahu dan tidak mengerti apa yang terjadi dengan gadis itu. Yang ia tahu, ia tidak ingin melihat gadis itu terluka. Lalu dengan perlahan ia memeluk gadis itu dengan lembut.

Tangis Yuuri pecah saat Jaejoong memeluknya. Ia yang selama ini selalu menangis dalam diam, bahkan di hadapan Yoochun, sekarang menangis dengan kencang. Seolah-olah pelukan lembut Jaejoong dapat membuatnya melepaskan semua emosi yang menumpuk dan berkarat di hatinya.

***

Yuuri terbangun dengan kaget. Napasnya terengah-engah. Wajahnya sudah basah dengan airmata. Tangan Yuuri bergetar hebat menekan dada kirinya yang jantungnya sekarang masih berdetak dengan sangat kencang. Keringat mengalir di sekujur tubuhnya. Napasnya sesak.

Kenangan buruk itu kembali menyentak ingatannya. Ia takut. Amat sangat takut. Kenapa akhir-akhir ini semua kenangan buruk di hidupnya muncul lagi dalam mimpi-mimpinya? Padahal ia ingin melupakannya. Kapan ia bisa hidup tenang jika seperti ini terus?

Suasana sunyi di apartemen kecilnya membuat Yuuri merasa lebih takut. Kemudian ponselnya berbunyi. Dengan terburu-buru ia mengangkatnya.

“Yeoboseyo? Yuu, gwenchanayo?”

Suara itu. Suara yang dirindukannya. Berhasil membuat emosi Yuuri semakin tidak terkendali. Tangisnya pecah. Ia menangis terisak-isak.

“Yuu-ya! kau kenapa?!” Suara itu terdengar panik.

“Yun… aku takut… aku takut… appa… eomma…”Yuuri tidak bisa mengendalikan tangisnya. “…Yun… jebal kajima… jangan tinggalkan aku…”

“Yuu-ya, aku…”

Tiba-tiba ponsel Yuuri mati sebelum Yunho sempat menyelesaikan kata-katanya. Yuuri tertegun kemudian membenamkan wajahnya di antara lututnya dan terus menangis terisak-isak. Kemudian suara lembut yang menenangkan memanggilnya. Ia mengangkat wajahnya dan tertegun melihat wajah lembut namja tampan yang akhir-akhir ini dekat dengannya.

“Jaejoong-ssi…??”

Jaejoong’s POV

Aku memandang lembut wajah gadis di hadapanku ini. Ia terlihat sangat rapuh dan terluka. Aku tidak tahu ada apa dengannya. Tapi yang kutahu adalah hatiku terasa sangat sakit melihatnya seperti ini.

“Ke… kenapa… kau bisa ada di apartemenku…?”tanyanya bingung disela isak tangisnya. Kurasa ia tidak sadar jika sekarang ia bukan berada di apartemennya, tetapi berada di kamarku, di apartemen milikku.

“Mm… sejak kapan aku menjual apartemenku padamu?”tanyaku dengan nada bercanda, berharap itu bisa berpengaruh padanya.

Mata coklat mudanya membelalak lebar lalu menyusuri seluruh kamarku. “Mi… mianhe…”ucapnya pada akhirnya setelah memastikan ini memang kamarku.

Aku tersenyum padanya. “Gwenchana. Ini coklat hangat untukmu.”kataku lalu memberikan secangkir coklat hangat yang kubuat untuknya. Ia menerimanya lalu tersenyum kecil.

“Gomapta, Jaejoong-ssi.”

“Cheonma.”jawabku dengan tersenyum lembut.

Ia menyesapnya sedikit lalu bergumam, “Hangat.”dengan airmata yang kembali mengalir dari mata indahnya.

“Yuuri-ya…”Aku menyentuh kedua pipinya dan menghapus airmatanya yang mengalir dari sudut matanya.

“Mi… mianhe… aku hanya sedang banyak masalah…”ucapnya pelan.

“Kalau kau mau, kau bisa bercerita padaku.”

Matanya yang besar memandangku penuh harap. “Jinjjayo?”

Aku tersenyum. “Kau bisa percaya padaku”ucapku sambil tetap memegang lembut wajah cantiknya.

***

Yuuri’s POV

Kenapa? Padahal aku belum lama mengenalnya. Tapi kenapa aku bisa begitu saja menceritakan semua kesedihanku padanya?

