When You Come to My Life 9/?

when you come to my life poster

Tittle:: When You Come to My Life 9/?

Author:: ideafina a.k.a Jung Yuuri

Maincast:: Lily Jung, Park Yoochun, Jung Yunho

Support cast:: Kim Jaejoong, Kim Junsu, Shim Changmin DBSK, Lee Ang Hyeon, Jung Jihye, Ahn Jaemin

Genre:: Romance, Angst, Drama

Rate:: PG

Warning:: ada english! Mian ya kalo ada kesalahan grammar^^

Background song:: Kim Jaejoong-All Alone (Kim Jaejoong 1st Mini album MINE)

Disclaimer:: This story and DBSK member especially JUNG YUNHO & KIM JAEJOONG is MINE MINE MINE MINE MINE! #kabur dari Cassies

 

~Happy Reading~

 

“Uljima…”ucap Yunho dengan mengusap lembut airmata yang mengalir di wajah Lily. Lily tetap tidak mengatakan apapun dan hanya terus menatap wajah Yunho di hadapannya. Ia tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini. Benarkah Yunho berada di hadapannya saat ini dan menghiburnya?

Kemudian Lily tersadar satu hal. Kenapa Yunho bisa berada di rumah sakit ini sekarang? Apakah Yunho tahu sesuatu tentang Youngri?

“Kenapa kau ada disini?”tanya Lily dengan suara serak.

“Aku baru saja melihat putramu. Dan aku juga ingin bertemu denganmu…”ucap Yunho lembut dengan  mengusap lembut kedua tangan Lily yang berada di pangkuan gadis itu.

Lily terdiam mendengar ucapan Yunho. Entah ia harus berkata apa mengenai Youngri. Tapi ia tidak perlu mengatakan apapun pada Yunho kan? Karena baginya Yunho bukan siapa-siapanya lagi sekarang.

“Untuk apa? Kita bukan siapa-siapa lagi sekarang…”ucap Lily pelan.

Yunho menghela napas. “Yuuri…”

“Lily.”ucap Lily tajam. “Namaku Lily sekarang. Aku bukan Yuuri lagi. Aku bukan bagian dari keluargamu lagi. Aku punya keluarga sendiri sekarang. Jebal… mengertilah…”

Yunho menatap Lily sedih. “Apa yang harus kumengerti? Apa aku harus pengertian dan membiarkanmu pergi jauh? Tidak. Itu tidak akan pernah kulakukan.”

Lily menatapnya marah. “Kenapa? Bukankah sejak kecil aku hanya membuat keluarga terhormat kalian malu? Aku bukan anak dari keluarga baik-baik! Tapi kalian terpaksa mengangkatku! Makanya ayahmu membenciku! Makanya ia tidak ingin melihatku bahagia!”

“Jung Yuuri!”seru Yunho marah, membuat Lily terdiam. “Abeoji menyayangimu, kami semua menyayangimu, kau tahu itu.”ucap Yunho dengan nada lebih pelan.

“Dengan mengatakan ke semua orang kalau aku cuma anak angkat kalian?”tanya Lily tajam dengan mata berkaca-kaca.

Yunho menghela napas. “Awalnya memang begitu, tapi kau tahu setelah itu Abeoji tidak lagi mempermasalahkan statusmu. Ia mau mengakuimu sebagai anggota keluarga kami yang sah, tapi kau…”

“Tapi aku menolak hal itu. Kau tahu kan kenapa? Karena semakin aku besar, semakin aku menyadari betapa memalukannya semua itu. Aku malu dengan diriku! Aku malu dengan asal-usulku! Aku malu dengan masa laluku!”seru Lily marah dengan bangkit berdiri.

“Lily…”

“Makanya, aku tidak ingin kau mengingatkan hal itu lagi padaku. Aku sudah berubah, aku sekarang punya keluarga baru. Karena itu aku tidak butuh kalian, aku tidak butuh dirimu dan keluarga terhormat kalian….”

Lily melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Yunho. Tapi Yunho memegang lengannya, menahannya untuk pergi. Ia menghadapkan tubuh Lily menghadapnya.

Yunho menatap mata Lily yang terlihat begitu sedih. Kenapa sekarang ia tidak bisa lagi melihat mata Lily yang berbinar bahagia saat melihatnya? Apa bagi Lily penolakan Yunho terhadap hubungannya dengan Joo Won sudah sangat menyakitinya?

Yunho sebenarnya ingin marah dan menyalahkan semuanya pada Joo Won. Tapi ia tahu itu tidak akan berguna. Lily akan tetap menolak kehadiran Yunho jika ia melakukan hal itu, dan itu bukanlah hal yang diinginkan Yunho saat ini.

“Aku akan berusaha mengerti…”ucap Yunho pelan dengan memaksakan senyuman pada Lily. “Bolehkan aku berada di dekatmu dan Youngri?”

