[After Story of FON] Everlasting Love 9/?

sungri2

Tittle               : Everlasting Love 9/?

Author            : ideaFina a.k.a Jung Yuuri

Main cast       : Yesung, Jung Yuuri, Cho Kyuhyun, Seohyun, Lee Sungmin, Victoria f(x)

Support cast   : Super Junior, DBSK, Joo Sangwook, Lee Sunhee (OC)

Genre             : Romance, drama

Rate                : PG

Length            : Secuel

Prev                : 1  2   3   4  8

Disclaimer      : This story, Yesung and Yunho is MINE! >///< *plaak*

   Read Yes, Like Yes, Comment Yes. No plagiat!

 

“Yuuri sempat kesulitan bernapas dan pendarahan, tapi kami bisa menanganinya. Sekarang ia akan dipindahkan ke ruang steril dan dipersiapkan untuk kemoterapi lagi.”kata Jo Uisa.

Saat melangkahkan kakinya masuk ke ruang ICU untuk melihat Yuuri, Yesung merasa ketakutan. Ingatan mengenai kejadian dua jam lalu saat ia menggendong Yuuri yang pingsan, kembali memaksa masuk pikirannya yang sempat kosong karena shock. Shock saat mendengar cerita Seohyun mengenai keadaan Yuuri.

“Penyakitnya bisa sembuh jika ia mendapatkan donor sumsum tulang belakang. Tapi donor sulit dicari, dan kemungkinan besar donor yang cocok berasal dari keluarga kandung. Dengan perasaan hancur ketika mengetahui dua kabar buruk sekaligus, Yuu Eonnie berusaha mencari orangtua kandungnya tapi tidak ditemukan. Karena putus asa dan merasa Tuhan tidak adil untuknya, ia memilih menahan rasa sakitnya dan menantang maut secara langsung dengan pergi ke tempat yang berbahaya. Tapi bukannya terkena infeksi dan mati disana, ia malah menemukan banyak hal yang membuatnya merasa harus lebih bersyukur. Ia jadi sangat merindukan orangtuanya.”

“Semangat hidupnya kembali muncul saat bertemu orangtuanya kembali di New York. Ia memutuskan untuk mencari orangtua kandungnya sekali lagi. Dan tiga hari yang lalu Yuu Eonnie diberitahu kalau… orangtua kandungnya sudah meninggal. Semenjak itu kondisi tubuhnya menurun drastis.”

Dan sekarang, Yesung kembali merasa takut. Takut untuk melihat keadaan Yuuri yang sebenarnya. Takut, karena pada akhirnya ia melihat apa yang sebenarnya ditutupi oleh Yuuri, dan ternyata hal yang ditutupi oleh Yuuri itu jauh lebih buruk dari apapun yang pernah dibayangkannya.

Walaupun takut, Yesung tetap harus secepatnya masuk. Jo Uisa hanya memberinya waktu 5 menit untuk bertemu dengan Yuuri sebelum yeoja itu dipindahkan ke ruang steril. Dengan perlahan, Yesung menyibak tirai ruangan dan mendekati Yuuri yang berbaring di ranjang.

Detak jantung Yesung semakin menggila dan hatinya mencelos tiba-tiba saat melihat kondisi Yuuri. Yuuri terlihat begitu lemah dengan tubuh kurus yang dilapisi pakaian RS dan rambutnya, Yesung baru menyadari jika alasan memakai rambut palsu itu ternyata untuk menutupi kepalanya yang membotak. Walaupun saat ini Yuuri mengenakan beanie hat yang sebelumnya menutupi rambut palsunya. Saat ini yeoja itu tengah tertidur dengan berbagai alat menempel di tubuhnya, juga selang infus dan masker oksigen.

Yesung mendekati Yuuri dan memandang wajah yeoja yang begitu ia cintai itu. Yuuri tetap terlihat cantik walaupun pipinya lebih tirus dan tanpa rambutnya yang tergerai indah. Ia terlihat begitu tenang, seperti Putri Tidur yang menunggu ciuman cinta sejati dari Pangeran-nya. Yesung mencium kening Yuuri lama dan penuh perasaan. Setelah itu ia memandang Yuuri, memperhatikan reaksi yeoja itu.

Tapi Yesung tahu, saat ini Yuuri tidak akan terbangun walaupun Yesung menciumnya. Dan untuk saat ini pun, Yesung berharap, Yuuri tidak akan bangun. Yeoja itu terlihat begitu kelelahan, dan walaupun Yesung begitu ingin yeoja-nya bangun dan memandangnya, ia tetap lebih ingin Yuuri beristirahat dulu.

Karena tidak ada kursi di ruangan itu, Yesung berlutut di samping tempat tidur lalu meraih tangan kanan Yuuri yang bebas dari selang infus. Ia mengusap lembut jemari lentik Yuuri, lalu mencium punggung tangannya lama. Airmatanya menetes perlahan. Mengingat hal-hal yang menjadi pertanda awal sakit Yuuri, tapi ia sama sekali tidak menganggapnya serius. Dan ia menyesal sekarang.

“Kenapa? Capek?”

“Ne… akhir-akhir ini aku sering cepat capek…”gumam Yuuri dengan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Yesung.

“Jangan terlalu sibuk bekerja dan ambil cuti. Sudah lama kan kita tidak berlibur?”

Tapi ketika waktunya mereka berlibur, Yesung tidak bisa ikut karena schedule-nya yang mendadak berubah. Dan Yuuri terlalu lelah untuk pergi kemanapun.

“Yuu, ini kenapa? Kenapa lenganmu memar?”tanya Yesung ketika melihat memar yang membiru di lengan Yuuri. Yuuri mengerjap bingung melihatnya.

“Aku tidak ingat pernah terbentur sesuatu.”

“Yuu? Yuuri? Kenapa lama sekali di dalam?”panggil Yesung karena Yuuri sudah terlalu lama di kamar mandi.

“Se… sebentar Oppa!”

Tapi Yesung yang mendengar suara Yuuri yang sedikit sengau, langsung saja membuka pintu kamar mandi dan terkejut melihat Yuuri menyumpal hidungnya yang berdarah dengan tisu toilet.

“Astaga! Yuuri! Kau kenapa?”tanya Yesung panik dengan memegang wajah Yuuri.

“Ng… tadi… aku melamun saat akan keluar kamar mandi, padahal tadi pintu belum terbuka, jadi wajahku menabrak pintu… hehe…”

Karena terlalu khawatir, Yesung bahkan tidak menyadari jika Yuuri berbohong saat itu.

….

Yesung menangis dengan suara teredam tangan Yuuri yang masih diciumnya. Kenapa ia tidak memperhatikan semua itu? Seharusnya ia menyadari ada yang tidak beres pada kekasihnya itu. Jika ia tidak terlalu sibuk saat itu, jika ia tidak hanya sekedar datang untuk tidur dengan memeluk yeoja itu, mungkin ia akan menyadarinya. Dan Yuuri tidak akan seperti ini sekarang.

“Mianhe… mianhe Yuu… Oppa jeongmal mianhe…”

Kenapa penyesalan selalu datang terlambat dan rasanya sangat menyakitkan?