Dengan airmata yang terus mengalir, aku menceritakan padanya semua hal menyakitkan yang terpendam di hatiku. Aku bercerita padanya tentang kecelakaan yang dialami olehku dan keluargaku, kecelakaan yang sudah menyebabkan aku harus berpisah dengan Eomma dan Yun Oppa.

Kemudian aku bercerita tentang penyakitku, disleksia. Penyakit gangguan fungsi otak kiri yang disebabkan oleh benturan saat kecelakaan itu terjadi sudah membuat banyak kesulitan di hidupku. Aku tidak bisa sekolah dengan tenang karena semua teman-temanku mengejek kebodohanku dalam baca tulis.

Aku tidak menyalahkan mereka. Mereka kan tidak tahu jika aku seperti itu karena punya penyakit. Tapi tetap saja mendengar ejekan-ejekan mereka itu sangat menyakiti hatiku. Pada akhirnya karena depresi dengan semua itu, aku memutuskan untuk berhenti sekolah saat aku SMP. Appa menyetujuinya, ia berpikir jika lebih baik mengasah bakatku di bidang fotografi saja. Bakatku di bidang fotografi itulah yang membuatku memenangkan berbagai penghargaan di bidang fotografi dan mendapat beasiswa di Universitas Kyunghee. Tapi walaupun punya bakat di bidang fotografi, bukan berarti tidak apa-apa jika aku tidak bisa baca-tulis dengan baik.

Dulu aku selalu menolak ikut terapi karena memaksakan membaca akan membuatku sakit kepala. Lalu ketika aku baru mulai ikut terapi, Appa meninggal. Setelah itu, karena aku tidak punya cukup banyak uang untuk terapi, selama ini aku selalu berusaha belajar baca-tulis sendiri. Hasilnya tidak begitu memuaskan. Sampai sekarang aku masih tidak bisa membaca dan menulis dengan benar.

“Jadi itu sebabnya kau selalu menyuruhku menelponmu, dan tidak mengirim pesan?”

Aku mengangguk pelan.

“Lalu alat perekam itu kau pakai untuk belajar?”

“Mungkin karena aku tidak bisa baca tulis dengan baik, Tuhan memberikanku ingatan yang baik melalui pendengaran. Aku masih bersyukur, setidaknya Tuhan memberikan anak bodoh kesepian sepertiku sesuatu untuk bertahan hidup.”

“Kau tidak bodoh, Yuuri-ya… Kau gadis yang pintar. Kau berbakat.”ucapnya lembut.

Aku menggeleng pelan. “Tapi baginya aku tetap tidak ada apa-apanya. Harabeoji tetap menganggapku tidak berguna. Aku…”

Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan tangis yang akan keluar. Aku tidak mau menangis lagi. Aku sudah capek menangis. Ia yang seperti mengetahui hal itu, menarikku pelan ke dalam pelukannya, membuat rasa sesak di dadaku yang tadi akan keluar melalui airmata, perlahan menghilang. Kenapa ia selalu bisa membuatku merasa nyaman?

Setelah beberapa saat ia memelukku dengan meng-humm-kan lagunya yang menjadi favoritku, aku melepaskan pelukannya. “Gomawoyo.”ucapku pelan lalu tersenyum kecil padanya. “Aku sudah sedikit lega.”

“Yuuri-ya…” aku merasakan tangan besarnya yang lembut kembali menyentuh wajahku. “Jangan menangis lagi. Mulai sekarang, izinkan aku untuk selalu membuatmu tersenyum.”

Aku membelalakkan mataku, terkejut mendengar ucapannya. Ia tersenyum dengan lembut, dan bisa kulihat ketulusan di matanya. Kemudian wajahnya semakin mendekat padaku dan aku bisa merasakan napas hangatnya mengenai wajahku. Aku tidak tahu ada apa dengan diriku, tapi mataku otomatis terpejam. Dan setelah itu, aku merasakan sesuatu yang hangat dan lembut menyentuh bibirku.

Ia menciumku. Dan anehnya aku tidak menolak dicium oleh Kim Jaejoong.