Lily memandang mata Yunho, berusaha mencari ketulusan di dalamnya, dan ia menemukannya. Apa kali ini ia bisa mempercayai Yunho lagi tanpa merasa tersakiti lagi? Entahlah. Lily tidak tahu.

Yang ia tahu saat ini ia sangat merindukan Yunho.

“Mianhe, aku tidak tahu…”ucap Lily lalu berjalan pergi meninggalkan Yunho yang terpaku.

***

Yunho memandang Lily yang tertidur di kursi di samping tempat tidur Youngri dengan kepala menempel di atas tempat tidur. Tangannya memegang erat tangan Youngri.

Yunho tahu jika tidak nyaman tidur dalam posisi seperti itu, makanya tadi ia berusaha memindahkan Lily untuk tidur di sofa. Lily memang tidak terbangun dengan sentuhannya, tapi ia juga tidak melepaskan genggamannya dari tangan Youngri. Sehingga Yunho menyerah berusaha untuk memindahkannya.

Bisa terlihat jika Lily sangat mencintai anak itu. Tentu saja, pikir Yunho. Youngri kan anaknya…

… dan Joo Won.

Mengingat Joo Won membuat Yunho teringat dengan pertemuannya dengan namja itu bertahun-tahun lalu.

*Flashback*

Yunho memperhatikan namja di hadapannya ini dngan seksama. Wajah yang tampan dan terlihat ramah, mata yang tajam, tubuh tinggi –sama seperti Yunho– kulit yang putih bersih –kontras dengan kulit kecoklatan Yunho– dan penampilannya yang rapi. Dari luar saja Yunho sudah mengerti kenapa Yuuri bisa begitu menyukainya.

“Annyeonghasseyo. Nan neun Moon Joo Won imnida.”

Yunho tersenyum dan balas menjabat tangan dokter muda di hadapannya ini. “Jung Yunho imnida. Oppa-nya Yuuri.”

“Ne, arrayo. Yuu selalu menceritakan tentang Oppa tercintanya padaku.”jawab Joo Won dengan tersenyum lalu memandang lembut Yuuri. Poin plus lagi di mata Yunho, Joo Won bersikap sangat lembut pada Yuuri. “Ya kan Lily?”

“ ‘Lily?’ ”tanya Yunho bingung.

“Ah… itu. kadang Joo Won Oppa memanggilku ‘Lily’. Itu panggilan sayang Joo Won Oppa padaku.”kata Yuuri dengan wajah tersipu malu saat melihat tatapan heran Yunho.

“Jadi… sudah berapa lama kalian mengenal?”tanya Yunho penasaran pada sepasang kekasih di hadapannya ini.

“Tiga tahun. Tapi kami baru berpacaran satu tahun.”jelas Joo Won.

“Umurmu… 25 kan?”

Joo Won mengangguk.

“Hmm… kau bahkan lebih tua dariku…”gumam Yunho.

“Mungkin karena aku jauh lebih tua dari kalian aku jauh lebih bisa menjaganya.”ucap Joo Won tulus, tanpa bermaksud menyinggung. Tapi itu cukup menyinggung perasaan Yunho.

“Maksudmu?”tanya Yunho dengan nada kesal. Ia tidak suka jika ada orang yang bilang jika ia tidak bisa menjaga Yuuri dengan baik.

Joo Won dan Yuuri bisa menyadari mood Yunho yang tiba-tiba berubah. “Ng… ya… maksudku… karena sekarang Yuu sudah punya aku untuk menjaganya, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkannya lagi. Kau bisa tenang berkarir di Seoul.”jelas Joo Won perlahan, berusaha tidak mengucapkan sesuatu yang bisa membuat Yunho tersinggung lagi.

Yunho menyadari tatapan Yuuri yang berubah sedih ketika melihatnya memelototi Joo Won, jadi ia berusaha menurunkan emosinya. “Benar juga.”ucap Yunho pelan.

“Jadi Oppa setuju dengan hubungan kami?”tanya Yuuri senang.

Yunho tersenyum kecil melihat reaksi Yuuri. Ia menyesap Ice Coffeenya lalu menatap Yuuri jahil. “Mau bagaimana lagi? Kau sepertinya tidak bisa berpisah darinya.”

Joo Won tersenyum melihat wajah Yuuri yang memerah malu karena ucapan Yunho. Ia mengusap lembut kepala Yuuri, seolah-olah menenangkannya. Sikap itu membuat Yunho tidak suka. Biasanya hanya usapan lembutnya yang mampu menenangkan Yuuri. Tapi kali ini ada namja lain yang melakukan hal yang sama, dan menghasilkan efek yang sama juga pada gadis itu. 

Walaupun Yunho bisa melihat jika Moon Joo Won adalah namja yang baik. Tapi perasaan cemburu dan tidak suka pada namja itu tetap tumbuh tanpa disadarinya.