***

Sudah tiga jam berlalu, dan Yesung masih juga berdiri di depan jendela kaca ruang steril untuk memandangi Yuuri, menghitung tarikan napas yeoja itu. Tidak sedikitpun ia bergerak menjauhi jendela itu atau memalingkan pandangan dari sosok yeoja yang ia cintai itu. Karena ia takut, jika berpaling, mungkin ia tidak akan bisa melihat Yuuri bernapas lagi.

Yesung merasakan kedua matanya kembali basah. Rasanya hatinya sakit sekali. Selama ini ia begitu ingin Yuuri menikah dengannya, agar mereka bisa saling mendukung. Agar ia bisa selalu melindungi yeoja itu. Tapi justru Yuuri yang memikirkan kepentingannya. Yeoja itu tidak ingin membawa Yesung ke dalam penderitaannya.

“Mungkin karena… salah satu dari mereka terlalu mencintai pasangannya, dan tidak ingin pasangannya sedih karena dirinya…”

Yesung tersenyum dalam tangisnya. Ia salah, Yuuri tidak egois. Yuuri hanya terlalu mencintai dirinya. Belum pernah Yesung merasa sebahagia itu saat mengetahui dirinya salah. Nanti, saat Yuuri terbangun, ia tidak akan berhenti mengatakan jika ia mencintai yeoja itu, jika ia merasa begitu beruntung dicintai oleh Yuuri.

Tapi kapan Yuuri bangun? Padahal baru lima jam yeoja itu tertidur, tapi Yesung sudah merasa frustasi sekali ingin melihat kedua mata cokelat itu memandangnya penuh cinta.

Sunhee yang baru selesai memeriksa pasien-pasiennya, menyadari Yesung yang masih berada di posisi yang sama sejak tiga jam yang lalu Yuuri dipindahkan kesana. Dengan ragu-ragu ia menghampiri namja itu.

“Jongwoon-ssi.”panggil Sunhee. Yesung mendengar panggilan itu, tapi ia tidak menghiraukannya.

“Sebaiknya kau beristirahat. Sudah sejak tiga jam yang lalu kau berdiri terus seperti ini.”ucap Sunhee penuh perhatian.

Yesung masih tidak menghiraukannya, membuat Sunhee kecewa. “Jongwoon-ssi…”

“Kenapa kau tidak memberitahuku?”tanya Yesung tajam tanpa memalingkan wajahnya untuk menatap Sunhee.

Sunhee tersentak mendengar nada sinis yang keluar dari mulut Yesung. Ini pertama kalinya ia mendengar Yesung berbicara sinis. Selama ini Yesung yang ia kenal adalah namja yang ramah, baik, dan Sunhee tidak pernah melihat namja itu marah. Tapi mendengar namja itu berubah memusuhinya seperti itu hanya karena seorang Jung Yuuri… Sunhee menahan rasa sesak di dadanya. Bukan ‘hanya’. Jung Yuuri adalah segala-galanya untuk Kim Jongwoon. Seharusnya ia sadar akan hal itu sejak awal. Tapi ia terlalu mengikuti perasaannya yang hanya akan menyakitinya.

“Mianheyo.”ucap Sunhee pelan. “Kode etik kedokteran tidak memperbolehkanku memberitahu keadaan pasien tanpa seizin pasien ataupun keluarga pasien. Tapi mungkin… alasan yang lebih kuat karena… aku takut kehilanganmu….”

Yesung tidak bergeming mendengar pengakuan Sunhee. Ia masih tetap memandang Yuuri dan menghitung tarikan napas yeoja itu.

Airmata Sunhee merebak. “Walaupun kita baru berhubungan sebentar. Tapi aku rasa… aku benar-benar menyukaimu…”ungkap Sunhee.

Yesung tidak memalingkan wajahnya untuk memandang Sunhee, sebaliknya ia malah memejamkan mata dan sepertinya tidak berniat mengatakan apapun.

Sunhee menghapus airmata yang mengalir di sudut matanya. “Ternyata aku benar-benar tidak bisa mendapatkan hatimu ya.”ucap Sunhee memaksakan senyuman di wajahnya. Ia menghela napas ketika Yesung masih tidak menanggapinya. “Besok siang datanglah ke ruanganku. Kita akan membicarakan prosedur kemoterapi Yuuri setelah ia sadar.”katanya, lalu berjalan pergi. Tapi Yesung menahannya dengan pertanyaan.

“Kapan Yuuri akan sadar?”

Sunhee tersenyum miris. Yesung baru mau berbicara dengannya jika menyangkut Yuuri. Rasanya hatinya sakit sekali.

“Yuuri akan sadar ketika ia menginginkannya.”jawab Sunhee lalu pergi meninggalkan Yesung sendirian lagi.

***

Sunhee berjalan gontai menuju ruangannya. Penolakan Yesung tadi masih begitu mengguncangnya, dan ia menjadi sangat tidak bersemangat.

“Sunhee noona.”

Sunhee menoleh mendengar suara yang begitu familiar. Ia melihat Jongjin dan orangtua Yesung yang menghampirinya. Diperhatikannya wajah calon ibu mertuanya yang sembab, ah ralat, mantan calon ibu mertua. Lagi-lagi Sunhee merasa miris.

“Jongjin-ssi, Eommonim.”

“Bagaimana keadaan Yuuri Noona? Hyung dimana?”tanya Jongjin cemas.

“Yuuri masih belum bangun, tapi keadaannya sudah stabil. Sekarang ia berada di ruang steril. Jongwoon-ssi sejak tadi berada disana.”jelas Sunhee.

“Apa kami bisa melihatnya?”tanya ayah Yesung.

“Ruang steril tidak memperbolehkan siapapun selain dokter dan perawat untuk masuk. Jadi kalian hanya bisa melihatnya dari jendela kaca.”jelas Sunhee. “Ayo, kuantar kalian.”

Sunhee mengantar keluarga Yesung untuk masuk bangsal perawatan penyakit kanker. Setelah mereka membersihkan diri dan memakai baju RS, mereka diantar menuju ruang steril tempat Yuuri dirawat. Sunhee menyadari jika Ny.Kim gelisah karena merasa cemas akan keadaan Yuuri, dan mungkin juga cemas akan reaksi Yesung akan kehadirannya. Sunhee menggenggam tangannya, lalu meremasnya pelan untuk menguatkannya. Ny. Kim menoleh memandang Sunhee dengan mata berkaca-kaca.

Saat mereka sampai di ruang steril, Ny. Kim tidak bisa menahan airmatanya melihat putra sulungnya yang menatap sedih ke jendela kaca. Ia memang tidak tahu apa-apa mengenai keadaan Yuuri, tapi perkataannya yang memojokkan Yuuri dan tamparan yang diberikannya pada yeoja itu tidak bisa dimaafkan. Seharusnya apapun yang terjadi pada putranya dan Yuuri, ia tidak perlu mencampurinya.

“Hyung.”panggil Jongjin, lalu menghampiri Yesung. Yesung terkejut mendengar suara adiknya lalu menoleh.

“Bagaimana keadaan Yuuri, Jongwoon-ah?”tanya ayahnya.

Yesung menghela napas. “Sunhee-ssi bilang keadaannya stabil walaupun ia tidak bisa memastikan kapan Yuuri akan bangun.”jelasnya, kemudian ia melihat ibunya yang berada di belakang bersama Sunhee. Terlihat begitu canggung dan takut saat melihatnya.