~TBC~

 

Annyeonghasseyo~

Mian ya baru bisa update chapt 9nya sekarang. Maklum aja, authornya anak kuliahan sih, udah semester 6 juga, lagi masa-masanya sibuk. Hehe~

Menurut readers alur chapt ini kecepetan gk sih? Cz aku bikinnya diburu waktu. Juni ntar aku ada praktikum lapang, di hutan yg udah pasti susah sinyal. Jadi bakalan susah ngenet dan update. Makanya sebelum itu aku mau nyelesain utang FF-FFku dulu.

So, tinggal chapt 10 (ending) buat FF ni. Mudah2an bs kuupdate lebih cepet dalam bulan ini.

Ayo komennya yaaaaa~ ^_^

26 pemikiran pada “In My Camera Chapter 9

  1. Aku udah nunggu chap ini dari lama onnie..
    Akhrnya keluar juga ^^
    Keren bgt ceritanya, akhrnya jeje ku gak tersiksa lagi, hehehe

    Aku tunggu kelanjutannya un 😀

    Wah, praktikum dihutan?
    Memangnya kuliah jurusan apa un?

  2. huaaaaaa akhir nya setelah menunggu lama, chap 9 keluar juga 😀
    kurang puanjang unn xD *plak
    aa nangis baca chap ini T.T
    yuuri bener bener tersiksa banget batin nya..
    untung nya ada yoochun :’)
    eh itu padahal lee harabeoji udah minta maaf dengan tulus, tapi yunho masih belum percaya begitu aja kk~
    yunho cemburuan nih sama ade nya sendiri ==’ *plak
    ciee jaejoong kissingan sama yuuri :p kkk~
    ayo cepet jadian nya 😀 *plak
    chap 10 nya jangan lama lama yaa unn :p hihi

  3. muahaha
    iyaa unn kurang panjang :p
    apalagi pas bagian jaejoong sama yuuri xD hihi
    cie cie ide nya ngalir nih :p
    jadi ga akan lama dong yaa chap 10 nya keluar XD *plak/bawel wkwk

  4. Akhrx epepx dtang jga.a..

    Eon rimbawan jga trnyata
    Salam rimbawan eonni..
    Kbtlan aku jga skolahx di SMK Kehutnan*gak ad yg nanya*
    Crtax krend..
    Kayax yuuri ma jaejoong bkalan segera jadian ni..
    Hehe
    Trus brkarya yah..

    Smgat praktekx..

  5. Ciihuyyy,, chapter 9 update…
    ihihihi,, endingnya co cweett eonnn…
    a a a a a.. #teriak ala Chibi
    jalan ceritanya semakin mengharu biru gini eonn…
    jadi kasian sama semua pemerannya.. T_T
    chap 9 DAEBAK…. ^o^
    Ditunggu chap 10 nya (kalo gag salah chap ending ya eon)
    Hooooreeeeeee

  6. Akhirnya keluar juga -(ˆ▿ˆ)/ \(ˆ▿ˆ)-

    Huaaa jadi sedih (╥﹏╥)
    Kasian sama hyuri -___-“

      1. Oh neee.. Mianhe unnie ak salah kkkk ~
        Unnie pilih. Donghae atau yesung ?
        *golok yesung*
        НɑНɑНɑНɑ klw unnie pilih yesung ak kasih. Klw unnie pilih donghae ak bunuh yesung.. *ngacem kkk ~

  7. eoonnniiii ,,DAEBAK bgt deh ffnya ..konfliknya sukses bikin penasaran buat ngikutin ff ini ..
    dari awal ngikutin ff ini baru kali ini komeen ..mian yaaa eon ,hehe
    jgn lama” ya endnya ..
    *readermaksa*

  8. huaa sedih bgt, kacian yuuri kehidupannya malang sekali sudah ditinggalkan ma orang yg dicintainya. eh ternyata punya penyakit pula.
    tp untungnya yuuri dikelilingi ma orang yg sayang padanya.
    hua
    mengharukan
    next

  9. yey!
    Akhirnya keluar juga chap 9 nya..
    Ia nih unn..
    Kecepetan..
    Aiggo~
    jj nyium yuuri!
    Ckckckck..
    Kasian si yuuri..
    Keren deh unn ff nya..^^
    next chap~^^

  10. huwaaa… Critanya a sedih jga… Kasian bgt yuuri… Aigoo… Dan mnarik aja nih ff… Jd pnasaran nih ma nextnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s