***

“Oppa… Appa tidak merestui hubunganku dengan Joo Won Oppa…”

Yunho mengingat nada sedih dalam suara Yuuri. Ia tidak tega mendengarnya. Setelah sekian lama ia tidak mendengar nada sedih terdengar dari Yuuri, sekarang akhirnya ia mendengarnya lagi. Dan ia tidak suka hal itu. Ia ingin Yuuri bahagia, walaupun ia sebenarnya tidak rela melepaskan Yuuri secepat ini. Melepaskannya untuk menikah di usia 21 tahun? Yunho tidak ingin membayangkannya!

“Kudengar Abeoji tidak menyetujui hubungan Yuuri dengan dokter muda itu. kenapa?”tanya Yunho di ruangan ayahnya.

“Jadi kau pulang hanya karena ingin membicarakan hal itu?”tanya ayahnya.

Yunho menghela napas. “Aku pulang karena aku ingin bertemu keluargaku. Tapi aku tidak pernah menyangka jika aku harus disambut dengan tangis Yuu.”

“Ia masih menangisi namja itu lagi?”tanya Abeoji marah.

Yunho menatap ayahnya tajam. “Kenapa mereka tidak boleh berhubungan? Yuu mencintainya dan namja itu juga, ia bersikap baik terhadap Yuu, menjaganya. Kenapa tidak boleh?”

“Namja itu mencintainya?”tanya ayahnya sinis. “Kau tidak tahu apa-apa Yunho-ya. dia bukan namja baik-baik!”

“Yang baik-baik itu seperti apa?! Ia harus dari keluarga terhormat seperti namja yang Abeoji ingin jodohkan dengan Yuu?! Apa Abeoji lupa kalau kita sudah tidak pantas lagi disebut sebagai keluarga terhormat?!”

Kemudian Yunho terkejut ketika mendengar ayahnya menggebrak meja dengan kesal. “Jaga bicaramu, Jung Yunho!”

Yunho menggertakkan giginya kesal. “Apa yang harus dijaga? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Yuu sudah cukup menderita selama ini karena Abeoji! Tega-teganya Abeoji mau melakukan hal itu lagi padanya!”

“Abeoji melakukan ini semua karena memikirkan dia!”

“Anhiyo! Abeoji tidak pernah memikirkan Yuu! Semua yang terjadi pada Yuu sejak kecil itu adalah salah Abeoji! Dan aku tidak akan membiarkan Abeoji merusak kebahagiaannya lagi!”seru Yunho marah lalu berbalik untuk pergi keluar ruangan ayahnya.

“Apa kau tetap akan menentangku ketika kuberitahukan alasannya?”

Pertanyaan Abeoji itu membuat Yunho menghentikan langkahnya. Ia berbalik memandang ayahnya tajam. “Apa maksud Abeoji?”

Dan penjelasan ayahnya tentang Joo Won setelah itu membuat Yunho tercengang dan berubah menjadi lebih marah…

…pada Moon Joo Won.

*End of flashback*

 

Yunho memejamkan matanya saat mengingat hal itu, berusaha untuk meredam emosinya. Ia merasa sangat kesal pada Joo Won. Kenapa setelah namja itu meninggalkan Lily, ia masih tidak bisa mendekati Lily seperti dulu? Kenapa Lily tidak mau menceritakan apa masalahnya selama ini pada Yunho?

Enam tahun yang lalu saat mereka berpisah Yunho mencari-carinya kemanapun. Dan ketika ia tahu jika Lily menjadi aktris, ia berusaha sebisa mungkin untuk bisa bertemu dengan Lily. Tapi tidak pernah sekalipun berhasil sampai mereka harus bekerja sama dalam pemotretan. Dan sekarang ia tidak akan menyerah untuk mengembalikan hubungan mereka seperti semula.

Yunho mengulurkan tangannya dan mengusap lembut rambut Lily. Ia tersenyum ketika melihat Lily tersenyum kecil dalam tidurnya, merasa nyaman akan sentuhannya. Tapi gumaman yang keluar dari mulut Lily setelahnya membuat Yunho terpaku.

“Joo Won Oppa…”

Yunho tidak bisa menahan rasa kesal dan cemburunya lagi lalu pergi keluar kamar.

***

“Yunho disini?”tanya Jaemin kesal pada Ang Hyeon di hadapannya.

“Jaemin-ah, biarkan ia…”Tapi Jaemin tidak menghiraukan ucapan Ang Hyeon. Ia terus berjalan cepat menuju kamar rawat Youngri. Saat tiba di depan pintu kamar rawat Youngri, Jaemin berusaha menenangkan dirinya. ia baru akan membuka pintu ketika pintu itu membuka dan Yunho muncul dari kamar itu.

“Yunho-ssi.”ucap Jaemin kesal.

Yunho menatap namja jangkung di hadapannya ini dengan bingung. Ia merasa mengenal namja ini.