Yesung tahu jika saat ini ibunya pasti merasa sangat bersalah dan cemas akan keadaan Yuuri. Bagaimanapun juga, sebelum hal ini terjadi, ibunya sangat dekat dengan Yuuri. Sebenarnya ia ingin menyalahkan ibunya karena perlakuan kasarnya pada Yuuri. Tapi itu tidak adil untuk ibunya. Ny. Kim tidak tahu mengenai kondisi Yuuri, dan ia hanya ingin melindungi putranya. Lagipula Yesung tidak mau menambah kepedihan hati ibunya dengan menyalahkannya.

“Eomma mau melihatnya?”tanya Yesung pada ibunya. Ny. Kim mengangguk lalu menghampiri Yesung. Ia terkesiap melihat keadaan Yuuri dari balik jendela kaca ruang steril. Airmatanya mengalir kembali dan ia menangis sesengukan. Yesung meraih ibunya ke dalam pelukannya lalu berkata lembut dengan mata berkaca-kaca. “Bukan salah Eomma… Eomma tidak tahu… bukan salah Eomma…”

Dan Ny. Kim terisak semakin keras mendengar ucapan menenangkan putranya.

***

Yunho memukul setirnya dengan kesal saat melihat kerumunan wartawan dan fans yang merubungi depan Seoul Hospital. Tim keamanan rumah sakit terlihat begitu kesusahan untuk menghalau mereka. Bagaimana ia dan orangtuanya bisa masuk ke dalam jika mereka menghalangi jalan?

“Eottohke Yunho-ya?”tanya ayahnya kebingungan. Orangtuanya yang berada di Gwangju sudah ia beritahu tadi pagi mengenai kondisi Yuuri, dan ia baru saja menjemput mereka dari bandara Incheon untuk langsung ke RS.

“Eomma dan Appa sebaiknya masuk sendiri ke dalam. Mereka akan mengerubungiku begitu aku keluar, jadi kalian bisa masuk ke dalam dengan mudah.”kata Yunho.

“Apa kau tidak akan apa-apa?”tanya ibunya cemas.

Yunho tersenyum. “Gwenchana, Eomma. Aku sudah terbiasa menghadapi ini. Lagipula mereka tidak akan menyakitiku karena mereka butuh informasi dariku.”

Setelah berhasil meyakinkan kedua orangtuanya, Yunho memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang tidak jauh dari depan lobby rumah sakit. Hari ini ia sengaja memakai mobil managernya agar fans atau wartawan tidak mengenali mobilnya. Jadi ketika orangtuanya keluar lebih dulu dari mobil itu, tidak ada yang menyadari siapa mereka. Setelah kedua orangtuanya sudah dekat dengan depan lobby rumah sakit, dan mereka berjalan di sisi gedung untuk menghindari kerumunan itu, Yunho keluar dari mobil dan berjalan santai menuju kerumunan.

“Yunho Oppa!”teriak salah satu fans Super Junior yang berada disana. Segera saja kerumunan itu langsung beralih menghampiri dirinya. Yunho tidak mempedulikan kerumunan wartawan yang mengerubunginya. Ia berusaha melihat kedua orangtuanya, dan menghela napas ketika menyadari mereka sudah berhasil masuk ke dalam RS.

Dengan bantuan keamanan, Yunho berjalan perlahan menuju ke lobby rumah sakit. Para wartawan sibuk memotretnya dan meneriakkan pertanyaan. Akhirnya karena sedikit merasa kesal dan bertanggung jawab terhadap kekacauan di depan RS ini, Yunho berhenti di depan pintu lobby dan menatap para wartawan yang menunggu-nunggu pernyataannya.

“Yuuri sekarang masih belum sadar dan kondisinya harus terus dipantau oleh dokter. Yesung hyung terus menemaninya.”jelas Yunho.

Mereka kembali bertanya dengan serentak. Yunho menghela napas sebelum menjawab. “Masalah hubungan mereka hanya mereka yang berhak mengatakannya. Aku akan menjelaskan pada kalian kalau Yesung hyung atau Yuuri mengizinkanku.”

“Kumohon kalian segera pergi dari sini, karena kalian mengganggu aktivitas disini. Aku dan yang lainnya tidak akan mengatakan apapun lagi.”kata Yunho lalu berjalan masuk ke dalam RS.

Kedua orangtuanya sudah lebih dulu pergi ke bangsal perawatan kanker. Ketika sampai disana ia melihat ibu Yesung yang duduk di ruang tunggu dengan menangis terisak di pelukan suaminya. Sementara Jongjin berusaha menenangkan ibunya dengan mengusap lembut bahu ibunya. Yunho menghampiri mereka dan membungkuk sopan saat menyapa.

“Eoh, Yunho-ya.”ucap Tn. Kim.

“Apa orangtuaku sudah masuk ke dalam?”tanya Yunho.

“Ne. Orangtua hyung sudah masuk barusan.”kata Jongjin.

“Kapan orangtua Yuuri akan sampai?”tanya Tn. Kim.

“Aku baru menghubungi mereka tadi pagi saat Yuuri masuk ICU. Mereka langsung berangkat ketika aku menjelaskan keadaan Yuuri. Jadi kira-kira mereka akan sampai sekitar sepuluh jam lagi.”jelas Yunho lalu duduk di sebelah Jongjin.

“Bagaimana reaksi mereka saat tahu keadaan Yuuri noona?”tanya Jongjin.

“Aku tidak memberitahu Samchon dan Imo apa penyakit Yuuri. Aku hanya menjelaskan jika Yuuri sekarang berada di ICU. Imo sempat pingsan saat mendengarnya…”ucap Yunho muram. Yunho bersandar pada dinding RS dan mengerang kesal. “Seharusnya aku memberitahu mereka lebih awal. Tapi Yuuri selalu melarangku melakukannya. Ia selalu saja berbicara dengan nada ceria setiap menelpon orangtuanya, seolah tidak terjadi apa-apa.”

Ny. Kim semakin terisak mendengar perkataan Yunho.

Yunho memandang ibu Yesung dengan merasa bersalah. “Mianheyo, ahjumma. Aku tidak seharusnya menyembunyikan hal ini dari Yesung hyung atau kalian. Tapi Yuuri benar-benar tidak ingin Yesung hyung menyia-nyiakan waktunya untuk dirinya. Penyakit itu benar-benar membuatnya berubah, kepercayaan dirinya menurun dan ia menjadi begitu takut terhadap banyak hal.”jelas Yunho. “Jika rekan kerjanya tidak menyadari Yuuri sakit, mungkin aku tidak akan pernah tahu.”

“Rekan kerjanya?”tanya Yesung saat ia baru keluar dari ruang steril dan mendengar ucapan Yunho.

“Ne. Salah satu rekan kerjanya punya kakak yang pernah menderita leukimia. Jadi ia menduga Yuuri mengalami hal yang sama ketika melihat keadaan fisik Yuuri.”

Yesung duduk di seberang kursi yang diduduki keluarganya lalu bergumam pelan dengan suara yang begitu sedih. “Bahkan orang lain menyadarinya, kenapa aku tidak? Kenapa aku begitu bodoh?”ucap Yesung dengan suara bergetar.

Yunho berpindah duduk di sebelah Yesung. “Sudahlah, hyung. Tidak perlu terus-menerus disesali. Yang terpenting saat ini kita harus terus mendukungnya di saat-saat seperti ini.”kata Yunho dengan menepuk pelan bahu Yesung. “Lagipula, sebaiknya sekarang hyung cepat makan. Eomma-ku mengusir hyung keluar untuk makan kan?”

Yesung mengangguk pelan.

“Sebaiknya kita ke kantin RS sekarang. Walaupun makanannya tidak begitu enak, tapi yang penting hyung bisa mengisi perut.”

“Tidak perlu makanan RS.”kata sebuah suara yang terdengar familiar. Mereka berlima menoleh ke asal suara dan melihat Sungmin, Leeteuk dan Ryeowook. Sungmin menunjukkan rantang makanan yang dibawanya. “Victoria memasak makanan untuk kalian.”

“Kalian masuk darimana?”tanya Yunho heran.

“Tentu saja dari pintu depan.”kata Ryeowook.

“Kerumunan itu bisa kami terobos. Yah tapi tanganku sedikit lecet sih.”gerutu Leeteuk. “Bagaimana keadaan Yuuri, Yesung-ah?”

Yesung mendesah pelan, ia menyenderkan kepalanya ke dinding RS lalu memejamkan mata. Dan itu sudah menjadi jawaban bagi Leeteuk. “Kau harus kuat, Yesung-ah. Demi Yuuri. Ia membutuhkanmu.”kata Leeteuk.

Yesung masih tetap diam dengan airmata yang kini mengalir dari mata terpejamnya.

***

Yesung membuka kembali matanya saat merasa ia tidak bisa tertidur. Jam besuk ruang steril sudah habis, sehingga ia harus menunggu di ruang tunggu dan tidur di sana. Setelah member-membernya dan member-member DBSK bergantian datang untuk melihat Yuuri dan menghiburnya, ia kembali lagi sendirian. Yesung sangat berterima kasih karena mereka menyempatkan diri datang di tengah-tengah kesibukan mereka untuk melihat Yuuri dan mengiburnya. Mereka membujuknya untuk pulang dan beristirahat. Tapi Yesung sama sekali tidak mau meninggalkan RS sampai ia bisa melihat Yuuri membuka mata.

Karena tidak bisa tertidur, Yesung membuka ponselnya dan membuka-buka folder galeri. Ia tersenyum saat melihat foto-fotonya bersama Yuuri. Yesung memang sangat suka ber-selca, sementara Yuuri lebih suka memotret daripada selca. Tapi selama Yuuri bersama dengan Yesung, ada ratusan foto-foto selcanya bersama yeoja itu tersimpan dengan baik di ponsel dan juga laptopnya. Bahkan ada banyak juga foto-foto Yuuri yang diambilnya diam-diam.

Yesung tersenyum ketika melihat foto Yuuri yang sedang menggendong anak kucing berwarna abu-abu di pet shop yang pernah mereka kunjungi. Wajah yeoja itu terlihat begitu gembira dengan tawa di wajah cantiknya saat anak kucing itu menggigit pelan jarinya. Sudah lama sekali yeoja itu ingin memelihara kucing. Tapi karena terlalu sibuk dan tidak ada yang mengurusnya jika ia bekerja, rencana itu selalu saja tertunda. Makanya jika mereka berdua jalan-jalan, mereka selalu mengunjungi pet shop untuk melihat-lihat kucing yang begitu Yuuri sukai.

Yesung membuka-buka internet lalu menghela napas ketika melihat banyak berita mengenai dirinya dan Yuuri, juga Sunhee. Banyak yang menanyakan hubungannya dengan Yuuri, bahkan ada yang menuduh Yuuri adalah orang ketiga di antara hubungannya dengan Sunhee. Yesung sangat kesal membaca hal itu.

Sejak awal hanya Yuuri. Tidak ada orang lain di hatinya.

Yesung kemudian membuka twitternya lalu memposting foto Yuuri bersama kucing tersebut.

@shfly3424: ‘Sejak awal hanya ada dirinya…’

Tidak berapa lama masuk banyak mention dari fansnya. Yesung hanya membacanya sekilas lalu memposting lagi foto, kali ini foto mereka berdua. Saat foto itu diambil, Yesung sedang mencium pipi Yuuri, dan yeoja itu tertawa lebar. Foto itu diambil saat Yuuri membeli kamera baru beserta tripod, dan yeoja itu ingin mencoba kamera barunya. Yuuri bersikeras jika ia ingin mencoba memotret Yesung, tapi Yesung tidak mau berfoto sendirian. Alhasil Yesung memaksanya dengan menggendong Yuuri untuk duduk di sofa bersamanya, lalu mencium pipi Yuuri yang sedang tertawa. Seketika itu juga timer kamera habis dan menangkap momen mereka saat itu.

Yesung tersenyum melihat wajah ceria Yuuri. Ia ingin sekali bisa melihat senyuman yeoja itu lagi.

@shfly3424: ‘Aku akan mengenalkannya pada kalian saat ia sembuh. Aku ingin kalian tahu, betapa berartinya dia untukku…’

Sembuh? Ya. Yesung yakin Yuuri akan sembuh. Walaupun Sunhee dan juga Jo Uisa mengatakan jika kemungkinan Yuuri sembuh sangat kecil kecuali jika ia mendapatkan donor, tapi Yesung yakin Yuuri akan segera mendapatkan donor itu.

Karena kalau tidak, Yesung bisa mati juga. Karena ia tidak akan bisa hidup tanpa Jung Yuuri.

***

Suara derap langkah yang terburu-buru membuat Yesung terbangun dari tidurnya. Ia sebenarnya tidak berniat untuk tidur, tapi rasa lelah membuatnya tertidur dengan posisi duduk di kursi ruang tunggu bangsal perawatan kanker. Ia mengernyitkan kening mendengar suara berisik itu. Perlahan ia membuka mata dan melihat Yunho bersama dengan ketiga orang yang tidak dikenalnya menghampiri perawat untuk izin masuk ke dalam.

Dengan masih setengah sadar Yesung berusaha mendengarkan percakapan keempat orang itu dengan perawat.

“Mereka adalah kedua orangtua pasien dan baru datang jauh dari New York. Apa tidak bisa diperbolehkan sebentar saja untuk melihat anak mereka?”tanya Yunho pada perawat yang bertugas.

Perawat tersebut menggeleng. “Jeoseonghamnida. Tapi sekarang sudah tengah malam dan bukan waktu yang tepat untuk menjenguk pasien. Lagipula pasien butuh istirahat dan ketenangan. Demi pasien, tolong mengerti kebijakan kami.”jelas perawat yang membuat mereka kecewa, lalu ibunya Yuuri, yang sebelumnya seperti sudah banyak menangis terlihat dari matanya yang sembab, kembali menangis.

Yesung mendengar pembicaraan mereka dan baru sadar jika ketiga orang yang bersama Yunho itu adalah orangtua dan adik laki-laki Yuuri. Ia memang belum pernah bertemu mereka secara langsung. Tapi ia sudah pernah memperkenalkan diri kepada mereka lewat skype, dan kadang-kadang ia mengobrol sebentar dengan ibu Yuuri ketika yeoja itu menelpon orangtuanya. Ia selalu ingin bertemu langsung dengan keluarga Yuuri, tapi saat-saat seperti ini bukanlah momen yang diharapkannya untuk bertemu dengan mereka.