“Ahn Jaemin?”tanya Yunho setelah mengingat siapa namja di hadapannya ini. Jaemin adalah anak dari Psikiater yang dulu pernah merawat Lily. Dia juga salah satu dari sedikit teman akrab Lily.

Jaemin mengangkat alisnya. “Aku tidak menyangka kau mengingatku.”ucapnya masih dengan nada sinis yang sama.

“Kau dan Ang Hyeon teman terdekat Yuuri sejak SMP.”jawab Yunho, tersenyum.

“Aku ingin berbicara denganmu.”kata Jaemin langsung dengan wajah masih kesal.

Yunho mengernyit bingung dengan ekspresi kesal di wajah Jaemin. “O.. oke.”

“Bukan disini.”kata Jaemin kemudian melangkah pergi. Yunho melirik Ang Hyeon yang terlihat merasa bersalah. Kemudian mereka berdua pergi mengikuti Jaemin ke halaman rumah sakit.

“Seberapa jauh yang kau ketahui tentang keadaan Lily sekarang?”tanya Jaemin, menatap Yunho masih dengan ekspresi sinis yang sama.

Yunho melirik Ang Hyeon yang sekarang sedang menunduk gugup, kemudian ia memandang Jaemin. “Jangan salahkan Ang Hyeon karena memberitahuku tentang Youngri.”

“Aku tidak menyalahkannya.”bantah Jaemin.

“Tapi aku bisa melihat dari caramu memandangnya.”kata Yunho, lalu ia menghela napas. “Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan?”

“Menjauhlah dari Lily.”

Yunho menatap kesal Jaemin. “Kenapa aku harus menjauh darinya? Masalah kami tidak ada hubungannya denganmu!”

“Semenjak kalian bertemu lagi dan kau mengganggunya, ia jadi gampang stres.”

“Yak! Aku tidak mengganggunya! Aku hanya ingin dekat dengannya lagi! Dia itu…”

“Apa kau tahu kalau penyakitnya kambuh?”potong Jaemin tajam.

“Apa?”tanya Yunho tak percaya.

“Penyakitnya waktu kecil. Post Traumatic Stress Disorder. Aku sekarang yang menggantikan ayahku untuk merawatnya dari penyakit traumatis itu.”

Yunho tidak bisa berkata apapun saking shocknya. Ia tidak percaya semuanya. Lily sudah sembuh sembilan tahun lalu. Kenapa sekarang kambuh lagi? Apa ini karena Joo Won?

“Bagaimana mungkin?”bisik Yunho yang masih shock. Kemudian ia menatap Jaemin marah. “Apa ini karena Moon Joo Won brengsek itu?!”

“Jangan mengatakan hal seperti itu tentang Joo Won hyung!”balas Jaemin marah. “Memang ini semua karena Joo Won hyung, tapi…”

“Aku heran dengan kalian!”potong Yunho tajam. “Yuuri membelanya. KAU juga membelanya. Padahal namja itu yang menyakiti Yuuri!”

“Karena itu bukan salah Joo Won hyung!”ucap Jaemin kesal.

“Bukan salahnya apanya?!”

Dan ucapan Ang Hyeon selanjutnya membuat Yunho lebih terkejut lagi.

“Joo Won Oppa sudah meninggal!”

Yunho memandang Ang Hyeon tidak percaya. “A… apa?”

Ang Hyeon memandang Yunho dengan mata berkaca-kaca. “Jangan pernah menyalahkannya! Kau seharusnya berterima kasih! Karena… karena Joo Won Oppa sudah meninggal enam tahun lalu karena menolong Yuu.”

Dan Yunho hanya bisa menatap Ang Hyeon dengan shock.

***

Lily terbangun saat merasakan tubuhnya pegal-pegal. Ia sudah tidur dengan posisi yang sama selama berjam-jam sampai pagi hari. Matanya mengerjap-ngerjap, berusaha menyesuaikan penglihatannya yang kabur. Dengan tangan yang bebas ia mengambil kacamata di meja di sampingnya dan memakainya.

Setelah bisa melihat dengan baik, Lily melihat sekelilingnya. Entah kenapa ia tidak terlalu terkejut melihat Yunho tidur berbaring di sofa di dalam ruang rawat itu.

Lily bangkit dan mencium kedua pipi dan kening Youngri.

“Morning Youngie…”sapanya dengan lembut. Setelah itu ia melepaskan tangan Youngri yang sejak semalam digenggamnya. Ia berjalan perlahan menghampiri Yunho dan berlutut di dekat wajah Yunho. Ia mengernyit melihat ekspresi tidur namja itu. Biasanya Yunho akan tertidur dengan ekspresi yang lucu, mata setengah terbuka dan mulut terbuka lebar. Tapi kali ini tidak. Wajahnya tidak tenang, dahinya mengernyit. Ekspresi tidur yang muncul ketika ia sedang merasa tidak nyenyak atau banyak pikiran.