Ketika Yunho mengajak keluarga Yuuri untuk menunggu di ruang tunggu, mereka baru sadar akan kehadiran Yesung di sana. Buru-buru Yesung bangkit dari duduknya dan membungkuk hormat pada orangtua Yuuri.

“Eoh. Hyung masih disini?”tanya Yunho kaget. Sebelumnya ia pikir teman-temannya bisa membujuk Yesung untuk pulang dan beristirahat.

“Aku akan menunggu Yuuri bangun.”jawab Yesung lalu ia kembali membungkuk pada kedua orangtua Yuuri. “Annyeonghasseyo, Kim Jongwoon imnida.”ucap Yesung. Tapi setelah itu ia tidak bisa berkata apapun lagi. Ia merasa canggung diperhatikan seperti itu oleh keluarga Yuuri, dan juga merasa bersalah. Dulu, saat berbicara dengan orangtua Yuuri, ia berjanji akan melindungi yeoja itu. Tapi kenyataannya, sekarang ia gagal menjaga putri mereka satu-satunya.

Ny. Jung, ibu Yuuri, memandang Yesung dengan mata berkaca-kaca. “Akhirnya kita bertemu, Jongwoon-ah. Walaupun aku tidak menyukai pertemuan seperti ini.”katanya dengan tersenyum sedih.

Yesung mengangkat wajahnya dan melihat tatapan kesedihan Ny. Jung membuat airmatanya kembali merebak. Ny. Jung merengkuh Yesung ke dalam pelukannya dan Yesung memeluknya erat dan menangis terisak di pelukan ibu Yuuri.

“Mianheyo, Eommoni… Aku tidak bisa menjaganya dengan baik… Jeongmal mianheyo…”

***

Yuuri mengernyit dalam tidurnya ketika memimpikan hal-hal yang sudah lama terjadi itu. Yesung, orangtuanya dan Yuki. Lalu… surat adopsi.

….

….

Yuuri terbangun dengan rasa pusing dan mual yang sangat hebat. Dengan tergesa-gesa ia membuka selimut yang melingkupi tubuhnya, dan hampir setengah berlari dari tempat tidur menuju kamar mandi. Ia memuntahkan semua isi perutnya di closet, tapi rasa mual itu tak kunjung hilang. Yuuri berdiri dan membasuh mulutnya di wastafel. Tapi ketika ia bercermin, ia terkejut melihat darah mengalir dari kedua hidungnya.

Tubuhnya bergetar ketakutan. Dengan panik ia menarik tisu toilet dan menyumpalnya di kedua lubang hidungnya, lalu menengadah. Berusaha menghentikan darah untuk terus mengalir. Tapi ia hampir tersedak saat melakukannya. Yuuri akhirnya membuka tisu yang sudah berwarna merah itu lalu membiarkan darah mengalir dari hidungnya. Dengan perlahan menghapus darah yang mengalir, lalu sepelan mungkin mencoba menengadah untuk menghentikan darah terus mengalir.

Ketika Yesung terbangun dan mendapati Yuuri masih juga belum kembali dari kamar mandi. Ia melangkah turun dari tempat tidur lalu menyusul yeoja itu ke kamar mandi.

“Yuu? Yuuri? Kenapa lama sekali di dalam?”panggil Yesung karena ia merasa Yuuri sudah terlalu lama di kamar mandi.

“Se… sebentar Oppa!”

Tapi Yesung yang mendengar suara Yuuri yang sedikit sengau, langsung saja membuka pintu kamar mandi dan terkejut melihat Yuuri menyumpal hidungnya yang berdarah dengan tisu toilet.

“Astaga! Yuuri! Kau kenapa?”tanya Yesung panik dengan memegang wajah Yuuri.

“Ng… tadi… aku melamun saat akan keluar kamar mandi, padahal tadi pintu belum terbuka, jadi wajahku menabrak pintu… hehe…”

Karena terlalu khawatir, Yesung bahkan tidak menyadari jika Yuuri berbohong saat itu. Ia menarik Yuuri keluar dari kamar mandi, mendudukkan yeoja itu di tempat tidur lalu mengambil tisu sebanyak mungkin, berusaha menghentikan pendarahan di hidung Yuuri. Tapi ternyata darah sudah berhenti mengalir dari hidung Yuuri.

Yuuri yang memang sebelumnya sudah merasa pusing, ditambah darah yang cukup banyak mengalir dari hidungnya, menyandarkan kepalanya di bahu Yesung. “Pusing Oppa…”gumamnya dengan memejamkan mata.

“Tentu saja pusing! Wajahmu terbentur dan kau mimisan sampai sebanyak ini! Kenapa kau tidak hati-hati sih?! Nanti kita ke dokter!”omel Yesung.

“Tadi aku masih mengantuk jadi belum begitu sadar.”ucap Yuuri berbohong, ia tidak ingin Yesung khawatir. “Tidak perlu ke dokter Oppa. Aku hanya butuh istirahat.”

“Keundae Yuu…”

“Aku hanya mau tidur…”ucap Yuuri bersikeras.

Yesung menghela napas lalu mengusap lembut hidung Yuuri yang memerah. “Appo?”tanyanya khawatir.

Yuuri mengernyitkan kening ketika merasakan kepalanya pusing lagi. Hidungnya memang tidak apa-apa, hanya sedikit perih karena ada darah kental yang banyak mengalir. Tapi Yuuri tidak bisa mengatakan hal itu pada Yesung. Ia hanya mengangguk kecil.

Yesung mengecup ujung hidung Yuuri. “Untung saja hidungmu tidak patah.”gumam Yesung masih dengan mengelus hidung mancung Yuuri. “Aku akan mengambil air dingin dan handuk kecil. Hidungmu harus dikompres sebelum memar muncul.”kata Yesung lalu bangkit dan pergi keluar kamar untuk mencari apa yang dibutuhkannya.

Yuuri mengernyit mengingat jika sudah beberapa kali ia menemukan memar-memar di tubuhnya, dan ia tidak ingat dimana mendapatkannya. Yuuri merasakan kecemasan mulai muncul di dirinya. Kenapa akhir-akhir ini kondisi tubuhnya mulai aneh? Ada apa dengannya? Apa ia sakit?

Ia harus segera memeriksakan diri ke dokter.

***

Tangan Yuuri bergetar ketika melihat hasil rekam medis yang dokter berikan padanya. Setelah beberapa hari ini ia melakukan serangkaian tes yang ia tidak mengerti untuk penyakit apa, kali ini ia tahu ada apa dengan dirinya.

Leukemia Mielositik.

Tubuh cepat lelah karena anemia, demam tinggi, sering merasa kembung dan mual, muncul memar kebiruan dan mimisan. Itu semua ciri-ciri yang muncul ketika leukosit melebihi jumlah yang dibutuhkan di dalam tubuh.

Yuuri sama sekali tidak bisa mendengar apapun yang diucapkan dokter kepadanya. Ketakutan atas penyakit yang begitu asing di pendengarannya ini membuatnya memikirkan berbagai hal buruk yang belum terjadi. “Apa… apa aku bisa sembuh?”tanyanya dengan suara bergetar.