Lily bertanya-tanya. Apa ekspresinya seperti itu karena dirinya? Karena sejak kecil dirinya lah yang selalu membuat Yunho merasa cemas.

Enam tahun berlalu. Banyak hal berubah. Tapi ada satu hal yang tidak berubah sepanjang pikiran bisa menyimpannya. Kenangan. Kenangan Lily akan seorang Jung Yunho.

*Flashback*

PRAANNGG.

“Nappeun nom! Umurnya 8 tahun! Bagaimana mungkin kau mengkhianatiku saat Yunho baru lahir?!”

Anak laki-laki berusia sembilan tahun itu mengernyit ketika mendengar suara barang pecah itu. Ia memandang ke lantai atas rumahnya, tempat suara ribut-ribut itu berasal. Suara orangtuanya. Kemudian pandangannya beralih pada gadis kecil berambut panjang dengan penampilan berantakan yang masih berada di depan pintu rumahnya.

Gadis kecil berusia delapan tahun itu memandang kosong ke dalam rumah. Seolah-olah berada di dunia lain, ia sama sekali tidak memperhatikan hal di sekitarnya. Anak laki-laki itu memandangnya khawatir, ingin mengajaknya berbicara. Tapi ketika ia melangkah menuju gadis kecil itu. Suara tangisan adiknya menghentikannya.

Saat anak laki-laki itu bergegas menuju ke arah suara tangisan adiknya, gadis kecil yang berada di depan pintu rumah itu berbalik dan keluar dari rumah itu.

Nafasnya tidak beraturan karena menahan dingin di hari bersalju itu. Ia mendekap erat jaket tipisnya, berusaha lebih menghangatkan tubuhnya. Setelah berjalan beberapa lama, ia sampai pada sebuah taman dan memutuskan untuk duduk di ayunan disana. Dengan tangan gemetar membuka tas ranselnya lalu mengeluarkan plastik berisi sandwich dari sana. Ia membuka bungkusnya dan airmata mengalir dari pipinya ketika mengunyah pelan roti itu.

Ia ingat tadi pagi. Saat terakhir kalinya ia berbicara dengan ibunya.

 

“Eomma… jebal… jangan mengusir Yuu… Yuu janji akan jadi anak baik. Yuu janji!”ucap gadis kecil itu dengan bersujud dan menangkupkan kedua tangan, memohon di hadapan ibunya dengan menangis. Wanita cantik di hadapannya tidak menghiraukan permohonannya. Ia tetap memasukkan beberapa baju dan barang-barang penting ke dalam ransel gadis kecil itu.

“Eomma!”

Kali ini gadis itu berusaha memeluk punggung ibunya dari belakang. Tetapi wanita itu mendorong gadis kecil itu hingga terjatuh  membuat si gadis kecil terkejut dan lebih menangis.

“Uljima! Bukankah aku mengajarkanmu untuk tidak cengeng?! Ini yang membuatku ingin mengusirmu dari sini! Kau hanya membuatku repot!”seru wanita cantik itu marah.

Dengan gemetar gadis kecil itu menghapus airmata di pipinya dan duduk berlutut. “Yuu… tidak akan cengeng lagi… jadi Eomma tidak perlu mengusir Yuu kan?”ucapnya dengan memaksakan senyuman.

Wanita cantik itu menghela napas lalu melemparkan tas ransel itu ke hadapan si gadis kecil. “Kau tahu sejak awal aku tidak menginginkanmu kan? Beruntung aku mau melahirkanmu. Jadi sekarang giliran ayahmu yang mengurusmu.”ucapnya pelan dan tajam.

“Shireoyo… Yuu tidak mengenalnya… Yuu hanya butuh Eomma…”ucap gadis kecil itu terisak-isak.

“Aku sudah membuatkanmu sandwich dan memasukkannya di tas itu. Di kantong sebelah dalam juga ada uang dan alamat ayahmu juga surat untuknya. Kau tidak akan kelaparan sampai sana.”lanjutnya tanpa menghiraukan tangisan si gadis kecil.

“Shireo!”seru gadis kecil itu dengan melemparkan tas ranselnya yang membuatnya mendapatkan tamparan dari ibunya sendiri.

“Kau pikir aku mau terus-terusan hidup bersama anak sial sepertimu?! Kau dan ayahmu sama! Ayahmu menghancurkan hidupku! Dan aku… aku tidak akan membiarkan anak sial sepertimu menghancurkan hidupku lebih lama lagi!”

Kata-kata itu seperti pisau tajam yang menusuk hati gadis kecil itu. Selama ini ia selalu menerima perkataan buruk orang-orang padanya, anak yang lahir tanpa ayah, anak haram, dan kalimat-kalimat lain yang sama sekali tidak dimengertinya. Ia juga menerima sikap dingin dan ucapan kasar ibunya, anak cengeng, sial, menyusahkan, segudang kata-kata kasar lain. Semuanya berusaha ia hiraukan, ia berusaha menulikan telinganya. Karena yang terpenting ada ibunya di sisinya. Dan ia yakin walaupun seringkali berkata kasar, ibunya sebenarnya mencintainya.

Tapi kali ini, perkataan ini melebihi semuanya. Ibunya menganggap jika keberadaan dirinya hanya akan menghancurkan hidupnya. Ibunya tidak bahagia dengan kehadirannya. Ini perasaan ibunya dari lubuk hatinya yang terdalam, dan ia bisa melihat itu di mata ibunya yang berkaca-kaca. Airmatanya mengalir deras melihat hal itu.

Dengan tubuh gemetar gadis kecil berusia delapan tahun itu bangkit dari duduknya dan meraih tas ranselnya. Ia memakainya lalu menghampiri ibunya dan mengusap pelan airmata yang mengalir di pipi ibunya.

“Eomma… Yuu akan pergi… kalau dengan begini Eomma akan bahagia, Yuu akan pergi…”ucapnya dengan terisak-isak. Wanita itu lalu menyingkirkan tangan gadis kecil itu dengan kasar.

“Pergilah. Jangan pernah kembali lagi kesini.  Anggap saja aku tidak pernah menjadi ibumu… Anggap saja kau tidak pernah mengenalku…”ucap wanita itu pelan. Gadis kecil itu hanya memandang wajah ibunya dengan tangisan semakin deras lalu keluar dari rumah kecil itu dengan langkah berat.

Gadis kecil itu terisak-isak keras sambil terus mengunyah sandwichnya dengan bibir gemetaran.

Kenapa? Kenapa semuanya tidak merasa bahagia akan kehadirannya? Apa salahnya? Ia pergi karena ibunya tidak bahagia dengan kehadirannya, dan ketika ia pergi ke ayahnya, ternyata ia juga menyebabkan hal yang sama pada ayah yang tidak pernah dikenalnya itu. Jika semua orang tidak ada yang menginginkannya, kemana ia harus pergi?

“Uljima… Yuuri… uljima…”ucapnya pelan dengan menahan isak tangisnya. “Eo… Eomma bilang tidak boleh cengeng… uljima Yuuri…”

Tapi seberapa sering pun ia mengatakan hal itu pada dirinya sendiri, airmata gadis kecil itu terus mengalir deras. Ia mendekap tubuhnya erat-erat, berusaha menahan dingin yang menusuk kulit itu. Ia mulai berpikir putus asa. Jika tidak ada yang menginginkannya, alangkah lebih baik jika ia mati membeku disini.

Gadis kecil itu memeluk erat tas ranselnya lalu memejamkan matanya yang masih terus mengeluarkan airmata itu. Tiba-tiba ia merasakan kehangatan menyelimuti tubuhnya. Terkejut karena merasakan kehangatan yang tiba-tiba itu, ia membuka matanya dan melihat seorang anak laki-laki yang familiar untuknya. Anak laki-laki yang tersenyum ramah itulah yang ternyata menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal.

“Jika kau berada di luar dalam cuaca sedingin ini kau akan jadi boneka salju.”kata anak laki-laki itu. Gadis itu tidak mengatakan apapun dan hanya memandangnya dengan mata berkaca-kaca.

“Namamu siapa?”tanya anak laki-laki itu ramah.

Dengan mata mengerjap-ngerjap pelan gadis kecil itu menjawab. “…Yuuri.”

Anak laki-laki itu tersenyum kecil. “Yuuri? Namaku Yunho, Jung Yunho.”

Gadis kecil bernama Yuuri itu mengangguk pelan. “Ba… bangapseumnida…”ucapnya dengan suara bergetar.

“Kau pasti kedinginan. Eomma menyuruhku mencarimu.”ajak Yunho dengan senyum lembut. Kemudian ia menarik tangan Yuuri agar berdiri. “Kajja!”

“Eo… eodiga…seyo…?”

“Ke tempat yang hangat, ke tempat dimana aku bisa melindungimu. Mulai saat ini namamu adalah Jung Yuuri, dan aku adalah Oppa-mu. Jung Yuuri, aku akan melindungimu.”

Yuuri menatap dalam-dalam senyuman hangat itu. Saat itu senyuman hangat Yunho kecil itulah yang membuat Yuuri kecil merasakan seluruh es di dalam hatinya mencair. Untuk pertama kalinya ia merasakan perasaan aman dari seseorang yang baru dikenalnya.

***

“Kudengar ia anak angkat.”

“Bukan! Anak selingkuhan! Anak itu anak selingkuhan Tuan Jung!”

“Masa’? bukankah mereka keluarga terhormat?”

“Kelihatannya saja begitu….”