“Anda bisa ikut kemoterapi untuk menghambat perkembangan kanker. Untuk jenis leukimia ini jalan satu-satunya untuk sembuh yaitu dengan transplantasi sumsum tulang belakang. Pihak RS sudah mendaftarkan Anda ke bank donor sumsum tulang. Kami akan berusaha untuk mencari donor yang sesuai. Tapi Anda juga harus menginformasikan hal ini kepada pihak keluarga, karena donor yang kemungkinan besar cocok berasal dari keluarga kandung.”jelas dokter.

Airmata Yuuri mengalir karena rasa takut dan sedih. Bagaimana mungkin ia mengatakan pada keluarganya dan Yesung jika ia mungkin akan mati sebentar lagi? tapi ia tahu ia harus mengatakannya pada kedua orangtuanya dan juga Yuki, adiknya. Semoga sumsum tulang belakang salah satu dari mereka cocok dengan dirinya.

Sorenya Yuuri berangkat ke New York.

***

Yuki tidak bisa menyembunyikan rasa terkejut dan gembiranya ketika membuka pintu rumah dan menemukan kakak satu-satunya berada di sana dan tersenyum lebar.

“Noona!”serunya gembira lalu memeluk erat Yuuri. Yuuri balas memeluk erat adiknya dan bergumam. “Bogoshippo, Yuki-chan.”

Karena Yuki lahir pada saat musim dingin di Jepang, ia diberi nama Yuki, yang berarti ‘salju’ . Dan Yuuri suka memanggil adik satu-satunya yang lebih muda 10 tahun darinya itu dengan menggunakan -chan.

“Noona kenapa datang tidak memberi kabar dulu?”tanya Yuki gembira.

“Ng… Surprise?”ucap Yuuri ragu, membuat Yuki tertawa. Ia menyeret Yuuri masuk dan berteriak-teriak memanggil kedua orangtuanya.

“Yuki! Ada apa sih ribut-ribut?”omel Eomma mereka yang seperti sedang berada di dapur, menyiapkan sarapan.

“Eomma! Lihat siapa yang datang!”kata Yuki sambil terus menarik kakaknya ke dapur.

“Memangnya siapa?”tanya Eomma-nya tanpa menoleh ke arah Yuki, dan masih sibuk memasak.

Yuuri memandang punggung ibunya dengan berbagai perasaan bercampur aduk. Rasa rindu, lalu rasa cemas dan takut akan reaksi ibunya ketika mengetahui ia sakit, tapi dari semua itu, rasa rindu lah yang dominan. Ia merindukan ibunya, pelukan hangatnya, tatapan lembutnya, bahkan omelannya. Segera saja Yuuri menghampiri ibunya dan memeluk tubuh ibunya dari belakang, membuat Ny. Jung itu terkejut.

“Eomma…”panggil Yuuri dengan nada manja.

“Yuu?”tanya Eomma-nya kaget.

“Ne, ini Yuu.”

Kemudian Ny. Jung berbalik dan memeluk erat putri satu-satunya itu. “Yuu. Bogoshippo, chagiya…”ucapnya, lalu melepaskan pelukannya dan menciumi wajah putrinya bertubi-tubi, membuat Yuuri terkikik geli. Setelah puas menumpahkan rasa rindu dengan ciuman dan pelukan, mereka bertiga kini duduk di meja makan lalu mengobrol hangat.

“Appa dimana?”tanya Yuuri memandangi seluruh sudut rumahnya, mencari ayahnya.

“Sedang mandi. Baru juga 30 menit di kamar mandi.”jawab Ny. Jung.

Yuuri mendengus tertawa. Ayahnya selalu menggunakan kamar mandi selama sejam setiap pagi. Kebiasaan yang sulit diubah dan membuat jengkel mereka bertiga.

“Kenapa tiba-tiba pulang tanpa memberi kabar?”tanya Ny. Jung dengan menggenggam lembut tangan putrinya.

“Mm… surprise?”ucap Yuuri lagi dengan ragu, membuat Yuki mendengus tertawa.

“Tadi Noona juga bilang kata ‘surprise’ dengan nada seperti itu.”ucap Yuki menirukan cara Yuuri mengucapkan ‘surprise’. “Sebenarnya memang ingin membuat kejutan atau tidak sih?”

“Shut up, baby brother!”omel Yuuri.

“Hey! Don’t call me like that! I’m not baby anymore! I’m sixteen!”protes Yuki.

Yuuri menjulurkan lidah, menikmati meledek namdongsaengnya itu. “You’re always my baby brother, Yuki-chaannn~”ucap Yuuri dengan tertawa, sementara Yuki cemberut. Ny. Jung tertawa melihat interaksi kedua buah hatinya. Sudah cukup lama ia tidak melihat mereka berdua bercanda seperti ini, karena Yuuri biasanya hanya pulang setahun sekali atau paling cepat enam bulan sekali. Yuuri memang lebih betah di Korea. Tapi sayangnya kedua orangtuanya punya usaha yang tidak bisa ditinggal disini.

“Lalu kenapa datang sendirian? Mana Jongwoon? Kau bilang ingin mengenalkannya pada kami.”tanya Ny. Jung. Tubuh Yuuri membeku mendengar pertanyaan ibunya. Sudah hampir dua minggu ini Yesung persiapan konser dan pergi ke luar negeri untuk konser SMTOWN, dan beberapa hari ini ia tidak mengangkat telpon dari Yesung. Rasa cemas akan kondisi tubuhnya tanpa sadar membuatnya menghindari telpon dari namjachingunya itu. Bahkan sekarang ia pulang ke New York saja tidak memberitahu Yesung.

Ny. Jung memperhatikan permainan emosi di wajah Yuuri. “Kau… putus dengannya?”

Yuuri tersentak dengan pertanyaan ibunya. “Anhiyo! Jongwoon Oppa sedang konser ke luar negeri. Tapi aku sedang memikirkan betapa khawatirnya dia karena aku tidak memberitahunya akan kesini.”jelas Yuuri.

“Ck! Setiap skype-an, membicarakan namja itu. sekarang pulang pun masih membicarakan dia juga.”gerutu Yuki.

Yuuri bangkit dari duduknya lalu memeluk Yuki. “Aigoo~ uri Yuki-chan jangan cemburu begitu dong! Kau tetap namja yang pertama untuk Noona.”ucap Yuuri. Wajah Yuki mulai memerah malu, lalu berusaha melepaskan pelukan kakaknya. “Ah, anhi. Appa dong yang pertama. Hehe…”

“Who’s the first?”

Yuuri menoleh ke asal suara, dan melihat ayahnya tersenyum lebar dengan penampilan segar sehabis mandi. “Appa!”serunya gembira lalu meloncat ke gendongan ayahnya. Tn. Jung yang memang masih segar bugar di usianya yang menginjak pertengahan 50 tahun, langsung menangkap Yuuri dan memeluk putrinya itu erat di gendongannya. Kebiasaan Yuuri sejak kecil jika sudah lama tidak bertemu dengan ayahnya, ia pasti meminta digendong.

“I miss you so much, Appa…”ucap Yuuri.

“Miss you so much too, baby.”ucap Tn. Jung lalu mencium pipi putrinya. Setelah itu ia menurunkan Yuuri dari gendongannya.

“Aigoo~ sudah tua masih saja suka digendong appa.”ledek Yuki, membuat ibunya tertawa.

“Don’t be jealous, Yuki-chaannn~ You know you can ask Appa to carry you too if you want, baby brother.”ucap Yuuri dengan memeletkan lidah.

Yuki mengerang kesal. “Please stop calling me that!”

Tn. Jung dan Ny. Jung tertawa melihat pertengkaran kedua anak mereka. “Keundae Yuu, kenapa tubuhmu terasa lebih ringan. You look thinner than before.”

Yuuri sempat terkejut mendengar pertanyaan itu. Berat badannya mulai turun semenjak kondisi tubuhnya mulai berubah. Tapi ia menjawab dengan nada santai. “Bukannya kurus, Appa. Tapi langsing. Lebih langsing. Aku kan harus terus menjaga tubuhku agar namjachinguku tidak tertarik pada selebritis-selebritis yang sering dilihatnya.”

Tn. Jung menaikkan sebelah alisnya. “What was so special about him?”

“Everything about him is special.”jawab Yuuri lembut ketika membayangkan Yesung.

Orangtua Yuuri saling berpandangan dan tersenyum. Sepertinya Kim Jongwoon yang selalu diceritakan Yuuri itu benar-benar mencintai putri mereka dan memperlakukan putri mereka dengan sangat baik. Kalau tidak, mana mungkin Yuuri merasa bahagia bersamanya. “So… Where is he? I didn’t see him.”

“Mmm… i came here alone. He’s on the Paris right now. Concert.”ucap Yuuri, kemudian perutnya berbunyi keras. Ketiga anggota keluarganya tertawa mendengarnya, sementara Yuuri tersenyum malu.

“Jja~ kita makan dulu. Nanti dilanjutkan mengobrolnya.”kata Ny. Jung lalu kembali ke dapur menyiapkan sarapan. Sementara suami dan kedua anaknya duduk di meja makan.

Yuuri menyantap sarapan khas Korea buatan ibunya dengan lahap. Walaupun keluarga mereka lama tinggal di luar negeri, mereka tetap lebih suka dengan masakan negara sendiri. Yuuri merasa gembira sekali bisa merasakan masakan ibunya yang sangat ia rindukan.

Keluarga kecil itu mengobrol hangat saat sarapan. Yuuri harap, ia tidak perlu memberitahukan kabar buruk itu kepada keluarganya. Tapi, apa pilihannya?

***

Yuuri terbangun ketika mendengar alarm berbunyi keras. Ia mengerang mendengarnya lalu meraba-raba meja nakas untuk mematikan beker itu. Ini pasti kerjaan iseng Yuki. Adiknya itu pasti menyetel alarm sebelum berangkat sekolah untuk mengganggunya. Kebiasaan menyebalkan yang tidak pernah berubah.

Setelah mematikan jam beker itu, Yuuri melihat jam yang tertera di jam analog berbentuk bola basket itu. Jam beker milik Yuki. Ia mendengus sebal. Benar saja. Ia baru tidur dua jam. Padahal karena jet lag ia butuh tidur lebih lama. Tapi karena sudah terbangun, Yuuri memutuskan untuk bangun dan menyusul ibunya ke butik. Daripada ia sendirian di rumah, sementara kedua orangtuanya bekerja dan adiknya sekolah.

Yuuri baru akan berjalan ke kamar mandi ketika kembali merasakan cairan hangat mengalir dari hidungnya. Dengan panik ia menutup hidungnya dan berlari ke kamar mandi. Ia menengadah lalu berusaha menutup lubang hidungnya dengan tisu toilet. Setelah beberapa saat, darah mulai berhenti mengalir. Lalu Yuuri meminum obat dari dokter yang dibawanya.

Yuuri mulai kembali merasakan kecemasan. Ia tidak ingin memberitahu keluarganya. Tapi, jalan satu-satunya untuk sembuh ia harus mendapatkan donor yang cocok dari keluarganya. Lalu, bagaimana kalau tidak ada yang cocok? Apa yang akan terjadi dengannya?

Ia tidak mau memikirkannya sekarang. Nanti saja, Yuuri berkata dalam hati, nanti saja ia memberitahu mereka.

***

Yuuri membuka pintu ruang kerja ayahnya dan melihat-lihat buku yang tersusun rapi di rak-rak tinggi ruangan itu. Ayahnya hobi membaca dan fotografi, dan hobi itu ditularkan kepada kedua anaknya. Yuuri sangat senang membaca buku-buku koleksi ayahnya yang tidak terbatas pada satu genre. Makanya wawasan ayahnya sangat luas, dan ia ingin seperti ayahnya. Oleh karena itu, ia bercita-cita menjadi jurnalis, salah satu cara untuk mengembangkan wawasannya.

Ia mulai memilih-milih buku yang berada di rak, lalu perhatiannya teralihkan dengan kotak kardus berukuran sedang berisi berkas-berkas lama di samping kursi meja kerja ayahnya. Rasa penasaran membuatnya menghampiri benda tersebut. Ia membaca berkas-berkas tersebut dengan penasaran. Ayahnya punya perusahaan periklanan yang cukup besar disana, dan judul-judul berkas itu berhubungan dengan periklanan yang Yuuri tidak begitu mengerti.

Ketika ia mengeluarkan beberapa berkas dan melihat-lihat berkas yang berada di dalam kotak kardus tersebut, ia menemukan berkas yang terlihat sangat berbeda dengan huruf hangul. Berkas itu sudah usang dengan judul “Surat Adopsi’ dalam tulisan hangul. Dengan penasaran ia membuka berkas itu. Dan saat itulah perasaannya kembali hancur untuk kedua kalinya.

….

….

Yuuri merasakan dadanya begitu sesak ketika mengingat semua itu, dan sesak napas itu menjadi semakin parah membuatnya merasa begitu kesakitan.

***

Pagi sudah menjelang, dan keluarga Jung beserta Yesung diperbolehkan untuk menengok Yuuri. Mereka masuk ke bangsal perawatan kanker, membersihkan diri, lalu memakai pakaian RS. Tapi ketika mereka baru sampai di depan ruangan Yuuri dan baru akan melihat yeoja itu dari balik jendela kaca. Sunhee dan perawat dengan tergesa-gesa masuk menangani Yuuri yang mengejang hebat.

Ny. Jung menangis histeris melihat Sunhee melakukan penanganan pada Yuuri yang masih mengejang hebat. Tn. Jung berusaha menenangkan istrinya, sementara Yuki menangis dalam diam. Dan Yesung, menempelkan kedua tangan dan wajahnya ke jendela kaca, berharap dengan begitu ia bisa masuk ke dalam dan menolong yeoja yang ia cintai. Matanya berkaca-kaca, tubuhnya begitu lemas.

Yuuri tidak boleh meninggalkannya. Ia akan mati jika Yuuri meninggalkannya.

Setelah sepuluh menit yang mendebarkan jantung, Sunhee berhenti melakukan penanganan ketika nafas Yuuri kembali stabil. Lalu Yuuri perlahan membuka matanya.