Ucapan-ucapan jelek para orangtua murid itu terdengar di telinga Yuuri saat ia berjalan di halaman sekolah barunya. Ia merasa sedih mendengar hal itu. Mereka menjelek-jelekkan keluarga ayahnya karena kehadiran dirinya. Padahal keluarga barunya memperlakukannya dengan baik, bahkan ibu tirinya. Ibu tirinya selalu mengajaknya berbicara dengan nada lembut, nada bicara yang tidak pernah digunakan ibunya sendiri pada Yuuri. hal yang membuat Yuuri kecil merasa miris. Mungkin ia masih terlalu kecil untuk mengerti apa itu ‘anak selingkuhan’, tapi ia mengerti posisinya dari ucapan orang-orang di sekitarnya. Ia bukanlah seorang anak yang patut diperlakukan lembut oleh wanita yang bukan ibu kandungnya sendiri. Tapi istri ayah kandungnya itu memperlakukannya seperti itu. Dan jika seperti itu, membuatnya semakin tidak ingin mendengar orang-orang menjelek-jelekkan mereka, menjelek-jelekkan keluarga barunya yang sangat baik padanya.

Lalu dengan penuh tekad dan keberanian, Yuuri menghampiri kerumunan orangtua murid itu. “Namaku Jung Yuuri!”ucapnya keras di hadapan para ahjumma itu, membuat mereka kaget.

“Umurku 8 tahun dan aku tidak punya orangtua. Keluarga Jung berbaik hati mau mengangkatku sebagai anak mereka. Tolong, jangan jelek-jelekkan mereka karena diriku…”ucap Yuuri dengan mata berkaca-kaca. Ia teringat dengan jelas ucapan ayahnya.

“Jangan pernah lupakan hal ini: Yunho dan Jihye adalah sepupu jauhmu. Kau tidak punya orangtua jadi kami mengangkatmu sebagai anak kami. Arasseo?”

Walaupun ia melaksanakan perintah ayahnya dengan mengatakan hal itu ke orang-orang, tapi ia tidak bisa memungkiri jika hal itu menghancurkan hatinya yang sudah rapuh.

Yuuri mulai mengeluarkan airmatanya mengingat hal menyedihkan itu.

“O… omo! Siapa yang menjelek-jelekkan mereka nak?”ucap salah satu ahjumma merasa bersalah melihatnya menangis.

“Geurae. Kami tidak menjelek-jelekkan mereka kok!”kata ahjumma yang lain.

Yuuri tersenyum kecil pada mereka. Ia menghapus airmatanya yang mengalir lalu membungkuk. “Gamsahamnida. Aku akan jadi anak baik agar keluarga Jung tidak menyesal mengambilku.”ucap Yuuri tulus.

“Aigoo~ anak baik!”

“Kau harus jadi anak baik ya!”

“Keluarga Jung beruntung punya anak angkat sebaikmu!”

Berbagai pujian lain dari mereka pada akhirnya membuat Yuuri kecil tersenyum. Yuuri bertekad, ia akan membuktikan pada ayahnya jika ia bisa membuat keluarga Jung bangga. Bahkan jika ia harus menjadi ‘anak angkat’nya.

***

“Kenapa kau mengatakan hal itu?”tanya Yunho marah pada Yuuri saat mereka berjalan kaki pulang ke rumah dari sekolah mereka.

Yuuri menatap Yunho dengan bingung. “Mengatakan apa Oppa?”

“Mengatakan kalau kau anak angkat. Kau bukan anak angkat, Yuu! Kau adikku! Kau anak Abeoji!”

Yuuri tersenyum sedih. “Gomawoyo Oppa. Tidak apa-apa kalau mereka tidak tahu hal itu. Yang penting kenyataannya Yuu adiknya Oppa.”

“Apa Abeoji yang menyuruhmu mengatakan hal itu?”tanya Yunho curiga.

Yuuri menggeleng pelan. “Anhiyo.”ucapnya berbohong.

Yunho mengernyit, tidak percaya dengan kata-kata Yuuri. “Dengar Yuu, kau tidak boleh berbohong.”

Yuuri tersenyum kecil memandang Yunho yang masih menunjukkan wajah keberatannya. “Yuu bersyukur kalian mau menerima Yuu. Sekarang Yuu punya keluarga lengkap. Yuu punya Oppa, punya dongsaeng, punya kedua orangtua. Orang lain tidak perlu tahu Yuu siapa. Yang penting Yuu punya kalian. Itu saja sudah cukup.”ucap Yuuri kecil dengan tersenyum. Senyuman tulus yang pertama kalinya Yuuri berikan pada seseorang.

Yunho menghela napas mendengar kata-kata tulus Yuuri. Ia sebenarnya masih tidak suka jika orang-orang tidak tahu Yuuri adik kandungnya. Tapi perkataan Yuuri tadi cukup menenangkan hatinya.

“Jung Yuuri,”

“Ne?”

Tiba-tiba Yunho memeluknya. “Oppa menyayangimu.”ucap Yunho lembut.

Yuuri tertegun mendengar ucapan Yunho itu. Ia tidak pernah mendengar Yunho mengatakan hal itu, tapi ia bisa merasakannya dari sikap Yunho padanya. Sebelumnya tidak pernah ada orang yang mengatakan hal itu padanya, membuatnya selalu bertanya-tanya. Apa ia tidak pantas untuk dicintai?

Yunho adalah orang pertama yang mengatakan hal itu dan membuat perasaannya membuncah saking bahagianya. Ternyata ada seseorang yang menyayanginya, walaupun mereka baru kenal. Walaupun banyak kekurangan di dirinya. Walaupun sejak lahir ia hanya membuat orang lain susah.

Kemudian Yunho melepas pelukannya dan menatap Yuuri dengan lembut. Yuuri tersenyum lebar menatapnya.

“Aku juga sayang Oppa.”balas Yuuri dengan wajah berseri-seri membuat Yunho tersenyum lebar.  

“Dongsaeng-ah, ayo kita lomba lari.”kata Yunho dengan tiba-tiba melepaskan tangannya dari Yuuri lalu berlari dengan tertawa.

Yuuri terkejut sesaat. “Oppa curang!”seru Yuuri tertawa lalu berlari mengejar Yunho. Mengejar orang pertama yang menyayanginya setulus hati.

*End of flashback*

 

Airmata Lily menetes mengingat hal itu. Ternyata ia tidak pernah bisa melupakannya. Semarah apapun ia terhadap Yunho, ia tidak akan pernah bisa mengabaikan jika Yunho akan tetap menjadi salah satu orang yang paling berarti dalam hidupnya. Seseorang yang kehadirannya sangat ia butuhkan. Mungkin selama enam tahun ini ia bisa bertahan tanpa Yunho ataupun Joo Won karena ada Youngri di sisinya. Tapi sekarang, di saat kondisi Youngri seperti itu, Lily tidak bisa memungkiri jika ia membutuhkan Yunho.

Lily merasa malu dengan dirinya sendiri ketika memikirkan hal itu. Kenapa ia harus selemah ini? Ia seharusnya tetap menjadi strong independent woman seperti selama enam tahun ini. Seharusnya…

“Dongsaeng-ah…”

Lily terkejut ketika melihat Yunho yang sudah terbangun dan menatapnya sedih. Langsung saja ia berdiri dan ingin beranjak pergi, tapi Yunho memegang pergelangan tangannya, menahannya untuk pergi.

Yunho duduk di sofa dengan masih memegang tangan Lily. Kemudian dengan perlahan ia menarik Lily untuk duduk di sampingnya. Ia menatapnya lembut dan mengusap lembut airmata yang mengalir di pipi Lily. “Mianheyo, dongsaeng-ah… karena aku tidak tahu apa yang terjadi padamu. Pasti berat sekali untukmu menanggungnya sendirian…”ucap Yunho dengan suara yang mulai serak karena menahan tangis.

Lily tidak menjawab. Matanya menerawang kosong dengan airmata yang terus-menerus mengalir. Kemudian Yunho merengkuhnya lembut ke dalam pelukannya.

“Semuanya… pasti berat sekali untukmu. Seharusnya Oppa selalu di sisimu. Mianhe… Oppa bukan Oppa yang baik… Oppa tidak bisa menjagamu dengan baik… Joengmal mianhe…”ucap Yunho dengan sesengukan.

Lily tidak mengatakan apapun. Ia diam. Ia bahkan tidak berusaha menghapus airmatanya yang terus-menerus mengalir dan jatuh ke bahu Yunho. Lily hanya membiarkan Yunho memeluknya dengan erat dan memberikannya kehangatan.

~TBC~

Nah, ini dia hubungan Yunho-Lily yang sebenarnya. eotte? tebakan kalian bener gak? chapter selanjutnya bkln byk momen ChunLy 😉

Hari minggu ini aq udh berangkat penelitian skripsi, jadi aq hiatus sementara. tapi tenang aja. udah kujadwalin publish ff ini smpe chapter 12. next week udh ada updatenya kok.hehe~

jangan lupa komen yaaa^^

11 pemikiran pada “When You Come to My Life 9/?

  1. owhh, jd yuuri itu dongsaengnya yunho, tp bkan seibu… Nangis lho unnie..saia bacanya., ditambah jg smbil dgrin lgu yg galau2, kkk
    masih penasaran gmana lanjutn hbngn lily ma yoochun..
    Next part di tunggu…

  2. ya ampun,, kasian banget si yuu eon… gag tega aq… 😦
    feel nya yuuri ngena banget,, apalagi pas mau ending tuh…
    huahh makin bikin ikutan nyesek…

  3. duh kasian bgt sih msa kcil’a lily..
    bru 8 thn dah di usir sma ibunya sndri…
    jd ikut nyesek ni eon…
    untung msh ada yunpa…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s