“Yuuri! Kau bisa mendengarku?”tanya Sunhee saat melihat Yuuri mengerjapkan matanya pelan, berusaha membiasakan cahaya yang masuk ke dalam matanya setelah beberapa lama terpejam. Yuuri mengangguk lemah.

Sunhee tersenyum. Ia memeriksa denyut nadi dan pernapasan Yuuri, lalu tersenyum kepada empat orang yang melihat mereka dari jendela kaca. “Yuuri-ssi, keluargamu datang. Kau mau bertemu dengan ayah, ibu dan adikmu?”tanya Sunhee lembut. “Tapi hanya satu orang saja yang bisa masuk kesini. Mereka hanya boleh melihatmu dari balik kaca. kau bisa berbicara dengan yang lain melalui telpon.”

Yuuri memandang Sunhee dengan pandangan yang masih tidak fokus. “Eom…ma?”ucap Yuuri susah payah di balik masker oksigennya.

“Kau ingin bertemu ibumu?”

Yuuri kembali mengangguk lemah.

“Sebentar lagi ibumu akan masuk.”kata-kata terakhir yang Yuuri dengar saat ia kembali tertidur.

~TBC~

Gomawo udah yang mau meninggalkan jejak tiap abis baca^^

sekitar 2-3 chapter lagi FF ini selesai. mudah2an bisa dipercepat jd 2 chapter aja yaaa 😉

O ya, final chapt-nya tetep bakalan diprotect password, cuma yg komen aja yg bkln kukasih passwordnya. hehe~

Iklan

31 pemikiran pada “[After Story of FON] Everlasting Love 9/?

  1. mn kbahagian ny eonni…ttp aj skrng q nangis haru lht yesung ny…
    eonni ap yg ad d kpla eonni skrng…sad ending atw happy ending? tolng britahu q….????? eonni kn donor bs dcek dr org lain..knp g smua mmber suju atw dbsk d cek.
    siapa tau ad yg sma..? sotoy akut mulai…eonni tolong post ny jng lama2…he he he….
    dskitar yuuri byk yg mncintai pst yuuri bhagia bngt…ngbayangin yesung ktm cmer tp kondisi ny drmh skit…ih skit bngt ini hati…so sad ..ibu ny yesung jg…kbynk bngt sedih ny dia…ini ff penuh air mata eonni…nglahin q klw ngupas bwang…perih ini mata….
    semangat trz eonni…jebal happy ending…eonni cntik deh

    1. lah di tbc-innya kan pas yuuri bangun, emgnya gk seneng?
      ntar gmn cara dapetin donornya bs dilihat di chapt 10. hehe~
      klo udah prnh baca ffku yg lain pst tau ending ffku biasanya gmn, sad or happy? 😉
      mudah2an gk lama ya ngetiknya. aq jg pgn ni ff cepet2 ending sih. mungkin next week udh ada chapt 10 ^^

  2. aigo.tbc nanggung bgt authornim #_# ,,,kasihan yuuri ny..pasti haru bgt pas nnti ny.jung ktmu yuuri ny
    brharap yuuri dpt donor n bs hdup bhagia ending ny…dtunggu nextchap ny y,,gomawo authornin ^^

  3. aigo.tbc nanggung bgt authornim #_# ,,,kasihan yuuri ny..pasti haru bgt pas nnti ny.jung ktmu yuuri ny
    brharap yuuri dpt donor n bs hdup bhagia ending ny…dtunggu nextchap ny y,,gomawo authornim ^^

  4. kasian bgt Yuu… T_T moga dia cepat sembuh ya…
    Kira2 Sunhee gimana nantinya? Yuu ma Yeye kan?
    Ditunggu part selanjutnya dan semoga endingnya nanti happy ending yaa..

  5. T.T
    get well soon yuuri-sshi
    bagaimanapun tulang rusuk gak akan tertukar,,, yang sabar ya sunhee-shi..
    end bahagia yaaa kak… 🙂

  6. ceritanya semakin sedih aza…semoga Yuuri bisa sembuh,nggak tega liat Yesung nangisin Yuuri..
    di lain sisi jg kasian Sunhee,cintanya bertepuk sebelah tangan.apalagi waktu Sunhee ngungkapin perasaannya,Yeppa nggak mau nengok sm sekali..
    tetep berharap happy ending dan memorable bt YeYuu ya..

  7. Huwaaaaa, (╥_╥) (╥_╥) unnie tega sekali bikin yuu kayak gini. Sampe nangis bacanya, sedih luar biasaaaaaa. Apalagi pas yuu flashback ktemu orang tuanya apalagi pas orangtuanya mau ngejenguk tpi yuu malah kejang (╥_╥) . Kapan yuu bahagianya ? Punya dosa apa yuu ama unnie ? Hheu. Itu yuu tidur kan bukan pingsan atau koma, hadeuuuu. Miris sekali bacanya, keadaan yuu makin parah ya ? Tak bisakah satu persatu dri mreka cek sumsum tulang belakangnya ? Siapa tau aja cocok ? Trus dari skian waktu smenjak yuu kdaftar d bank sumsum ga ada satupun donor yg cocok ? Ehh tpi itu aslinya ada bank sumsum ? Ahh penasaran, yesung oppa yg kuat ya ayo berjuang buat yuri fighting * part berikutnya jangan sedih sedih ya

    1. koma itu tidur jg 🙂 biasanya klo disebut koma itu klo udah gk sadarkan diri dlm jgka waktu lama. ini kan cm bentar.
      bank sumsum tulang itu ada, tp byk yg gk tau, jd sedikit jg pendonornya. pdhl donor sumsum tulang itu gk pny efek samping bg pendonor lho, gtu yg aku tahu^^
      ntar di chapt depan dijelasin kok tntg donornya 🙂

  8. Bener2 pengen nangis wkt baca flashbacknya yuuri
    Tp gak dpt feel tiap ada adegannya jongwoon, mungkin yg kebayang malah tingkah anehnya jd gak dapet feelnya

    Sungri storynya kapan lanjut?

  9. ff nya seru banget, ga pernah bosen sama ff nyaaa… asli selalu nangis pas baca dari capt pertama… maaf baru komen sekarang yaa.. semoga ff selanjtnya bener2 bisa bikin aku nangis guling-guling lagiii… semoga ending nya yuu bisa balik lagi yaa 🙂

  10. eonniiiii, ffnya tambah seru, sukses bikin nangis.. walau tbc nya nanggung banget, tapi ga papa lah, jadi ada bahan buat penasaran sama part berikutnya 😀 semngat yaa thor, keep writing! ditunggu part selanjutnya.. jangan lama-lama, hehe 🙂

  11. Ff ini bkin byangin muka bang yeye sedih mulu, wkt cerita ttg orng tua kn biasanya muka ny sedih, ikt sedih jg biasanya..
    Aplg di ff ini kasian sangt yesungie di part yg dy blng rekan krj bs tw klo yuuri sakit tp dy sm skli gtw, aplg wkt dy ingat tnd2 yuuri sakit, miris sangat dy

    Pokokny semoga happy ending deh, stlh sedih n nangis mulu brhrp endingny yeyuu sm2 lg

  12. Semoga akn ad happy moment hingga happy ending…
    Mengharapkn sweet happy ending stlh bgtu bnyk sad scene di ff ni, 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s